Maseki Gurume Volume 1

Maseki Gurume Volume 3 Chapter 11B

Judul Chapter:
Berbagai hal terjadi (B)

Selamat Membaca….

“Jadi karena itu kamu datang kemari….”

“Begitulah… Aku di usir…..”

Sementara Tiggle sang Pangeran ketiga sedang mencari keberadaan Claune, saat ini Claune sedang bersantai di kamarnya yang disediakan oleh kerajaan Istalica.

“Hah~ itu wajar kan? Kamu tiba-tiba pulang membawa benda makhluk seperti itu dan kemudian bertanya ‘Apa aku boleh memeliharanya?’ dengan begitu polos…. Skalanya itu berbeda dengan memungut seekor anjing atau kucing tahu….”

Ketika disebutkan soal memungut kucing, tiba-tiba muncul sebuah bayangan didalam benak Ain. Bayangan yang ada di dalam kepalanya itu adalah Catima. Dia tidak akan bisa memberitahukan soal ini kepada orang lain.

“Ya… memang benar sih… tapi mereka itu lucu… dan memunculkan rasa ingin melindungi mereka….”

Ain membawa pulang si kembar Sea Dragon. Dan sesuai dengan apa yang telah ia putuskan, ia langsung mengutarakan niatnya untuk memelihara mereka. Namun Shilvard hanya mengatakan ‘Untuk sementara kau renungkan dulu perbuatanmu ini’ dan disuruh meninggalkan ruangan.

Ain yang ingin membagi kisah ini pun meminta izin untuk mengunjungi kamar Claune.

“Apa aku kurang berpendidikan sampai-sampai aku tidak memahami perkataanmu…..”

“…Bu-bukan kok… mungkin aku yang salah….”

“Fyuuh… Aku penasaran kenapa kamu bisa terus-menerus membuat peristiwa yang mengejutkan dalam waktu singkat begini…. Ah sudahlah… Pertama-tama silahkan kemari…..”

Ain diundang duduk di sofa yang ada di hadapannya. Setelah mendapatkan undangan dari Claune itu, ia pun segera duduk di sampingnya.  Meskipun Ain tidak mengatakannya, namun karena dia merasa telah banyak membuat Claune khawatir, dia memutuskan dalam dirinya untuk mematuhi Claune apa adanya untuk sementara waktu.

“Ara… kamu cukup penurut juga ya Ain??”

“Aku memang anak baik yang selalu menurut….”

“Apa iya?? Kalau memang kamu orang penurut harusnya kamu ikut ke kamarku kemarin…. Aah sudah lah…. meskipun mungkin dalam hati kamu masih merasa bersalah, aku sudah memaafkanmu….”

Mendengar prediksi yang terlalu tepat ini membuat Ain berkeringat dingin. Namun apa boleh buat, Ain memutuskan untuk memulai lembaran baru.

“Ya, sini….”

“Eh? Eh …?”

Ain yang ditarik lengannya, dengan pasrah meletakan kepalanya di atas paha Claune.

“A-apa-apaan ini?”

“Apa Putera Mahkota bahkan tidak tahu soal bantal paha??”

“Tidak, aku tahu soal itu… tapi ini terlalu tiba-tiba dan membuatku terkejut…”

“Begitu… Aku sedang ingin melakukan ini…. jadi tolong ikuti saja….”

Ia sama sekali tidak membenci diperlakukan seperti itu oleh Claune. Jadi ia memutuskan untuk tetap diam, dan Ain dapat merasakan aroma harum bunga dari Claune masuk melalui hidungnya.

“Tanganmu… Bagaimana keadaannya??”

“Sudah lebih baik daripada kemarin… Namun ini masih belum dalam kondisi sempurna jadi aku sedikit kerepotan…”

Cahaya yang masuk melalui jendela agak menyilaukan, namun seolah sudah mengerti tentang itu, Claune sedikit menundukan kepalanya dan membuat Ain terkena bayangan dirinya. Serta angin sepoi-sepoi yang masuk melalui jendela yang terbuka membuat Ain teringat hari dimana dia bertemu dengan Claune di kota pelabuhan Magna.

Terdengar samar-samar suara kicauan burung yang beterbangan diluar membuatnya larut dalam alunan nada itu.

“Bisa beristirahat sebentar?”

“Ya…. Aku baru saja menemukan tempat yang cukup bagus….”

“Syukurlah…..”

Claune juga sangat mengkhawatirkan keadaan Ain. Meskipun semalam ia menyerahkan Ain kepada Olivia, namun saat ini sangatlah berharga bagi Claune untuk bisa berbincang santai dengan Ain.

“Hei…. Bagaimana perasaanmu saat melawan Sea Dragon itu?”

“……Kamu penasaran?”

Claune menepuk lembut pipi Ain sebagai tanggapan atas jawabannya yang meledek itu.

“Maaf-maaf…. Pada akhirnya cara yang aku temukan untuk melakukan serangan padanya adalah seperti yang aku jelaskan kemarin… Jadi aku hanya berusaha dengan sekuat tenaga untuk melakukannya sebaik mungkin sampai sudah putus asa…..”

“Apa kamu tidak takut?”

“Aku baru menyadari ketika aku pulang bahwa aku merasa takut… Bahkan pada saat aku diseret ke laut aku hanya merasa bahwa Magic Stone miliknya sangatlah enak, dan meskipun aku kesulitan bernafas saat beradu kekuatan dengannya, aku sama sekali tidak merasa itu menyakitkan….”

“Kamu ini…. Ain ini sekarang sudah menjadi pahlawan yang mengalahkan Sea Dragon… Namun sepertinya sudah sejak awal kamu memiliki tekad seorang pahlawan ya…. Aku yakin itu….”

“Kalau kamu mengatakan itu aku jadi malu….”

Ain memasang wajah malu ketika dipuji dengan tulus.

“Tapi di tengah pertempuran seperti itu masih sempat memikirkan soal makanan itu…. Benar-benar pahlawan yang suka makan ya….”

“Apa boleh buat kan…. itu memang benar-benar lezat….”

“Baguslah kalau begitu…. Disaat aku sedang khawatir, kamu sedang mencicipi rasa Sea Dragon itu dengan penuh kebahagiaan ya….”

“Kalau dibilang begitu aku jadi merasa bersalah….”

“Memang benar Ain telah menyelamatkan banyak nyawa,,, dan aku merasa bangga dengan itu…. Namun aku hanya ingin kamu tahu kalau aku khawatir… itu saja…”

Kemudian Claune menyingkirkan kepalanya sedikit. Ini adalah sedikit bentuk hukumand dari gadis itu. Sinar matahari mengenai wajah Ain dan membuatnya merasa sedikit silau.

“Kalau soal itu… Aku benar-benar menyesal karena aku tetap pergi tanpa menghiraukan peringatan dari semua orang….”

“Hmm… Apa benar begitu??”

“Tentu saja…. Biar begini aku masih bisa merasakan itu….”

Angin masuk meniup tirai dan dengan lembut mencapai mereka berdua. Rambut Claune tertiup angin dan membuat Aroma harumnya mencapai Ain dan membuat hatinya luluh.

Samar-samar terdengar suara para ksatria yang sedang berlatih di luar. Mungkin Latihan sore sudah dimulai. Dan Claune pun juga bisa mendengarnya.

“Sampai benar-benar pulih kamu harus menunda latihan ya….”

“Setidaknya aku diminta untuk diam di Istana selama dua bulan…. Jadi sepertinya itu cukup…”

“Begitu ya….. Yang Mulia memang benar-benar baik…..”

“Aku selalu bersyukur soal itu… Meskipun aku begini…”

Claune menatap kearah luar jendela, dan Ain memandangi wajahnya dari bawah. Menatap bibir Claune yang menawan, mengkilap, dan sangat menarik perhatian. Dan seolah merasa terundang, Ain menggerakan kepalanya.

“…Hei jangan banyak bergerak!”

“…iya ya”

Ain pun menggagalkan niatnya dan bangkit untuk meraih teh. Lengannya masih belum dalam keadaan pulih, jadi yang dia bisa hanyalah sekedar menjulurkan tangan dan mengangkat teh.

“Tehnya enak…. Orang-orang di Istana ini memang selalu melakukan pekerjaan yang sempurna….”

Seperti biasanya teh di Istana memang enek. Sebelumnya Ain tidak terlalu menikmati teh, namun sejak ia datang ke Istalica, meminum teh sudah menjadi hobinya.

“Ara terima kasih…. Aku senang mendengarnya….”

“Kenapa Claune yang senang??”

“Karena aku yang membuatnya…. Aku mempelajarinya di sekolah… katanya ini untuk mempelajari budaya… Bahkan aku selalu membuat tehku sendiri saat belajar…. jadi aku sudah terbiasa…”

“…Begitu ya….”

Bahkan bagi Ain yang sudah terbiasa mencicip teh buatan Martha dan yang lainnya, ia masih merasa bahwa teh ini adalah produk kelas tinggi yang sangat luar biasa. Ketika Ain mengatakan itu, Claune pun berdiri dan kemudian mendekati jendela.

“Cuacanya bagus ya…. Bisa-bisanya ada yang membawa masalah pada saat cuaca seindah ini…. Kasihan sekali Yang Mulia….”

“Su-sudah tidak perlu dibahas kan!? Aku kan sudah merasa bersalah…”

“Fufu…. benar juga… Kalau begitu aku tidak akan membahasnya lagi…”

Claune mengatakan itu dengan suasana hati gembira sambil menatap keluar jendela.

“Hei Claune…. Apa kata-katamu yang kemarin itu serius??”

“…Yang mana ya??”

“Kamu sudah tahu maksudku kan??”

Ini adalah tentang Claune yang mengatakan akan memberikan segalanya untuk Ain kemarin. Meskipun mungkin itu hanyalah kata-kata untuk menahan Ain, namun Ain sangat memikirkan hal itu.

“Hei Ain…. Aku akan memberitahu sesuatu yang bagus untukmu….”

“Soal apa ya?”

Claune berbicara tanpa sedikit pun berbalik dari jendela, dan Ain hanya memperhatikan sosok itu dari belakang.

“Aku ini…. Suka pada Ain…..”

“…Blak-blakan sekali ya….”

Claune mengatakan itu dengan tiba-tiba. Dan Ain yang mendengar hal mengejutkan itu pun hanya bisa memberikan jawaban seperti itu. Meskipun begitu, Claune tidak sekalipun berbalik kearah Ain. Dan ia pun melanjutkan perkataannya seolah ingin menyela perkataan Ain.

“Bahkan setelah aku datang ke Istalica, hal itu tidak pernah berubah….”

Bukannya menjawab pertanyaan Ain, Claune malah melanjutkan perkataannya. Ia tidak sekalipun menolehkebelakang, dan Ain hanya bisa menatap punggung Claune. Ain penasaran ekspresi seperti apa yang saat ini di tunjukan oleh Claune.

“Coba tunjukan wajahmu Claune… beritahu aku seberapa serius kata-katamu itu….”

“…Entahlah… Kamu bisa menafsirkannya sesuka hatimu…”

Saat dikatakan silakan menafsirkan sesuka hati membuat Ain menjadi memikirkannya. Dirinya tahu bahwa Claune memang sangat memperhatikan dirinya. Namun itu tetap sangat membuat penasaran jika tidak di tegaskan seperti ini.

Dan setelah itu, Claune pun menunjukkan wajahnya. Namun bukan berarti dia menoleh kearah Ain, hanya menghadap ke samping. Meskipun hanya dari samping, Ain bisa mengerti bahwa wajah Claune sedikit memerah.

“Tapi…. Saat kamu terus memaksakan dirimu, aku terus-terusan khawatir… Karena itu… saat kamu bisa mengandalkan seseorang… aku ingin kamu mengandalkan orang lain….”

Dan akhirnya Claune menoleh kebelakang. Kedua pipinya memang memerah. Namun entah apakah itu karena suhu tubuhnya atau karena ia merasa malu telah mengungkapkan perasaannya.

“Entah apa yang akan terjadi pada aku dan Olivia-sama jika terlalu khawtir…. Jika saja itu terjadi….”

Dengan sedikit dorongan, Claune membalikkan badannya.

“Kakak gak tanggung jawab loh….”

Claune mengatakan itu dengan sedikit menundukan pinggangnya menghadap kepada Ain, dengan jari telunjuk ia letakan di bibirnya. Disertai dengan senyuman Claune. Tingkah laku itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Ain benar-benar terpikat.

Dan kemudian, Ain berjalan mendekati Claune untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya. Claune yang melihat itu hanya diam dan menunggu. Sepertinya gadis itu terlihat cukup terburu-buru, apa ini cuma khayalan?

Namun tiba-tiba pintu diketuk seolah-olah timingnya telah diatur. Dan setelah mendengar suaranya, ternyata itu adalah Martha.

“…Ara… Sepertinya hari ini cukup sampai di sini ya Ain….”

“Claune… Kamu mungkin bertingkah sok kuat… tapi kalau wajahmu memerah begitu kamu tidak terlihat begitu tegar loh….”

“Kamu juga sama kan…. Wajahmu juga sudah menyala begitu….”

Ia memang merasa tubuhnya agak sedikit lebih panas, sepertinya wajah Ain juga sama merahnya dengan Claune. Dan setelah mengetahui hal itu, ia merasa tubuhnya semakin panas.

“Sudah sana… hati-hati di jalan Ain…. Semoga saja kamu boleh memelihara hewan peliharaan barumu ya….”

“…Ya… Semoga saja…”

Ain pun diantar keluar. Sepertinya hasil perundingan sudah keluar, dan dia diminta datang ke tempat Shilvard dan yang lainnya menunggu. Meskipun Ain merasa hari ini seperti sedang dipermainkan, namun jelas terlihat bahwa Claune juga lebih banyak berkata-kata daripada biasanya. Jadi ia memutuskan untuk mengabaikan hal itu dulu hari ini.

“Hei Ain?”

“Apa?”

“Terima kasih ya… tadi itu sangat menyenangkan….”

Wajah Claune masih merah membara.  Ia menghentikan langkah Ain dan dengan jujur menyampaikan rasa terima kasihnya karena telah datang berkunjung hari ini.

“Aku juga menikmatinya kok… terima kasih banyak atas tehnya…. apa boleh ya kalau mulai saat ini aku ingin Claune yang membuatkan teh untukku….”

“…Kamu ini…. sudah sana pergi.. Yang Mulia sudah menunggu mu…”

“Iya iya…. Kalau begitu sampai jumpa lagi….”

Dan kemudian pintu dibuka, dan Ain pergi menuju ke tempat Shilvard. Nampaknya pembahasan soal si kembar Sea Dragon sudah selesai, jadi ia harus datang dan mendengarkan hasilnya. Ain berharap agar ia tidak mendengar hasil bahwa mereka telah dimusnahkan.

“…Hah… duhh… aku jantungku benar-benar deg-degan…. Kupikir ini akan meledak…..”

Claune menunjukkan ekspresi panik yang sangat tak terbayangkan akan dia lakukan. Dan jantungnya terus berdegup kencang sampai beberapa saat setelah Ain menghilang.

Terima kasih telah berkunjung….

Sebarkan karya kami

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

6 thoughts on “Maseki Gurume Volume 3 Chapter 11B”

Leave a Comment