Maseki Gurume Volume 3 Chapter 17A
~Aktivitas Ain di Sekolah, Tahun Ketiga (Akhir) (A)~

Selamat Membaca….

Mereka berempat tiba di ruang yang agak terbuka di depan sebuah gua kecil. Ada sebuah alasan mengapa mereka tidak masuk ke dalam gua itu.

“Eits… Ain.. Jangan masuk ke gua itu loh….”

“Loh? Kenapa? Mumpung ada gua bukankah sebaiknya kita masuk ke dalam?? Apa ada semacam monster berbahaya??”

“Coba kau lihat kerikil yang jatuh di depan pintu masuk gua itu….. Warnanya jadi keunguan kan??”

“… Ah…. Iya sih…”

“Gua ini menghasilkan miasma….. Di dalamnya ada banyak kekuatan sihir tua serta mayat-mayat monster dan membuat lingkungan sekitarnya menjadi berantakan…. Gua ini beracun bagi manusia ataupun bagi monster yang tidak tinggal di dalam gua tersebut…. Meskipun kita tidak menghirupnya….. Meskipun di luar masih baik-baik saja, namun tidak begitu di bagian dalamnya, jadi berhati-hatilah….”

“…Begitu ya… Aku akan berhati-hati…”

Di tempat adanya monster akan ada racun yang melekat. Misalnya seperti saat ini, tidak aneh jika sebuah gua itu sendiri menjadi tempat yang mengeluarkan zat beracun. Ain yang baru pertama kali melihat hal ini, terus memandangi ke dalam gua layaknya orang yang melihat benda unik.

“Apa di dalam sana ada monster??”

“Tentu saja ada…. Namun itu mungkin tidak seberapa… Paling cuma ada serangga beracun atau semacamnya….. Ngomong-ngomong, miasma itu juga cukup efektif untuk kupu-kupu gagak… Ya walaupun mereka juga tentunya tidak mungkin mau masuk ke tempat seperti ini…..”

“Kalau begitu kita bisa tenang….”

“Kalian berdua jangan membicarakan yang seram-seram begitu…. cepat, bantu aku bersiap-siap.”

“Ah, maaf Loran… Ain ayo kita bantu….”

“Siaapp…”

“Tunggu,Bats!! Apa kau aman berada disana? ”

“Tidak masalah… Miasma itu tidak akan keluar dari pintu masuk… makanya apa pun yang terjadi jangan sampai masuk ke dalam sana……”

“Kalau begitu syukurlah…..”

Leonard pun mengerti, dan semua orang mulai mempersiapkan kemah. Tentunya saat mereka tidur akan cukup berbahaya, jadi Leonard memasang penghalang.

Karena mereka sudah mengambil banyak air dari sungai maka tidak ada masalah dengan itu. Sedangkan makanannya mereka mengambil buah-buahan yang mereka temukan sepanjang perjalanan, namun mereka merasa sedikit kurang puas.

“…Ini masih lebih baik karena kita masih punya sesuatu untuk dimakan…..”

“Sebenarnya ini masih kurang…. tapi seperti apa yang Ain katakan, ini lebih baik daripada tidak ada yang dimakan…”

“Jangan bilang begitu Bats… Lagipula rasanya juga tidak terlalu buruk kan…”

“Benar… Benar…. Ini masih segar dan enak….”

Suasana di antara mereka tidak terlalu suram dan masih ada sedikit semangat.

“Hei Loran….. Maaf mengatakan ini tiba-tiba, tapi bisakah kamu membuatkanku sebuah alat sihir?”

“Ada apa tiba-tiba begitu?? Ya boleh saja sih asal aku bisa membuatnya,.,,, benda seperti apa yang Anda inginkan?”

“Yah, buat saja sebisamu…. Aku ingin kau membuatkan…..”

Ia masih mengkhawatirkan soal Dill. Namun tidak ada yang bisa mereka lakukan jika mereka tidak berhasil selamat. Dengan mempertimbangkan hal itu, keinginannya untuk bertahan hidup pun menjadi lebih kuat.

Saat mereka tertidur, hal yang Bats khawatirkan pun benar terjadi. Dari luar penghalang, ada beberapa ekor kupu-kupu gagak yang memperhatikan mereka. Namun karena mereka berada di tempat terbuka, maka tidak terlalu cocok dengan monster itu. Terlebih kabut diwilayah itu lebih tipis. Dan kupu-kupu gagak yang mengerti soal ini pun hanya bisa menunggu sampai mereka meninggalkan penghalang itu dan masuk ke wilayah yang sempurna.

Dan keesokan harinya, di pagi hari mereka mulai bersiap-siap untuk berangkat sebelum matahari menampakkan wajahnya. Karena mereka tidur dengan bergantian, mereka masih belum berhasil menghilangkan seluruh kelelahan mereka. Meskipun begitu mereka sedikit lebih baik daripada kemarin.

Setelah selesai bersiap-siap dengan penuh kewaspadaan, mereka meninggalkan tempat itu sesaat sebelum matahari terbit.

“Hei, coba dengar! Ain-sama itu… Aku melihatnya berdiri tiba-tiba, aku pikir sudah waktunya giliran kami berjaga, tapi aku melihatnya langsung menuju ke pintu masuk gua dan masuk begitu saja!”

Loran yang menceritakan hal itu.

“Ain, apa yang kau lakukan…. Bukankah aku sudah berkali-kali bilang kalau di sana itu berbahaya???”

“Aku ingin ke toilet…. Lagipula aku hanya sedikit ke dalam saja kok!!”

“Kalau cuma dekat pintu masuk ya…. Tapi yang mulia, kumohon jangan melakukan hal-hal berbahaya…”

“Iya iya…Aku tahu. Maaf… Maaf… Aku tidak akan mengulanginya lagi!”

Semalam, kelompok berjaga dibagi menjadi Ain dan Loran, serta Bats dan Leonard. Sebelum gilirannya berjaga, Ain tiba-tiba berdiri dan mengatakan ingin ke toilet dan langsung masuk ke dalam gua. Ketika Loran menyaksikan ini, dia merasa ini adalah tindakan gila, namun karena terlalu tiba-tiba ia jadi tidak sempat merespon. Beberapa menit kemudian Ain pun kembali seolah tidak ada apa pun yang terjadi, dan membuatnya bisa bernafas lega.

“Baiklah, semuanya, kita berangkat…. Kita harus segera menyelamatkan diri dan memberitahukan soal Dill….”

“Yaa!”

“Siap!!”

“Mari semangat!!!”

Hari ketiga pun dimulai. Harusnya ini merupakan hari terakhir pelatihan ini. Namun mereka semua berpikir bahwa cukup sulit untuk bisa sampai di garis finish hari ini juga. Meskipun begitu, itu tidak mengubah semangat mereka untuk tetap selamat entah berapa hari pun yang dibutuhkan.

*

Perjalanan hari ini terasa lebih datar daripada sebelumnya. Karena seharusnya memang perjalanan akhir di pelatihan ini akan semakin terasa datar, maka mereka mengira bahwa garis finish sudah dekat.

“…Meskipun ini sulit, tapi sepertinya kita sudah mendekati garis finish…”

“Ya…. Aku tidak ingin melakukan pelatihan seperti ini lagi!!”

“Bats benar…. Aku juga tidak ingin mengalami ini untuk kedua kalinya….”

“Benar…. Tapi kalau kita selamat nanti aku berpikir untuk melatih tubuhku lagi….”

“Aku juga Loran…. Aku benar-benar merasa ada masalah dengan daya tahan fisikku ini…”

“Itu bagus… Aku akan menemani kalian…”

“…Tolong berikan kami keringanan…..”

Dengan di selimuti suasana damai, kelompok mereka melanjutkan perjalanan. Hari ini mereka masih belum mendengar suara kupu-kupu gagak. Meskipun mereka merasa sedikit curiga dengan hal ini, namun tetap saja mereka bersyukur tidak harus bertemu dengan monster itu.

“Oh iya, Ngomong-ngomong apa suatu saat nanti kalian akan mendaftar ke guild???”

“Apa gunanya…. Kalau aku tidak…. Dengan pelatihan ini aku cukup mengerti bahwa berhadapan dengan monster itu bukan bidangku….”

“Kalau aku mungkin iya… Walaupun kemungkinan aku akan lebih sering membuat quest… Membuat peralatan sihir itu membutuhkan banyak bahan-bahan monster jadi aku mungkin akan coba bergabung…”

“Aku juga berencana untuk mendaftar…”

Adalah Ain yang terakhir menjawab. Dan semua orang menatap Ain dengan wajah terkejut.

“Hei Ain… Kau ini…. bukankah tidak akan di izinkan??”

“Iya, Yang Mulia, Bukankah Anda bahkan tidak akan mendapatkan izin??”

“Aku berpikir ingin menjadi seorang petualang…. Jadi kurasa mereka akan mengizinkanku jika hanya sebentar….”

“Tapi kurasa itu cukup sulit..”

“Tapi Yang Mulia… Jika Anda hanya ingin mengunjungi berbagai tempat, aku rasa itu bisa terwujud beberapa tahun lagi….”

“Hah? Kenapa?”

“Karena dengan posisi Anda sebagai Putera Mahkota, Anda akan mengunjungi berbagai tempat untuk urusan publik…. Jadi Anda juga akan mengunjungi tempat-tempat yang cukup jauh dari Ibukota….”

Ketika mendengar hal itu, Ain pun tersenyum lebar.

“Wah.. Aku mendengar kabar bagus nih…. Aku sangat menantikannya….”

“Ain ini benar-benar Putera Mahkota yang bebas ya…”

“Itu lebih baik daripada mengurung diri kan? Masyarakat juga merasa lebih nyaman….”

Mendaftar di Guild, menjadi petualang, mengunjungi berbagai tempat, dan melihat banyak hal. Itu adalah apa yang Ain impikan. Dengan mempertimbangkan posisinya sebagai Putera Mahkota, dia sadar bahwa hal in tidaklah mudah, namun ia tidak melupakan mimpinya itu.

Dan kemudian, Ain dan Bats tiba-tiba menghentikan langkahnya disaat yang hampir bersamaan.

“…Bats…”

“Ya,,, Kabutnya lebih tebal dari sebelumnya… Kurasa mereka sengaja menuju kemari….”

“Kalian berdua? Ada apa?”

“Loran, Leonard! Ikuti aku!”

Mulai terdengar suara mencicit dari kejauhan. Kupu-kupu gagak itu telah menjadikan Ain dan kelompoknya sebagai mangsa mereka dan mulai melancarkan serangan.

“Ki-kita mau lari ke mana…”

“Kita tidak punya pilihan lain selain berlari mencari tempat yang sedikit terbuka!! Ayo cepat!!”

Sekawanan kupu-kupu gagak yang cukup banyak mulai mengejar kelompok mereka. Pertama-tama mereka harus lari dan menemukan tempat yang memudahkan mereka untuk bertarung. Seperti kemarin, kejar-kejaran bersama dengan kupu-kupu gagak pun dimulai dengan tiba-tiba.

 

Terima kasih telah mampir….

Anda telah membaca Maseki Gurume Chapter Vol.03 - Ch.17.1. Jadikan Kurozuku sebagai website favorit anda.

Comments

One response to “Maseki Gurume Volume 3 Chapter 17A”

  1. Siotong says:

    Uuu mantap

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *