Maseki Gurume Volume 4 Chapter 4a
~Sebab-Akibat (A)~

Selamat Membaca….

Ketika tersadar, Ain seperti sedang berada di sebuah padang rumput dan diterpa angin lembut nan sejuk. Sepertinya ada sesuatu yang lembut yang ia gunakan sebagai bantalan sehingga lehernya tidak merasa pegal.

Satu-satunya permasalahan adalah saat ini dia sedang berada dimana. Ia berusaha untuk membangunkan tubuhnya namun tidak berhasil. Seperti masih dalam sebuah mimpi yang membatasi gerakan tubuhnya.

Ngomong-ngomong Ain juga tidak bisa membuka matanya. Sungguh sangat misterius, meskipun ia belum membuka matanya dia merasa sangat memahami keadaan di sekitarnya.

Ain mengerti. Bahwa dia saat ini dikelilingi oleh dataran luas dan udara yang damai serta langit biru yang terhampar tanpa ada ujungnya.

Terdengar suara senandung di atas wajah Ain. Sepertinya itu suara seorang gadis, dan saat ini ia sedang menggunakan pangkuan gadis itu sebagai bantalnya. Karena itu Ain bisa merasa rileks di tempat seperti ini.

Kemudian gadis itu membelai wajah Ain yang masih tertidur.

“…Baiklah… Sepertinya ini sudah cukup….”

Apanya yang sudah cukup??

Ain ingin mengatakan itu namun suaranya sama sekali tidak bisa keluar. Namun sepertinya gadis itu bisa mengerti apa yang sedang Ain pikirkan.

“Tentu saja tentang dirimu….. Sekarang semuanya sudah baik-baik saja… Maaf ya merepotkanmu…”

Tentang diriku?? Merepotkan? Kamu ini bicara apa sih?

Ain hanya memikirkan itu dalam hatinya. Namun gadis itu membuat ekspresi kewalahan dan hanya membelai kepala Ain dengan lembut.

“…Silakan pergi… kamu sudah tidak perlu mengkhawatirkan apa pun lagi… Lain kali aku akan berusaha melakukan sesuatu… Aku sungguh-sungguh minta maaf ya…”

Gadis itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan dalam hati Ain. Namun tiba-tiba Ain merasakan dapat kembali mengendalikan tubuhnya. Kemudian ia mulai membuka matanya untuk mencari tahu siapa gadis itu dan sedang berada di mana dia saat ini. Setelah membuka matanya ia mencoba menoleh ke arah gadis itu. Namun bersamaan dengan gerakan tubuhnya itu, tiba-tiba pandangannya di selimuti cahaya putih.

*

“Siapa kamu sebenarnya…!”

Ain berhasil membangkitkan tubuhnya. Namun ketika menyadarinya, ia tidak sedang berada di tempat yang sama dengan yang tadi ia rasakan, melainkan di dalam Istana Istalica. Atau lebih tepatnya adalah di kamar Ain.

“…L-loh???”

Ain berusaha mengatur informasi di dalam kepalanya.

Tenang… Kenapa aku ada disini? Tempat tadi itu dimana?

Semakin ia memikirkannya semakin banyak yang ia tidak mengerti. Pertama-tama ia seharusnya sedang pergi ke Euro untuk melaksanakan tugas resmi. Lalu ketika pulang….. ketika pulang..?

Di hari terakhir kunjungan ia menyaksikan pekerjaan penarikan kristal laut raksasa. Dan ia sama sekali tidak bisa mengingat kejadian setelahnya. Apa yang ia lakukan? Kapan ia pulang? Sejak kapan tiba di Istana?

“…Sudah malam ya?”

Ketika melihat keluar jendela, seluruh area diselimuti dengan warna hitam legam.

Di pusat Ibukota Istalica banyak lampu yang masih menyala meski sudah larut malam. Namun saat melewati pukul dua malam jumlah lampu yang menyala semakin sedikit.

Sepertinya saat ini waktu kurang lebih sudah lewat dari jam dua dini hari.

“Lo-loh?? Apa ini?? Apa aku terluka??”

Lengan kanan Ain dibalut dengan perban. Ain sudah tidak asing dengan perban itu. Itu adalah perban yang dibuat khusus di laboratorium Catima.

Perban yang dibuat dengan skill penyegelan seperti milik Majolica. Ain sama sekali tidak mengerti untuk apa benda seperti itu saat ini sedang membalut tangannya.

“Hmm. Ah sudahlah….”

Ia sama sekali tidak merasakan ada keanehan pada tangannya, karena itu ia segera melepasnya. Atau lebih tepatnya perban itu langsung menghilang seperti debu tepat setelah Ain menyentuhnya.

“Benar-benar tidak bisa dimengerti…. Oke… pertama-tama….”

Kring.. kring…

Ain membunyikan lonceng yang ditempatkan di samping tempat tidurnya. Biasanya pelayan akan segera datang ke tempat Ain setelah ia membunyikan lonceng itu.

“Padahal aku masih mudah tapi sudah pikun… Apa karena aku terlalu lelah ya…”

Perjalanan resmi pertamanya keluar negeri. Ain penasaran apa tugas itu telah membuatnya terlalu lelah.

Mungkin memang wajar, ia bertemu dengan adiknya yang sudah lama tak ia jumpai, serta melakukan pertukaran dengan seorang keluarga kerajaan dari Heim yang menyebalkan. Jelas akan membuatnya kelelahan dari segi mental.

Ketika Ain sedang memikirkan hal itu, ia mendengar ada suara berisik dari luar kamarnya. Beberapa saat kemudian pintu pun terbuka, dan Martha masuk ke kamar Ain bersama dengan Chris.

“A … Ain, sama …?”

Orang yang pertama kali membuka mulutnya adalah Chris. Ia berbicara dengan ekspresi seolah sedang melihat hantu.

“Hai Chris-san… Maaf aku sama sekali tidak ingat tentang perjalanan pulang kita…. Kapan kita sampai di istana?? Sepertinya urusan dengan adikku itu sudah membuatku kelelahan….”

“Ain-sama!”

“T-tung…? Ada apa Chris-san???”

Setelah mendengar kata-kata Ain, Chris langsung memeluk Ain dengan air mata mengalir deras. Sedangkan Ain kebingunan bagaimana cara menanggapi hal ini.

“Ah, Ain-sama… Tubuh Anda…. Bagaimana kondisi… Anda saat ini?”

Dari sudut pandang Ain, ekspresi yang ditunjukkan oleh Martha juga membuatnya ingin bertanya sebenarnya ada apa? Namun ia tidak bisa mengatakannya karena terlalu terkejut dan kebingungan harus berbuat apa.

“Hmm? Ya… Sepertinya aku sudah tertidur cukup lama setelah pulang.. jadi kondisiku sangat sempurna… Malahan aku merasa lebih baik dari sebelum aku tertidur… Jadi kira-kira sudah berapa lama aku tertidur??”

“… Chris-sama… Saya akan memanggil Yang Mulia… Bisakah saya minta Anda untuk menjaga Ain-sama?”

“I..iya… tidak.. apa.. apa…”

Chris menjawab sambil menangis dan menyetujui perkataan Martha. Sedangkan Ain masih tidak bisa mengerti situasi macam apa yang sedang terjadi dan kenapa Chris menjadi menangis berlebihan begini?

“Hei Chris-san… Sebenarnya ada apa sih? Kenapa kamu sampai menangis begitu??”

“Habisnya…. Habisnya!! Ain-sama…. Ain-sama.. itu…”

“Hmm… aku tidak mengerti kalau kamu bicaranya begitu…”

Agak sedikit malu rasanya untuk menghibur seorang gadis yang jauh lebih tua darinya. Terlebih gadis itu adalah gadis yang cantik. Namun karena gadis itu menangis sebanyak itu, maka akan aneh jika dia tidak berbuat apa-apa. Ia pun membelai lembut kepala Chris yang sedang menangis di dadanya itu layaknya seseorang yang sedang menghibur anaknya.

Ketika ia sedang melakukan itu, Martha kembali dengan langkah terburu-buru dan orang-orang yang ia panggil semuanya memasang ekspresi yang sama.

Orang yang ia panggil adalah Silvard, Lalarua dan Olivia. Diantara mereka bertiga, Olivia memasang ekspresi yang sama dengan Chris.

“A… Ai…Ain… Benar Ain kan??”

“I-iya Bu… Sepertinya aku tidak terlalu ingat soal kejadian sejak aku pulang… tapi aku telah menyelesaikan tugas resmiku…. Ada banyak hal yang terjadi dan banyak yang ingin aku ceritakan….. Lo-loh.. Ibu??!”

Olivia berlari menghampiri dan menangis di samping Chris.

Loh?? Kenapa ibu juga??

Itu yang ada dalam pikiran Ain dan ia menatap kebingungan ke arah Silvard.

“Ain…”

“Kakek…. Aku telah menyelesaikan tugas resmiku dan kembali dengan selamat…Mohon maaf tapi karena kelelahan aku sama sekali tidak mengerti situasi yang sedang terjadi… Bisakah kakek menceritakannya kepadaku??”

Ketika menyadari tatapan Ain, Silvard pun memanggilnya. Lalu Ain pun meminta penjelasan tentang  situasi yang terjadi setelah kepulangannya. Silvard seperti sedang menahan sesuatu dan berusaha untuk tidak menampakkan itu pada ekspresinya. Namun Ain menyadari keanehan ekspresi itu.

“…Aku cukup senang bisa mendengar suara Ain setelah sekian lama… Sebentar lagi Catima akan datang.. kita akan bicarakan soal itu bersama dengannya…”

Setelah sekian lama??

Apa maksudnya??

Muncul pertanyaan seperti itu dalam benak Ain. Namun karena Silvard mengatakan akan membicarakan itu ketika Catima datang jadi ia memutuskan untuk menunggu kedatangannya.

Sekitar sepuluh menit berlalu sejak Silvard berkata demikian, Catima pun datang dengan tetap memakai baju tidurnya. Meskipun dikatakan baju tidur, itu lebih mirip dengan sebuah kostum kucing. Dari sudut pandang orang lain, kostum itu sangat tidak ada gunanya. Apa gunanya seekor kucing memakai kostum kucing?

Meskipun penampilannya sangat bodoh, namun bagi Silvard dan yang lainnya, sosok kucing ini adalah sosok yang paling bisa mereka andalkan.

“…Akhirnya kau bangun Nya…. Dasar pembuat masalah….”

“Pembuat masalah…. Bukan salahku tahu kalau ternyata ada orang-orang Heim disana….”

“Bukan soal itu Nya… Apa kau tidak mengerti sama sekali Nya??”

Selama mereka sedang menunggu Catima datang, Ain tetap dalam posisi dipeluk oleh Chris dan Olivia. Dan sekarang pun kedua gadis itu masih menempel dengan erat.

Namun Silvard dan Lalarua, bahkan Martha sekalipun sama sekali tidak menyalahkan mereka. Sedangkan Ain merasakan ada yang aneh dengan Silvard dan semua orang yang ada di ruangan itu.

“Apa ini tentang Grint?? Atau malah…”

“Yah.. Aku tahu kalau kali ini kau tidak sengaja melakukannya… Ah sudahlah…. Hei Olivia, Chris… Minggir dulu….”

Catima menghampiri Ain dan mengusir Olivia dan Chris dari sisi Ain.

“Ka-kakak!!! Setidaknya bisa biarkan aku hari ini saja kan….”

“Aa…. Auu …”

Olivia menatap Catima dengan kesal, sedangkan Chris hanya bisa menatap Ain layaknya seekor kucing yang terbuang. Meskipun mereka membuat ekspresi perlawanan begitu, namun Catima tidak memedulikan mereka dan tetap memisahkan kedua gadis itu dari Ain.

“Ain… Apa kau bisa berjalan??”

“Bisa berjalan? Tentu sa-…. Loh??”

Ain berusaha untuk bangun dari tempat tidur. Namun tubuhnya sama tidak bisa bergerak dengan normal dan hampir terjatuh dari tempat tidur. Ketika melihat hal itu Catima segera menopang tubuh Ain dengan tubuh kecil miliknya itu dan mengembalikannya ke tempat tidur.

“Yah… Sepertinya perlu sedikit rehabilitasi Nya…”

“Rehabilitasi?”

Suasana di ruangan itu membuat semua orang sulit untuk berbicara. Namun Catima tetap mengatakannya kepada Ain.

“Ini bukan hal yang aneh kok Nya… Aku sudah melakukan banyak hal dan menggunakan banyak peralatan sihir untuk mendukung kondisi tubuhmu Nya… Meskipun begitu, bukan berarti semua berjalan sesuai perkiraanku Nya… ”

“Maaf Catima-san… Aku sama sekali tidak mengerti apa maksudmu…. Apa yang kau maksud aku perlu rehabilitasi??”

Catima pun berubah menjadi serius. Dan mulai memberikan jawaban pertanyaan Ain.

“…Sudah setengah tahun Nya….. Sejak Ain pulang dan terjadinya kejadian itu, Ain selalu terbaring di kasur dan tidak pernah sadar selama sekitar setengah tahun Nya…”

Di akhir kalimatnya, Catima mengatakan ‘Sebentar lagi Ain sudah masuk tahun kelima di sekolah Nya’ dengan nada yang sedih.

Hampir setengah tahun waktu berlalu sejak Ain kembali dari Euro. Setelah mendengar hal ini, Ain tercengang dan hanya bisa terdiam. Meskipun Chris dan Olivia sangat enggan meninggalkan Ain, namun berkat perintah Silvard, mereka pun keluar dari ruangan itu.

Hal ini bukanlah hal yang pantas untuk dibicarakan pada waktu larut malam seperti ini. Oleh karena itu mereka memutuskan untuk bubar dan kembali mengadakan pertemuan di pagi hari.

Setelah kejadian itu, Ain sama sekali tidak bisa tidur. Alasannya tentunya karena ia dikatakan telah tertidur selama setengah tahun tanpa ada penjelasan lebih lanjut.

Ia berusaha keras untuk menggali ingatannya, dan mencari tahu apa yang terjadi. Setelah beberapa saat, akhirnya dia bisa mengingat sedikit tentang kondisinya terakhir kali.

Sebuah bingkisan dari Euro. Dengan bingkisan itu sebagai pemicunya, Ain merasa saat itu telah berubah menjadi bukan dirinya sendiri. Namun saat ini ia tidak ingin memikirkan lebih lanjut tentang bingkisan itu. Jika ia memikirkan hal itu di saat dia sedang sendirian seperti ini, ia khawatir akan terjadi sesuatu lagi. Jadi ia memutuskan untuk mengalihkan dengan memikirkan hal lain.

Ia memperhatikan tubuhnya. Ia merasakan ada sedikit kejanggalan, dan ternyata tubuhnya telah bertumbuh. Saat ini Ain memang sedang dalam masa pertumbuhan, memang wajar jika dia hanya tertidur selama setengah tahun ia akan merasakan tubuhnya sedikit bertumbuh.

Ain sedikit merasakan kebahagiaan ketika menyadari dirinya telah mengalami pertumbuhan.

 

Terima kasih telah mampir….

Anda telah membaca Maseki Gurume Chapter Vol.04 - Ch.04.1. Jadikan Kurozuku sebagai website favorit anda.

Comments

6 responses to “Maseki Gurume Volume 4 Chapter 4a”

  1. Ekho says:

    Mantap

    Thank update nya
    Semangat min

  2. Evileye says:

    Makin menarik nih, koma setengah tahun gara2 kehabisan tenaga apa ya, gara kerasukan kemaren

  3. Sika says:

    Makin seru aja ni.mantap min cepet banget update nya 😄😄

  4. Gilda says:

    Makin seru aja ni.mantap min cepet banget update nya 😄😄

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *