Vol.05 - Ch.11.1 ~ Pemandangan Malam Terakhir Kota Ist dari Jendela (A)

Anda sedang membaca Maseki Gurume Volume 5 Chapter 11A di Kurozuku.

16 May 2021

Penerjemah : KuroMage

Lama sekali. oooohh.....

Di ibukota kerajaan, seorang Puteri dan seorang nona muda sebuah perusahaan besar sedang menjelajahi kota dan berbelanja. Waktu makan malam sudah berlalu, dan mereka berdua ingin memutuskan untuk segera pulang.

“Terima kasih, Olivia-sama… Sudah menunjukkan saya begitu banyak toko yang bagus…”

Mengenakan gaun putih sampai di atas lutut, dan kardigan abu-abu yang sedikit lebih panjang dari itu. Di lehernya terlihat sebuah kalung berenda dengan mutiara hitam terpajang. Warnanya yang monokrom itu memang memancarkan kesederhanaan, namun penggunanya sendiri sudah terlihat sangat mempesona sehingga terlihat cukup mengesankan.

“Tidak masalah…. Tapi aku juga ikut senang kalau Claune-san menyukainya….”

Hari ini, gadis itu di ajak oleh Olivia mengunjungi beberapa toko. Utamanya, mereka mengelilingi toko pakaian dan toko aksesoris serta berhasil mengumpulkan barang-barang yang mereka sukai.

“Karena saya selalu merasa iri ketika melihat pakaian Olivia-sama, jadi saya benar-benar senang hari ini…”

Hari ini, Olivia mengenakan gaun ketat berwarna biru dengan bagian bahu yang sedikit terbuka. Ada selembar kain besar berwarna merah muda yang menggantung di pundaknya untuk mencegah agar bahu dan dadanya tidak terlalu terekspos.

“Arara… Claune-san itu benar-benar pintar membuat orang senang ya…”

“Tidak kok…. Saya mengatakannya dengan jujur kok….”

Entah mengapa terasa seperti ada lampu sorot di tempat mereka berdua berjalan. Tak hanya para pria, para wanita pun terpesona dengan kehadiran keduanya yang berjalan dengan penuh keanggunan. Melangkahkan kaki ke depan saat berjalan. Ini memang sudah gerakan yang wajar, namun entah mengapa ruang di sekitar mereka berdua berjalan terasa seperti berada di dunia yang berbeda.

Sambil berbincang-bincang, mereka berdua berjalan kembali ke Istana. Tentunya saja bukan tanpa pengawalan. Ada beberapa pengawal wanita yang mengawasi di tempat yang agak jauh dari mereka.

“Ngomong-ngomong, Mungkin saat ini Ain sudah ada di kereta ya??”

Claune membuka pembicaraan tentang Ain. Sudah hampir dua minggu gadis itu tidak melihat wajahnya. Apakah dia makan dengan teratur? Apakah dia terluka? Apakah dia demam? Hal-hal seperti itulah yang di khawatirkan gadis itu seolah dia dalah orang tuanya saja.

“Etto…. Benar juga… Mungkin sebentar lagi sudah waktunya kereta berangkat…”

“Katanya perjalanan Ain kali ini mendapatkan banyak pencapaian… Saya turut berbahagia…”

Dari laporan yang mereka dengar, Ain telah menemukan petunjuk tentang rubah merah, dan menemukan seorang pengguna sihir penyembuh yang luar biasa bernama Barra. Claune juga mendengar bahwa Ain sedang dipertimbangkan untuk diberikan hadiah yang setimpal atas semua pencapaian yang luar biasa itu.

“Aku sendiri belum dengar rinciannya, tapi katanya ada sedikit masalah di sana…”

Olivia masih belum mendapatkan informasi rinci terkait konflik Ain dan Viscoun Sage. Ia hanya mendapat laporan bahwa disana terjadi beberapa masalah kecil.

“Benar-benar deh… Apa anak itu tidak bisa jalan-jalan dengan tenang tanpa membawa masalah…”

“Fufu… Benar juga ya….”

Jika ditanya, Apakah Ain pernah mengunjungi suatu tempat dan kembali tanpa masalah? Maka dengan cepat jawabannya adalah “Tidak!”. Tidak pernah sekalipun dia pulang tanpa membawa masalah. Dan Olivia, ibunya menyetujui pendapat ini.

Pada kedua gadis itu, bersinar Star Crystall yang pernah di berikan Ain kepada mereka. Olivia memakainya di dekat dadanya, sedangkan Claune memakai kristal itu di lengannya.

“Ngomong-ngomong, Claune-san… Kamu benar-benar menyukai kalung itu ya…”

“… Ya, Saya sangat menyukainya.”

Di banyak kesempatan Claune sering kali memakai kalung yang saat ini sedang dipakainya itu. Beberapa teman dan Graf pernah berkomentar bukankah kalung itu terlalu sederhana? Namun meskipun begitu, gadis itu tetap mengenakannya karena ia suka.

“…Lagian aku tidak bisa bilang pada siapa pun aku menyukai kalung ini karena rasanya hewan peliharaan yang dikalungi….”

“Claune-san? Apa tadi kamu mengatakan sesuatu??”

Olivia yang berjalan di samping Claune menyadari gumaman kecilnya itu. Namun kali ini Claune mampu memberikan tanggapan dengan tenang.

“Ya…. Saya berharap Ain dapat kembali dengan selamat….”

“Fufu … Mungkin kita akan bisa melihat sosok semangatnya itu besok pagi….”

Seorang putera mahkota yang sangat langka di garis keturunan keluarga kerajaan Istalica, karena ia lebih cocok dengan pakaian berwarna hitam dibandingkan warna putih. Meskipun kalung itu sederhana, kalung yang di berikan oleh putera mahkota itu membuat gadis itu merasa ia telah menjadi milik pria itu dan ingin memamerkannya. Begitulah pemikiran yang akhir-akhir ini muncul di dalam benak Claune.

*

“Sungguh sangat di sayangkan, Namun saya sangat bersyukur bisa bertemu dengan Anda di saat-saat terakhir kunjungan Anda ini, Yang Mulia Putera Mahkota…”

“Kami juga merasakan hal yang sama…. Kami telah banyak merepotkan Anda…. Berkat Profesor Oz penyelidikan kami ke depannya akan berkembang dengan pesat…”

Setelah masa tinggal dua minggu berakhir, tiba saatnya Ain dan Chris kembali ke Ibukota Kerajaan. Sebenarnya Ain sangat ingin menaiki Wyvern yang digunakan sebagai sarana transportasi logistik di kota itu, namun akhirnya dia harus menyerah. Sebab kehadiran Ain akan membuat monster-monster ketakutan. Karena itu mau tidak mau ia harus menyerah terhadap ambisinya itu, dan menghabiskan sisa waktu dengan mencari alat-alat sihir dan berbagai bingkisan untuk Olivia.

Pada akhirnya Dill tidak kunjung kembali ke kota Ist. Penyebabnya adalah adiknya Barra yang bernama Mei tampaknya cukup menyukai sosok Dill dan membuatnya sulit untuk meninggalkan anak itu. Rencananya Dill ingin segera kembali meneruskan pengawalan Ain yang merupakan tugas utamanya, namun atas keputusan Warren, akhirnya rencana itu tidak dapat terlaksana.

“Jika ada sesuatu yang Anda inginkan, silakan hubungi saya kapan saja… Saya akan berusaha membantu selama masih dalam batas kemampuan saya…”

Ngomong-ngomong, saat ini waktu menunjukkan pukul tujuh malam, dan suhunya sudah cukup rendah sehingga membuat nafas mengeluarkan uap putih. Sedangkan lokasinya adalah sebuah stasiun yang ada di pusat kota Ist.

Oz datang untuk mengantarkan kepergian Ain karena katanya ini adalah kesempatan langka. Ain benar-benar merasa berterima kasih karena Oz yang telah banyak memberikan bantuan itu sampai repot-repot mengantarkannya seperti itu.

“Entah apa lagi yang harus aku ucapkan… Aku benar-benar berterima kasih….”

Ain menundukkan kepalanya dengan wajah kebingungan. Oz pun tersenyum lembut setelah menyaksikan tingkah Ain itu.

“…Sebenarnya, Saya punya satu ‘oleh-oleh’ untuk Anda Yang Mulia Putera Mahkota…”

Setelah mengatakan itu, pria itu mengeluarkan sebuah kotak dari tas yang ia bawa. Sebuah kotak yang memiliki ukiran berwarna emas di seluruh permukaannya, dan membuat Ain penasaran dengan apa yang ada di dalamnya.

“Christina-sama…. Mohon bawa ini dengan sangat berhati-hati….”

“…Mohon maaf Profesor Oz, benda apa ini??”

Meskipun wajar jika Chris yang menerimanya itu menjadi penasaran, namun lebih dari itu, gadis itu harus memastikan isinya untuk alasan keamanan.

“Ini adalah Magic Stone yang akhirnya bisa saya dapatkan setelah sekian lama…. Magic Stone itu milik monster yang di cari-cari Yang Mulia…. Saya baru menerimanya ‘pagi ini’ namun karena saya sudah selesai menyelidiki isinya, maka saya serahkan kepada Anda…”

Oz menekankan bahwa ia baru mendapatkannya tadi pagi, dan telah selesai melakukan penelitiannya. Memang semakin banyak petunjuk yang di dapatkan maka akan semakin baik. Apalagi jika menyerahkan Magic Stone itu kepada Catima dan Majolica, pastinya akan ada lebih banyak lagi fakta yang akan terungkap ke depannya.

“Seharusnya benda ini adalah benda yang sangat berharga, tapi…. aku tidak menyangka aku akan bisa mendapatkannya….”

“Anggap saja ini sebuah keberuntungan…. Bahkan keberuntungan saja berpihak kepada Anda, Yang Mulia…. Ini adalah sebuah fakta yang tidak terbantahkan…. Pokoknya, saya merasa sangat senang dapat menemukannya, mohon bawa ini bersama Anda…”

“Bukankah ini harganya sangat mahal??”

Jika itu terkait dengan monster langka, maka harga Magic Stone akan melejit naik. Bahkan meskipun tidak diketahui kegunaannya, para kolektor dan bangsawan akan bersedia untuk membelinya dengan harga yang tidak wajar sekalipun. Jadi, Ain memperkirakan tidak sedikit uang yang telah di habiskan untuk mendapatkan Magic Stone itu.

“Saya mendapatkannya menggunakan koneksi lama saya… Jadi sebenarnya harganya cukup murah, karena itu jangan terlalu pedulikan hal ini… Silakan Anda bawa saja….”

Oz menjelaskan sambil tersenyum. Karena hal ini merupakan sebuah berkah bagi Ain, maka ia memutuskan untuk menerima pemberian itu. Sebuah Magic Stone milik Rubah Merah yang ia anggap langka dan mustahil. Jadi Ain juga tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.

“Terima kasih…. Saya pastikan keluarga kerajaan akan berterima kasih untuk hal ini…”

“Tidak perlu… tidak usah terlalu di pikirkan… Saya sudah merasa cukup jika saya bisa bertemu dengan Anda lagi jika suatu saat saya berkunjung ke Ibukota nanti…”

Betapa rendah hatinya manusia ini? Begitulah yang ada dalam benak Ain ketika berinteraksi dengan Oz. Ain membuat keputusan dalam hatinya untuk menemui Oz jika suatu saat nanti pria itu datang ke ibu kota.

“Ya, tentu saja. Kuharap kita bisa menyantap makan malam bersama …”

“Itu bagus! Itu akan menjadi hadiah terbaik yang pernah saya dapatkan!!”

Setelah beberapa saat berbincang tentang Majolica dan beberapa hal lainya, waktu keberangkatan pun tiba. Dan perjalanan langsung dari Ist menuju ke Ibukota kerajaan akan segera berangkat.

“Kalau begitu Profesor Oz…. Sekali lagi aku ucapkan banyak terima kasih atas segalanya…”

“Mohon tetap berhati-hati dalam perjalanan Anda Yang Mulia…. Semoga kita dapat bertemu lagi di lain kesempatan…”

Chris yang telah menerima Magic Stone itu pun ikut membungkuk di sebelah Ain. Kemudian ia pun memimpin Ain untuk menaiki kereta bangsawan yang terlah di sewa untuk Ain. Oz terus menatap kereta yang di naiki oleh Ain tanpa berpaling sedikitpun sampai Water Train itu berangkat dan tak terlihat lagi.

Setelah kereta itu tak terlihat lagi, ia menghembuskan nafas lega dan meninggalkan tempat itu.

“…Tidak baik membuat Putera Mahkota menyentuh Magic Stone si rubah jalang itu…”

Alasan mengapa Oz menyerahkan batu itu kepada Chris bukanlah untuk alasan keamanan. Hanya saja pria itu tidak ingin Ain menyentuhnya.

“Hari ini benar-benar hari yang bagus…. Mari kita buka sake terbaik malam ini… dan meminumnya bersama ayah tercinta…. Ahh malam yang membahagiakan….”

Ia sangat menyesal karena harus berpisah dengan Ain. Namun Ain telah berjanji untuk menemuinya lagi, dan mungkin saja Ain akan terus bergantung kepada Oz. Setelah memikirkan hal ini, tentu saja pria itu menjadi sangat bergembira.

Terlebih, dengan ini ia dapat menyingkirkan Magic Stone yang selama ini tidak ia inginkan. Karenanya, pria itu pun mengadakan pesta kecil dan bersenang-senang di laboratoriumnya.

Terima kasih telah berkunjung...
Jangan lupa tinggalkan komentar....

Comments

3 responses to “Maseki Gurume Volume 5 Chapter 11A”

  1. Evileye says:

    Yeah akhirnya update

  2. actinium says:

    yang di tunggu2, makasih min

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *