Vol.05 - Ch.13.1 ~ Kurasa Semua Itu Perlu Pemberitahuan Lebih Dulu (A)

Anda sedang membaca Maseki Gurume Volume 5 Chapter 13a di Kurozuku.

19 May 2021

Penerjemah : KuroMage

Semoga konsisten dua hari sekali.....

Ibukota kerajaan yang sudah ditinggalkan selama dua minggu. Meskipun keramaiannya masih sama, namun pemandangan kota yang masih tetap indah itu menyambut kedatangan Ain dan Chris.

Suasana hari ini pun berubah drastis sampai-sampai membuat Ain ragu apakah pembicaraannya dengan Chris kemarin malam hanyalah sebuah mimpi belaka.

“Akhirnya sampai juga ya Ain-sama….”

“Padahal ini baru dua minggu, tapi rasanya seperti sudah lama ya…”

Ain telah terbiasa dengan kehidupannya di Ibukota Kerajaan Istalica ini sampai ia merasa menganggap tempat itu adalah kampung halamannya. Meskipun ia baru meninggalkan ibukota selama dua minggu saja, namun itu membuatnya merasa seperti telah melakukan perjalanan dalam waktu yang lama.

Setelah turun dari kereta, Ain bergerak perlahan menuju ke kereta kuda agar tidak terlalu terlihat mencolok. Karena kereta kuda dari istana sudah ada di White Rose maka mereka tidak perlu lagi untuk menunggu.

Karena saat itu Ain tidak melihat Dill di sekitar, Ain pun mengangkat barang bawaannya sendiri. Namun karena rasanya seperti sedang tamasya, Ain sama sekali tidak keberatan dengan ini.

“Tapi yang ribet menyusun laporannya ya….”

“Karena ini adalah pekerjaan…. Karena saya juga harus menulis laporan, bagaimana jika saya menemani Anda?”

“Tolong ya…. Aku jarang membuat laporan seperti ini… jadi aku sangat bersyukur jika Chris-san mau mengajariku…”

Chris mengepalkan tangannya di sisi yang tidak terlihat oleh Ain. Meskipun itu hanya sebuah basa-basi belaka, namun gadis itu cukup bahagia karena masih bisa melanjutkan aktivitas bersama mereka.

“Bikin laporan… terus sisanya mengurus Magic Stone itu ya…”

“…Benar…. Sesampainya di Istana, saya akan menghubungi Majolica….”

Ain sekilas melirik ke salah satu barang yang dibawa oleh Chris. Di dalamnya berisi Magic Stone yang diterima dari Oz. Ada dua poin yang mereka khawatirkan. Pertama adalah kemungkinan jiwa yang ada dalam Magic Stone itu mengamuk atau kemungkinan yang kedua adalah dua jiwa yang ada dalam diri Ain mengamuk. Terlebih mereka takut jika Dullahan kembali lepas kendali.

“Saat ini kita tidak punya pilihan lain selain mempercayai perkataan Elderlich itu… ”

“Apa memang bisa dipercaya….”

Ain telah bertemu dengan Elderlich. Namun Ain merasa ragu untuk menceritakannya atau tidak. Karena itu tingkat kepercayaan Ain kepada Elderlich jauh lebih tinggi daripada yang dimiliki Chris.

“Aku rasa tidak masalah….. Mungkin saat ini Dullahan sedang dipukuli pantatnya…”

“Ku… Kukuku… Bahkan setelah menjadi Magic Stone dan diserap oleh Ain-sama???”

“Sayangnya, kemungkinan itu benar….”

Chris pun tertawa sambil meletakan tangannya di mulut. Ia mengambil sikap berhati-hati agar tidak terlihat terlalu tidak sopan.

Bahkan setelah diserap seperti nutrisi dia masih merasakan dipukuli pantatnya? Tentu saja Chris akan tertawa mendengar itu. Hal ini bahkan membuat mereka bertanya-tanya, haruskah mereka kasihan kepada Dullahan? Atau malah merasa kagum dengan kemampuan Elderlich?

“Tanpa disadari kita sudah sampai ya…. Mari kita naik…”

“Baik… Mari segera pulang ke Istana….”

Mereka pun sampai di tempat kereta kuda menunggu. Namun Chris tampaknya masih belum puas tertawa, masih terlihat sisa-sisa tawa di wajahnya. Ain pun tersenyum melihat sosok Chris yang terlihat begitu bahagia.

“…Akhirnya pulang juga…”

Meskipun Ain mengatakan hal semacam itu dengan mudahnya, namun karena rumah Ain adalah sebuah Istana kerajaan, tentunya tidak semudah orang biasa. Namun bagi Ain, Istana itu tetaplah rumahnya, jadi memang benar jika dikatakan dia sudah pulang.

*

Ain menikmati perjalanan pulangnya sambil berdiskusi dengan Chris tentang apa saja yang akan mereka lakukan setelah sampai di Istana. Ain sudah cukup terbiasa dengan pemandangan kota ini. Sebab selain jalur itu merupakan jalur yang ia gunakan ketika pulang-pergi ke sekolahnya, jalur itu juga jalur yang ia gunakan ketika ingin keluar Istana dan berjalan-jalan di kota. Namun tetap saja, Ain menyukai pemandangan kota yang terlihat dari dalam kereta kuda itu.

“Seperti biasa, Silakan tinggalkan saja barang bawaan Anda di bagasi…..”

“Hmm… Oke….”

Barang bawaan Ain nantinya akan dibawakan oleh para pelayan ke kamar Ain. Karena itu ia bisa meninggalkan kereta kuda dengan tangan kosong. Karena jika dia tetap membawa barangnya sendiri sesampainya di Istana, maka itu akan menjadi pemandangan buruk bagi publik.

“Karena masih ada duel yang akan dilakukan lusa, kita jadi tidak bisa bersantai ya…”

“Anda benar…  Namun malam ini Anda harus benar-benar beristirahat loh…”

“Eh…”

“Jika Anda sampai sakit, itu malah menjadi masalah besar….”

Ain belum mendapatkan informasi dengan cara apa mereka akan menuju ke lokasi duel. Karena harus membawa si kembar, Ain dapat menduga kemungkinan akan melalui sungai, namun Ain sama sekali belum mengetahui rincian situasinya. Apakah mereka akan menyusuri sepanjang sungai? Dengan apa dan bagaimana.

“Apa nanti tidak ada pertemuan untuk membahas tentang duel??”

“Saya penasaran apa yang membuat Anda ragu, tapi ternyata soal itu ya… Anda tidak perlu khawatir, serahkan semua urusannya pada kami….”

“Aku ini kan pemain utamanya loh…?”

“Anda tidak perlu repot-repot mengurus ‘masalah sepele’ seperti itu… Mohon mengerti, Anda hanya perlu datang dan menghadapinya mereka saja….”

Hmm…. Masalah sepele ya…

Ain begitu terkejut sampai-sampai ia berpikir begitu ketika ia mendengar Chris tidak terlalu menganggap penting hal ini. Bahkan Ain sempat khawatir apakah Chris sudah lupa tubuhnya sedang menjadi bahan taruhan. Namun jawaban Chris sangat tidak terduga.

“…Mohon pertimbangkan apa sebabnya Sea Dragon hanya muncul 100 tahun sekali dan diperlakukan sebagai bencana nasional…”

Tentu saja Ain menyadarinya. Jika ia ditanya, apakah ia dapat mengalahkan Sea Dragon jika bertarung sekali lagi. Maka dia akan menggelengkan kepala sekuat tenaga. Sebesar itulah nilai keberuntungan Ain dapat mengalahkan dua Sea Dragon.

Ditambah lagi, belati hitam yang katanya adalah buatan Elderlich itu sudah tidak ada lagi. Maka tingkat kesulitannya akan bertambah. Bahkan setlah menyerap sebagian Magic Stone milik Sea Dragon pun kenyataan itu tidak berubah.

“Tentu saja aku tahu itu… Aku juga mengerti maksudmu Chris-san… tapi si kembar itu kan masih anak-anak….”

“Saya dengar Catima-sama telah mengirimkan beberapa laporan terkait si kembar… Apakah Ain-sama sudah membacanya??”

“Ya… Aku tahu mereka tumbuh dengan baik….”

“…Bagian rinciannya??”

“belum baca…”

Baginya yang terbaik adalah para Sea Dragon itu dapat tumbuh dengan sehat. Karena itu ia hanya membaca bagian pertumbuhan dan kondisi kesehatan mereka, sedangkan bagian lainnya tidak pernah dibaca. Oleh karena itu ia hanya bisa menjawab bahwa ia belum membacanya.

“Padahal bagi si kembar itu, Ain-sama sudah seperti orang tua…”

“Aku agak menyesal tentang itu…. Ta-tapi memang ada yang sepesial soal itu??”

“…Karena Anda belum tahu, silakan nantikan saja saatnya tiba…”

Chris mengatakan itu sambil meletakan jari telunjuk di bibirnya. Jadi rahasia ya, bahkan untuk seorang putera mahkota? Terlintas pemikiran semacam itu dalam benak Ain, namun Ain sadar ini semua adalah salahnya sendiri karena tidak membaca laporan itu secara menyeluruh. Jadi ia memutuskan untuk menyimpan masalah ini.

Entah mengapa bibir lembut yang tertekan jari itu tampak agak licik.

“Rasanya jadi aneh…”

“Sudah… sudah… Ain-sama tidak perlu mengkhawatirkan apapun… Jadi silakan beristirahat dengan tenang, dan fokus menyusun laporan tentang perjalanan ke Ist…. dan juga fokus kepada Magic Stone milik rubah merah itu…”

“Jadi kesimpulannya… Aku hanya perlu ikut dan datang ke lokasi duel itu, begitu?”

“Benar sekali…”

Chris mengatakan itu sambil tersenyum manis.

“Begitu ya… Jadi tidak ada yang bisa aku lakukan… ”

Ain tidak punya pilihan lain selain menerimanya.

“Setelah duel mungkin Anda akan melakukan sedikit tugas untuk menangkap ‘sampah’, namun jangan terlalu dipikirkan….”

“Oh ya…”

Meskipun nada bicaranya sedikit berubah, namun mungkin masalah ini sudah selesai dibahas. Warren dan yang lainnya mungkin telah memutuskan apa yang harus dilakukan setelah menangkap Viscount Sage.

“Tapi aku sedikit ke pikiran….”

“Hmm?”

“Bukankah boleh jika aku yang muncul??”

Ain menambahkan dirinya adalah Named, dan bisa berenang. Maksudnya adalah tentang peserta duel. Karena syarat untuk mengikuti duel itu adalah monster air, karena Ain bisa berenang maka tidak ada bedanya kan? Begitulah yang Ain pikirkan.

“…Haahh… Mengapa Anda bisa kepikiran hal semacam itu…. Sepertinya Anda masih perlu pendidikan….”

Baru saja sampai di Ibukota Ain sudah membuat Chris kelelahan. Chris pun tidak bisa apa-apa selain memegangi kepala dengan kedua tangannya. Sebenarnya Ain ingin menggunakan pernyataan itu sebagai Dark Jokes, namun ternyata lawakannya sama sekali tidak tersampaikan dan ini membuatnya agak sedih.

“Ga-gak ketawa ya….”

Ain mencoba mengungkapkan perasaannya dengan ekspresi sedih, namun Chris menjawabnya dengan tegas.

“Ain-sama? Itu sama sekali tidak lucu loh….”

Begitu ya.. tidak bisa ya…

Setelah mendengar Chris mengatakan itu, Ain mengerti bahwa leluconnya tidak dapat diterima. Ain berencana memakai kembali lelucon ini jika memang bisa diterima, namun akhirnya pada detik itu ia memutuskan untuk membuang jauh-jauh materi seperti itu.

“Lagi asyik ngobrol hal aneh tidak terasa kita sudah sampai ya…”

“Ain-sama? Anda menyadari kalau topik itu aneh ya…”

“Yah, sedikit…”

“…Apa jangan-jangan Anda sedang mempermainkan saya??”

Akhirnya Chris menyadarinya. Namun saat mendengar itu, Ain hanya menatap gadis itu dengan senyuman.

“Ayo jalan… Semuanya pasti sudah menunggu kita!”

Chris tampak sedikit cemberut karena pertanyaannya diabaikan. Namun Ain merasa cukup senang bisa menyaksikan sikap Chris yang sedang menggunakan pakaian Ksatrianya itu.

Kemudian, pintu kereta kuda yang berhenti di halaman Istana pun dibuka oleh Martha yang sudah menunggu di luar.

“Selamat datang Ain-sama… Yang Mulia dan Olivia-sama beserta semua orang sudah menantikan kedatangan Anda…..”

“Terima kasih Martha…. Aku pulang.”

Ketika ia turun dari kereta, Ain pun merasa cukup lega setelah melihat pemandangan Istana masih sama seperti biasanya. Perjalanan jauh dari kota sihir Ist. Meskipun ia merasa sedikit menyesal telah meninggalkan kota itu, namun ternyata Ibukota masih merupakan tempat terbaik bagi dirinya.

Terima kasih telah berkunjung...
Jangan lupa tinggalkan komentar....

Comments

2 responses to “Maseki Gurume Volume 5 Chapter 13a”

  1. actinium says:

    makasih min

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *