Vol.02 - Ch.03 ~ Onmyouji terkuat, Bertingkah Jahat

Anda sedang membaca Saikyou Onmyouji Volume 2 Chapter 3 di Kurozuku.

20 Sep 2020

Penerjemah : KuroMage

 

Selamat Membaca….

Karen-sensei muncul di Auditorium 15 menit lebih lambat daripada yang telah dijadwalkan. Meskipun biasanya dia adalah seorang wanita dewasa yang cukup tenang, namun hari ini dia tampak sangat terburu-buru.

“Ma-maaf, aku sedikit terlambat…. Mungkin banyak dari kalian yang belum mengetahuinya, Sebenarnya disaat-saat ini wilayah utara kekaisaran akan mulai menjual es… dan itu akan digunakan oleh toko cemilan Rodenea sebagai….”

Sekitar 15 menit kemudian Karen-sensei mulai memberikan gambaran umum tentang es krim khas Rodea, serta menjelaskan betapa sulitnya untuk mendapatkan itu serta perjuangan yang telah ia lakukan sampai akhirnya mendapatkannya. Dan akhirnya pelajaran pun baru dimulai 30 menit terlambat dari jadwal.

“Hari ini aku akan menjelaskan tentang ‘kutukan’ yang merupakan jenis khusus dalam sihir kegelapan…. Yang terkenal dari sihir ini adalah…..”

Pemaparan Karen-sensei itu cukup menarik. ‘Kutukan’ yang ada di dunia ini katanya secara umum dibagi menjadi dua jenis. Yang pertama adalah menerapkan jutsu pada pedang, armor atau aksesoris yang akan membahayakan penggunnya. Semacam cursed item.

Sedangkan yang satunya lagi adalah memberikan kutukan kepada target secara langsung. Di tubuh target akan muncul semacam tanda kutukan dan biasanya memiliki efek yang cukup kuat.

……. Kesimpulannya adalah, kedua teknik ini sangatlah sulit digunakan. Meskipun di dunia ku sebelumnya juga ada cursed item, namun kebanyakan benda-benda itu merupakan hasil ketidak sengajaan. Memang nya mau apa dengan sengaja membuat item seperti itu?? Apa harus memberikannya langsung pada target yang ingin dikutuk??

Sedangkan teknik yang kedua ini sepertinya cukup kuat, namun katanya harus mendekati target dulu sebelum bisa memberikan kutukan. Kalau harus begitu kenapa tidak menggunakan pedang atau busur saja?? Kau akan bisa langsung membunuhnya secara fisik.

Pantas saja “kutukan” di dunia ini cukup langka. Buktinya Karen-sensei yang merupakan pengajar elemen kegelapan ini tidak terlalu ahli dalam bidang kutukan. Sepertinya semua akibat empat elemen sihir yang terlalu berfokus pada penanggulangan monster jadi konsep sihir disini sangatlah berbeda dari yang ada di dunia ku sebelumnya. Sihir di kehidupanku sebelumnya itu, kutukan adalah aspek utama.

Kita bisa menerapkan jutsu dari jauh dan menyamarkannya seperti penyakit, serta dengan pasti membunuh seseorang.  Meskipun ada banyak kekurangan, namun dalam pertarungan orang melawan orang maka ini sangatlah efektif. Sepertinya sihir yang digunakan akan berbeda jika budayanya berbeda ya.

“Sepertinya sudah selesai ya… Pelajaran ini aku akhiri sampai disini….”

Meskipun pelajaran ini berakhir ditempat yang cukup baik, tapi pasti ini masih diluar rencana. Ketika semua orang mulai membereskan alat tulis dan ingin beranjak menuju ke kelas berikutnya, tiba-tiba Karen-sensei mengatakan sesuatu.

“Dan juga, aku punya pesan untuk kalian semua…. Semua kelas dalam 10 hari kedepan akan dibatalkan… karena akan diadakan sebuah ritual tahunan untuk memperingati pembukaan akademi ini, jadi siswa akan diliburkan….”

Terdegar suara bising di seluruh Auditorium. Ada juga beberapa orang yang bersorak gembira. Ritual ya? Mungkin itu semacam pesta untuk orang-orang penting dan para pejabat serta bangsawan setempat.

“Tapi aku akan meminta bantuan kepada dua siswa…. Amu-san dan Ifa-san…”

“Eh?? A-aku??”

Aku mendengar suara terkejut disampingku. Karen-sensei pun tersenyum dan melanjutkan perkataannya.

“Di hari ritual ini kami akan meminta orang yang berada pada posisi pertama dan kedua untuk meletakan sebuah gulungan kulit domba yang berisikan nama-nama siswa yang berhasil diterima di akademi ini, ke kuil kecil yang ada didalam hutan Rodnea…”

Kuil kecil didalam hutan??

“Seperti yang kita semua ketahui, Kota Akademi Rodnea ini dibangun oleh seorang Wiseman serta para muridnya yang menetap dihutan Rodnea yang penuh dengan tanaman obat langka ini. Jauh di kedalaman hutan ada sebuah reruntuhan kuil dari zaman kuno serta berbagai tanaman obat yang mustahil dikumpulkan manusia, dan dikatakan bahwa telah dirawat oleh sebuah kekuatan sihir yang tersisa di reruntuhan itu….”

Sensei pun melanjutkan penjelasannya.

“Meskipun cerita ini masih diragukan kebenarannya, namun sang Wiseman serta para muridnya sangat menghormati kuil tersebut…. Dan pemikiran ini terus diwariskan bahkan setelah akademi ini berdiri, dan masih diadakan ritual disetiap tahun… Karena itu siswa dengan nilai teratas akan melakukan ritual ini….”

“Ritual ini…. Memangnya apa yang harus kita lakukan??”

Amu mengatakan itu sambil mengangkat tongkatnya.

“Seperti yang aku katakan tadi… Kalia hanya perlu meletakan gulungan kulit berisi nama-nama siswa baru kedalam reruntuhan kuil…. Hanya itu saja…. Meskipun dikatakan ritual, ini hanya seperti formalitas saja…. Dan juga kalian harus membawa pulang gulungaana kulit tahun lalu….”

“Dimana tepatnya lokasi kuil itu??”

“Memang butuh sedikit waktu, namun jaraknya masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki kok….. Tidak perlu sekhawatir itu kok Amu-san… Ini adalah ritual tahunan…..”

“Kalau begitu baguslah….”

Amu mengatakan itu sambil memejamkan matanya. Kenapa ya? Apa jangan-jangan dia memang memiliki kepribadian yang sangat berhati-hati??

Tapi, yah aku mengerti. Hutan memang pada dasarnya adalah tempat yang berbahaya. Mungkin Hutan Rodnea yang telah terpelihara ini hanyalah sejumlah kecil pengecualian.

Namun kali ini baru saja terjadi serangan dari ras iblis. Aku merasakan sedikit kejanggalan karena harus memasuki hutan yang menjadi markas Galeos waktu itu disaat seperti ini. Selain itu ada kekhawatiran lain.

Ah benar juga….

“Tapi ini adalah sebuah tradisi dan penuh kehormatan besar… Pada hari itu….”

“Sensei!”

Aku mengangkat tangan dan memotong perkataan Sensei.

“Oh, ya. Ada apa, Mr. Lamprogue?”

“Bagaimana jika salah satu dari mereka menolak? Apa sisanya akan memasuki hutan itu sendirian??”

“Tidak.. Jika seperti itu maka kami akan meminta posisi ketiga untuk menggantikannya….. Meskipun lemah, hutan Rodnea tetap aa monster… kalau cuma sendirian kami juga khawatir….”

“Begitu ya… Terima kasih.”

Aku memalingkan wajahku kearah Ifa dan mengatakan sesuatu dengan  suara cukup jelas agar bisa didengar orang sekitar.

“Ifa, Katakan mengundurkan diri….”

Seketika Auditorium ini menjadi ramai. Setelah sedikit terdiam karena terkejut, Ifa pun berkata.

“Eh.. ta-taapi Seika-sama…. Ka-kalau bisa…..”

“Apa kau tidak mendengarkan ku? Silahkan mengundurkan diri….”

“……Ba-baik…”

Ifa pun berdiri menghadap Karen-sensei dan membungkukan kepalanya.

“Maaf, Sensei…. Jadi seperti itu… saya tidak bisa menerimanya… “

“… Apa-apaan itu?” “Apa dia segitu pengennya ikut ritual??” “Pasti dia sangat kesal telah kalah dari budaknya” “Dasar Aib bangsawan” “orang serakah yang tidak punya sihir”

Suara bergema semakin keras terdengar. Bahkan Karen-sensei pun mengerutkan keningnya.

“Mr. Lamprouge….. Aku tidak bisa mendukung tindakan mu ini….”

“Ini adalah ritual tradisi kan? Itu bukanlah sesuatu yang dilakukan oleh seorang budak… Maka biarkan aku sebagai posisi ketiga yang menggantikannya Sensei…”

Aku berdiri dan mengatakan itu, lalu aku meninggalkan auditorium. Dan Ifa pun mengikuti ku dengan terburu-buru.

****

“Maaf ya Ifa… Apa kamu ingin berpartisipasi dalam ritual itu?”

“Tidak juga kok….”

Ketika aku bertanya kepada Ifa sambil berjalan, dia menggelengkan kepalanya dan menjawab seperti biasanya.

“Entah kenapa Seika-kun sepertinya sengaja ingin terlihat jahat jadi aku ikut berakting saja…”

“Ah ternyata kamu memang mengetahuinya ya…”

Aku sudah memikirkan ini sejak pertama kali mengajarinya belajar, anak ini memang cerdas.

“Hei, memangnya kenapa kamu melakukan hal seperti itu? Seika-kun itu pasti tidak terlalu perduli dengan ritualnya kan?”

“eh? Memangnya aku terlihat seperti itu??”

“Apa ini…. demi Amu-chan?”

Ifa melanjutkan perkataannya.

“Apa kamu sengaja terlihat jahat agar Amu-chan tidak terlalu menjadi bahan pembicaraan lagi??”

“Yah… itu salah satu alasannya…”

“…..”

Setelah terdiam sejenak, Ifa bertanya dengan suara pelan.

“… Seika-kun, apa kamu suka gadis yang seperti itu??”

“Eh?”

“Kamu sepertinya selalu memperhatikan Amu-chan…. Memang dia gadis yang cantik…. Langsing… dan rambutnya indah….”

Setelah terdiam sejenak, aku pun tertawa lepas.

“Tidak, tidak. Bukan itu… Aku hanya ingin berteman dengannya….”

“Kenapa?? Gadis itu bukan seorang bangsawan yang hebat, dan juga kata-katanya pedas sekali….”

“Itu karena….”

Aku sedikit bimbang bagaimana mengatakannya, namun akhirnya aku memutuskan untuk mengatakan apa adanya.

“Karena dia itu kuat…”

“…..”

“Ifa juga melihatnya kan? Saat ketika dia mengalahkan Lesser Demon…. Mungkin dia adalah satu dari sejumlah kecil sosok manusia hebat di dunia ini…. Jadi aku sangat ingin menjadi temannya…. Bagaimana pun caranya….”

“….Apa aku masih belum cukup??”

“Hmm?”

Ifa mengatakan sesuatu seolah dia mengungkapkan semua isi pikirannya.

“Aku juga pasti akan menjadi kuat! Entah bagaimana aku bisa merasakannya….. Para Seirei juga mulai berkumpul sedikit demi sedikit… dan mereka juga mulai mendengarkan permintaan sulit dariku…. Aku merasa pasti aku akan bisa melakukan sesuatu yang hebat…. Aku pasti tidak akan kalah dari Amu-chan….”

Aku pun menghentikan langkahku dan tertawa menghadap Ifa.

“Maaf, tapi menurutku Ifa masih belum cukup kuat….”

“….”

“Apakah kamu bisa membayangkannya? Dirimu dipuji oleh banyak orang, ditakuti orang banyak, dan juga kekuatanmu di peras oleh mereka?? Gadis itu suatu saat pasti akan mengalami hal itu…. Seberbakat itu lah dirinya…”

“……Begitu ya….”

Ifa menggumamkan itu dan kemudian tersenyum seperti biasanya.

“…. Kalau begitu aku akan membantu ya… Kami satu asrama di asrama perempuan…. Jadi mungkin akan ada hal yang bisa menjadi pemicunya….”

“Ya… Tolong ya….”

“Tapi….. Kalau bisa, aku tidak ingin Seika-kun mengatakan hal seperti tadi lagi…. Kalau aku mendengar Seika-kun dijelek-jelekan oleh orang lain aku merasa tidak nyaman….”

“Hmm… Baiklah… lagipula ini akan berpengaruh pada reputasi Ifa juga sih…”

Sambil mengatakan itu aku membelai rambut pirang yang terasa lembut itu. Aku tidak terlalu membenci sikap mencolok yang tadi aku tunjukan, tapi… sepertinya itu adalah kebiasaan buruk ku.

“Ngomong-ngomong, apa alasan yang lainnya?”

“Ah… agar kalau Ifa menolak mereka tidak bisa memprotes dan juga karena aku ingin menyelesaikan pembicaraan itu…. Dan satu lagi…”

Aku pun melanjutkan.

“Entah kenapa aku merasa sepertinya akan terjadi sesuatu lagi.

Terima kasih telah mampir….

 

Comments

5 responses to “Saikyou Onmyouji Volume 2 Chapter 3”

  1. jio says:

    lagi lagi lagi mas admin

Leave a Reply to Ryu Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *