Chapter 27 ~ Onmyouji terkuat, Terkena Perangkap

Anda sedang membaca Saikyou Onmyouji Volume 2 Chapter 4 di Kurozuku.

22 Sep 2020

Penerjemah : KuroMage

Selamat Membaca!!

Dan hari pelaksanaan ritual pun tiba.

Setelah menyelesaikan beberapa upacara pembukaan, aku dan Amu diantarkan oleh beberapa pejabat Akademi, tamu undangan, serta beberapa siswa senior untuk memasuki Hutan Rodnea dengan membawa gulungan kulit domba.

“…..”

“….”

Kami berdua terus berjalan tanpa berbicara. Perjalanan menuju reruntuhan kuil sudah dipadatkan dan membuatnya mudah untuk dilalui. Sepertinya ada orang yang merawatnya secara teratur.

Hutan Rodnea ini merupakan bagian wilayah Akademi dan tentu saja berada di dalam tembok kota Rodnea. Ada hutan di dalam tembok itu… Aku hanya bisa mengatakan ini adalah perencanaan kota yang sangat gila. Area tempat tinggalnya yang sempit serta tembok yang melebar, dan sulit untuk dilindungi jika musuh datang. Namun karena pada awalnya Rodnea ini hanyalah sebuah tempat belajar yang ada di samping hutan, jadi mungkin hal ini tidak terelakkan. Dan juga aku dengar di sini menjadi tempat yang lebih nyaman ditinggali daripada Ibukota kekaisaran yang padat penduduk.

Mungkin pemandangan di dekat pegunungan cukup bagus. Beberapa bangsawan di kehidupanku sebelumnya juga berusaha membuat pemandangan yang sama di taman rumah mereka.

Sepertinya butuh waktu sekitar dua jam untuk sampai ke kuil tujuan kami. Karena kami harus kembali ketika upacara selesai, maka kami tidak bisa terlalu membuang-buang waktu.

“Hei….”

Tiba-tiba, Amu berbicara kepadaku.

“Apa tujuanmu?”

“Apanya?”

“Kenapa kau ingin sekali ikut acara seperti ini sampai memainkan akting murahan begitu??”

Aku pun tersenyum dan menjawab.

“Kurasa acara seperti ini memang harus dilakukan oleh orang yang memiliki status sosial kan…. Mau sebagus apa pun prestasinya… ya kan?”

“bohong”

“…..”

“Senyumanmu itu penuh dengan kebohongan….. :Lagi pula kau ini pasti menganggap ritual semacam ini bagaikan sampah….”

“…Apa memang aku terlihat seperti itu ya??”

Tapi aku tidak menganggapnya bagaikan sampah kok.

“Lagi pula kau itu biasanya tidak akan mengatakan hal seperti itu kepada budakmu itu kan….. Gadis itu juga sepertinya sengaja mengikuti sandiwaramu….”

“…..Aku tidak menduga, ternyata kamu selalu memperhatikan kami ya??”

“Kalian saja yang selalu berduaan di mana pun…. mau tidak mau pasti akan terlihat…. Kalian selalu menempel tanpa peduli pandangan orang lain….”

“Kurasa tidak begitu….”

Benar, serius deh.

“Apa yang ingin kau lakukan sampai-sampai melakukan sandiwara menyedihkan begitu??”

“Yah… Sampai saat ini kan cuma Amu yang terlihat di jelek-jelekan, aku merasa sikap mereka keterlaluan, padahal kamu kan sudah berjuang keras untuk kita….”

“Hah? Apa-apaan itu?? Aku tidak….”

“Dan juga… aku ingin sekali berbicara santai denganmu….”

Ketika aku mengatakan itu sambil tersenyum, Amu melirik kepadaku dengan tatapan jijik seperti melihat sampah.

“Budak berdada besar itu tidak cukup bagimu dan sekarang ingin mencoba teman sekelas?”

“Hei… itu salah paham….. Dan juga aku tidak memiliki hubungan seperti itu dengan Ifa….”

“Walaupun hubungan kalian tidak seperti itu pasti kau sudah melakukan hal tidak senonoh padanya kan….”

“Kubilang tidak!”

“Mencurigakan….”

Amu mengatakan itu sambil mendengus.

“Aku tahu kok…. Bangsawan itu memiliki hak untuk bebas melakukan hal seperti itu kan…. Benar-benar, bangsawan itu benar-benar yang terburuk….”

“Hak itu didapatkan dengan menggunakan bayaran, sama seperti orang menikah…. Jika sampai bangsawan bisa melakukan itu tanpa memberikan bayaran nanti akan menjadi masalah…..”

“Kau bilang begitu tapi kalian melakukan hal seenaknya pada warga wanita diwilayah kalian kan….”

“Kalau sampai ada yang melakukan itu nanti para warga akan lari dan mengurangi pajak lalu menjadi masalah fatal bagi wilayah…”

“Hng…”

“Lagi pula kenapa kita jadi membicarakan hal kotor seperti ini???”

“Mana aku tahu! Kau yang mulai kan!!”

“Tidak, tidak… bukannya Amu yang mulai??”

Aku mengatakan itu dan menghela nafas.

“Anno… Seperti yang pernah aku katakan sebelumnya, aku hanya ingin menjadi temanmu….”

“Kenapa harus aku?”

“Karena kita sama-sama orang yang berada di puncak, kurasa akan lebih mudah untuk menjadi dekat….”

“Apa kau tidak merasa memalukan ketika mengatakan itu pada dirimu sendiri?”

“Kalau begitu, alasannya adalah karena kamu kuat…. bagaimana??”

“Lalu apa untungnya aku yang kuat ini berteman dengan kau yang lemah itu??”

“Aku ini lumayan lebih kuat dari apa yang kamu bayangkan loh…”

“Lumayan??”

Amu menarik pedang yang ada di pinggangnya. Aku pikir dia akan mengayunkannya dengan santai namun, ———— dengan hampir tanpa gerakan awalan, pedang itu menghujam ke arahku.

“……”

Ujung pedang itu hampir menggores telingaku dan sampai ke belakangku. Dan menusuk inti slime yang melompat ke arahku dengan akurat.

Ketika aku menoleh ke samping, Slime yang intinya telah rusak itu meleleh menjadi seperti lumpur.

“Aku tidak bisa menganggap orang yang lepas waspada dari monster rendahan itu sebagai lumayan…”

“……”

Aku pun diam-diam menyingkirkan kembali Hitogata yang aku gunakan untuk membuka gerbang. Awalnya aku ingin menyingkirkan monster itu diam-diam, namun sepertinya tidak berguna ya. Daripada itu, aku sedikit tertarik ada pedang yang memiliki dekorasi yang dipegang Amu.

“Pedang itu… Sepertinya memang pengganti tongkat ya??”

“Ini Blade-staff Apa kau tidak tahu???”

“Kalau tidak salah….. itu senjata yang digunakan oleh magic knight??”

 

Menurutku, sangat tidak jelas kenapa ada penyihir yang menjadi seorang pendekar pedang, namun sepertinya ada job seperti itu di dunia ini. Mahir dalam menggunakan pedang dan sihir. Dan Blade-staff dibuat untuk orang seperti itu.

“Aku sudah lama memikirkan ini…. Bukankah benda itu terlalu merepotkan untuk digunakan sehari-hari?? Daripada itu, kita bisa ya membawa benda yang terlihat berbahaya seperti itu ke sekolah??”

“Kau ini bicara apa? Tongkat yang kau gunakan itu juga sudah cukup berbahaya kan?? Aku ini hanya memakai senjata yang sudah biasa aku pakai saja…. Memangnya salah?”

“Tidak kok….”

Sebenarnya dalam teknik kutukan itu sangat tidak baik jika terlalu mengandalkan benda. Alat itu bukan inti dalam melakukan teknik itu. Baik tongkat, Blade-staff, kertas mantra, segel itu sama saja. Tanpa itu semua bisa digunakan. Pada dasarnya inti dari teknik kutukan adalah kekuatan kata-kata yang ada dalam kesadaran. Hanya itu saja.

Yah kurasa gadis ini suatu saat akan bisa sampai ke titik itu dengan kemampuannya sendiri.

“Aku tidak terlalu peduli, tapi gulungan kulit domba itu tidak kotor kan…. Aku tidak datang kemari untuk mengasuhmu…”

Amu mengayunkan pedangnya untuk membersihkan cairan Slime yang menempel dan kemudian memasukannya kembali ke dalam sarungnya.

Dan… aku merasa tubuhnya itu mulai bergetar. Lalu dia memegangi kepalanya seolah ia sedang sakit kepala.

“….”

“Apa kamu baik-baik saja?”

“……Tidak apa-apa…”

“Kelihatannya sih tidak begitu ya…. Bukannya sebaiknya kamu yang mengundurkan diri saja??”

“Aku…. Cuma sedikit tidak enak badan saja… Ini bukanlah hal yang harus kau khawatirkan….”

Setelah beberapa saat, Amu mulai melangkah kembali dengan kokoh seolah sakit kepalanya telah mereda. Yah untuk saat ini mari kita selesaikan dulu kegiatan ini.

Dan selama beberapa saat kemudian kami meneruskan perjalanan kami tanpa berbicara. Dan menurut waktunya, seharusnya ini sudah saatnya kami tiba di kuil tujuan kami. Aku merasakan adanya sedikit aliran kekuatan, dan aku pun menghentikan langkahku.

“… Apa itu?”

Amu juga sepertinya merasakan ada sesuatu. Di ujung tatapannya yang memasang ekspresi curiga, terlihat sesuatu berwarna pudar di balik semak-semak.

“…Aku akan melihatnya sebentar, tunggu di sini….”

“Oh, hei!”

Sedikit jauh dari jalan, ada sebuah lahan terbuka yang terdapat bekas-bekas semak-semak yang dibuka. Dan di tengahnya ada sebuah tunggul besar yang tergambar sebuah lingkaran sihir dengan warna yang pudar. Benda itu mirip dengan apa yang aku lihat selama keributan Demon waktu itu.

Dam tunggul itu sepertinya masih baru. Banyak bunga putih bermekaran disekitar tunggul itu, namun di beberapa tempat bunga-bunga itu patah seolah telah diinjak-injak.Sepertinya tempat terbuka ini adalah buatan manusia.

“Apa ini…. Lingkaran sihir??”

Amu yang datang di belakangku menggumamkan hal itu ketika melihat lingkaran sihir. Dan ia mendekati tunggul itu.

“Hei, tidak apa-apa kalau kamu ingin mendekat, tapi jangan sentuh lingkaran sihirnya loh…”

“Aku tahu!!”

Dengan wajah yang sedikit cemberut, Amu melangkah mendekati.

Dan kemudian….

Sebuah lingkaran sihir besar muncul meliputi seluruh ruang terbuka ini.

“A-Apa ini??!”

Amu menyuarakan suara panik ketika melihat lingkaran sihir yang tiba-tiba muncul di bawah kakinya. Aliran kekuatan di sekitar tiba-tiba meluap menjadi besar.

Gawat… ini….

“Amu !!”

Aku segera meraih tangan Amu. Dan aku pun masuk ke dalam jangkauan lingkaran sihir itu.

Lalu sesaat kemudian, pandanganku menjadi gelap.

 

Terima kasih telah berkunjung. Jangan lupa untuk tinggalkan komentar.....

Comments

5 responses to “Saikyou Onmyouji Volume 2 Chapter 4”

  1. Goddess Lime says:

    Akhirnya bisa ngalahin bahamuth

  2. jio says:

    tanda2 harem kah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *