Saikyou Onmyouji Volume 2 Chapter 7
~Onmyouji terkuat, Menyusuri Dungeon~

 

Selamat Membaca….

Dengan Amu, yang merupakan seorang swordsman memimpin, kami berjalan menyusuri Dungeon. Setelah berjalan sampai pada jarak tertentu, aku menempelkan hitogata di atap labirin ini dan kemudian memasukan energiku kedalamnya.

“……Anooo Seika-sama…. Sejak tadi, apa yang sebenarnya lakukan ini??”

“Ya… aku penasaran apa aku bisa mendeteksi tempat ini dari permukaan….”

Aku menjawab dengan suara pelan agar Amu tidak mendengarnya. Seluruh shikigami yang ku tinggalkan di Akademi, selain yang berbentuk gagak, aku rubah menjadi bentuk lebah madu dan aku terbangkan menuju hutan. Namun aku masih belum bisa mendeteksi mereka terpengaruh teknikku. Jadi aku akan melanjutkan kegiatan ini sedikit lebih lama.

Meski begitu, penglihatan dari lebah ini sedikit merepotkan ya. Selain jumlah matanya yang banyak, lebah juga dapat melihat warna yang tidak bisa dilihat dengan manusia, jadi benda-benda akan terlihat berbeda. Tapi apa boleh buat, tugas ini hanya bisa dilakukan oleh shikigami jenis ini.

****

Beberapa kali kami bertemu dengan monster. Selain Orc dan Lizardman, ada juga Skeleton, Slime, Goblin, monster-monster yang dikatakan tidak aneh jika muncul di dalam Dungeon. Setiap kalu aku bertemu mereka, aku semakin merasakan bahwa ini adalah dunia yang berbeda.

Biasanya hanya ada sedikit makhluk hidup di dalam gua. Paling hanya ada kelelawar, tikus dan serangga. Sungguh aneh bisa ada banyak makhluk besar seperti mereka di tempat seperti ini.

Sepertinya benda yang melahirkan para monster ini adalah benda yang disebut inti dungeon ini. Kupikir sosok monster itu lebih mirip dengan binatang namun rupanya lebih dekat dengan makhluk astral ya.

Di kehidupanku sebelumnya juga ada beberapa tempat yang dapat dikatakan mirip dengan Dungeon.  Tempat itu disebut sebagai rumah hilang atau desa tersembunyi, sebuah dunia yang tercipta dari kekuatan yang luar biasa besar. Satu-satunya perbedaan adalah tempat yang ada di dunia ini benar-benar ada dalam bentuk fisik. Maka itu artinya kita dapat keluar dari sini secara fisik.

“Benar-benar tidak ada susahnya ya…. Sepertinya ini dungeon berlevel rendah….”

Amu mengatakan itu sambil menendang skeleton. Dia selalu berada di depan dan mengayunkan pedangnya untuk membasmi para monster itu. Aku hampir tidak kebagian giliran menyerang.

“Jangan terlalu berlebihan ya…. Apa aku harus menggantikanmu di depan??”

“Bercanda?? Serahkan garis depan kepada Swordsman!”

Amu tersenyum luar biasa.

“Seorang garis depan yang berbakat dapat mengubah energi sihir yang mereka miliki menjadi kekuatan tubuh mereka….. Kalau cuma ini saja masih belum ada apa-apanya….”

Memang pada kenyataannya Amu masih belum kelihatan kehabisan nafas. Baik kemampuan pedangnya yang luar biasa itu ataupun kekuatan fisiknya yang pernah mementalkan pentungan demon membuatnya layak untuk mengatakan itu. Selain itu, di samping memiliki bakat dalam menggunakan pedang seperti pedangnya itu hidup, dia juga memiliki kecocokan dengan semua atribut sihir dan dapat menggunakannya tanpa rapalan. Mungkin layak dikatakan jika dia pantas untuk menjadi Hero.

Meskipun ada sifat kekanak-kanakan karena dia memang masih belum dewasa, namun saat dia dewasa nanti, entah seperti apa kekuatan yang dapat dia peroleh.

“Seika-sama …”

Yuki memberitahukanku tentang adanya musuh dengan berbisik di telingaku. Ketika musuh itu sampai di bidang penglihatan kami, Amu menyuarakan kegembiraannya.

“He…. Ternyata ada juga yang terlihat kuat ya…..”

Dan ternyata yang terlihat di ujung hitogata penghasil cahaya itu adalah kumpulan goblin yang telah beberapa kali kami temui. Namun ukuran mereka sangatlah besar. Mungkin sekitar 2 meter, dengan kulit berwarna hijau, namun fisiknya sangatlah berbeda. Mungkin mereka adalah spesies tinggi yang di sebut dengan hobgoblin.

Terlebih mereka juga bersama dengan goblin biasa yang bertubuh kecil.

“Bubuugoooooaaa !!”

Begitu Hobgoblin itu menyadari keberadaan kami, dia bergegas mengayunkan pedang besarnya. Amu pun menerimanya. Pedang besar itu mengayun dari atas, dan Blade-staff milik Amu mementalkannya. Hanya dengan satu kali tebasan.

Dalam posisi yang kurang seimbang itu, Hobgoblin mencoba menebaskan kembali pedang besarnya itu, namun Amu segera melangkah mendekatinya dan memotong tangan yang memegang pedang besar itu.

Terdengar suara jeritan bergema di lorong labirin ini. Untuk menghentikan itu, Amu mencoba mengayunkan pedangnya sekali lagi untuk memenggal kepalanya. Namun sesaat kemudian. Tubuh Amu lunglai.

“…..”

Amu memegangi kepalanya dan badanya gemetar seolah kesakitan.

“Bugooah !!”

Dan Hobgoblin itu memukul kepalanya dengan tangan besarnya yang tinggal satu  itu. Amu pun terpental ke dinding dan menghasilkan suara tumbukan, lalu tubuhnya terjatuh ketanah. Melihat sosok swordsman yang sudah tidak bisa bergerak itu para goblin segera mengelilinginya.

“Amu!”

Pilar kayuku menembus tengkorak Hobgoblin. Aku membersihkan goblin yang ada disekitar dengan menggunakan Pile-Driving, dan berusaha mendekati Amu. Nafasnya masih ada. Namun sepertinya dia pingsan.

“Seika-sama, masih ada banyak loh….”

“Aku tahu”

Sambil menyeka darah yang ada di pipiku aku terus menembakkan pilar kayu kepada goblin yang mendekat. Aku ingin mengobati Amu, tapi sepertinya pertama-tama aku harus menyingkirkan mereka dahulu.

Aku menembakkan pilar kayu. Lagi…. dan lagi….. dan lagi…..

“…Sebanyak apa sih kalian!!”

Aku pun menerbangkan hitogata penghasil cahaya….. dan aku pun terkejut. Di ujung lorong ini dipenuhi dengan sejumlah besar goblin. Terlebih ada beberapa hobgoblin juga di antara mereka. Seketika wajahku pun menegang.

Menyebalkan! Kalau sebanyak ini Pile-Driving tidak akan cukup untuk menghadapi mereka semua. Kebetulan saat ini Amu sedang pingsan, jadi tidak apa-apa kan?

[Summon———Omukade]

Seketika muncul retakan ruang, dan sosok kelabang raksasa muncul dari sana. Kelabang raksasa itu langsung menyerang para goblin itu tanpa ragu dan memakan mereka dengan rahangnya yang terlihat kejam itu.

Para goblin di sekitarnya memegang pisau mereka namun nampaknya kelabang itu tidak terlalu memedulikannya. Bukan hanya itu, bahkan ketika hobgoblin mengayunkan pedang besarnya, dia tidak bisa menggores cangkang keras yang mengkilap milik kelabang itu. Selanjutnya kelabang raksasa itu mengarahkan perhatiannya kepada pemegang pedang besar di antara mereka itu dan langsung menelannya tanpa ada perlawanan.

Para goblin pun berjatuhan di sekitar sana. Kelabang raksasa yang memiliki ratusan kaki itu dengan sigap menggerakkan kaki-kakinya itu untuk mengejar mangsa yang kabur dan kemudian memakannya. Dan aku hanya melihat saja kejadian itu.

Sepertinya memang kelabang besar itu sangat kuat di tempat seperti ini ya. Selain karena tidak mempan dengan panah api yang ditembakkan dari jauh, ia bahkan bisa menggunakan dinding dan atap di tempat ini untuk menjadi pijakannya. Kalau cuma dalam jumlah ini sepertinya tidak masalah untuk menyerahkan pembersihan monster ini padanya.

 

Terima kasih telah mampir….

 
Anda telah membaca Saikyou Onmyouji no Isekai Tenseiki Chapter Vol.02 - Ch.07. Jadikan Kurozuku sebagai website favorit anda.

Comments

10 responses to “Saikyou Onmyouji Volume 2 Chapter 7”

  1. Roxy says:

    Saya hanya menunggu Shoukan sareta Kenja wa Isekai wo Iku dilanjut, Karna saya penasaran dengan kisah para gadis Touya

  2. Kiruru says:

    Miin… Sering sibuk kah??

  3. psp06 says:

    Udh seminggu tak k sini kirain bakal ad update shoukan sareta, ternyata kagak ad ?

  4. Dragonus says:

    masekinya dong min, thanks 🙂

  5. jio says:

    lanjuut minnn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *