Chapter 32 ~ Onmyouji Terkuat, Berbincang

Anda sedang membaca Saikyou Onmyouji Volume 2 Chapter 9 di Kurozuku.

1 Nov 2020

Penerjemah : KuroMage

Selamat Membaca!!

“Apa?”

“Kamu terlalu terburu-buru….”

Aku melanjutkan perkataanku.

“Kita sudah berjalan terus sepanjang waktu dan luka-lukamu baru saja pulih… Sebaiknya kita beristirahat di sini sedikit lebih lama lagi….”

“…Baiklah…”

Aku tidak menduga dia akan menerima saranku begitu saja dan langsung kembali duduk.

“Kamu haus? Aku ada air loh…”

Sambil mengatakan itu aku menyodorkan sebuah ketel yang tergantung dari langit-langit lorong ini. Dan Amu menatap benda itu dengan penuh kecurigaan.

“Sebenarnya dari tadi aku ingin bertanya… Apa ini??”

“Ini benda namanya ketel, digunakan untuk mengekstrak bahan obat… sebuah benda dari dinasti so- ah bukan, alat dari negeri asing…. Saat ini benda itu hanya berisi Air…”

Amu dengan enggan menerima pegangan ketel tersebut dan mendekatkan bagian mulut ketel ke mulutnya dan kemudian memiringkannya.

“…Enak….”

“Iya kan?”

Aku merasa puas dengan pendapatnya itu, dan aku pun juga meminum air dari ketel Yakanzuru. Seperti namanya, Yakanzuru adalah sejenis Ayakashi yang berbentuk ketel yang menggantung diatas pepohonan di pegunungan.

Sosok Ayakashi ini jauh dari kata bahaya dan air di dalamnya sangatlah enak dan ini membuatku bersyukur telah menangkapnya. Makhluk ini cukup langka, dan aku sempat kesulitan mendapatkannya namun kerja kerasku itu serasa terbayarkan.

Apa kira-kira Amu akan marah jika aku mengatakan bahwa yang dia minum itu semacam cairan tubuh monster?? Yahh walaupun itu cuma air biasa.

“Kalau begitu mari kita sambil mengobrol…”

“Mengobrol??”

“Lagipula aku hari ini aku mengikuti acara semacam ini karena ingin berbicara dengan Amu…. Ya coba, apa tidak ada yang ingin kamu tanyakan padaku??”

Amu sejenak berpikir dan kemudian berkata dengan suara kecil.

“Sebenarnya elemen sihir macam apa yang kau gunakan??”

“Entahlah…”

“Entah??”

“Sebenarnya aku sendiri juga tidak mengerti elemen sihir apa yang aku gunakan ini…. Ah….”

Aku pun melanjutkan perkataanku sambil tersenyum pahit.

“Kalau bisa kamu jangan terlalu menanyakan soal sihir…. Karena banyak yang sulit untuk kujawab….”

“Begitu…. Kalau begitu… Sudah seberapa jauh hubunganmu dengan pelayan itu?”

“Hah, soal itu lagi??”

“Apa Sih? Bukannya kau tadi yang bilang aku boleh bertanya apapun??”

Amu mengatakan itu dengan mata melotot.

“Apa kau pernah menciumnya??”

“Tidak!!”

“Kalau sekedar memeras dada atau bokong pasti pernah kan??”

“Sudah kubilang… Memangnya kamu anggap aku ini apa???”

“Kau ini apa sih?? Dia itu budakmu loh?? Tidak peduli seberapa banyak kau mencemarinya tidak akan ada orang yang akan menyalahkanmu loh?? Para pria di sekitarnya pasti menatap dia dengan pandangan mesum…”

“Hah?? Siapa mereka!!”

“Jangan tiba-tiba memasang ekspresi menakutkan begitu! Hah~”

Amu menghela nafas panjang.

“Membosankan….”

“Jangan bilang begitu dong… Sepeti om-om yang kehilangan motivasi saja….”

“Gadis itu…. Mungkin dia itu menyukaimu loh….”

“Aku juga pernah diberitahu soal itu dari orang lain, tapi itu cuma salah paham saja kok… Ifa itu sudah bersama deganku sejak kecil, dia seperti keluarga bagiku….”

“Seorang bangsawan menganggap seorang budak sebagai keluarga? Apa-apaan itu??”

“Bukan hal yang aneh kok…. Hanya saja sejak kecil aku dan dia di didik bersamaan dan setelah dia dewasa nanti akan dibebaskan serta ditugaskan untuk mengurus manajemen wilayah atau semacamnya, itu sangat lumrah…. Dan juga sangat menguntungkan karena kita hanya perlu menyewa satu guru kan??”

“Apa-apaan alasan macam itu… berasa miskin banget…”

“Meskipun Ifa berbeda, namun aku ini sepertinya adalah anak dari seorang selir… Jadi aku dirumah selalu diperlakukan seperti benda asing…. Ibuku mengabaikanku, Kakakku menjahiliku,  dan para pelayan juga tidak terlalu banyak bicara kepadaku…. Dan dalam keadaan seperti itu hanya Ifa saja yang memperlakukanku dengan normal… Itu juga sebabnya dia berbicara padaku tidak menggunakan bahasa formal….”

“…begitu ya”

“Apa kamu mengerti? Begitulah kedekatanku dengan Ifa…”

—- Sebenarnya.

Sebenarnya, aku hanya tidak ingin terlalu terbawa perasaan. Agar aku bisa membuangnya kapan saja. Karena antara pria dan wanita itu hubungannya semakin rumit. Aku ini, bahkan setelah terlahir kembali sekalipun sangat tidak mempercayai manusia.

“Kau ini…. rupanya punya banyak masalah juga ya….. Bagaimana dengan ibu kandungmu?? Fakta bahwa kau ini dibesar oleh keluarga Earl, maka ibumu sudah meninggal??”

“Eh? Entahlah…”

“E-entah???”

“Kalau dipikir-pikir aku tidak pernah peduli soal itu ya….”

Karena itu sangatlah tidak penting.

“Ya kalau dipikir dengan akal sehat, pastinya sudah meninggalkan? Kalau tidak mana mungkin aku mereka mau memungutku….Mungkin….”

“Enteng sekali…. Memangnya kau tidak merasa kesepian? Padahal di rumah kau telah diperlakukan seperti itu….”

“Sejujurnya, aku tidak terlalu merasa bahwa itu berat….. Ah akhir-akhir ini juga hubunganku dengan keluargaku tidak terlalu buruk kok…. Ya walaupun Ibu dan kakak keduaku masih sama saja…. Namun Ayahku telah mengizinkanku untuk bersekolah di akademi ini, dan juga aku kemarin menerima surat dari kakak pertamaku….”

“Bagaimana mengatakannya ya…. Kau ini cukup unik….”

Amu mengatakan itu dengan ekspresi kagum, dan aku hanya tertawa dan kemudian balik bertanya.

“Kalau keluarga Amu, Apa benar berhubungan dengan petualang??”

“Bagaimana kau bisa tahu?? Apa kau dengar dari seseorang??”

“Tidak…. Kamu tampaknya sangat familiar dengan petualang dan dungeon, jadi aku hanya menebak saja….”

“Benar…. Ibuku adalah seorang eksekutif di guild…. Dan ayahku saat ini masih seorang petualang….”

“Sepertinya kamu sudah terbiasa melawan monster, apa Amu pernah masuk ke dalam hutan atau labirin??”

“Aku sudah melakukan itu sejak usia 10 tahun…. Bersama dengan ayahku….”

“Pantas saja….”

“….”

“Apa di antara para petualang ini Amu adalah sosok terkuat??”

“…Entahlah…. Aku belum secara resmi terdaftar di guild, Sejauh yang aku ingat sepertinya aku bahkan belum masuk ke peringkat 10 besar….”

“Belum terdaftar? Kenapa??”

“Kita tidak akan bisa bergabung dengan guild jika belum berusia 15 tahun….”

“Meskipun begitu kamu tetap boleh masuk kedalam labirin??”

“…Sebenarnya tidak boleh…. namun aturan itu tidak terlalu ketat… ”

“Ooh…”

“…..”

…..Sepertinya dia tidak terlalu ingin membicarakannya. Apa kita harus mengganti topik lain?

“Ah, ngomong-ngomong apa kamu punya hobi??”

“… Tidak juga…”

“Ngomong-ngomong, kudengar di akademi ada semacam klub berpedang, apa Amu tidak ikut bergabung??”

“Kurasa terlalu lembek, jadi aku tidak ikut…. Lebih baik aku berlatih mengayunkan pedang sendirian…”

“Ka-kalau begitu apa ada yang kamu sukai?”

“… Bertarung”

“eh?”

“Aku suka bertarung, baik melawan monster atau melawan manusia…. Alasannya karena aku merasa lebih senang melakukan itu daripada melakukan hal lain…. hanya itu alasannya…”

“…”

Loh?? Apa topiknya sudah berganti?? Melihat sikap Amu yang seolah tidak ingin membicarakan hal itu membuatku ragu untuk berkata-kata.

“Sepertinya memang aneh ya kan….”

“Eh?”

Amu yang duduk dengan lutut ke atas itu memeluk blade-staff miliknya.

“Ayah dan Ibuku juga mengatakannya… kata mereka Amu itu aneh…”

“…”

 

“Petualang itu…. tidak peduli yang paling kasar sekalipun, biasanya hidup dengan mementingkan hal lain selain bertualang itu sendiri…. Baik uang, kedudukan, keluarga, maupun rekan…. dan sepertinya tidak ada siapapun diantara mereka yang hidup demi bertualang….”

“…”

“Lagipula jika terluka itu menyakitkan, dan kematian itu menakutkan…. Aku menganggap itu semua hanyalah hal sepele, namun sepertinya orang normal tidak berpikiran begitu…. Katanya setiap orang di dalam lubuk hati mereka membenci pertikaian…. Sedangkan aku…. Sepertinya perasaanku soal itu sudah rusak…”

Aku hanya terdiam mendengar kisah sedih Amu.

“Aku ini…. Kuat kan?? Sudah dari dulu aku ini kuat…. Baik pedang maupun sihir, semua aku pelajari dengan cepat…. Bahkan semua orang di guild memujiku dan mengatakan aku ini jenius…. termasuk juga pernah mengatakan Hero yang terlahir kembali…. Bahkan pada saat pertama kali aku memasuki dungeon, aku mengalahkan beberapa monster dan dikatakan aku memiliki keberanian…. Dan setelah satu tahun berlalu, kemampuanku pun diakui dan menjadi sering masuk kedalam party lain selain milik Ayahku….. Namun… tak lama semua itu menjadi tidak pernah terjadi lagi…..”

“…”

“Kalau sekarang aku pikir-pikir lagi, itu wajar ya…. Di saat sebuah party besar runtuh karena setengah anggotanya meninggal, dan guild sedang dalam keadaan berduka, hanya aku yang dengan tenang dan santainya mengatakan mari pergi kedungeon lagi… Sejak saat itu aku mendapat berbagai julukan seperti maniak bertarung, orang gila, maniak kematian, dan lain-lain…. Karena aku tidak ingin merepotkan ayah dan ibu sejak saat itu aku tidak lagi bergabung dengan party, namun aku mulai diam-diam masuk ke dalam dungeon sendirian…..Sepertinya apa yang dikatakan semua orang itu benar ya…..”

“…”

“Alasan aku datang ke akademi ini juga salah satunya adalah menjauh dari guild…. tapi… aku juga ingin menjadi lebih kuat…. Aku ingin belajar sihir lebih banyak, dan menjadi lebih kuat dari siapapun…. dengan itu aku pasti akan merasa bosan bertarung dan akhirnya menjadi normal…. Namun sepertinya itu mustahil ya…”

“…”

“Habisnya daripada belajar di kelas, aku malah lebih senang ketika sekolah diserang Lesser demon atau saat-saat seperti sekarang ini….. Anehkan ada orang seperti ini?? Karena itu…..”

“Tapi aku sama sekali tidak menganggap itu aneh….”

Aku menyela perkataannya.

“Manusia itu berbeda setiap individu…. Dan itu yang menyebabkan variasi….”

“…Variasi juga ada batasnya kan??”

“Tidak, tidak ada batasan untuk itu…. Jika ada sesuatu yang dianggap normal, maka Amu itu juga normal…. . Kalau ada yang normal, Amu juga normal.”

“……apa-apaan itu…”

Amu menatapku dengan tajam dari samping.

“Jika kau hanya ingin menghiburku maka hentikan saja….”

“Bukan menghibur kok…. Oh iya….”

Setelah berpikir sejenak, aku pun melanjutkan perkataanku.

“Tidak hanya manusia, seluruh makhluk hidup semuanya meninggalkan anak, dan menyambungkan generasi ke generasi….. Menurutmu, anak seperti apa yang seharusnya ditinggalkan??”

“Seperti apa? Bukankah anak yang kuat??”

“Kuat maksudnya??”

“Anak cerdas misalkan??”

“Kekuatan fisik itu jika lingkungannya tidak membutuhkan semua itu, maka otot yang besar hanya akan membebani tubuh… Sedangkan kecerdasan terkadang akan terhalang dengan adanya tantangan baru…..”

“Lantas jawabannya anak seperti apa??”

“Berbagai macam anak….”

Aku melanjutkan.

“Tergantung dari lingkungan, kekuatan yang diperlukan berbeda…. tidak ada yang tahu akan seperti apa lingkungan berubah, bahkan para dewa sekalipun…. Apakah akan menjadi sangat panas, atau sangat dingin…. Apakah ketersediaan pangan akan berkurang atau jumlah musuh akan bertambah… jadi makhluk hidup akan meninggalkan sebanyak mungkin anak….. Agar mau bagaimanapun lingkungan berubah, setidaknya akan ada satu anak mereka yang bertahan….. Itu juga yang menjadi alasan mengapa manusia tercipta dengan berbagai macam perbedaan…. Amu juga….. tidak lebih dari salah satu anak yang beragam ini….”

“…”

“Hanya saja lingkungan dimana Amu dibutuhkan masih belum datang….. Jika saja dunia ini semakin banyak konflik, orang-orang yang Amu bilang normal itu telah kelelahan karena pertarungan, Lalu jika Amu muncul di sana dan memimpin mereka, kurasa mereka akan berterima kasih padamu….. Aku yakin tidak akan ada yang mengatakan Amu gila atau maniak….”

“…Kurasa saat seperti itu mungkin tidak akan pernah datang sampai aku mati….”

“Tidak apa-apa…. Itu saja sudah menunjukkan arti keberadaan Amu…. Yaitu bersiap untuk menghadapi adanya konflik…. Setidaknya aku tidak berpikir Amu itu aneh….”

“……Apa begitu ya…”

“Lagipula Amu juga punya hal lain yang disukai selain bertarung kan??”

“Eh … apa?”

“Cerita mesum…. Hari ini sepertinya kamu terlihat bahagia sekali saat membicarakan hal seperti … aduduh…!!”

Amu menusukkan bagian belakang sarung tongkatnya itu ke arahku. Dan dia memelototiku dengan wajah memerah.

“Pe-petualang itu kebanyakan orang yang kasar dan vulgar… Aku hanya tertular mereka saja!! Kalau sampai kau beritahu hal itu pada orang lain, aku pasti akan membunuhmu!!! Da-da-dan juga…. Soal aku telanjang juga!!!”

“Fufu”

“Reaksi macam apa itu?? Jangan-jangan kau ingin mengancam??”

“Tidak kok… Aku hanya berpikir sepertinya cara pikir positif seperti itu lumayan bagus ya….”

Amu pun tiba-tiba menjadi terdiam.

“Benar juga ya… Harusnya kita membicarakan ini setelah kita selamat ya….”

“Kita akan selamat kok… Aku yakin….”

“Ya……”

Amu pun terdiam.

Sebenarnya, ada satu hal yang  tidak aku katakan pada Amu. Mungkin saja sifat Amu yang mendambakan pertarungan adalah efek dari menjadi wadah reinkarnasi Hero.

Meskipun sepertinya dia bukanlah sosok yang bereinkarnasi bersama dengan ingatannya sama sepertiku, namun ada kemungkinan bahwa bakat berpedang dan bakat sihirnya berhasil dibawa.

Yahh itu bukanlah hal yang harus aku katakan juga.

Lalu kemudian. Aku mengangkat wajahku dan melihat ke langit-langit lorong. Loh….. ini.. jangan-jangan….

“… Terima kasih. Seika”

“…”

“Aku senang bisa berbicara denganmu…. Dan juga…. terima kasih juga telah menyelamatkanku….”

“…”

“… Seika?”

Aku terus menatap langit-langit yang tidak ada apa-apa disana. Lalu kemudian aku mengembalikan pandanganku kepada Amu. Lalu aku pun tertawa dan kemudian berdiri.

“Baiklah, kita pergi Amu!”

“Eh, eh??”

“Disini Dungeon kan?? Aku baru pertama kali melakukan petualangan…. Kalau begitu mari kita nikmati…. Meskipun ini adalah party hanya ada kita berdua, namun untuk kita berdua monster bukanlah tandingan kita….”

“…Apa boleh buat…. Sebagai petualang senior aku akan mengajarimu banyak hal! Perhatikan baik-baik!!”

Amu tertawa dengan agak terpaksa dan meraih tangan yang aku julurkan.

 

Terima kasih telah berkunjung. Jangan lupa untuk tinggalkan komentar.....

Comments

2 responses to “Saikyou Onmyouji Volume 2 Chapter 9”

  1. jio says:

    akhirnya yg ditunggu setelah sekian lama, thx adminn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *