Chapter 47 ~ Onmyouji Terkuat, Mendapatkan Panggilan

Anda sedang membaca Saikyou Onmyouji Volume 3 Chapter 1 di Kurozuku.

7 Jan 2021

Penerjemah : KuroMage

Kembali ke cerita serius
Selamat Membaca!!

Tak terasa sudah satu tahun berlalu sejak kami masuk di Akademi sihir ini.

Saat ini sebagian besar siswa baru sedang mengobrol dengan sesamanya di ruangan Auditorium yang diterangi oleh cahaya dari sihir.

Entah mungkin karena upacara penerimaan tahun lalu yang sempat terjadi kekacauan, atau hanya kebetulan, namun upacara penerimaan kali ini dihadiri oleh sedikit orang.

Sejak saat itu, belum pernah ada serangan dari Iblis lagi dan aku menjalani kehidupan sekolah dengan tenang.

Amu yang nilai ujian tulisnya semakin menurun pun berhasil memperbaiki dirinya berkat sesi belajar bersama yang di adakan oleh Ifa. Dan karena itu kami bertiga dapat dengan naik ke kelas dua dengan selamat.

Dan hari ini adalah upacara penerimaan itu. Tahun ini, kami hadir sebagai perwakilan siswa senior. Kami diizinkan untuk menghadiri acara ini karena aku, Ifa, dan Amu mendapatkan nilai tertinggi di kelas dua sekolah dasar.

“Amu-chan, ini enak loh…”

“Benarkah? Aku mau satu….”

Mereka berdua menikmati upacara ini dengan cukup santai. Padahal tahun lalu mereka cukup gugup, terlebih karena ada penyerangan Lesser demon di tengah acara.  Jadi waktu itu mereka tidak sempat untuk menikmati makanan dengan santai.

Meskipun aku sudah meletakan shikigami-ku untuk mengawasi berbagai titik, namun sepertinya memang tak ada yang aneh pada tahun ini.

Syukurlah jika ini memang berjalan lancar tanpa ada insiden apa pun.

Rencananya acara ini akan ditutup setelah waktu obrolan mengakrabkan diri selesai. Aku juga sudah merasa kenyang dan kurasa ini waktunya untuk kembali….

“Seika Lamprogue-kun…”

Tiba-tiba aku mendengar suara dari belakang. Aku pun menoleh ke belakang. Disana ada sosok lelaki tua yang mirip dengan pohon cemara.

Dengan perawakan tubuh yang tinggi dan berotot. Seluruh rambut yang ada di tubuhnya berwarna putih. Namun tulang punggungnya yang masih tegap itu membuatnya tidak seperti orang tua.

Aku pun teringat akan sesuatu. Meskipun dia jarang terlihat jika tidak dalam acara seperti ini, namun orang itu adalah wakil kepala sekolah di Akademi ini.

Sebelum aku sempat mengatakan apa pun, wakil kepala sekolah itu menatapku dengan tatapan misteriusnya lalu membuka mulutnya.

“Besok setelah senja. Datanglah ke kantor kepala sekolah bersama dengan Ifa….”

Setelah mengatakan itu ia langsung berbalik dan pergi. Aku pun hanya bisa mengerutkan dahiku.

Ada apa??

“Kamu kenapa?”

Amu yang sedang memegang piring itu bertanya kepadaku.

“Sepertinya aku dapat panggilan….. Mungkin dari kepala sekolah….”

“Hmm …? Ngomong-ngomong, aku belum pernah sosok kepala sekolah itu ya….”

Tentunya aku juga sama. Pada dasarnya semua acara di dalam sekolah, termasuk acara upacara penerimaan ini di atur oleh Wakil kepala sekolah. Aku sampai berpikir jangan-jangan nama kepala sekolah itu hanya formalitas dari salah seorang pejabat Ibukota kekaisaran. Namun sepertinya itu salah…

“Tapi kamu dapat panggilan ya… sepertinya bukan hal yang menyenangkan…. Apakah kamu akan di keluarkan??”

“Jangan bicara mengerikan begitu dong…. Lagipula Ifa juga di panggil kok….”

“Wah gawat ini….”

“Itu sama gawatnya untukku loh…”

Kita kesampingkan candaan ini, kira-kira ada apa ya? Aku sama sekali tak bisa membayangkan alasannya.

Aku jadi memiliki firasat aneh.

****

Keesokan harinya, di waktu senja.

Setelah pelajaran selesai, aku dan Ifa datang ke depan kantor kepala sekolah yang terletak di lantai teratas gedung utama dengan gugup.

“Permisi….”

Kami masuk sambil mengetuk pintu. Ruangan itu terlihat memiliki desain interior yang mewah dan cukup tenang.

Sudah ada dua orang yang sedang menunggu disana.

Salah satunya adalah wakil kepala sekolah yang berdiri seperti pohon cemara. Dan yang satunya lagi adalah sosok wanita tua. Dengan wajah datar dan hidung runcing. Benar-benar terlihat seperti seorang penyihir jahat. Namun ciri yang paling mencolok adalah tubuh kecilnya yang duduk di depan meja kerja yang mewah.

Mungkin ukurannya lebih kecil dari siapa pun orang yang ada di sekolah ini. Aku pun sadar Ifa yang ada di sampingku menarik nafas.

“Kau datang juga, Lamprouge…”

Wanita tua itu berkata dengan suara yang sedikit bergetar layaknya penampilannya yang sudah tua itu. Matanya terbuka lebar.

“Ini agak mengejutkan… Aku pikir yang akan datang adalah seorang anak nakal yang di penuhi bakat… ternyata penampilanmu agak menjanjikan ya…”

“…Senang mendengarnya…. Aku juga terkejut… ternyata Kepala sekolah Akademi Kekaisaran adalah seorang demihuman….”

Meskipun aku hanya mengetahui tentang ini dari buku, namun tidak salah lagi. Perawakan yang terlalu kecil untuk dikatakan seorang manusia. Kemungkinan kepala sekolah ini terlahir sebagai salah satu ras bernama Dwarf.

Wanita tua berbadan kecil itu kembali membuka mulutnya.

“Aku tidak terlalu suka sebutan itu…. Kami ini bukan ras bawahan manusia…. Masih lebih baik kita dianggap ras Iblis daripada disebut begitu…”

Memang benar, pada dasarnya Dwarf masih satu akar dengan ras Iblis. Namun mereka tidak memusuhi umat manusia. Pada perang yang terjadi di masa lalu, ras seperti Dwarf dan Elf yang pada awalnya menjalin persahabatan dengan ras manusia, mengeluarkan dirinya dari pasukan aliansi ras iblis lalu membentuk kelompok sendiri dan mendeklarasikan diri sebagai kelompok yang netral.

Meskipun pada awalnya ada beberapa konflik terjadi, namun saat ini mereka menjadi sosok penting yang berinteraksi dengan ras manusia dan ras iblis. Wilayah mereka terletak di antara daerah para iblis dan daerah kekaisaran yang juga memiliki fungsi sebagai daerah netral untuk mencegah konflik militer.

Untuk membedakan mereka dari ras iblis yang merupakan musuh umat manusia, orang-orang di kerajaan menyebut mereka sebagai ras demihuman. Karena sebutan itu juga bisa di artikan dengan manusia iblis, maka memang benar jika dikatakan sebutan itu seperti merendahkan mereka.

“Di hadapanku ini kau menunjukkan sikap seperti itu ya….

Di depanku, sikap itu adalah sisi lain dari kepercayaan diriku yang sombong. Hmm, hanya ada saudara sedarahnya.”

“…? Apa Anda mengenal ayahku??”

“Tidak… Itu tentang pamanmu…”

Tunggu… Aku belum pernah mendengar bahwa Ayahku di kehidupan ini memiliki saudara laki-laki. Dari pembicaraan ini sepertinya dia adalah siswa sekolah ini. Apakah orang itu mati di usia muda??

Kepala sekolah itu pun menghela nafas dan kemudian melanjutkan perkataannya.

“Yahh kita abaikan saja soal itu…. Kita langsung masuk ke inti pembicaraan… Baik aku, kau… bahkan budakmu yang disana itu pasti ingin ini cepat selesai kan….”

Aku menoleh kesamping dan menatap Ifa. Ia sangat gugup sampai membuatnya terpaku.

Memang sangat langka untuk bisa melihat sosok demihuman jika bukan di kota besar atau di kota petualang. Wajar jika dia bereaksi seperti itu saat pertama kali melihatnya.

Alasan mengapa kepala sekolah tidak pernah muncul di muka umum mungkin untuk menghindari masalah-masalah yang tidak perlu.

“Jadi apa inti pembicaraan ini??”

“Lamprouge…. Apa kau pernah ke Ibukota kekaisaran??”

“Belum….”

“Kalau begitu sepertinya kau tidak mengetahuinya…. Ibukota kekaisaran setiap tahunnya mengadakan turnamen berpedang yang disponsori oleh pengadilan kekaisaran….”

Penjelasan kepala sekolah pun berlanjut.

“Sebuah turnamen yang akan disaksikan oleh Kaisar Uldwight saat ini…. bisa dibilang seperti sebuah pertunjukan kepada Kaisar…. Pemenangnya akan mendapatkan hadiah yang sangat besar dan diizinkan untuk masuk kedalam pasukan Royal Knight… Sebuah turnamen pedang dimana seluruh ahli pedang dari seluruh penjuru datang berkumpul…”

Aku memang belum pernah mendengarnya, namun tidak heran jika memang ada permainan seperti itu. Lalu Kepala sekolah pun menambahkan.

“Aku ingin kalian ikut berpartisipasi dalam turnamen ini…”

“…Eh?? Saya juga??”

Saking terkejutnya, Ifa sampai membuka mulutnya untuk pertama kali sejak datang ke ruangan ini. Akupun juga mengerutkan keningku.

“Bagaimana maksud Anda? Kami ini tidak pandai berpedang loh…”

“Tahun ini aturannya telah di rubah…”

Suara berat yang menjawab pertanyaanku itu berasal dari Wakil kepala sekolah yang sejak tadi berdiri di samping kepala sekolah.

“Peraturannya berubah??”

“Penggunaan sihir telah di izinkan…”

Karena aku tetap diam, Kepala sekolah pun kembali berbicara.

“Intinya tidak masalah selama kau kuat….. Sepertinya negeri ini mulai menyadari kurangnya sumber daya manusia yang bisa menjadi pendekar pedang dan sihir…..  Karena itu, tahun ini  turnamen itu tidak hanya sebatas turnamen berpedang, namun menjadi turnamen bela diri… Bukan hanya pendekar pedang sihir, bahkan Monk yang menggunakan sihir elemen cahaya sebagai sihir support, pengguna sihir elemen tanah yang menggunakan golem untuk bertarung, atau pengguna sihir elemen api dan elemen angin boleh untuk berpartisipasi dengan bebas…. Namun tetap saja ini tidak termasuk untuk orang yang mengendalikan monster seperti Tamer dan Summoner…”

“Sepertinya aturan itu berpotensi menimbulkan kematian ya…”

Sihir itu tidak bisa di adu dan tidak bisa dihentikan. Jika sampai terkena, seharusnya dampaknya bukan main-main.

“Pada dasarnya memang akan ada korban… tapi mereka pasti akan melakukan sesuatu tentang itu… Kembali ke topik pembicaraan… Setelah dicabutnya larangan penggunaan sihir, sekolah kami pun mendapatkan kuota peserta…. Sebuah hak istimewa untuk mengabaikan babak penyisihan dan bisa langsung masuk ke babak utama… dan kuotanya ada dua orang…”

“Lalu aku dan Ifa terpilih untuk mengisi kuota itu?”

“Tidak… Sebenarnya, satu orang lagi sudah diputuskan…..”

Seketika pintu ruangan itu diketuk.

Aku pun menoleh ke belakang dan melihat seseorang berjalan masuk dari pintu yang terbuka.

Sosok seorang gadis kecil. Dengan rambut merah seperti warna karat besi dan mata berwarna biru. Meskipun kelihatannya dia adalah tipe yang pendiam namun ia masuk ke ruangan ini tanpa ragu dan dengan ekspresi yang tak terbaca.

Kepala sekolah pun tersenyum dan berbicara kepadanya.

“Oh, kamu kau sudah datang Mevel…. Cepat perkenalkan dirimu pada senior-seniormu….”

Gadis itu sejenak menatap aku dan Ifa, lalu kemudian ia mulai memperkenalkan diri.

“…Mavel Cryne….”

“Cryne….”

“Aku puteri Baron Cryne…. meskipun cuma anak angkat….”

Aku setidaknya pernah mendengar nama Baron Cryne. Namun aku baru dengar jika ternyata puterinya bersekolah disini. Lagipula aku belum pernah melihat gadis ini di dalam sekolah ini.

Tidak, tunggu…. tadi kepala sekolah bilang kita adalah senior nya?

“Jangan-jangan… dia ini siswa baru ya…..”

“Ya…. Apa kau tidak melihatnya saat upacara penerimaan??”

Setelah sejenak terdiam, aku pun akhirnya menanyakan hal yang membuatku penasaran.

“Aku sama sekali tidak mengerti…. Lagipula sesuatu seperti ini bukankah biasanya dipilih dari siswa senior??”

“Siswa tingkat lanjut sedang sibuk dengan penelitian mereka masing-masing… Lagipula tempat ini bukanlah tempat untuk orang mempelajari teknik bertarung…. Bahkan pelajaran tentang sihir serangan juga kebanyakan hanya teori saja… tidak banyak siswa yang cocok untuk turnamen bela diri seperti ini…”

“Lalu mengapa menurut Anda kami adalah orang yang tepat??”

“Apa kau lupa bahwa kau adalah orang yang berhasil selamat dari Dungeon di bawah kota Rodnea ini? Ditambah lagi kalian ini pernah mengalahkan Eldernewt yang merupakan monster tingkat tinggi satu setengah tahun lalu saat masih di daerah kalian…”

“…”

“Setidaknya aku sudah menyelidiki masa lalu siswa berbakatku…. Faktanya kalian berdua juga mendapatkan nilai ujian praktik yang bagus….”

“Ma-maaf… Semua itu kebanyakan dilakukan oleh Seika-kun…. Jadi tidak aku tidak ada….”

Melihat Ifa buru-buru menyangkal hal itu, Kepala Sekolah itu pun tersenyum.

“Tentu saja aku sudah tahu itu… Tapi aku merasa kau juga memiliki cukup kekuatan…. Walaupun mungkin tidak sekuat majikanmu…”

“…Dan penilaian itu juga berlaku pada gadis ini?”

Aku bertanya sambil menunjuk ke arah Mavel. Sambil tetap tersenyum Kepala Sekolah itu pun mengangguk.

“Ya… Mavel itu kuat loh…..”

“Memangnya apa yang bisa Anda ketahui dari siswa yang baru saja masuk kemarin…?”

“Kan sudah kubilang… Aku ini setidaknya menyelidiki masa lalu murid-murid berbakatku…. Dia ini memiliki nilai ujian masuk yang bagus loh…”

“Posisinya sudah ditetapkan sebelum terdaftar ya… Memangnya seberapa kuat…..?”

Kepala sekolah itu hanya menanggapiku dengan senyuman tanpa berkata-kata. Sekilas aku menatap Mavel, namun dia hanya berdiri disana tanpa ekspresi seolah tidak peduli dengan percakapan kami.

Aku pun menghela nagas dan berkata.

“Aku masih tidak mengerti….. terlebih yang paling tidak mengerti adalah kenapa Amu tidak di panggil kemari?”

Aku merasakan hawa keberadaan udara disekitar ruangan ini sedikit berubah.

“Dia memiliki nilai ujian tertinggi saat ujian masuk… Ujian praktiknya juga mendapatkan nilai sempurna, dan setelah masuk pun nilainya terus berkembang dan bertahan di posisi atas…. Ditambah lagi tahun lalu saat upacara penerimaan dia sudah mengalahkan salah satu Lesser demon serta mengalahkan Boss Dungeon di bawah tanah…. Sebelum masuk sekolah ini juga dia beraktivitas sebagai petualang, dan memiliki pengalaman bertarung yang cukup….. Bahkan jika menggabungkan siswa senior sekali pun, aku rasa sangat sulit menemukan ada yang melebihi Amu….”

Terlebih dia adalah Hero. Bahkan jika orang-orang tidak mengetahui hal ini, setidaknya mereka memahami kekuatan gadis itu.

Setelah sejenak terdiam, Kepala Sekolah pun akhirnya membuka mulutnya.

“Bahkan dengan mempertimbangkan hal itu, aku memutuskan bahwa kau adalah orang yang tepat… itu saja….”

“Alasannya?”

“Bagaimana ya… Kalau kau memaksa, anggap saja itu adalah insting orang tua…. Itu tidak bisa diremehkan loh….”

Orang tua ya….

Agak sulit bagiku menerima penjelasan itu.

Kemudian Kepala Sekolah pun melanjutkan.

“Jadi bagaimana keputusanmu? Apa kau ingin ikut? Atau gadis itu yang ikut? Atau kalian berdua menolaknya?”

“…Bagaimana jika aku katakan kami menolaknya?”

“Aku hanya akan tidak menggunakan satu kuota yang diberikan… Itu saja… Kemungkinan jumlah peserta yang akan lolos dari babak penyisihan akan bertambah….”

Ifa melirik ke arahku. Tatapannya seolah bertanya kepadaku apa yang harus dilakukan.

Hmm …

Aku masih merasa pasti akan terjadi sesuatu. Setidaknya sebagian dari penjelasan itu sudah pasti adalah bohong. Benar-benar mencurigakan. Aku penasaran dengan niatnya. Namun aku juga tidak perlu repot-repot menyerahkan diri….

“…Apa pembicaraannya masih belum selesai??”

Suara itu terdengar seolah bosan dan tidak peduli. Aku yang refleks menoleh ke arah Mavel pun pertama kalinya menatap langsung ke arah matanya.

“…”

Kemudian aku mengalihkan pandanganku kembali dan menghela nafas, lalu kemudian berkata.

“Aku yang akan ikut…”

“Oh, apa tidak apa-apa? Aku kira kau akan menolaknya…..”

Aku hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Kepala sekolah yang terlihat bahagia itu. Ifa pun juga menatapku dengan ekspresi seolah telah menyaksikan hal yang tidak terduga.

Ada satu alasan kenapa aku memutuskan untuk ikut berpartisipasi. Aura yang dipancarkan oleh gadis bernama Mavel ini sangat mirip denganku ketika aku saling membunuh dengan saudara se-perguruan serta para ayakashi mereka di bawah perintah guruku.

Yah bukan sesuatu yang layak di puji. Karena itu aku jadi sedikit penasaran dan ingin melihatnya. Sebuah turnamen bela diri yang mengizinkan penggunaan sihir. Pasti berbagai misteri akan berkumpul dan terungkap di sana.

 

Terima kasih telah berkunjung. Jangan lupa untuk tinggalkan komentar.....

Comments

3 responses to “Saikyou Onmyouji Volume 3 Chapter 1”

  1. Araragi says:

    Min tensei kizoku no isekai kapan rilis lagi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *