Chapter 48 ~ Onmyouji Terkuat, Diberikan Peringatan

Anda sedang membaca Saikyou Onmyouji Volume 3 Chapter 2 di Kurozuku.

12 Mar 2021

Penerjemah : KuroMage

Kita lanjutin lagi novel ini....
Selamat Membaca!!

Keesokan harinya.

“Hah? Apa-apaan itu?”

Di waktu jeda antar kelas, aku menceritakan kepada Amu tentang pembicaraan yang aku dengar dari kepala sekolah di pinggir jalan. Jawaban itulah yang aku dapatkan setelah menceritakan itu padanya. Amu mengungkapkan ketidakpuasannya.

“Kenapa Aku tidak dipanggil!! Turnamen pedang kan?? Aku tidak tahu soal sihir, tapi kalau soal pedang, aku tidak akan kalah dengan siapa pun di sekolah ini!!”

“Ternyata kamu memang ingin ikut ya??”

“Hmm … Tapi kalau di pikir-pikir lagi, kurasa tidak terlalu…. Lagi pula aku juga tidak berminat menjadi Royal Knight…. dan bertarung dengan monster itu jauh lebih menarik daripada melawan manusia….”

Amu memberikan pendapatnya. Aku agak terkejut mendengar pendapat ini, padahal katanya dia menyukai pertarungan. Namun sepertinya memang gadis itu tidak terlalu tertarik dengan bertarung melawan manusia.

Atau mungkin dia sudah menjadi lebih pemaaf? Akhir-akhir ini juga sikapnya yang judes kepada semua orang tanpa pandang bulu itu sudah mulai berkurang.

Dan Amu kembali mengeluh.

“Tapi aku tidak terima mereka tidak memanggilku sama sekali…”

“Mungkin saja mereka tidak mau mengikut-sertakan orang yang terlalu kuat iya kan? Karena tergantung dari sudut pandangnya, bisa jadi itu berarti sekolah akan menyerahkan sumberdaya manusia yang mumpuni untuk menjadi Ksatria kan? Mungkin saja diantara dewan kekaisaran ada fraksi yang berasal dari alumni akademi ini…. Jadi pilihan seperti itu mungkin saja terjadi….”

Aku pun memberikan alasan yang asal-asalan kepada Amu, dan dia pun memelototiku dengan tajam.

“Kalau begitu kenapa kau terpilih?”

“Aku? Karena Aku tidak sekuat Amu…”

“Hentikan tawa licikmu itu…”

“…Iya iya…. tapi ini agak mengejutkan…. Aku tidak menyangka Amu akan menilaiku setinggi itu….”

“…Kau kan menyelamatkanku di dalam Dungeon… Lagi pula setelah cukup lama menjadi seorang petualang, kau akan bisa menilai kemampuan orang lain secara garis besar….”

Amu mengatakan itu sambil membuang mukanya.

Hmm… Sepertinya aku harus lebih berhati-hati lagi. Walaupun kejadian waktu itu adalah di luar perhitungan.

Amu pun kembali melanjutkan perkataannya.

“Tapi aku masih tidak mengerti…. Kamu mungkin tidak masalah… tapi kenapa Ifa juga jadi kandidat pesertanya??”

“Eh… Ahaha… Benar kan?”

Ifa tertawa dengan wajah kebingungan, dan Amu pun melanjutkan sambil memejamkan sebelah matanya.

“Bukan berarti aku menganggap kamu tidak mampu, tapi apa kamu bisa mengarahkan sihir seirei-mu itu kepada orang lain??”

“Itu…..”

“Sihir itu jauh lebih sulit diarahkan kepada manusia ketimbang pedang…. Karena sekali kena saja, lukanya tidak mungkin ringan…. Meskipun ada orang gila yang akan menembakkan sihir tanpa ragu, namun normalnya hal itu tidak mungkin tanpa membiasakan diri dengan latihan dan pengalaman langsung….. Kamu itu bahkan belum pernah mengalahkan monster kan?? Kalau tiba-tiba langsung bertarung sungguhan, kamu tidak akan bisa bertarung dengan benar loh…”

“Memangnya begitu ya??”

Gumamku.

Dalam kasusku, waktu pertama kali aku menggunakan kutukan, aku mengutuk dan membunuh kelompok preman dan kerabat mereka sekaligus. Sepertinya aku tergolong ke dalam kelompok orang gila yang barusan disebutkan.

Amu kembali melanjutkan perkataannya.

“Selain itu juga, soal anak baru yang bernama Mavel itu loh….”

“Oh benar juga… Kira-kira orang macam apa ya dia itu….”

Aku sudah memantau gadis itu menggunakan shikigami sejak kemarin. Namun sepertinya belum ada tanda-tanda gadis itu berinteraksi dengan siapa pun. Hari ini dia hanya mengikuti kelas saja.

Sepertinya dalam kelas praktik, gadis itu menggunakan elemen kegelapan sebagai elemen utamanya, namun itu juga masih dalam batas wajar, dan aku masih belum mampu memperkirakan seberapa besar kemampuannya.

Amu melanjutkan perkataannya.

“Dia bangsawan kan? Keluarga Claine itu keluarga seperti apa??”

“Sepertinya mereka adalah bangsawan yang berfokus pada penelitian sihir seperti keluarga Lamprouge… Tapi aku juga tidak terlalu mengenal mereka….”

Atau lebih tepatnya, keluarga mereka bukanlah keluarga yang terlalu terkenal. Mungkin ada baiknya aku pulang dan bertanya pada orang rumah?

“Menurutku…”

Amu mengatakan itu dengan nada serius.

“Kemungkinan orang itu adalah maskot bangsawan…”

“Akhirnya keluar juga… Fobia bangsawannya Amu….”

“Bukan Fobia…. Coba saja pikirkan, normalnya anak bangsawan yang dibesarkan dengan manja itu mana mungkin bisa menjadi kuat? Pasti dia orang yang digunakan untuk menaikkan pamor para petinggi itu dengan membuatnya mendapatkan catatan mengikuti turnamen bela diri di ibukota meskipun masih seorang pelajar…”

“Apa iya ya….”

Bukan berarti aku tidak mengerti apa maksud perkataannya. Namun ketika aku melihat mata Mavel yang penuh dengan intimidasi itu membuatku berpikir bahwa situasinya tidak sesederhana itu. Kenyataan bahwa gadis itu adalah anak angkat juga agak menggangguku.

Namun Amu yang sama sekali belum pernah melihat gadis itu dengan matanya sendiri itu mengutarakan pendapatnya dengan penuh percaya diri.

“Pasti begitu….  Pokoknya, bukankah lebih baik kamu segera mengundurkan diri? Kalau kamu terluka nanti….”

“―――― Bukannya kamu yang hidup manja??”

Ketika mendengar suara dingin itu, aku pun berbalik. Di sana berdiri sosok gadis berambut merah kecokelatan sedang menghampiri Amu dari belakang.

Mavel Claine. Ketika Amu berbalik, ia pun balas menatap tajam Mavel dengan bola mata kebiruan miliknya.

“Apa maksudmu mengatakan itu?”

“Berkoar-koar padahal lemah…. dan menganggap semua itu tidak masalah…. benar-benar gadis yang manja….”

Mavel melanjutkan perkataannya seolah ia sedang berbicara sendirian.

“Alasan kau tidak terpilih hanya karena kau tidak memiliki cukup kekuatan untuk itu, baik soal pedang maupun sihir….”

“Hee…. Berani juga ya…”

Amu mengatakan itu dengan senyuman yang penuh dengan amarah. Kemudian ia menoleh ke arah anggota klub ksatria akademi yang kebetulan sedang duduk di seberang jalan, dan memanggil mereka.

“Kalian! Kesini sebentar!”

“Wakil ketua Amu!! Apa kabar!!”

“Hentikan memanggilku dengan sebutan Wakil ketua! Ah, sudahlah, hari ini aku maafkan…. Pinjamkan aku dua pedang latihan kalian….”

“Ba-baik….”

Kemudian Amu melempar salah satu pedang latihan itu ke arah Mavel.

“…”

“Lawan aku sebentar…. Dengan mulut sebesar itu, seharusnya setidaknya kau bisa menggunakan pedang kan??”

“…Memangnya apa untungnya melakukan hal ini…”

“Ucapanmu itu benar-benar lucu… Kau yang lebih dulu memulai keributan ini…”

Tanpa berkata-kata, Mavel pun mengambil pedang latihan itu dan berdiri menghadap Amu.

Aku sangat terkejut. Penampilan gadis yang dengan santainya mengayunkan pedang satu tangan itu terlihat tidak kalah hebat dari Amu. Dia benar-benar bisa menggunakan pedang ya?

“Se-Seika-kun… Apa tidak apa-apa tidak menghentikan mereka??”

“Mungkin tidak apa-apa…”

Aku memberikan jawaban kepada Ifa yang terlihat khawatir. Mereka berdua juga terlihat tidak terlalu bersungguh-sungguh, dan jika terjadi keadaan darurat, tidak masalah selama aku bisa menghentikannya.

Selain itu… Mungkin saja aku bisa mengetahui sedikit tentang kekuatan gadis bernama Mavel itu.

“Seika. Tolong berikan aba-abanya….”

“Ya….”

Setelah menunggu beberapa saat, aku pun berteriak.

“Mulai!!”

Bersamaan dengan itu, Amu pun melesat. Dengan momentum yang luar biasa cepat, ia langsung memberikan tebasan dari atas. Mungkin ia berniat mengincar senjata lawannya dari awal.

Tebasan Amu, yang mungkin hampir menggunakan seluruh tenaganya itu menyerang pedang milik Mavel dengan kecepatan yang sulit dilihat oleh mata.

Satu tebasan dari sang Hero yang sepertinya akan mengakhiri pertarungan ini.

Namun ternyata… Mavel menangkisnya hanya dengan mundur satu langkah ke belakang.

“…!”

Terdengar suara nyaring dua logam yang saling berbenturan disertai percikan api. Terlihat tanda keterkejutan di mata Amu. Itu wajar saja. Tidak ada yang menyangka orang normal akan dapat menangkis satu tebasan itu.

Meskipun sejenak terjadi adu kekuatan, dan saling mendorong pedang, namun Mavel berhasil menahan tenaga super milik Amu dengan wajah tanpa ekspresi, dan mulai mendorongnya.

Amu pun mulai melangkah mundur. Ia mundur untuk mengatur kembali posisinya yang mulai memburuk.

Mavel pun tidak melewatkan kesempatan ini. Ia menebaskan pedangnya dari samping. Amu berusaha menangkis serangan itu dengan pedangnya. Namun, usaha itu tidak dapat terpenuhi.

Bersamaan dengan suara hantaman, pedang latihan yang ada di tangan Amu pun terpental. Beberapa saat kemudian, pedang itu berguling-guling dan akhirnya jatuh di tanah yang agak jauh.

Mavel kemudian me-rilekskan tubuhnya, lalu membuang pedang ditangannya. Kemudian ia menghampiri Amu sambil bergumam.

“Teruslah bertingkah manja… Hero yang imut….”

Aku pun mengerutkan keningku. Barusan Mavel itu….

“Tunggu”

Mavel pun berbalik setelah mendengar ada yang memanggilnya. Amu pun berkata sambil meletakkan tangan di pinggangnya.

“Bukankah seharusnya tidak boleh pakai sihir? Setidaknya aku bermaksud tidak menggunakannya….”

“…”

Hmm, ternyata Amu juga menyadarinya ya?

Sejak tebasan pertama Amu, aku terus merasakan ada aliran kekuatan di sekitar Mavel. Mungkin sekilas akan sulit untuk di ketahui karena dia tidak menggunakan tongkat ataupun lingkaran sihir. Awalnya aku mengira itu semacam sihir support seperti penguat tubuh atau semacamnya. Namun karena dia itu pengguna elemen kegelapan, maka mungkin saja….

“…Kau berpikir akan ada kesempatan berikutnya…. Itulah yang membuatmu menjadi lemah….”

Begitu kata Mavel. Kemudian gadis itu menoleh ke arahku. Dan menatapku dengan tatapan tak peduli.

“Kau juga, jika kau menganggap hal ini adalah hal sepele, sebaiknya kau mengundurkan diri….”

“Memangnya kenapa??”

“Karena itu bukanlah turnamen kacangan yang dapat kau lalui tanpa terluka….”

Aku pun tersenyum dan menjawabnya.

“Terima kasih…. akan kupertimbangkan…”

“…”

Tanpa kata-kata lebih lanjut, Mavel pun berbalik dan pergi begitu saja.

Apa-apaan itu? Ia dengan mudah mengejek dan memprovokasi Amu, lalu memberikan nasihat dan peringatan seolah peduli. Sepertinya gadis itu jauh lebih baik daripada yang aku bayangkan. Setidaknya dia jauh lebih baik daripada aku saat masih muda.

“Amu-chan … apa kamu terluka?”

“Kamu tidak apa-apa?”

Amu tidak menjawab pertanyaan kami, dan tetap terdiam sambil melipat tangan di dadanya seolah sedang berpikir. Lalu beberapa saat kemudian, ia pun berkata dengan suara yang lantang.

“Baiklah, Sudah diputuskan…”

Terima kasih telah berkunjung. Jangan lupa untuk tinggalkan komentar.....

Comments

3 responses to “Saikyou Onmyouji Volume 3 Chapter 2”

  1. Vanzz says:

    Min Si Cain ada kabar Ngak?

  2. SiOtong says:

    Finally ada update lagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *