Chapter 49 ~ Onmyouji Terkuat, Berangkat ke Ibukota

Anda sedang membaca Saikyou Onmyouji Volume 3 Chapter 3 di Kurozuku.

15 Mar 2021

Penerjemah : KuroMage

Selamat Membaca!!

Dan dua puluh hari pun berlalu. Dan hari ini, sudah sewajarnya aku menaiki kereta mewah yang telah disiapkan oleh pihak Akademi. Memang ini sudah sewajarnya… namun….

“…Kenapa kalian juga ada disini???”

Di dalam kereta ini, ternyata ada juga Ifa dan Amu.

“A-aku ini kan pelayannya Seika-kun!! Jadi harus ikut!!”

“Ya… Kalau Ifa mungkin tidak masalah… tapi….”

“Kenapa? Ada masalah!?”

Amu mengatakan itu dengan wajah soknya.

“Gak apa-apa kan? Aku juga belum pernah mengunjungi Ibukota…. Kalau bukan karena event ini, mungkin aku tidak akan punya kesempatan untuk berkunjung ke sana…”

Meskipun ia beralasan seperti itu, tapi pasti alasan utamanya adalah untuk menonton pertandingan bela diri itu. Sepertinya dia jadi penasaran dengan teknik bertarung milik sosok gadis yang telah mengalahkannya. Benar-benar orang yang tidak suka kekalahan.

“Tapi apa tidak masalah? Kalian jadi harus membolos sekolah??”

“Paling lama cuma setengah bulan kan? Tidak masalah…”

“Terus penginapannya bagaimana?”

“Aku bakal numpang di kamar Ifa…”

Benar juga, kalau tidak salah sekolah juga mempersiapkan kamar untuk pelayan. Meskipun aku tidak tahu apakah tempat tidurnya cukup untuk dua orang.

“Daripada itu, Seika-kun… Apa kamu baik-baik saja?? Ini kan di kereta….”

Ifa bertanya dengan nada khawatir.

“Mana mungkin tidak apa-apa…. Sekarang saja aku sudah merasa sangat mual….”

“Memangnya itu adalah sesuatu yang bisa di sombongkan??”

“Jadi … Mabel…. Kalau bisa kita tukeran tempat biar aku duduk di dekat jendela….”

Gadis berambut merah kecokelatan itu sejenak menatapku dengan mata birunya, lalu kemudian memalingkan wajahnya sambil bergumam.

“Nggak mau…”

Tepat. Di kereta ini, sebenarnya juga ada Mavel. Mungkin ini adalah hal yang wajar. Karena tujuan kami sama, tidak ada gunanya juga menyiapkan dua kereta untuk kami.

“Hmm? Junior yang sombong ya…. padahal masih kelas satu….”

Begitu komentar Amu. Mungkin karena Amu telah lama menjadi petualang, dia jadi agak bawel soal senioritas.  Lagi-lagi Mavel hanya menanggapi komentar itu seolah ia sedang berbicara sendirian.

“Aku dengar di akademi itu, kemampuan menentukan segalanya…. Lagipula usiaku sama denganmu….”

Amu sedikit terkejut.

“Heee… Jarang sekali ada keluarga bangsawan yang terlambat mendaftar…. Kalau begitu kita semua ini seumuran dong??”

“Anooo….”

Ifa mengangkat tangannya perlahan-lahan.

“Karena aku terlambat mendaftar, jadi aku satu tahun lebih tua…”

“Benarkah???”

“Memangnya kamu belum pernah cerita Ifa??”

“Timmingnya belum ketemu….”

“Hmm… Lebih tua ya…. Pantas saja…..”

“…Kamu lihat kemana Amu-chan!!”

Ifa dengan panik menutupi dadanya dan menjauh dari Amu.

“……Berisik”

Mavel bergumam dengan suara kecil yang hampir tak terdengar. Ketika ia menyadari tatapanku, gadis itu pun menghela nafas panjang dan melanjutkan perkataannya.

“Apa kebanyakan siswa di Akademi seperti ini??”

“Seperti ini? Maksudnya?”

“Tidak berpikir panjang, seperti bocah….”

“Ya sebenarnya kita memang masih anak-anak kan? Memangnya ada yang salah??”

Mavel lagi-lagi menghela nafas dan kemudian kembali berkata.

“Menganggap tidak ada yang salah saja sudah salah…”

“Apa yang mau kamu bilang itu….”

“…?”

“…Tidak, tidak jadi….”

Mari kita hentikan untuk mengatakan hal yang tidak perlu. Apa yang dikatakan Mavel ada benarnya. Jika terjadi gagal panen, orang akan mati kelaparan. Jika terjadi penyebaran wabah, orang akan sakit, dan kemudian mati. Ini adalah hal yang wajar untuk manusia. Tidak banyak anak-anak yang bisa hidup dengan tidak berpikir panjang.

Bahkan di Kekaisaran ini yang jauh lebih makmur dari pada Jepang saja, tidak sedikit orang yang tiba-tiba jatuh miskin dan juga menjual dirinya sebagai budak. Itu artinya anak-anak yang mampu bersekolah adalah anak-anak yang di berkati.

Namun secara pribadi, aku juga tidak ingin terlalu mengejek orang lain tentang ini. Setidaknya, aku berharap orang-orang yang ada dalam jangkauan pandanganku ini bisa hidup dengan bahagia. Itulah mengapa di kehidupanku sebelumnya aku sering kali mengadopsi anak yatim piatu dan menjadikan mereka sebagai murid.

“Tolong diingat….”

Mavel mengatakan itu, sambil mengalihkan wajahnya, lalu melanjutkan perkataannya.

“Kau juga termasuk anak yang tidak berpikir panjang itu…”

“…Benar juga ya….”

Di kehidupanku kali ini, aku benar-benar di berkahi sejak lahir. Meskipun di kehidupanku sebelumnya, aku tidak seberuntung ini.

Dan…

Aku tidak tahu masa lalu seperti apa yang di alami oleh gadis bernama Mavel ini, namun kemungkinan dia juga termasuk golongan yang kurang beruntung.

****

Dua hari setelah terombang-ambing di dalam kereta. Kami pun tiba di Ibukota Kekaisaran.

Uldnesque, Ibukota kekaisaran Uldwight. Meskipun kota ini berjarak tidak terlalu jauh dari Rodnea…. Namun  skalanya benar-benar jauh berbeda.

“Waaa…. Kerumunan yang luar biasa…..”

Ifa mengungkapkan kekagumannya.

Banyak bangunan-bangunan tinggi yang berjejer, dan seperti apa yang Ifa katakan, banyak sekali orang berlalu-lalang. Padahal, Rodnea itu sudah termasuk perkotaan jika dibandingkan dengan wilayah kampung halamanku, namun ternyata tidak sebanding dengan Ibukota Kekaisaran ini. Luar biasa.

“Tapi kereta disini lebih sedikit daripada di Rodnea ya…”

“Di sini ada aturan yang melarang kereta dari luar untuk masuk di siang hari…. Karena dengan kerumunan sebanyak ini akan menimbulkan bahaya … ”

“Ohh… Jadi itu alasannya kita diturunkan di luar gerbang kota….”

Aku bergumam ketika mendengarkan percakapan antara Amu dan Ifa. Ngomong-ngomong, aku pernah mendengar aturan yang serupa di Roma yang menjadi ibukota Kekaisaran Romawi.

Kemudian mereka berdua kembali menatapku.

“Ngomong-ngomong kau baik-baik saja??”

“Apa sebaiknya kita langsung beristirahat di penginapan saja?”

“Ti-tidak masalah…”

Aku menjawab begitu…. sambil menyandarkan punggungku pada sebuah dinding bangunan yang cukup tinggi dan berkali-kali mengatur nafasku.

Sepertinya aku telah terluka parah sebelum bertanding. Aku ingin muntah…. Aku sangat bersyukur karena diturunkan di luar tembok, namun rasa mualku sama sekali belum membaik.

Sial…. Pulang nanti aku akan terbang menggunakan Ayakashi!

“Hari ini kamu tidak perlu terlalu memaksakan diri begitu kan…”

“Tidak… Pertama-tama aku ingin daftar lawannya dulu….”

Aku ingin mengunjungi Arena yang di jadwalkan akan menjadi tempat pelaksanaan acara. Karena disana ada papan buletin yang memuat nama , kombinasi peserta, dan jadwal pertandingan.

Ngomong-ngomong, sosok Mavel langsung menghilang setelah turun dari kereta. Sepertinya penginapan kami berbeda, dan mungkin saat kami bertemu berikutnya adalah di arena.

Pada akhirnya, aku masih belum mengerti apa pun tentang gadis itu. Aku sudah mencoba mengirim surat pada Luft dan bertanya tentang Baron Claine padanya, namun aku tidak mendapatkan begitu banyak informasi.

Amu pun berkata.

“Tidak masalah sih kalau kamu mau melihatnya…. tapi masih jauh ya…. bagaimana? Mau naik gerobak?”

“…Kau ingin membunuhku!!?”

****

Arena yang akan menjadi tempat terlaksana acara ini di kelilingi oleh bangku penonton raksasa yang berbentuk oval, dan membuat orang dari luar sulit untuk melihat ke dalam. Saat ini, aku sedang menatap papan buletin besar yang ada di luar arena.

“Etto…. Namaku…..”

Sepertinya turnamen ini diatur untuk mencari pemenang terakhir. Terdapat satu garis di atas dan bercabang-cabang ke bawah, lalu di ujungnya terdapat nama peserta.

Total peserta seluruhnya adalah 32 orang peserta. Aku pun dapat dengan mudah menemukan namaku dan nama Mavel. Sepertinya kami tidak benar-benar terpisah blok, jika kami terus menang, mungkin kami akan bertemu di semi final.

Cukup mengejutkan. Tadinya aku mengira urutan peserta turnamen ini dibuat sewenang-wenang, tapi kok siswa dari sekolah yang sama bertemu sebelum di final?? Apa ini justru disengaja??

“Amu-chan, apa disitu ada nama yang kamu kenal??”

“Sepertinya tidak… Lagipula Petualang terkenal tidak akan muncul di turnamen seperti ini….”

Aku juga tidak melihat nama-nama yang aku kenal.  Yah.. Lagipula aku juga tidak mengenal banyak nama-nama ahli bela diri di dunia ini.

Untuk sementara, aku sudah menghafal nama semuanya. Aku pun meninggalkan papan buletin.

“Aku sudah melihat yang ingin aku lihat… Aku akan beristirahat dulu di penginapan….”

“Begitu?? Kalau begitu aku juga….”

“Tidak, tidak apa-apa… lagipula kita bakalan cuma tiduran di kamar kan… Jadi ayo kita jalan-jalan dulu sampai sore?”

“Tapi…”

“Ifa… Dengar ya… Laki-laki itu terkadang juga butuh waktu untuk sendirian tahu….Meskipun masih siang bolong begini….”

“Eehhhhh……”

“Hei!! Jangan katakan yang aneh-aneh begitu dong!! Aku cuma ingin tidur karena masih tidak enak badan!”

Bohong sih.

“Bercanda kok…. Mumpung timmingnya pas…. Ayo Ifa… Lagian kalau Seika dan si anak baru itu kalah di pertandingan pertama, kita bakal langsung pulang kan….”

“Ah, ya… Sampai jumpa Seika-kun… Nanti aku belikan sesuatu ya…”

“Ya…”

Aku pun berpisah dari mereka berdua, dan berjalan menyusuri kota ini sendirian.

Baiklah….

Tikus… Gagak.. Burung hantu…. butuh berapa banyak ya? Sepertinya akan sedikit melelahkan untuk bisa menyelidiki makna dibalik terselenggaranya turnamen aneh ini.

Terima kasih telah berkunjung. Jangan lupa untuk tinggalkan komentar.....

Comments

One response to “Saikyou Onmyouji Volume 3 Chapter 3”

  1. SiOtong says:

    Belum ada up lagi min?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *