Chapter 53 ~ Onmyouji Terkuat, Menonton Pertandingan Lagi

Anda sedang membaca Saikyou Onmyouji Volume 3 Chapter 7 di Kurozuku.

1 May 2021

Penerjemah : KuroMage

Selamat Membaca!!

Karena pertandingan kedua Mavel diadakan di hari yang sama denganku, aku memutuskan untuk bergabung kembali dengan Amu dan Ifa yang berada di kursi penonton.

“Hmm? Pertandingan yang bagus… Hei Ifa… Seika sudah kembali tuh….”

“I-iya… Selamat ya.. Seika-kun….”

Ifa mengatakan itu sambil melihat ke bawah dan dengan nada yang rendah.

Ah…….

“Ifa.. Lihat… Aku sudah kembali dengan selamat kan? Aku sama sekali tidak terluka kok…”

“……Ya”

“Gitu ya… tapi hebat juga kamu bisa menemukan kami ditengah kerumunan orang begini…. Padahal aku gak bilang rinciannya…”

“Aku susah payah mencari kalian loh…”

Tapi dari atas sih…

“Kau ini… Ternyata bisa pakai sihir angin ya… Padahal gak ikut kelasnya….”

“Lumayanlah….”

“Bisa mengalahkan golem yang memiliki anti atribut sihir dalam sekejap… pertandinganmu itu benar-benar gak ada yang meriah ya….”

Amu mengatakan itu sambil mengingat-ingat pertandingan sebelumnya.

“Ngomong-ngomong … Kalau menang nanti… Apa kau ada niat bergabung dengan pasukan kekaisaran??”

“Eh?? Tidak kok… Aku sama sekali tidak tertarik… Setelah turnamen ini selesai aku akan kembali ke akademi….”

“Hmm, Gi-gitu ya…. Baguslah…”

“Apanya?”

“Tidak, Lupakan! Aku harap kau bisa mengundurkan diri dengan lancar… Karena pihak penyelenggara pasti juga punya nama baik kan…”

“Aku rasa itu sama sekali bukan masalah…..”

Justru mereka mana mungkin mau memasukkan seorang penyihir ke dalam pasukan kekaisaran. Jadi keinginan kami pun sesuai.

“Aku harap setidaknya kau bisa mendapatkan uang hadiahnya…. Karena dalam keadaan terburuk mereka bisa juga membuatmu mengundurkan diri….”

“Daripada itu… dari tadi aku mendengar kamu mengatakan seolah aku sudah pasti akan menang…. Biar bagaimanapun, pertandingan ini tidak semudah itu loh…”

Lagipula aku belum sempat memikirkan sampai ke sana. Amu pun termenung ketika mendengar perkataanku.

“Bagaimana bilangnya ya… entah kenapa aku merasa tidak bisa membayangkan gambaran kau akan kalah…. Bukan begitu Ifa??”

“…………tidak tahu”

Ifa mengatakan itu dengan tetap tertunduk.

Ah…….

Sepertinya dia benar-benar mengkhawatirkanku…. Padahal itu tidak perlu… Tapi aku pernah mengatakan padanya untuk tidak membuat kami khawatir, jadi tidak enak juga rasanya kalau aku mengabaikan hal ini.

Aku pun mendekati Ifa dan menatap matanya sambil berkata.

“Ifa… Tenang saja… Aku pasti akan baik-baik saja… Kalaupun aku kalah, aku tidak akan mati kok….”

“……Benarkah?”

“Benar….”

Sebenarnya, pertandingan ini bagiku hanyalah seperti bermain dengan seekor anak anjing lucu. Meskipun lawannya 10 kali lebih kuat dari yang tadi, aku tidak akan mati.

“…Janji ya…”

Disaat yang sama dengan gumaman Ifa, terdengar suara pembawa acara bergema ke seluruh arena.

“Maaf membuat kalian semua menunggu!! Kita mulai pertandingan berikutnya di putaran kedua ini!!”

“Hei! Mau sampai kapan kalian mesra-mesraan begitu! Pertandingan si murid baru itu mau mulai tuh!”

Setelah mendengar perkataan Amu, aku pun menoleh ke arah arena, dan kedua peserta sudah bersiap di sana. Mavel masih membawa pedang dua tangannya itu. Namun kali ini, ia juga membawa dua senjata rahasia di pinggangnya dan juga ada pisau lempar di tas yang ada di pahanya.

Aku agak terheran. Memangnya dia mau melakukan apa sampai membawa senjata sebanyak itu?

Petarung yang menjadi lawannya sepertinya adalah seorang penyihir. Ia memiliki tongkat di tangannya.

“Petarung Hauro adalah seorang penyihir atribut tanah yang sangat berkompeten!! Meskipun Petarung Mavel yang merupakan siswa tahun pertama di Akademi sihir itu berhasil mengalahkan ksatria dengan menggunakan ketanggasan dan kekuatannya yang luar biasa, namun apakah ia mampu menghadapi sesama penyihir seperti kali ini??? Kalau begitu… Pertandingan, Dimulai!!!”

Suara peluit pun bergema. Si penyihir lawan pun mengambil langkah lebih dulu. Ia mengarahkan tongkat besarnya kepada Mavel.

“Rock Blast!!”

Bersamaan dengan penyebutan nama teknik itu, sejumlah bebatuan yang ukurannya kira-kira sekitar satu kepalan tangan melesat ke arah Mavel. Sebuah sihir atribut tanah kelas menengah yang dapat membuat orang mati jika tidak memakai Amulet.

Namun, Mavel menghadapinya dengan tenang. Dua pedang miliknya sudah ditarik keluar. Kemudian ia mengayunkan pedang yang ada di tangan kanannya dengan ringan ke arah batu-batu yang mendekat.

Aku pun terheran-heran menyaksikan hal ini. Sangat jelas sekali bahwa pedang milik Mavel adalah pedang yang dibuat untuk menusuk. Dan dia menggunakan itu untuk menebas batu. Normalnya ini adalah tindakan yang sembrono dan tidak masuk akal. Namun batu-batu itu langsung meledak saat menyentuh pedang tipis miliknya itu.

Meskipun terkejut, penyihir lawannya itu pun terus menembakkan sihir secara beruntun. Namun semua batu yang ditujukan kepada Mavel berhasil dihancurkan dan dilenyapkan oleh ayunan pedang yang ada di kedua tangannya.

Benar-benar penampilan yang tidak wajar. Batu-batu yang dilesatkan dengan kecepatan tinggi berhasil di hancurkan oleh Mavel yang bertubuh mungil hanya dengan mengayunkan pedang, tidak ada kata lain yang lebih cocok daripada tidak wajar. Tak peduli seberapa kuat si penggunanya, normalnya pedang itu pasti akan patah atau terpental karena tidak kuat menahan momentumnya.

Ditengah hujaman batu, Mavel perlahan-lahan mendekati lawannya. Penyihir itu pun mulai panik dan perlahan-lahan mundur.

“Ku! Wahai elemen Kuning yang berdetak, menderu dan menggebu… Wahai Elemen pembentuk kerasnya jalan pegunungan yang terjal….”

Dia mengucapkan mantera. Mungkin orang itu memutuskan bahwa sihir menengah sudah tidak ada gunanya lagi. Si penyihir itu pun sedikit menjauh dari Mavel dan mulai membacakan mantera sihir tanah level tinggi.

Meskipun langkah ini sedikit menimbulkan celah, namun tidak cukup waktu untuk membuat Mavel mendekatinya. Mungkin Mavel juga sudah menyadari bahwa dia tidak akan sempat, jadi ia melepaskan pedangnya dan mengambil pisau lempar miliknya.

Namun respon si penyihir itu juga cukup cepat. Ia menghentikan sejenak pelafalan mantera itu, dan mengarahkan tongkatnya ke tanah. Dan dalam sekejap sebuah dinding batu pun terbentuk di hadapannya.

Sekilas memang terlihat seperti langkah yang berlebihan untuk menghadapi pisau lempar, tapi mungkin langkah ini juga untuk mengulur waktu. Dan benar saja, si penyihir itu kembali melafalkan manteranya.

Sementara Mavel…..

Ia sama sekali tidak terpengaruh dan tetap melemparkan satu lagi bilah pisau. Pisau yang ia lempar adalah sebuah bilah kecil yang tampaknya sama sekali bukan tandingan dari dinding batu itu. Namun….

Bilah pedang itu menghancurkan dinding penghalang tersebut disertai dengan suara menderu. Dengan panik si penyihir itu pun menghentikan pelafalan manteranya, dan menembakkan bebatuan dengan panik.

Namun pisau lempar milik Mavel sama sekali bukan tandingan bagi batu-batu itu. Dinding batu yang telah tertembus itu mulai terkikis dari titik tembusnya, dan akhirnya runtuh. Dengan ini sihir pertahanan pun sudah tidak ada artinya lagi.

Bilah pisau itu sendiri berukuran kecil, dan kecepatannya pun masih dapat di ikuti oleh mata. Jelas sekali sangat aneh benda itu dapat menembus dinding batu yang terlihat sangat kokoh dan tebal itu.

Ditengah keterkejutan ini, Amu pun bergumam.

“Apa-apaan… itu…”

“…Mungkin itu adalah sihir yang memanipulasi gravitasi…. Karena kalau tidak salah Mavel itu ahli dalam sihir kegelapan…”

Amu pun menatapku.

“Aku juga sempat mempelajarinya di kelas… tapi bukankah sihir itu cuma sekedar membuat benda jadi lebih berat atau lebih ringan saja??? Apa bisa sampai melakukan hal seperti itu??”

“Benda yang lebih berat itu lebih kokoh kan… ditambah lagi kalau di lempar, pasti akan menimbulkan momentum yang kuat…. Jika kita membuat pisau lempar menjadi ratusan kali lebih berat dibandingkan batu, maka hal seperti itu mungkin saja terjadi…”

Sebenarnya masa benda dan masa benda karena ditarik oleh sebuah pusat benda itu berbeda. Tapi karena mereka saling terkait, maka pada dasarnya itu sama saja.

TL Note : Maksudnya dalam fisika massa benda(m) itu berbeda dengan berat benda (w).

Tidak diragukan lagi bahwa Mavel dapat mengendalikan gravitasi.  Jika dia dapat membuat senjatanya menjadi ringan, atau membuat dirinya sendiri menjadi lebih berat, maka dia dapat mengendalikan senjata-senjata berat itu dengan bebas. Atau sebaliknya, dengan membuat senjata miliknya menjadi lebih berat, maka momentum dan powernya menjadi lebih besar.

“… Tapi…”

Amu menggumamkan sesuatu.

“Bukankah itu terlalu sulit?? Karena kalau mengubah beratnya dari awal, dia tidak akan bisa mengayunkannya, jadi dia mengubah berat benda itu setelah mengayunkan pedang atau melempar pisau itu kan?? Dan dia melakukan hal seperti itu tanpa mantera sama sekali….”

Tentunya itu juga membuatku penasaran…

Ketika aku mengembalikan perhatianku kearah arena, penyihir itu merasa telah kalah dari tekanan yang ditimbulkan oleh pisau lempar itu dan melompat jauh dari dinding penghalang.

Sebelum orang itu sempat mengangkat tongkatnya lagi, Mavel mengayunkan pedang dua tangannya. Dan dia memotong tongkat itu menjadi dua dalam sekali tebas. Dan ia mengembalikan ujung pedangnya tepat menempel di leher penyihir tersebut.

Setelah beberapa saat keheningan menghiasi arena, peluit pun berbunyi.

“Wasit telah memutuskan pertandingan ini selesai!! Pemenangnya adalah Mavel Claine…”

Mavel pun menurunkan pedangnya dan meninggalkan arena dengan wajah tanpa ekspresi seolah dia sama sekali tidak memedulikan meriahnya sorak-sorai dari para penonton.

Yang lebih membuatku tertarik daripada sihirnya adalah teknik berpedang gadis itu. Karena di kehidupanku sebelumnya aku juga pernah belajar sedikit tentang pedang, aku dapat mengerti teknik miliknya itu bukanlah sesuatu yang dapat dikuasai dalam sekejap.
Mavel itu seakan sudah terbiasa mengendalikan senjata rahasia dan melempar pisau. Bagaimana bisa seorang anak yang di adosi oleh seorang bangsawan dapat menggunakan teknik seperti itu.

“Apakah tadi itu sihir support!!? Petarung Mavel menunjukkan kekuatan yang luar biasa!! Pedang milik Hero berambut merah itu tidak akan pernah berhenti!!!”

Aku pun terheran…..

Hal ini terulang kembali. Bahkan saat pertandingan pertama, si pembawa acara itu selalu mengibaratkan Mavel seperti seorang Hero. Dan aku juga sering mendengar komentar tentang ini baik di kursi penonton maupun di tengah kota.

Awalnya aku mengira itu hanyalah reaksi yang normal. Namun ternyata tidak ada tanda-tanda petarung lain yang di perlakukan seperti itu.

“…Kenapa Mavel itu selalu disebut sebagai Hero???”

Tanpa sengaja aku mengatakan apa yang aku pikirkan. Ifa dan Amu pun menatapku dengan wajah heran.

“Kenapa?? Memangnya Seika-kun tidak tahu??”

“Mavel itu adalah nama yang sama dengan pahlawan ke dua yang ada dalam sejarah… Memang itu bukanlah nama yang langka, tapi karena dia juga menggunakan pedang, mungkin orang-orang jadi berpikir mereka mirip kan?”

Kemudian… Aku pun merasa semuanya terhubung.

Begitu ya…

Jadi itu masalahnya ya….

Terima kasih telah berkunjung. Jangan lupa untuk tinggalkan komentar.....

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *