Saikyou Onmyouji Volume Ex1 Chapter 1
~Onmyouji Terkuat, Bermasalah dengan Keuangan~

Selamat Membaca….

“Aku ingin punya uang…..”

Disalah satu sudut kantin sekolah. Aku dan Amu hanya bisa terdiam dan memandangi Ifa yang tiba-tiba mengatakan sesuatu yang mengejutkan.

Sudah setengah tahun berlalu sejak penerimaan sekolah, dan kini memasuki musim gugur.

Kami mengikuti berbagai jenis pelajaran dan latihan praktik. Dalam setengah tahun ini hanya itu aktivitas kami sehari-hari, dan saat ini kami baru saja selesai menjalani ujian kedua.

Ini cukup menggelikan karena aku dan Ifa yang katanya seharusnya tidak dapat menggunakan sihir malah mendapatkan nilai praktik yang lebih bagus daripada murid-murid lainnya. Meskipun ini membuat Amu tercengang.

Aku pun sudah mulai terbiasa dengan kehidupan di sini.

Dan kemudian…..

“Um… uang?”

“Ya”

Ifa mengangguk, kemudian melanjutkan.

“Apa tidak ada cara yang bagus ya??”

“……Hei”

Amu yang duduk disampingku menyenggol pinggulku dengan sikunya. Dan kemudian berbisik kepadaku.

“Apa kau memberi Ifa uang jajan yang cukup??”

“Tidak sih… tapi…”

“Kau ini!!”

“Tunggu dulu… Ifa itu disini sebagai pelayanku… jadi seharusnya Ayahku memberikan gaji untuknya….”

Pada kenyataannya uang untuknya dikirim bersamaan dengan biaya kebutuhanku sehari-hari. Namun aku tidak tahu berapa jumlahnya.

“Jangan-jangan jumlahnya tidak cukup?? Apa kau benar-benar memperhatikannya??”

“Yahh…”

“Ah… Etto… Gajiku cukup kok… beneran….”

Ifa segera memberikan bantahan sambil melambaikan tangannya.

“Lalu kenapa??”

“Itu…. Kalau bisa punya banyak uang enak juga ya…. bagaimana mengatakannya ya…. ”

Ifa terlihat sulit untuk mengatakannya. Ketika aku menoleh kesamping, Amu sedang menatapku dengan tajam. Ah… Sepertinya memang soal itu ya yang dia pikirkan?

Aku pun berdeham dan mulai membuka mulutku.

“Ano… Ifa… aku mengerti perasaanmu… Kebanyakan orang yang bersekolah di sini adalah anak bangsawan…. Dan mungkin diantara mereka ada yang suka memukuli budak mereka…. terutama bagi mereka yang biasanya tinggal di daerah pertambangan atau pertanian sering memperlakukan budak seperti hewan ternak…. Aku bisa membayangkan betapa kesepiannya dirimu….”

Aku pun melanjutkan perkataanku.

“Karena itu aku mengerti perasaanmu yang ingin cepat bebas….. tapi untuk membebaskan seorang budak itu butuh seseorang untuk menjadi walinya….”

Seorang wali wajib berperan sebagai penanggung apabila seorang budak yang dibebaskan melakukan kejahatan, atau menjadi penjamin budak tersebut ketika dibutuhkan.

Pada dasarnya sistem ini diberlakukan untuk mencegah para budak untuk dilepaskan dengan asal-asalan.

Ketika masa perang dimasa lalu, pasar dibanjiri dengan budak, dan jumlah budak yang dibebaskan menjadi meningkat. Dan para budak yang telah bebas dan mengalami kesulitan dalam hidupnya serong melakukan tindakan kriminal, atau bergelimpangan mayat-mayatnya di gang-gang kota.

Kebijakan ini mirip dengan kebijakan yang diterapkan oleh Romawi timur di kehidupanku sebelumnya dalam membatasi jumlah budak yang bisa dibebaskan. Namun karena di sini ada juga budak yang memiliki darah Iblis di tubuhnya, masalah ini jadi lebih serius.

“Hanya orang dewasa yang boleh menjadi Wali Penjamin… Meskipun bisa saja Ayah selaku mantan Tuanmu yang menjadi wali…. tapi Aku sulit untuk memintanya melakukan itu karena kamu sudah diberikan padaku…. Karena budak yang dibebaskan juga akan memiliki hak untuk mengelola harta kekayaan, jadi beliau tidak bisa meminta seenaknya…. Karena itu, maukah kamu menungguku sampai berusia 15 tahun?? Kalau mau, aku akan membebaskanmu nanti, dan menjadi penjaminmu….”

Alasan kenapa aku mendekati Ifa adalah karena aku membutuhkan kawan dalam keadaan darurat nanti. Tak perduli seberapa kuat aku, pasti akan ada batasan yang bisa aku lakukan. Selain berlindung di bawah naungan sosok yang terkuat, aku juga membutuhkan kawan.

Ifa adalah sosok yang cerdas dan berbakat menjadi penyihir. Meskipun dia adalah seorang wanita, namun di kekaisaran ini banyak sekali wanita yang hidup mandiri dan menjadi sukses, maka tidak masalah.

Dia pasti akan menjadi orang yang sukses. Karena itu, tidak perlu Ifa untuk tetap menjadi budak selamanya. Justru akan lebih baik bagiku jika dia memiliki status yang bebas. Terlebih dia pasti akan merasakan berhutang padaku, jadi mari kita bebaskan secepatnya setelah aku dewasa.

Itulah yang aku pikirkan. Namun setelah terdiam beberapa saat, dia buru-buru menyangkal perkataanku.

“Tidak, tidak. Bukan itu… Bukannya aku bermaksud untuk segera membeli diriku sendiri….”

“Be-begitu ya…”

Apa gunanya penjelasan panjangku tadi??

“Diantara anak-anak orang kaya itu banyak yang baik sih… dan juga kehidupanku di Asrama cukup menyenangkan….”

“Benar juga…. Sepertinya Ifa memang punya lebih banyak teman daripada kau ya…”

“Kalau begitu baguslah… tapi Amu… bisakah kamu berhenti memberikan komentar dan tatapan menusuk seperti itu…”

Bahkan aku ini juga punya beberapa komentar yang tidak aku suka.

“Tapi terima kasih. Seika-kun….”

“Ah, iya …tapi  kalau begitu, apa alasanmu butuh banyak uang???”

“Uh, uh …”

Ifa mengalihkan wajahnya seolah ia sangat sulit untuk mengatakannya. Lalu tiba-tiba ia terlihat seolah menemukan ide.

“Se-Seika-kun…. Apa kamu tidak berpikir bahwa sihir yang sebenarnya adalah tentang uang?”

Aku pun bingung.

“Eh … apa maksudmu?”

“I-ituloh… Di dalam dongeng penyihir bisa mengabulkan segala keinginan dengan hanya mengayunkan tongkat kan?? Sedangkan sihir empat elemen kita tidak akan bisa melakukan hal yang seperti itu sebanyak apapun kita belajar kan?? Kalau begitu itu sama sekali bukan sihir yang sesungguhnya!”

“Ah, uh… hmm?”

“Kalau begitu apa itu sihir sebenarnya?? Itu adalah Uang!! Uang bisa ditukar dengan apapun! Meskipun agak mustahil mengabulkan semua permintaan, tapi kebanyakan bisa diwujudkan dengan uang! Ka-kalau begitu, Uang itulah sihir yang sebenarnya! Apa… apa menurutmu ada orang yang tidak menginginkan benda semacam itu??”

Ada sesuatu yang aneh dari pancaran mata Ifa yang mengatakan itu sambil mencondongkan wajahnya kepada kami. Entah sebenarnya dia mengerti atau tidak apa yang telah ia katakan barusan.

Amu dan aku saling bertatapan dalam keheningan.

“Bagaimana ya… Kurasa para Seirei sedang menangis melihat Ifa yang barusan….”

“Ah.. tolong jangan bilang begitu…..”

“Benar…. Kamu ini kan biasanya tipe orang yang merepotkan orang lain…. Tiba-tiba kamu mengatakan sesuatu seperti uang adalah sihir sesungguhnya…. Apa dunia ini akan hancur ya….”

“Uuu……”

Ifa pun menundukkan wajahnya setelah mendengar candaan Amu.

Ngomong-ngomong Amu sudah tahu soal Seirei yang dimiliki Ifa. Ketika aku memberitahu Ifa bahwa tidak apa-apa untuk memberitahu Amu, sepertinya Ifa langsung memberitahu dia.

“Yah, tapi… memang sih uang itu penting….”

Amu mengatakannya sebagai tambahan.

“Sepertinya sudah lumrah bagi para petualang pemula mendengar kisah petualang yang mati karena pelit dalam mengatur perlengkapannya… Segala sesuatu butuh biaya….”

“Hmm…. Benar juga…”

Bahkan diduniaku sebelumnya hampir tidak ada tempat yang tidak membutuhkan uang. Apakah kenyataan ini akan selalu sama meski berbeda dunia?

“Apa kalian berdua sudah mengerti?? Jadi kira-kira apa yang harus kita lakukan??”

“Kalau soal itu, tinggal minta saja sama orang ini kan??”

Amu menunjuk ke arahku.

“Kau ini tuannya kan? Setidaknya dengarkanlah satu atau dua permintaan dari budakmu….”

“Sayang sekali Amu… Aku juga tidak punya uang…”

“Kenapa?? Harusnya kau mendapatkan uang setidaknya lebih banyak dari Ifa kan?? Apa kau suka main dengan perempuan diluar???”

“Eh?? Seika-kun …”

“Bukan itu!! Aku ini… membutuhkan kertas untuk membuat mantera….”

“Sihir yang mahal ya….”

“Oh iya kalau tidak salah aku sering lihat kamu membeli banyak di kota ya….”

Amu bergumam, dan Ifa memberikan komentar setelah dia baru teringat akan itu. Ngomong-ngomong aku sudah mengungkapkan pada Ifa soal aku yang menggunakan hitogata. Tidak ada gunanya juga menyembunyikan itu darinya setelah Amu mengetahuinya. Justru aku ingin menghindari adanya salah informasi diantara sesama rekan.

Memang tujuan hidupku kali ini adalah menjadi licik, namun aku bukanlah orang yang cukup terampil untuk mengatur informasi yang berbeda untuk disampaikan kepada orang lain.

Yahh mari kita abaikan soal ini.

“Karena itu… Aku sebenarnya juga menginginkan uang….”

“Aku juga…. bagaimana ya… aku ingin menghasilkan sendiri uang untukku….. Apa tidak ada cara yang bagus ya….”

Sejenak aku memikirkan ini, namun aku tidak mendapatkan jawaban apapun. Kalau kita bicara soal tempat pekerjaan sampingan siswa miskin biasanya adalah penulisan atau penyalinan dokumen. Namun di kota Rodnea yang tingkat melek hurufnya cukup tinggi ini pasti banyak yang sudah menguasai baca tulis dan berhitung. Pekerjaan seperti itu tidak terlalu menguntungkan.

Meskipun tidak salah jika ada siswa yang bekerja untuk biaya sekolahnya, namun aku sama sekali tidak tahu apa yang mereka lakukan.

Meskipun di kehidupanku sebelumnya aku memiliki kekayaan yang cukup banyak, namun aku tidak memiliki kemampuan bisnis secara khusus.

“Yahh…. Sebenarnya aku juga sedang dalam kondisi kehabisan uang….. Meskipun aku masih ada beberapa uang sampai nanti ada kiriman….”

“Kamu juga ya…. Apa kamu tidak tahu cara yang bagus? Kami ini berasal dari daerah yang jauh… dan aku sama sekali tidak mengerti dengan situasi yang ada di kota….”

“…Aku punya satu cara….”

Amu berkata demikian.

Awalnya aku sedikit berharap. Namun ketika aku melihat senyuman mencurigakan di wajah Amu, perlahan-lahan aku mulai merasa sedikit khawatir.

“Kalian berdua harus meluangkan waktu liburan kalian nanti ya….”

Aku dan Ifa saling memandang. Apa boleh buat, mari ikuti saja. Ini demi Uang.

 

Terima kasih telah mampir….

Anda telah membaca Saikyou Onmyouji no Isekai Tenseiki Chapter Vol.Ex1 - Ch.01. Jadikan Kurozuku sebagai website favorit anda.

Comments

3 responses to “Saikyou Onmyouji Volume Ex1 Chapter 1”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *