Chapter 46 ~ Onmyouji Terkuat, Menjadi Iri

Anda sedang membaca Saikyou Onmyouji Volume Ex1 Chapter 10 di Kurozuku.

27 Dec 2020

Penerjemah : KuroMage

Selamat Membaca!!

Setelah festival sekolah berakhir, kehidupan sekolah kami yang normal pun kembali.

Di pagi hari.

Ketika aku sedang berjalan bersama Ifa di sebuah jalan didalam akademi untuk menuju ke kelas, aku melihat tiga sosok laki-laki yang mengenakan pakaian yang aku kenal berjalan dari depan kami.

Mereka adalah pasukan ksatria sekolahan.

Apa mereka habis berlatih pagi?? Mereka terlihat membawa pedang tiruan, dan sangat berkeringat.

Karena aku merasa tidak terlalu akrab dengan mereka, aku berniat lewat begitu saja saat nanti berpapasan. Namun mereka menyadari keberadaanku dan Ifa.

Dan sesaat kemudian, mereka tiba-tiba berlutut dihadapan Ifa.

“Putri!!”

“Hya!!!!”

Ifa terkejut dan bersembunyi di belakangku. Aku juga agak terkejut, namun mereka nampaknya tidak memedulikan ini. Merekapun mengangkat wajah mereka dan sepertinya akan mulai melakukan sesuatu.

“Aku sangat terkesan telah menerima hadiah yang luar biasa banyaknya berkat kekuatan Anda, puteri…. Aku benar-benar terselamatkan…. Berkat dirimu aku bisa membelikan hadiah untuk kekasihku….!”

“Aku bisa membayar hutang sake di bar yang biasa aku kunjungi!”

“Berkat itu aku bisa menggandakan semuanya di tempat perjudian itu!!”

“Be-begitu ya…”

Ifa mengatakan itu dengan suara pelan dan ketakutan di sambil bersembunyi belakangku.

Daripada itu, Apa maksudnya dia memanggil puteri??

“Apa yang kalian lakukan??”

Amu yang kebetulan lewat melihat kami dengan tatapan curiga. Kemudian, ketiga anggota ksatria itu langsung berdiri dalam posisi tegap.

“Selamat pagi! Wakil ketua Amu!!”

“Kakak!! Anda terlihat cantik hari ini!!”

“Cuacanya bagus ya!!”

“Amu… Kamu ini jangan-jangan….”

“Aku tidak masuk kelompok mereka kok!! Hanya mereka saja yang mengatakan itu dengan semaunya…”

Amu menyangkal dengan keras.

“Karena ketua mereka kalah… mereka mengatakan bahwa sebenarnya aku adalah wakil ketua mereka dan menggunakan itu untuk merekrut anggota baru…. Karena tingkah mereka itu, mulai ada beberapa orang yang mempercayai itu! Ini benar-benar menggangguku tahu!”

“Ohh…”

Ada apa dengan prinsip ksatria mereka??

Apa boleh buat. Aku pun membuat senyuman di wajahku.

“Permisi… Aku sangat berterima kasih karena kalian mau membantu Ifa tempo hari…. Tapi karena mereka berdua terlihat kerepotan, bisakah kalian sedikit menahan diri kalian??”

Aku berkata demikian. Namun ketiga orang itu pun mulai berubah sikap, dan mengejekku.

“Cih… Jangan sombong kau….”

“Sok akrab dengan Putri dan kakak…..”

“…..ti sana! Dasar tukang main cewek!!”

Aku pun mulai merasakan urat-urat di wajahku menjadi tegang. Apa-apaan perubahan sikap drastis mereka ini!!!

“Kalian semua! Berhenti!!”

Tiba-tiba terdengar suara lantang.

“Ke-ketua!!”

Ketiga anggota ksatria itu terlihat terkejut. Ternyata Darius si ketua pasukan kesatria sekolahan telah tiba, dan menghentikan mereka bertiga.

“Tingkah laku kalian barusan itu sangat tidak sesuai dengan prinsip ksatria…. Renungkan perbuatan kalian!”

“Siap!”

“Siap!”

“Siap!”

“Bagus….”

Si ketua itu tampak puas, dan kemudian dia menoleh kearahku.

“Kau adalah tuannya Ifa ya….”

“I-iya.. Kenapa?”

“Hmm… Meskipun kau tidak memiliki sifat ke-ksatria-an… tapi sorot matamu tidak terlalu buruk…”

“Ha…ha…..”

Orang ini, apa dia sedang mengejekku secara tidak langsung? Si ketua itu melanjutkan perkataannya dengan mengabaikan pemikiranku ini.

“Aku telah mendengar situasinya meski hanya sekilas… Sepertinya kau adalah majikan yang baik…”

“…”

“Biasanya… Meskipun budak boleh memiliki uangnya sendiri namun tidak banyak yang diperbolehkan untuk mempergunakan uang itu…. Malahan banyak budak yang sampai menahan diri tidak makan hingga kurus kerontang demi sebuah mimpi mereka untuk dibebaskan suatu saat nanti….. Begitu mengerikannya kenyataan bahwa hidup dan matimu ada di tangan orang lain… Aku baru pertama kali mendengar ada budak yang ingin memberikan hadiah untuk tuannya atas keinginannya sendiri…”

“…”

“Sepertinya hubungan kepercayaan seperti itu juga sesuai dengan prinsip ksatria…. Jangan sampai kau mengkhianati mimpinya itu…”

“… Ah iya”

Karena sepertinya dia mengatakan sesuatu yang bagus, tanpa sengaja aku mengangguk. Saat aku memikirkannya kembali, agak menyebalkan juga rasanya mendengar si bodoh ini bisa mengatakan sesuatu yang bagus.

Kemudian Darius menoleh ke arah Ifa dan menundukan kepalanya dengan ringan.

“Puteri”

“Ehh? Kamu juga….”

“Semua anggota saya sangat mengagumi sosok ksatria sesungguhnya… Karena itu saya mohon agar Anda memaklumi perbuatan mereka… Mungkin ini bisa menjadi latihan sebelum kami menghadapi tuan kami sebenarnya di masa depan….”

“Memangnya ini bisa disebut pelatihan ya??”

Tanpa sengaja kata-kata itu keluar dari mulutku. Bagaimanapun aku melihatnya, tingkah mereka itu hanya semacam permainan kan?

Sambil tetap menyembunyikan badannya di belakangku, Ifa pun berkata kepada mereka.

“Ma-maaf… Sepertinya ini memang terasa tidak nyaman…. aku mohon kalian menghentikannya…”

“Ghu…!”

Sang ketua itu terlihat berpose seperti orang yang muntah darah (Cuma sepertinya saja) dan beberapa saat kemudian ia kembali tegap dan menatap para anggotanya. Dan kemudian berbicara.

“Ayo pergi! Kalian semua!”

“Siap!”

“Siap!”

“Siap!”

Kemudian para ksatria sekolahan itu pun pergi.

“Apa-apaan sih mereka itu….”

“Entahlah……”

Hanya itu jawaban yang bisa aku berikan kepada Amu yang bertanya kepadaku.

Seharusnya beberapa dari mereka adalah seorang bangsawan. Memangnya mereka pikir apa yang mereka lakukan? Kalau sampai ada yang tahu mereka bermain-main sebagai ksatria dan menganggap budak orang lain sebagai tuan mereka, mungkin tidak aneh jika mereka di pulangkan ke kampung halaman masing-masing.

Sepertinya mereka itu memang cocok disebut kumpulan orang-orang bodoh.

“Pa-padahal mereka itu bukan orang jahat loh…. tapi agak…”

Ifa mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak memberikan nilai plus pada mereka.

Bukan orang jahat ya…

Sepertinya memang benar jika melihat tingkah laku si ketua itu.

Dan sepertinya benar kata Yuki, sikapku yang memaafkan mereka hanya karena hal ini menunjukkan bahwa aku terlalu naif.

 

Terima kasih telah berkunjung. Jangan lupa untuk tinggalkan komentar.....

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *