Archive for Tensei Kizoku

Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 7 Chapter 21
Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 7 Chapter 21

Selamat Membaca…. Hari-hari pun berlalu dengan cepat, dan tibalah hari pemilihan Pope baru. Di tengah malam,  Cain dan Hinata sedang melakukan diskusi tahasia tentang apa saja yang akan dilakukan besok. Karena ia bisa menggunakan sihir transfer, maka dia bisa berpindah ke ruangan Hinata tanpa ada yang tahu. “Cain-sama… Kurasa tidak apa-apa jika kita sekalian tidur bersama disini… lagipula tidak akan ada yang kemari sampai besok pagi…..” “……… Aku kembali saja kekamarku…. Lagipula akukan sekamar dengan Bishop-sama….” “Kamarnya bersebelahan kan?? Jangan bilang kalau kalian tidur di tempat tidur yang sama…..” “Tidak lah….” Hinata nampak sangat agresif mungkin karena dia sudah lama sekali tidak bertemu dengan Cain. Dan sepertinya dia juga mendapatkan beberapa saran dari Lime sehingga membuat dirinya semakin menggoda, Cain pun merasa sangat tertarik dan tak tahu bagaimana harus berbuat. Namun, disaat yang genting seperti ini dia tidak mungkin mengutamakan hal ini. Ia pun memutar otaknya untuk mencari logika agar bisa terlepas dari suasana ini. Sambil mengenang hal yang terjadi beberapa hari ini, Cain bersiap untuk saat dirinya beraksi. ◇◇◇ Terimakasih atas kesetiaan kalian untuk selalu menantikan kami…… Aula Kuil utama penuh dengan hawa antusiasme. Para Bishop dan para Priest dari seluruh penjuru telah kembali dan berkumpul bersama dengan para Priest lainnya di Kerajaan Marineford. Semua ini adalalh untuk pemilihan Pope baru. Tidak ada event lain yang mungkin bisa mengumpulkan ratusan orang penting gereja dalam satu tempat selain pemilihan Pope ini. Bahkan ketika Hinata memulai debutnya sebagai seorang Saint hanya beberapa orang Priest dalam negeri ini saja yang datang karena mereka pun tidak sibuk. Dalam kasus penobatan Hinata ini, Pope terdahulu telah memberikan instruksi agar acara itu dimeriahkan oleh rakyat sipil ketimbang orang-orang gereja. Karena Saint adalah simbol yang paling dikenali oelh penduduk negeri. Meskipun di gereja ada berbagai kelas seperti Cardinal, Bishop, dan Priest, namun bagi rakyat awam mereka ini hanyalah disebut sebagai ‘Orang Gereja’. Namun hal itu sangat berbeda dengan seorang Saint, Para warga sangat antusias dan merasa bangga dengan posisi yang ditempati oleh satu orang gadis ini. Namun pada pemlilihan Pope kali ini warga menjadi pihak luar. Hanya pejabat gereja yang memiliki hak untuk membuat keputusan. Semua orang yang tinggal di Kerajaan Marinford ini mungkin pada dasarnya merasa siapapun yang akan menjadi Pope maka akan sama saja. Wajar jika mereka tidak terlalu tertarik dengan orang-orang yang tidak pernah muncul dan tidak mereka kenal. Lagipula keberadaan nya itu tidak lebih layaknya cemilan teman minum sake. Namun, hal itu…

Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 7 Chapter 20
Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 7 Chapter 20

Selamat Membaca…. Masih ada beberapa hari menjelang pemilihan Pope, jadi Cardinal Denter diminta untuk sementara memperkuat fraksi pendukungnya. Meskipun dia sendiri merasa enggan melakukan itu, namun apa boleh buat, hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menjadi Pope yang baru. Tidak seperti sebelumnya, kini Bishop Hanam menjadi sangat mendukungnya. Hal ini dikarenakan sudah mendapat perintah resmi dari Cain yang merupakan utusan dewa. Ia berpikir, meskipun dia adalah saudaranya, jika orangnya sendiri tidak punya motivasi maka tidak bisa berbuat apa-apa. Terlepas dari semua itu, Cain saat ini sedang berjalan-jalan dikota. Ia meminta bantuan Claude untuk hal ini. Cain menghampiri penginapan tempat Claude dan yang lainnya menginap. Di ruang makan penginapan, Claude dan kelompoknya sedang mengelilingi meja makan. “Jadi Cain… Apa permintaan mu?? Kami juga tidak terlalu mengetahui tempat ini…. Hal yang bisa kami lakukan terbatas…” “Aku mengerti soal itu…. Aku ingin kalian menyelidiki siapa yang paling penduduk inginkan untuk menjadi Pope baru…” “Kalau cuma itu tidak masalah…. Kita cuma perlu berkeliling dan mengumpulkn informasi saja kan???” “Rina-san memang Hebat…. Benar seperti itu….” Rina nampaknya lebih cepat memahami pembicaraan ini dibandingkan Claude. Milly dan Nina puun mengangguk menyetujinya. “Jadi… kita juga memberikan gosip dan rekomendasi pilihan… dengan itu kita bisa menjatuhkan pamor…. Si… siapa ya yang menyerang kita itu? Ah!! Si Bangla itu….” Cain mengangguk dan tersenyum pahit menyaksikan Rina mengatakan itu sambil menyeringai. Terimakasih atas kesetiaan kalian untuk selalu menantikan kami…… “Tapi Cain…. Kita ini begini-begini masih petualang peringkat A sama B loh…. Dan kita harus berkeliling toko-toko…. Mengertikan???” Cain mengerti apa yang dimaksud oleh Rina. Para petualang biasanya hanya beraktivitas di Bar atau penginapan, namun bagi Rina dan ketiga perempuan ini, jangkauan mereka lebih luas. Memang mungkin untuk menjadikan Cardinal Denter sebagai seorang Pope, namun itu tidak ada artinya jika para penduduk menolak dan memberontak. Cain pun mengeluarkan delapan koin emas dari bungkusan yang ia simpan di sakunya. Mata rina mun membelalak melihat jumlah uang yang tidak terduga itu. “Sebagai biaya operasional masing-masing satu koin emas… dan hadiahnya masing-masing satu koin emas lagi, jadi totalnya delapan koin emas, bagaimana???” Melihat Cain menyeringai, Rina pun ikut tersenyum. “…Pantas sebagai seorang Margrave…. Cepat paham…” Rina un membagikan koin emas kepada Milly dan Nina masing-masing dua koin emas. Lalu ia memasukan empat koin emas sisanya kedalam sakunya. Terimakasih kepada para donatur!!! “……… Eh? Tunggu… Bagian ku mana…?” Claude pun bertanya. Cain mengerti apa maksudnya. Rina tidak memberikan satu keping pun kepada Claude. Claude…

Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 7 Chapter 19
Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 7 Chapter 19

Selamat Membaca…. Mentari pagi menyinari bagian dalam kuil melalui jendela kaca di langit-langit. Langit-langit terasa cukup tinggi di ruangan yang luasnya bisa menampung ratusan orang berkumpul disini. Terdapat patung dewa pencipta di bagian tengah, dan masing-masing 3 dewa lain di setiap sisinya. Patung-patung itu didesain lebih megah dari patung yang ada di gereja manapun dan memiliiki tinggi sekitar lima meter. Dan di hadapan patung-patung itu, ada empat orang yang berlutut dan berdoa. “Aku tidak tahu apakah kalian semua bisa ikut atau tidak…. Tolong ingat itu….” Hinata, Cardinal Denter, dan Bishop Hanam mengangguk setelah mendapat peringatan dari Cain. Mereka semua menyatukan telapak tangan mereka dan berdoa, seketika bidang pandangan menjadi putih. “Ternyata kamu datang ya….” “Ya, ada hal yang ingin aku bicarakan dengan kalian….” Cain menjawab pertanyaan Zenom. Dan ketika ia barbalik, ia melihat sosok Hinata yang sedang dalam pose berdoa. Cain pun menghela nafas, karena ternyata ia tidak bisa membawa Bishop Hanam dan Cardinal Denter. “Hinata, berdiri dan kemarilah….” Ketika mendengar perkataan Cain, Hinata pun membuka mata. Ketika ia melihat ke sekitar dan menemukan sosok para dewa, dengan panik ia pun berdiri. “Lama tidak berjumpa….” Hinata dan Cain pun duduk. Terimakasih atas kesetiaan kalian untuk selalu menantikan kami…… “Aku sudah mendengar percakapan kalian berempat…. Meskipun begitu, aku tidak bisa memanggil kalian semua kemari… tolong mengertilah….” Mereka berdua mengangguk setelah mendengar perkataan Zenom. “Cain, Zenom-sama mungkin tidak mau mengatakannya, tapi untuk memanggil Cain sendirian saja sudah menghabiskan banyak energi dewa… Karena kebetulan Cain dan Hinata memiliki kecocokan dengan dewa kami bisa memanggil kalian berdua bersamaan, jika sampai memanggil kalian berempat sekaligus itu akan membutuhkan energi yang sangat banyak…. Selain itu tekad mereka berdua yang disana itu masih kurang…” Lime pun menjelaskan hal itu menggantikan Zenom. Ketika ia mengetahui bahwa untuk memanggil dirinya sendiri saja sudah membutuhkan energi sihir yang lebih banyak daripada seluruh energi sihir manusia yang di kumpulkan, ia pun merasa sedikit gemetaran. “Baiklah…. Maafkan aku telah meminta hal yang tidak mungkin…  Kalau begitu langsung saja ke intinya, aku sudah memberitahu apa yang Lime-sama katakan kepada orang yang bersangkutan…. Namun Cardinal Denter memiliki fraksi yang paling sedikit… Akan sulit untuk memenangkan pemilihan ini….” “Cain… kenapa kamu harus mengkhawatirkan soal jumlah pemilih?? Kamu hanya harus membalik semuanya….” “Meskipun anda bilang membaliknya…..” Terimakasih kepada para donatur!!! Tak peduli apapun yang dikatakan Cain dan Hinata, itu tidak akan mengubah jumlah suara. Cain benar-benar bingung apa yang harus ia lakukan untuk membalik semua ini….

Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 7 Chapter 18
Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 7 Chapter 18

Selamat Membaca…. Cain pun mulai menceritakan tentang penyeragan pertama, lalu dilanjutkan tentang keberhasilan mencegah penyaerangan kedua dan ternyata yang memimpin penyerangan itu adalah Priest Oliver. “Oliver ya… Dia adalah salah satu fraksi Cardinal Bangla…” Cain juha Cain juga beranggapan bahwa semua ini di dalangi oleh Cardinal Bangla berdasarkan adanya Oliver dan juga penggunaan tim pembunuh, namun pemilihan ini berggantng dari jumlah pemilih, dan dia tak bisa berbuat apapun. “Tidak bisakah dia menjadi di diskualiikasi akibat kasus ini??” “Tidak bisa… ini seperti menangkap ekor kadal… paling dia akan bilang, tidak tahu, tidak ada urusan, dia saja yang melakukan itu seenaknya…. Lagipula ini tidak akan merubah bahwa fraksinya itu banyak….” Cardinal Denter menggelenkgan kepalanua dan menjawab pertanyaan Cain dengan pasrah. “Aku juga lebih senang jika  Cardinal Denter yang menjadi Pope… Aku benar-benar menikmati pembicaraan ku dengan Cardinal Denter….” “Aku merasa terhormat jika anda mengatakan bergitu…. Tapi kalau cuma itu saja tidak bisa…. Aku tidak terlalu suka membuat fraksi, jadi apa boleh buat….” Sepertinya Hinata juga menginginkan Cardinal Denter menjadi Pope, namun karena jumlah pendukung yang sangat minim bahkan orangnya sendiri pun sudah pasrah. Namun, Cain punya satu hal yang harus dibiarakan. “Cardinal Denter…. Ada satu hal yang akan aku katakan padamu…” “Cain-sama…” Terimakasih atas kesetiaan kalian untuk selalu menantikan kami…… Melihat ekspresi Cain tiba-tiba menjadi serius, Cardinal Denter pun ikut menjadi serius. Hinata dan Bishop Hanam tetap diam seakan sudah menebak maksud ekspresi ini. “Ini adalah pesan dari Lime-sama,Dewa Kehidupan…. Silahkan anda menjadi Pope berikutnya…” Cardinal Denterpun gemetaran setelah mendengar perkataan Cain. Dia pun langsung bangkit dari sofa dan kemudian berlutut dan bersujud dihadapan Cain. “Aku, Denter, akan menerima perintah Lime-sama dengan senang hati…” Cain pun mengangguk. Namun, ada setumpuk rintangan yang akan menghalangi Cardinal Denter untuk menjadi Pope yang baru. Meskipun Cain adalah utusan dewa sekalipun, yang akan memenagangi pemilihan ini adalah jumlah pemilihnya. “Tapi apa yang harus kita lakukan… Kakak ku memang seorang Cardinal, namun fraksi pendukungnya sangat sedikit…. Tantangan terbesar kita adalah Cardinal Bangla….” “Tentang itu … Aku akan coba tanyakan langsung…” “Cain-sama apa anda akan ketempat itu lagi??” Cain berusaha menjawab pertanyaan Bihsop Hanam sebisanya.. Dan pun penasaran, karena dia juga pernah ketempat para dewa. Ada kemungkinan bahwa mereka bisa kesana bersama jika mereka berdoa bersama lagi. “Mungkin saja Hinata nanti bisa ikut… apa kamu mau berdoa bersama ku??” “Ya tentu saja.” Hinata mengangguk dan tersenyum lebar. Tolong dikomen ya kalau ada terjemahan yang aneh atau rancu… “Besok…

Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 7 Chapter 17
Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 7 Chapter 17

Selamat Membaca…. “Maaf sudah menunjukan sisi memalukan ku…” Hinata yang pipinya maih memerah itu membungkuk dihadapan Bishop Hanam. Cain pada awalnya ingin duduk di samping Bishop Hanam, namun Hinata duduk tanpa melepaskan tangan Cain jadi dia pun duduk disampingnya. “Tidak apa-apa…. Anda sudah lama tidak bertemu dengan beliau, tentunya anda pasti ingin berdua saja… Justru aku minta maaf karena orang tua ini malah mengganggu….” Melihat Bishop Hanam menjawab sambil tersenyum Hinata tampak terseipu malu dan berusaha menyembunyikan wajahnya. “Aku benar-benar terkejut saat menerima surat dari Hinata… Meskipun kamu terlihat lelah, namun kamu terlihat lebih sehat dari yang aku bayangkan….” Hinata pun menghela nafas setelah mendengar perkataan Cain. “Sebenarnya banyak hal terjadi dalam pemilihan Pope kali ini…” Terimakasih atas kesetiaan kalian untuk selalu menantikan kami…… Hampir setiap hari keempat Cardinal melakukan pertemuan dengan Hinata. Sepertinya memang dukungan seorang Saint menjadi sangat penting bagi orang-orang di Marineford ini. Cardinal Bangla yang memiliki fraksi terbanyak ingin merekrutnya untuk masuk. Salah satu Cardinal lain mengutarakan idealismenya yang sangat mustahil. Ada lagi Cardinal yang termuda yang memamerkan daya tariknya pada Hinata. Hanya Cardinal Denter, kakak Bishop Hanam yang mengobrol santai dengan dirinya. “Cardinal Denter sudah merawatku sejak aku masih kecil, mungkin karena menduga aku telah lelah, dia sama sekali tidak membicarakan tentang pemilihan ini dan malah mengobrol biasa dengan ku… Dia selalu membawa cemilan yang enak…” Cardinal Denter nampaknya tidak memiliki ambisi untuk menjadi seorang Pope. Cain juga mendengar hal serupa dari Bishop Hanam. Namun, dari penjelasan Hinata ini Cain merasa yang paling baik kepribadiannya justru adalah Cardinal Denter. Setelah beberapa lama mereka berbincang, terdengar suara bising dari lorong yang ada diluar ruangan ini. Pintu pun diketuk lalu seorang lelaki tua yang agak mirip dengan Bishop Hanam menongolkan kepalanya dan mengintip kedalam. “Aku dengar Hanam datang…. Ah ada.. ada… Hinata-sama juga ada disni ya…. Dan satu lagi???” Cain menduga bahwa orang yang masuk tanpa menunggu izin ini adalah Cardinal Denter. Terimakasih kepada para donatur!!! “Kakak!!! Tidak, Cardinal Denter! Anda harus tahu tempat!!! Kami sedang dalam pertemuan dengan Saint-sama!” “Yah, jangan marah-marah begitu…. Daripada itu, siapa bocah laki-laki yang duduk di sebelah Hinata-sama ini………Eh!?” Cardinal Denter pun mengunci pintu agar tidak ada orang yang masuk. Lalu ketika ia berdiri tepat dihadapan Cain——— Dia langsung berlutut dan menundukan kepalanya. “———Anda seorang utusan dewa ya…. Perkenalkan diri saya bernama Denter, salah satu Cardinal di  Kerajaan Marineford ini, saya merasa terhormat bisa bertemu anda wahai utusan para dewa….” Pria…

Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 7 Chapter 16
Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 7 Chapter 16

Selamat Membaca…. Meskipun terjadi dua kali kasus penyerangan, namun rombongan mereka dapat dengan selamat tiba di Ibukota. Bishop Hanam terus menampakan wajah murungnya dia tidak menyangka bahwa akan ada penyerangan sebanyak ini. “Terima kasih banyak untuk semuanya…. Meskipun banyak hal yang terjadi, aku bersyukur kalian semua baik-baik saja…. Silahkan bersantai dulu sampai nanti saatnya kita pulang.. Silahkan minta ksatria untuk mengantarkan kalian ke penginapan….” “Tidak apa-apa Bishop-sama…. Justru kami petualang peingkat A dan peringkat B disewa untuk menangani masalah ini… Jadi jangan terlalu mengkhawatirkannya…” Claud menjawab dengan penuh rasa bangga, dan Rina hanya bisa meghela nafas menyaksikan ini. Namun jika tidak ada Cain, Claude dan Rina adalah petualang teratas di kelompok ini, dan Claude adalah pemimpinnya, maka wajar jika Claude menjawab mewakili mereka. Setelah ini. Cain berencana tetap mengawal Bishop masuk ke Kuil setelah ia mengganti pakaiannya. Namun karena meskipun ia memakai pakaian petualang, dia masih akan terlihat mencolok, jadi ia pun memutuskan untuk meminjam jubah deacon. Terimakasih atas kesetiaan kalian untuk selalu menantikan kami…… Pada dasarnya ia hanya ikut masuk sebagai bawahab Bishop Hanam. Sebagai pendamping Bishop Hanam, akan ada juga jadwal pertemuan dengan Hinata setelah ini. Claude dan yang lainnya pun diantarkan menuju ke penginapan mereka oleh ksatria. Cain mengikuti Bishop Hanam sambil menantikan pertemuannya dengan Hinata karena sudah sangat lama mereka tidak bertemu. Dengan dipandu oleh deacon yang ada di kuil utama, Cain dan Bishop Hanam di antarkan ke sebuah ruangan khusus. Meskipun ruangan itu sangat sederhana, namun cukup besar. Diruangan itu terdiri dari satu ruangan rapat, satu kamar besar, dan satu kamar kecil.  Kamar yang besar digunakan untuk tempat tidur Bishop yang datang ke Kuil Utama, sedangkan kamar yang kecil digunakan untuk bawahannya. Bisho Hanam sempat menawarkan Cain untuk tidur di kamar yang besar, namun ia menolak dengan sopan dan memilih kamar yang kecil. “Masih ada dua jam lagi ya… Benar-benar sudah lama sekali tidak bertemu… semoga dia baik-baik saja ya…” Sambil membayangkan hal itu ia kembali ke ruang tamu. Pada awalnya ia ingin bersantai dengan Bishop Hanam, namun ternyata jumlah pengunjung Bishop tidak kunjung berhenti. Karena Cain berperan sebagai bawahan Bishop, dalam pertemuan ini dia selalu sibuk membuatkan teh untuk setiap tamu yang datang. Terimakasih kepada para donatur!!! Meskipun Bishop Hanam merasa tidak enak dan sangat menyersal karena membuat dirinya terus-terusan menyajikan teh, namun Cain tetap tersenyum dan melanjutkan tugasnya. Dari sudut pandang Bishop Hanam, ia telah membuat seoran bangsawan senior Kerajaan Esfort, dan juga…

Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 7 Chapter 15
Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 7 Chapter 15

Selamat Membaca…. “Kalau begitu mari kita berangkat….!!” Setelah ksatria kuil memberikan aba-aba kereta pun mulai berangkat. Para ksatria ini juga sudah diberitahu bahwa kemungkinan akan ada penyerangan hari ini. Rombongan ini pun bergerak perlahan meninggalkan perkemahan tanpa adanya Cain. “Apakah Cain baik-baik saja?” Milly menggumamkan hal itu, namun Claude pun hanya tersenyum mendengarnya. “Jangan terlalu khawatir, Milly… Apa kau bisa membayangkan Cain akan kalah?? dari pada melawan Cain masih lebih mudah melawan Dragon tahu….” “Memang sih… Aku suda mengenalnya dari kecil… dia itu…” Dia mengengang masa-masa ketika ia menjadi pengajar Cain ketika Cain masih kecil. Memang sejak kecil Cain adalah anak yang sudah diluar nalar. Meskipun ada saat-saat tertentu dia terlihat seperti anak kecil lainnya, dan ketika dipuji wajahnya yang imut itu memerah. Dan kini belum sampai sepuluh tahun berlalu, bukan hanya menjadi seorang bangsawan, dia sudah naik hingga menjadi seorang Margrave yang merupakan bangasawan kelas atas. tempat tinggalnya pun nampak lebih hebat dari pada Istana kerajaan. Saat ini Cain masih berusia 14 tahun. Tak ada yang dapat meduga prestasi dari seorang anak yang bahkan belum menjadi dewasa ini. Saat Cain menjadi walikota ia memulai berbagai reformasi dan membuat kehidupan warga kota Drintle menjadi semakin makmur, dan mengurangi kejahatan. Bahkan Cain memposisikan diri sebagai pengikut Marineford  ada diantara mereka juga yang menganggap Cain bagaikan dewa. Sambil mengenang hal in, kereta pun terus berjalan mnyusuri jalan besar. Kereta ini terus melaju tanpa masalah sampai ke lokasi istirahat makan siang, namun tiba-tiba ksatria yang memimpin perjalanan mendadak menghentikan kudanya. Claude yang merasa penasaran atas kejadian ini pun maju ke depan dan melihat seorang bocah lelaki yang melambaikan tangan. “Cain ya…” Claude bergumam. Cain melambaikan tangan kearah Claude sambit tersenyum. ◇◇◇◇ Terimakasih atas kesetiaan kalian yang selalu me-refresh web kami… Kita putar sebentar waktunya. Setelah menyelesaikan makan malamnya, Cain meninggalkan perkemahan dan memandangi jalan menuju ke Ibbukota dari atas langit. Ketika ia terbang menyusuri jalan sambil mengaktifkan Skill Search nya, dia menemukan dua buah kereta kuda terparkir di area hutan yang agak jauh dari jalan besar. Cain pun mendekatinya dari langit karena menduga itu mungkin kereta milik para penyerang. “Kereta itu kalau tidak salah….” Itu terlihat seperti kereta yang digunakan oleh Priest Oliver yang pernah berbicara dengan Cain sewaktu di area perkemahan. Meskipun dihari pertama mereka berkemah di tempat yang sama, namun dihari berikutnya mereka tidak bertemu. Meskipun ini semua hanyalah spekulasi, namun sepertinya dugaan Cain itu benar. Seorang pria yang sepertinya adalah…

Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 7 Chapter 14
Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 7 Chapter 14

Selamat Membaca…. Setelah meminta petualang lain pergi, yang tersisa di meja itu hanyalah Caian, Claude, Rina, Milly dan Nina. Para petualang itu tidak ada yang protes karena pada dasarnya mereka tahu bahwa Claude adala petualang peringkat A yang terkenal di kerajaan Esfort, dan mereka juga telah mengetahui bahwa Cain yang terlihat masih muda ini ternyata peringkat S. “Jadi, bagaimana caa mu menyelidikinya??” “Sebenarnya———  “ Ia pun mengungkap semuanya, tentang gerak-gerik mencurigakan Priest Oliver ketika berbicara dengan Bishop Hanam, dan cara dia mengikuti nya sampai ketenda. Selama penjelasan ini berlangsung, secara bertahap ekspresi mereka pun berubah. “Si kampret itu…. Apa kita tidak bisa langsung menghabisinya saja??? Tapi emang ada regu pembunuh ya, di gereja??” “Kita masih belum punya bukti saat ini… dan malah mungkin kita yang akan dianggap membahayakan pihak gereja…. Bishop Hanam juga hanya mendengar rumornya saja….” Cain beranggapan bahwa mungkin hanya petinggi di Mariineford sekelas Pope dan Cardinal yang mengetahui tentang adanya regu pembunuh. Mungkin lebih mudah dibayangkan jika anggap saja ksatria yang akan melindungi Kerajaan Marineford dari depan layar sedangkan regu pembunuh melakukan eksekusi dibalik layar. Terimakasih atas kesetiaan kalian untuk selalu menantikan kami…… Setelah mendengar penjelasan ini, meskipun Claude merasa kesal, dia tetap tidak bisa melakukan serangan lebih dulu. Memang sebenarnya mudah bagi Cain untuk menghabisi Priest Oliver tanpa meninggalkan bukti apapun, namun itu hanya akan menjadikan kasus ini tenggelam tanpa akhir. Jika sampai Caardinal yang membuat rencana ini berhasil menjadi Pope maka masa depan Kepercayaan Marineford ini akan suram. Terlebih dia tidak tahu apa yang akan terjadi pada Hinata yang berada sangat dekat dengan Pope ini nantinya. Cain merasa dia benar-benar menghabisinya sampai keakar-akarnya. “Yah… Kurasa tidak akan ada masalah ya apapun serangannya jika ada Cain…” “Ya, lagipula aku juga bisa mengggunakan Search dan selalu melakukan pengawasan… dan juga———” Cain pun mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya. “Ternyata ada cara begitu ya…. Kami jadi terlalu membebani mu Cain…” “Tidak kok… Dengan cara itu lebih efisien untuk menyelesaikan semuanya… Namun saat terjadi sesuatu saat aku tidak ada disini aku akan mengandalkan kalian untuk menanganinya….” “…Kami akan berusaha menghadapinya bersama sekuat tenaga…. “ “Benar, kami tidak bisa terus bergantung pada Cain kan…” Milly dan Nina juga menyetujuinya dan kemudian mereka mulai merencanakan tindakan yang akan mereka lakukan besok. Terimakasih kepada para donatur!!! Rencana ini berpusat pada Cain yang berangkat lebih dulu dan  melacak lokasi para tim pembunuh yang mungkin bersembunyi menggunakan skill Search miliknya dan kemudian membasmi mereka….

Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 7 Chapter 13
Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 7 Chapter 13

Selamat Membaca…. “…Jadi begitu ya…” Cain bergumam dibalik tenda Oliver sambil tetap menghilangkan hawa keberadaannya. Dia meninggalkan tenda perlahan agar tidak ditemukan lalu kembali ketempat Claude dan yang lainnya menunggu. “Kenapa, kok Lambat banget?” “Aku diminta untuk menemani Bishop tadi…” “Makanannya udah siap nih…Ayo…” Cain agak bingung kepada siapa ia harus membicarakan tentang yang ia dengar barusan. Sebenarnya dia berniat untuk kembali ke tempat Bishop Hanam untuk membicarakan ini, namun setelah mendengar bahwa mereka akan meminta pembunuh, ia khawatir kalau akan ada korban diantara para petualang jika mereka tidak tahu hal ini. Memang mereka bisa setidaknya melindungi diri sendiri, apalagi kali ini ada Claude yang tidak akan kalah jika itu pertempuran langsung. Namun kali ini ia tidak tahu mereka akan datang seperti apa. Jadi ia berpikir setidaknya mereka butuh persiapan. Namun ia akhirnya memutuskan untuk memberitahu hal ini pada mereka setelah menjelaskan nya terlebih dahulu kepada Bishop Hanam. Sambil mengikuti Claude Cain mengatur rencana dalam kepalanya. Terimakasih atas kesetiaan kalian untuk selalu menantikan kami…… Makanan telah disiapkan dan para petualang sudah duduk mengelilingi meja. Ketika Claude dan Cain sudah duduk di tempat yang kosong, Rina pun berdiri dan memberikan aba-aba bersulang. “Terimakasih atas kerjasama kita menghadapi penyerangan yang terjadi hari ini…. Kita bersyukur tidak ada siapapun diantara kita yang terluka…. Karena tempat ini dekat dengan tempat penyerangan tad, mungkin disini masih bahaya, jadi sakenya hanya satu gelas saja ya… Untuk pemaantauan akan dibagi dalam empat kelompok dan masing-masing terdiri dari dua orang…. Mari kita berjuang lagi esok hari!! Mari bersulang!” “Bersulang!!!” Semua orang mengangkat cangkir mereka dan menyentuhkannya, Claude memanfaatkan Magic Bag yang diberikan oleh Cain yang dapat menghentikan waktu untuk suatu barang itu, untuk membeli tong sake dan menyimpannya sementara di dalam tas itu. Rina juga memberi tahu bahwa mereka bisa menjual sake itu kepada party lain yang berada dalam satu quest. Cain teringat betapa semangatnya dia ketika mereka mengatakan sake mereka terjual dengan harga tinggi sampai-sampai mereka bisa dibilang minum sake gratis. Namun kali ini mereka adalah korban yang selamat dari penyerangan, mereka tidak bisa berbuat sebebas itu. Meskipun ada bantuan dari Cain, namun berurusan dengan ratusan perampok membuat mental mereka cukup kelelahan. Terimakasih kepada para donatur!! Setelah selesai makan, mereka merapikan kembali peralatan dan mulai melakukan pembicaraan rencana yang akan dilaksanakan kedepannya. Cain pun meninggalkan posisinya dan menuju ke tenda Bihsop Hanam. Setelah mendapatkan izin, dia pun memasuki tenda dan paara ksatria pun keluar setelah mereka membungkuk….

Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 7 Chapter 12
Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 7 Chapter 12

Selamat Membaca…. Ketika sedang memnyiapkan hidangan, salah seorang dari kelompok yang berkemah bersama mengunjungi Cain dan kawn-kawannya. Dia menggunakan jubah putih dan dapat dengan muddah ditebak bahwa orang ini adalah orang gerreja. Usianya sekitar 20an, dan pemuda itu tersenyum lalu berbicara kepada Cain dan kelompoknya. “Aku melihat lambang di kereta ada lambang kerajaan Esfort, apa benar ini keret Bishop Hanam?? Jika boleh aku ingin menyapa nya…” “Ya, Bishop Hanam sedang beristirahat di tendanya… apa perlu saya panggilkan? Jika boleh saya tahu nama anda? “ “Ah maaf… namaku Oliver, seorang Priest…” “Priest Oliver ya… mohon tunggu sebentar, aku akan menanyakannya oada Bishop-sama…” Diantara pra petualang hanya Cain yang melakukan interaksi dengan Bishop, jadi dia pun segera menuju tenda tempat Bishop Hanam beristirahat. Dia pun mengatakan keperluannya pada Ksatria yang bersiaga di luar tenda, dan setelah menunggu sebentar dia pun mendapatkan izin untuk masuk. Ketika ia memasuki tenda, terlihat sebuah meja yang yang diatur untuk melakukan sebuah pertemuan. Nampaknya mereka sedang ada ditengah rapat, dan Bishop Hanam berserta dua orang ksatria sedang memperhatikan peta. Lalu sang bishop pun berbicara. Terimakasih atas kesetiaan kalian untuk selalu menantikan kami……   “Cain-dono.. ada apa??” “Barusan ada Priest Oliver, dan katanya ingin bertemu Bishop untuk menyapa…” “Priest Oliver ya… Boleh kok…” Pada awalnya sang bishop nampak berpikir keras, namun pada akhirnya da tersenyum dan mengangguk. “Kalau begitu saya akan memberitahunya…” Cain pun meninggalkan tenda dan kembali masuk bersama dengan Priest Oliver. Dan Ksatria kuil pun keluar dari tenda. Bishop Hanam pun mempersilahkan duduk dan Priest Oliver pun dudul Ketika Cain ingin meninggalkan tenda, ia di hentikan oleh Bishop Hanam, dan akhiirnya dia duduk disebelahnya. Melihat keberadaaa Cain awalnya Priest  Oliver sedikit mengubah ekspresinya, namun ia segera mengembalikannya dan kemudian mulai menyapa. “Lama tidak berjumpa Bishop Hanam… Saya senang anda sehat-sehat saja….” “Lama tidak berjumpa Priest Oliver…  sepertinya anda seibuk sekali….” “…Kalau bisa aku ingin bicara berdua saja…. Apa bisa anda mengosongkan tempat ini??” Sekilas Priest Oliver melirik kearah Cain. Namun Bishop menggelengkan kepalanya. Terimakasih kepada para donatur!!! “Maaf aku tidak bisa melakukan itu… aku baru saja diserang kelompok bandit dalam jumlah besar dalam perjalaan kemari…. Meskipun kami berhasil melewatinya namun para pengawal memberikan nasihat agar aku tidak sendirian apapun yang terjadi…” “…?! Waduh…. Itu benar-benar…. Syukurlah anda selamat… Aku juga melewati jalan pegunungan hari ini… untung saja aku tidak bertemu dengan para perampok itu…. Apa mungkin mereka datang setelah aku lewat??? Hmm…” “Melewati jalan yang sama…