~

Anda sedang membaca Shoukan sareta Kenja wa Isekai wo Iku Volume 1 Chapter 22 di Kurozuku.

31 Jul 2020

Penerjemah : KuroMage

 

Selamat Membaca….

Aku mengunci pintu kamar dan turun menuju keruang makan, dan aku sudah melihat anggota misi pengawalan ini sudah berada disana.

“Touya, kau terlambat!”

Aku membungkuk kearah mereka, dan kemudian duduk ditempat yang kosong. Pemesanan sudah dilakukan dan tak lama bir segera dibagikan kepada setiap orang. Setelah memastikan semua orang sudah mendapat bagian, Lumina pun memberikan aba-aba untuk bersulang.

“Kita telah sampai dengan selamat di kota Dumbler, dan besok adalah waktu bebas kita, mari kita minum untuk merayakannya. Bersulang!!!!”

“Bersulang!!!!”

Setiap orang bersorak dan bersulang.

Namun… Hangat…. Sepertinya didunia ini minuman beralkohol dengan suhu ruang ini sangat notmal. Namun aku yang selalu menikmati bir dingin dimasa lalu sama sekali tidak puas dengan ini.

Diam-diam dibawah meja aku menggunakan sihir untuk mendinginkan cangkirku dan kemudian meminumnya. Bagaimanapun, bir itu lebih enak kalau dingin. Hanya memikirkan itu saja sudah membuatku tersenyum. Mungkin karena melihatku terlalu bahagia sendirian, Lumina pun berbicara padaku.

“Touya, apa yang kamu diam-diam begitu??”

Setelah mendengar itu semua mata terpusat padaku. Kurasa dia menyadari tingkahku ketika menyembunyikan cangkir dibalik meja tadi.

“Tidak… tidak apa-apa kok…?”

Meliaht sikapku, Lumina langsung merebut gelas milikku.

“Kamu…. Cangkir ini… loh apa nih???”

Lumina terlihat terkejut memegang cangkir dinginku dan mencoba meminumnya. Ia makin terkejut ketika bir itu mengalir di tenggorokannya. Kemudian ia langsung menyodorkan cangkir miliknya kehadapanku.

“–Iya……”

Aku pun menghela nafas dan mendinginkan cangkir miliknya. Ketika meminumnya, aku bisa melihat Lumina tampak sangat puas.

“Sebenarnya apa yang kamu lakukan??”

Tentu saja yang lainnya akan semakin penasaran. Masing-masing cangkir mereka dibariskan dihadapanku dan aku pun pasrah dan mendinginkan semua cangkir itu.

“Apa ini?! Mantap…!!!?”

“Ternyata kalau dingin enak ya….”

Sambil memakan cemilan yang disediakan, kami pun menikmati bir dingin ini. Bir yang dingin dan enak ini akan lebih cepat habis. Dan tak terasa, dua jam kemudian semua orang sudah tidak kuat, dan Miruka malah sampai mabuk.

“Touya! Ikut aku setiap hari!! Dan dinginkan bir untuk ku!!!”

Lumina mengatakan itu dengan semangat, namun aku hanya bisa tersenyum pahit mendengarnya karena itu mustahil. Setelah beberapa saat kami pun bubar, dan kembali ke kamar masing-masing dengan terhuyung-huyung.

Mungkin karena sudah lama aku tidak menikmati waktu minum ku, sesampainya di kamar, aku yang mabuk ini langsung kehilangan kesadaranku.

Sinar mentari merangsek masuk dari jendela dan membangunkan ku. Mungkin karena kemarin aku terlalu banyak minum, aku masih merasakan mabuk. AKu pun menggunakan Cure pada tubuhku untuk menghilangkan gejala ini. Aku pun bangun dan membersihkan tubuhku menggunakan sihir.

Di dunia ini ada sihir sehari-hari yang dapat digunakan untuk membersihkan tubuh. Siapapun yang memiliki kekuatan sihir dapat menggunakannya. Karena itu pemandian hanya menjadi barang populer dikalangan pedagang dan bangsawan. Bagi yang tidak bisa menggunakan sihir, ada staff yang bisa menggunakanya untuk mu, meskipun bayarannya cukup mahal.

“Sihir ini memang simpel… tapi masih lebih baik mandi kan…. aku jadi ingin pulang lebih cepat….”

Sambil memikirkan hal itu aku pun menyelesaikan sarapanku. Karena hari ini adalah hari bebas, aku berencana untuk keluar. Dan ternyata, selama aku makan, tak ada satupun anggota yang turun ke tempat makan.

…… Wajar jika mereka minum sebanyak itu……

Sambil mengingat itu, aku opun tersenyum pahit. Setelah aku menyampaikan pada staff penginapan bahwa aku akan keluar, aku pun meninggalkan penginapan.

Kota Dumbler ini lebih kecil daripada kota Fendy dan hanya memiliki populasi sekitar 3.000 penduduk. Tidak ada produk lokal yang mencolok, tempat ini adalah tempat pertukaran barang-barang dari Fendy dan kota di wilayah selatan.

Sambil memandangi produk-produk yang berjejer di jalanan, aku terus berjalan. Aku menemukan sebuah lambang yang sama dengan yang ada di kota Fendy. Lambang dua pedang bersilang dan sebuah perisai milik guild petualang.

Aku penasaran quest seperti apa yang ada disini, namun aku tidak ingin berlebihan sampai menerima quest disini. Aku pun masuk kedalam guild.

Meskipun penampilannya berbeda, namun pada dasarnya susunan dasar guild di setiap kota sama. Karena ini masih pagi hari, banyak petualang yang ingin mengambil quest. Aku dengan santai melihat-lihat quest yang dipajang di papan quest.

Sepertinya karena berdekatan dengan hutan, quest yang terpajang kebanyakan adalah quest pencarian material ataupun pengawalan. Banyak petualang muda dengan peringkat rendah yang sedang memandangi papan quest untuk mencari quest yang cocok untuk mereka.

Ketika aku sedang asik memandangi mereka, tiba-tiba ada orang yang menepuk pundak ku dari belakang. Ketika aku berbalik, ternyata seorang anak kecil. Bagaimanapun aku melihatnya, sepertinya masih berusia sekitar 10 tahun. Dan terlihat setengah menangis.

Penampilanya cukup tidak layak untuk mendapatkan pujian. Menggunakan pakaian yang jelek, dan wajah yang kotor.

“Ada apa? Kenapa kamu ada disini? Ini guild petualang loh?”

Ketika aku berjongkok dan bertanya kepadanya, dia mengeluarkan tiga keping koin tembaga dari saku nya.

“Kakak… kakak ini Priest kan??? Kakak ku sedang sakit…. Aku ingin kakak menyembuhkan kakakku dengan uang ini…. Aku sudah minta kepada semua orang, namun tidak ada yang bisa….”

Aku pun membelai bocah yang meminta kepadaku sambil bercucuran air mata.

“Boleh kok…. Aku terima quest nya…. Antar aku ya….”

“Eh…?! Benarkah?”

Aku pun bediri dan mengangguk. Lalu bocah itu pun tersenyum lebar sambil menyeka air matanya. Ketika aku ingin langsung mengikuti panduan anak itu, tiba-tiba ada yang mengenggam bahuku dari belakang.

“Oi oi… jangan ladenin bocah dari daerah kumuh….Kamu… aku tidak pernah melihatmu ya??”

Ketika aku berbalik, aku melihat ada tiga petualang yang nampak berprilaku buruk berdiri dihadapanku sambil menyeringai.

Terima kasih telah mampir….

Comments

3 responses to “Shoukan sareta Kenja wa Isekai wo Iku Volume 1 Chapter 22”

  1. Ryu says:

    Up up lagi min

  2. psp06 says:

    Up min.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *