Shoukan Sareta Kenja web novel indonesia

Shoukan sareta Kenja wa Isekai wo Iku Volume 2 Chapter 25

Judul Chapter:
Lawan yang Nostalgia

 

Selamat Membaca….

“Serang!! Tangkap yang wanita! Bunuh saja yang pria!!”

Para prajurit dan petualang segera mencabut pedang mereka setelah mendengar perintah dari ketua guild. Beberapa diantara mereka adalah wajah-wajah yang pernah aku lihat di aula guild.

Mungkin saja ada juga orang yang aku kenal. Kalau bisa sih tidak ada yang muncul.

“…Kalian bertiga… Kalau bisa aku tidak ingin membunuh petualang…. tapi aku tidak peduli soal tentara generate kingdom.. kalian bisa berbuat sesuka kalian pada mereka….”

Mereka bertiga mengangguk dan mulai bersiap-siap.

Aku tetap memanggul pedang besarku. Charl mulai mengarahkan tongkatnya dan bersiap merapal sihir. Dan di depannya Al memegang pedangnya dan bersiap. Sedangkan Natalie memegang tongkatnya dan sudah siap menembakkan sihir miliknya.

Ketika aku mengangkat tangan kiriku, muncul sekitar 20 bola api seukuran kepala muncul diatasnya.  Bola api itu berwarna kebiruan dan berkobar dengan suhu yang cukup tinggi. Ini adalah hasil percobaan kimiaku saat sedang sendirian.

Para prajurit itu terkejut melihat warna yang belum pernah mereka lihat dan tanpa sadar mereka melangkah mundur. Secara umum, ukuran bola api biasanya adalah seukuran kepalan tangan, namun ini bukanlah hal mustahil untukku yang seorang Sage.

Para petualang itu juga mulai panik ketika melihat ukuran bola api itu.

“Jika kalian memang ingin bertarung, kalian mengerti kan…. Aku akan menghadapi kalian dengan serius…”

Aku menyebarkan aura membunuhku ke segala arah.

“Ugh… Mereka hanya berempat!! Serang!!!”

Meskipun ketua guild itu ketakutan dengan aura membunuhku, dengan instruksi darinya itu para prajurit mulai mengangkat pedang dan perisai mereka.

Meskipun aku merasa sedikit kecewa dengan ini, aku tetap menembakkan bola api ke arah para prajurit.

Bola api yang berputar-putar melesat seperti peluru menuju perisai milik para prajurit dan langsung menghancurkan segalanya dan membakar mereka.

Perisai yang bertubrukan dengan sihirku langsung hancur dan armor mereka langsung terbakar tanpa mampu menahan kekuatan dari sihirku.

“” Gyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa !! “”

Hanya dengan satu sihir saja, sudah belasan tentara yang terbaring ditanah. Kemudian setelah api itu padam, tersebarlah aroma gosong di sekitar tempat ini.

Para prajurit yang selamat dari serangan ini pun serentak menelan ludah mereka dan mungkin membayangkan berikutnya adalah giliran mereka.

Lalu Charl dan Natalie melapalkan mantera bersamaan.

“Wahai roh angin, berikan kekuatan padaku dan tebaslah musuh dihadapanku! Air Cutter!!”

“Wahai Api! Mengamuklah sesukamu! Hancurkan semua yang menghalangi! Fire Wave!!”

Beberapa bilah angin muncul dan memotong para prajurit. Kemudian tembok api setinggi tiga meter muncul dan menyapu para prajurit layaknya tsunami.

Dan saat sihir mereka menghilang, hanya tinggal kurang dari setengah pasukan yang masih berdiri. Sebagian besar tentara sudah bergelimpangan di tanah karena memang target utamanya adalah prajurit Generate Kingdom.

Pada dasarnya Natalie memanglah sosok dengan level tertinggi di Lunnett Empire sedangkan Carl menjadi berlevel tinggi setelah melakukan pelatihan bersamaku. Jadi tidak mungkin mereka berdua akan kalah dari tentara seperti mereka.

Setelah melihat kekuatan yang jauh di luar bayangan mereka ini, membuat orang-orang yang tersisa mundur perlahan. Pastinya mereka terkejut dengan kekuatan sihir itu.

“Ja-jangan jangan kau adalah penyihir kebencian!? Sosok yang muncul saat peperangan dengan negeri kami dan menimbulkan banyak korban……”

Salah seorang dari Generate Kingdom berteriak. Aku pun langsung melirik Natalie dan bertanya.

“Natalie, apa kamu pernah dipanggil penyihir?? Sepertinya pria disana menyebutmu begitu….”

“Hmm…. Sepertinya memang dulu aku pernah disebut begitu… saat aku menjadi asyik menembakan sihir kesana kemari di medan perang…”

Kata-kata itu membuatku tersenyum pahit. Kemudian aku kembali menghadap kedepan.

“Apa kalian masih mau mengejar kami?? Kalau memang iya, selanjutnya aku akan mulai sedikit serius….”

Bersamaan dengan itu aku melayangkan bola api disekitarku. Namun kali ini jumlahnya adalah lima puluh. Ketika menyaksikan itu tanpa sengaja Natalie mengatakan ‘oohh hebat sekali…’.

Dan kemudian, diantara para petualang yang bersiaga di barisan belakang, maju salah seorang diantara mereka. Dia adalah sosok prajurit yang menunjukkan sensualitasnya, dan menggunakan armor yang hanya menutupi bagian ‘penting’-nya saja.

“…..Lumina …”

Tanpa sengaja suaraku keluar menyebut namanya.

“Apa…Kamu kenal dia? Touya… apa kau ini… suka tipe yang ‘Berayun’ seperti itu???”

Aku refleks menepis kata-kata Natalie.

“Aku pernah melakukan quest pengawalan bersamanya dulu…”

Lumina mendekatiku sendirian.

“Touya, lama tidak berjumpa…. Aku ikut serta karena katanya petualang peringkat tinggi harus ikut serta… tapi tidak kusangka lawannya adalah kamu…”

“Lumina, memang lama sekali ya…. Apa kamu juga akan menangkap kami? Kalau begitu maka terpaksa kita harus bertarung….”

“Kalau bisa… Aku tidak ingin bertarung… Tapi setelah melihat para petualang yang ada dibelakangku… tidak mungkin kan aku diam saja kan…. Dengan melihat pertarungan barusan saja aku sudah bisa mengerti… Bahwa kami tidak akan bisa menang….”

“Kalau begitu……”

“Meskipun begitu… harus ada yang bertarung…”

Di akhir kalimatnya Lumina langsung memegang pedangnya dan mengarahkan ujung pedangnya padaku.

“Baiklah… aku akan menjadi lawanmu…”

Aku menancapkan pedang yang aku panggul ketanah, dan mengambil pedang besar lain dari dalam Storage.

Sebuah pedang yang sangat indah dan berkilauan terang sehingga sangat jelas terlihat berbeda kelas dengan pedang yang aku pakai sebelumnya. Sebuah pedang besar yang dulu aku gunakan sampai level 300 dan sekarang aku simpan di akun gudangku ini. Pedang ini terbuat dari Adamantite dan dapat dengan mudah merobek naga sekalipun.

Aku mengayunkan pedang ini dengan satu tangan, lalu kemudian mengarahkan ujungnya kepada Lumina.

“Aku tidak menyangka akan berhadapan dengan pedang belum pernah aku lihat yang bahkan mungkin sekelas harta nasional….”

“Yahh aku punya berbagai macam rahasia… tentunya aku tidak bisa mengatakannya padamu…”

Sekilas Lumina sempat sedikit tersenyum, namun dia segera mengendalikan ekspresinya. Waktu terus berlalu dengan saling mengarahkan ujung pedang kami tanpa bergerak sedikitpun.

Disaat-saat tegang seperti ini, tiba-tiba salah seorang dari Generate Kingdom berteriak.

“Mau sampai kapan kalian bermain-main!!”

Seketika ada sebuah bola api seukuran kepalan tangan yang melesat kearahku. Namun aku langsung menebasnya dengan ayunan ringan pedangku.

Dan menggunakan peristiwa ini sebagai timing nya….

Lumina mengayunkan pedangnya dan dalam sekejap melesat mendekatiku. Namun meskipun itu adalah Lumina, kecepatannya hanyalah sebatas seorang petualang yang kuat saja.

Dalam sekejap aku mengayunkan pedangku kesamping dan menghadapi pedang Lumina. Dan langsung membelah pedangnya itu. Ujung pedang yang terpotong terpental di udara dan menancap di tanah yang agak jauh dari kami.

“Maaf ya… aku merusaknya….”

“Apa boleh buat…. Ini juga merupakan takdir… Masakanmu waktu itu… benar-benar enak sekali…..”

Setelah mendengarkan kata-kata Lumina aku pun mengangguk dan kemudian aku membalik pedangku dan mengayunkannya. Jika aku langsung menebasnya begitu saja pasti dengan mudah bagian atas dan bagian bawah tubuhnya akan terpisah. Namun karena aku menggunakan bagian belakang pedangku, Lumina hanya terlempar sekitar 10 meter jauhnya dan seketika kehilangan kesadarannya.

Lalu aku memegang kembali pedang yang tadi aku tancapan di tanah, dan menatap pasukan yang tersisa.

“Siapa selanjutnya …”

Setelah mendengar kata-kataku, tidak satupun dari mereka yang bergerak.

 

Terima kasih telah mampir….

 

Sebarkan karya kami

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

4 thoughts on “Shoukan sareta Kenja wa Isekai wo Iku Volume 2 Chapter 25”

Leave a Comment