Vol.03 - Ch.11 ~

Anda sedang membaca Shoukan sareta Kenja wa Isekai wo Iku Volume 3 Chapter 11 di Kurozuku.

20 Aug 2021

Penerjemah : KuroMage

Selamat Membaca...

Meskipun waktu persiapannya cukup panjang, namun tidak ada hal khusus yang perlu aku siapkan. Sedangkan Alice sepertinya sibuk sekali bolak-balik ke guild pedagang setiap hari.

Meskipun aku juga beberapa kali berkunjung ke Guild petualang, namun aku hanya di ajak masuk ke ruangan khusus dan mengobrol dengan Grucia saja.  Mungkin ini adalah cara terbaik untuk lebih memahami situasi ibukota saat ini.

Namun, semakin banyak aku mendapatkan informasi, aku semakin tidak menyukai kebijakan yang diterapkan oleh Kerajaan Generate. Tanpa sadar membuatku ingin membantu, namun karena Alice tidak mengatakan apa-apa, maka aku tidak berhak untuk berkomentar.

Aku bahkan tidak pernah bertemu dengan para demi-human yang tinggal di lantai atas penginapan. Pernah satu kali aku bertanya kepada Alice untuk mempertemukan aku dengan mereka, namun karena Alice menunjukkan ekspresi kebingungan dan mulai berdalih, aku pun tidak pernah menanyakannya lagi.

Setelah selesai makan malam, aku pun tidur sebentar, lalu mengganti pakaianku dengan pakaian serba hitam seperti yang dikenakan Alice. Pakaian sama seperti yang kami gunakan sewaktu pertama kali tiba di Ibukota.

“Touya, apa kau sudah siap??”

Tanpa mengatakan apa pun aku mengangguk. Kami keluar dari penginapan melalui pintu belakang, dan langsung menyelinap menyusuri jalan kota.

Meskipun ini sudah tengah malam, masih banyak prajurit yang berpatroli. Mungkin mereka masih dalam keadaan waspada, dan kami pun terus berjalan sambil menghindari kelompok orang-orang itu.

Setibanya kami di sebuah rumah yang kami tuju, Alice pun mengetuk pintu dengan ritme tertentu. Sepertinya itu memang kode rahasia, namun  ia tidak pernah mengatakan apa-apa tentang itu.

Terdengar suara kunci dibuka, dan tak lama kemudian pintu pun terbuka. Terlihatlah sosok pria yang memandu kami waktu pertama kali kami datang ke tempat ini.

“Terima kasih… Ayo cepat masuk…”

Aku pun memasuki rumah mengikuti Alice, dan langsung dipandu menuju ke ruang yang tersembunyi di bawah tanah. Sudah ada beberapa orang duduk mengitari meja, lalu aku dan Alice pun ikut duduk bersebelahan.

“Kalau begitu, mari kita perjelas rencana yang akan kita jalankan hari ini… Sesuai rencana, kalian berdua akan masuk menyelinap ke dalam istana, dan menyelamatkan keluarga kaisar.. Jika tidak memungkinkan setidaknya pastikan informasi terkait bagaimana keadaan mereka…”

Meskipun kita tahu bahwa mereka semua ditahan di penjara bawah tanah, kita masih tidak mengetahui bagaimana keadaan mereka dan dapat dipastikan bahwa penjagaannya akan sangat ketat.

Tidak akan mudah untuk dapat menerobos penjagaan itu dan menyelamatkan mereka semua. Seharusnya dengan sihir pemulihanku ini tidak akan masalah meskipun ada yang terluka, namun akan sulit untuk melarikan diri sambil melindungi para keluarga kaisar yang tidak bisa bertarung.

“Rencananya akan ada beberapa gerakan di pusat kota nanti… Aku tidak bisa mengatakan siapa kolaborator kita ini, tapi setidaknya ada cukup banyak orang di sana…. Ya meskipun aku berharap bisa mengerahkan tentara ke sana…”

“Serahkan saja soal area istana padaku… Begini-begini aku sudah sangat paham denah istana loh!!”

Alice mengatakan itu dengan bangga. Aku masih saja penasaran mengapa Alice yang seorang pedagang itu bisa begitu percaya diri dengan denah bagian dalam Istana.

“Kalau begitu, mari kita mulai pergerakan…”

Setelah semua penjelasan selesai, semua orang keluar dari ruangan dan memulai misi masing-masing.  Aku dan Alice menyusuri lorong menuju ke Istana.

Aku menerangi lorong bawah tanah yang gelap gulita ini dengan sihir cahaya, dan mengikuti Alice dari belakang.

“Hei, Alice… Kenapa kamu bisa sangat percaya diri soal tata letak Di dalam istana??”

Saat aku menanyakan itu, ekspresi Alice berubah menjadi tegang.

“Hmm… Aku dulu pernah tinggal bersama dengan kerabatku yang bekerja dan tinggal di dalam Istana… Karena itu aku jadi akrab dengan tata letak di sana… Ya itu sudah cerita lama sekali… Jadi mungkin saja sudah banyak berubah….”

Setelah mengatakan itu, Alice kembali berjalan. Sepanjang perjalanan, ada banyak sekali percabangan jalan namun Alice terus berjalan tanpa kebingungan sama sekali.

“Sepertinya banyak persimpangan ya…. Apa benar jalannya lewat sini….”

“Aku ini pemandu jalan… Jadi setidaknya aku harus ingat jalannya kan?? Lagi pula keluarga Kaisar juga harus mengingat jalan ini, kalau tidak nanti bisa——nanti mereka tidak akan bisa keluar dengan selamat dari lorong ini kan?”

Mungkin ia mengatakan bahwa kalau sampai salah jalan pasti akan terjadi sesuatu. Mungkin sebuah jebakan.

Setelah kami terus berjalan sejauh 30 menit, kami sampai ke sebuah jalan buntu.

“Jalan buntu ya… Apa tadi salah jalan??”

Alice hanya menanggapi pertanyaanku dengan senyuman.

“Kita sudah sampai… Tunggu sebentar.”

Alice meraba-raba dinding di hadapan kami seolah ia sedang mencari sesuatu, dan setelah menemukannya ia mendorong bagian dinding itu.

“Kalau kita tekan tombol rahasia ini, orang dari luar bisa masuk… padahal kalau dari dalam bisa dengan mudah keluar…”

Setelah Alice menekan tombolnya, dinding itu mulai berputar seperti sebuah pintu.

“Di depan ini sudah termasuk ruang bawah tanah Istana jadi jangan berisik ya…”

“Oke…”

Kami berdua pun memasuki pintu itu, sepertinya ini adalah ruang penyimpanan makanan. Banyak tong-tong sake ditumpuk disalah satu sudut ruangan, serta beberapa kantong besar bahan makanan.

“Agar tidak ketahuan, Aku akan membalikkan pintunya dulu… Nanti kita akan kembali melalui jalan ini, jadi jangan lupa rutenya ya…Oh iya mulai dari sini kita akan menyembunyikan wajah kita ya…”

Aku pun melilitkan kain hitam yang diberikan padaku sesaat sebelum operasi penyelamatan ini dimulai. Setelah memastikan penutup wajah masing-masing kami pun saling mengangguk. Alice pun menempelkan telinganya ke pintu menuju.

 

“Aku periksa dulu… Jadi jangan keluar duluan ya…”

Aku pun mengangguk. Ketika Alice ingin membuka pintu, aku menghentikannya.

“Tunggu sebentar”

“Ada apa Touya? Cepat.. Waktu kita terbatas…”

Aku pun mengeluarkan kalung yang bercahaya di leherku, dan sesaat kemudian Feris pun muncul.

“Feris apa kamu bisa tahu di mana keluarga kaisar di kurung??”

“—Tidak bisa mengenali identitas…. tapi… dapat dipastikan berada di penjara…”

“Tidak masalah… Coba kamu periksa ada berapa prajurit yang menjaganya…”

“…Baik… Permisi…”

Feris pun segera menghilang setelah mengatakan itu. Namun rupanya Alice menunjukkan wajah dengan mulut menganga seolah ia tidak mempercayai penglihatannya.

“Alice, kita tunggu dulu sebentar di sini… Feris akan mencari tahu untuk kita…”

“Tunggu dulu!!! Kenapa kau bisa memerintah roh rumah!?? Aku baru dengar ada yang seperti ini!!”

Meskipun sudah banyak yang tahu bahwa ia bisa berbicara, namun karena aku sering kali meminta tolong padanya, aku jadi lupa bahwa Feris itu istimewa.

Sejak aku datang ke dunia ini dan bertemu dengan Feris, aku yang tidak terlalu mengerti tentang roh rumah ini sering kali mengajaknya berbicara. Dan akhirnya aku dapat mengetahui kemampuan yang ia miliki. Secara sederhananya, ia memiliki kemampuan [Building Control]. Sebuah kemampuan yang dapat mendeteksi semua hal yang ada di dalam sebuah bangunan.

Secara umum diketahui bahwa roh rumah selalu bersih. Roh rumah selalu membersihkannya, menyediakan air serta pengelolaan limbah yang baik. Namun ternyata bukan itu saja.

Ia memahami semua hal yang ada di dalam bangunan itu. Entah itu benda ataupun manusia. Bahkan sebutir debu pun diperhatikan oleh sosok roh rumah ini. Berapa pun jumlah orang yang ada di bangunan itu, tidak sulit bagi roh rumah untuk mengurus semuanya.

Meskipun ada berbagai kondisi untuk memenuhinya, namun aku terkejut saat pertama kali mengetahui hal ini. Aku yakin tidak ada yang bisa mengetahui satu isi bangunan serinci itu.

Karena tidak diketahui lagi ada yang dapat melakukan percakapan seperti itu, aku rasa ini adalah sebuah keistimewaan untukku.

“Hmm… Entah sejak kapan aku jadi bisa melakukannya…. Aku juga tidak tahu alasannya…”

Sejujurnya aku juga masih belum tahu jelas alasan mengapa Feris bisa berbicara. Mungkin ada berbagai sebab, apa mungkin karena aku adalah orang dari dunia lain, dan aku tidak mendapatkan jawaban apapun ketika menanyakan hal ini pada Feris.

“…Apa semudah itu…. Tidak ada catatan seperti itu sebelumnya loh!!? Kenapa kau bisa sesantai itu!!”

“Alice suaramu terlalu kencang…. Nanti kita ketahuan loh!?”

Ia pun seketika menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.

“Aku akan memberitahu rinciannya nanti…. Sekarang prioritas utama kita adalah menyelamatkan Kaisar kan??”

“Benar juga…. Terserahlah..”

Setelah kami saling menyetujui, tiba-tiba Feris muncul.

“…Ada orang di dalam penjara…. Hanya ada tiga orang di dalam…. di luar ada banyak….”

Sesuai dugaan, penjagaannya cukup ketat.

“Baiklah… Bisa kamu pandu kami agar tidak ketemu orang??”

“…Tidak mungkin.. tidak bertemu orang….”

Feris menjawab begitu setelah sejenak berpikir. Sepertinya memang kami tidak dapat menghindari pertempuran.

Ya meskipun kami dari awal sudah bersiap jika harus bertarung dengan prajurit Kerajaan Generate. Karena memang begini misinya.. dan juga bagian dari balas dendamku.

“Fufufu Soal itu serahkan saja padaku…”

Sambil tersenyum Alice mengatakan itu dan mengeluarkan beberapa jarum berukuran sekitar 20cm dari sakunya.

“Benda ini dilumuri dengan obat pelumpuh yang bereaksi dengan cepat…. Jadi kita bisa langsung…”

Aku pun mengingat bahwa aku bisa menggunakan semacam sihir hipnotis, jadi aku mengangguk.

“Oke, kalau begitu mari kita mulai…. Feris tolong tunjukkan jalannya…”

Feris pun mengangguk perlahan.

“…Jangan-jangan…. Aku yang harusnya memandu jalan di Istana ini tidak dibutuhkan??”

Ah.. Kalau tidak ada Feris mungkin keberadaannya sangat dibutuhkan, namun Feris adalah roh rumah yang dapat mengetahui semua isi bangunan dalam sekejap. Sejujurnya keberadaan Alice saat ini itu…

“Yahh… Kalau Alice bisa bertarung sepertinya akan lebih baik kalau kamu ada disini…. Karena selalu ada batasan yang bisa aku lakukan sendirian…. Ayo cepat, kita tidak punya banyak waktu…”

Alice sedikit lega setelah mendengar kata-kataku, Ia pun membuka pintu dengan perlahan, lalu mengintip ke arah koridor.

“…Untuk sesaat.. tidak ada orang…. Aku antar…”

Felis menembus pintu begitu saja, dan berjalan di koridor dengan santainya. Kami pun memutuskan untuk mengikuti Feris sambil tetap mewaspadai keadaan sekitar.

Bimbingan Feris sangat akurat, dan kami hanya dua kali bertemu dengan prajurit. Namun semua prajurit itu berhasil dilumpuhkan dengan jarum yang dibawa Alice, lalu aku membuat mereka tidak sadarkan diri dengan sihirku.

Alice mengatakan dengan suara lirih bahwa kita akan segera tiba di lokasi penjara bawah tanah, namun sebelumnya Feris telah mendeteksi bahwa ada satu ruangan yang dijaga oleh banyak sekali prajurit.

Beberapa menit setelah kami menyusui lorong, Feris pun berhenti di tikungan tepat sebelum penjara bawah tanah.

“Dibalik pintu itu… Penjara…”

Aku pun mengintip dari sudut tikungan, ada sebuah pintu di ujung sana dan dua orang prajurit yang sedang duduk di kedua sisi pintu. Mereka berdua menyandarkan tombak mereka ke dinding. Mereka asyik mengobrol dan bersantai, mungkin menurut mereka sia-sia menjaga pintu dari musuh yang tidak akan pernah datang.

“Terima kasih Feris… Sepertinya ini akan jadi sebuah pertempuran… jadi kembalilah…”

Setelah Feris mengangguk, dia pun menghilang seperti tersedot ke dalam kalung yang ada di leherku.

“Aku tidak menyangka kau memiliki batu roh yang sangat langka itu… Benar-benar tidak normal… Kalau begini…”

Alice sepertinya sedang mengoceh sesuatu sendirian, namun aku tidak bisa mendengar bagian akhir perkataannya.

“Jadi mau kita apa kan kedua orang itu??”

“Bagaimana ya… Melihat dari pakaiannya.. sepertinya senjataku tidak akan berpengaruh…”

Kedua prajurit yang sedang duduk itu mengenakan armor full-plate. Senjata Alice mungkin berfungsi selama ini karena prajurit yang berpatroli yang kami temui hanya menggunakan armor ringan. Namun jika mereka menggunakan full-plate, maka senjata itu tidak akan ada gunanya jika tidak terkena muka.

Apalagi jika kami membuat suara yang terlalu keras, kemungkinan prajurit dari dalam akan keluar.

“Kita coba dengan sihir….”

“Kalau kamu menggunakan sihir di sini bukannya akan membuat prajurit yang di dalam keluar??”

“Sudah lihat saja…”

Jaraknya kami dari mereka sekitar sepuluh meter, masih dalam jangkauan sihir. Aku mengulurkan salah satu telapak tanganku dari sudut tikungan, dan merapalkan sihir [Sleep].

“…Loh kok gua tiba-tiba ngantuk ya……”

“Sama… Aneh banget…”

Dalam posisi tetap terduduk di kursi masing-masing, perlahan-lahan kedua prajurit itu menundukkan kepala mereka.

“….Hei… mereka itu tertidur kan?? Apa yang barusan kau lakukan??”

“Hm?? Sihir penidur kok??”

Sihir-sihir yang ada di buku sihir yang diberikan Natalie langsung bisa aku gunakan saat aku mencoba menggunakannya. Aku juga menggunakan sihir-sihir itu untuk menaikkan level Charl dan yang lainnya.

“!? Sihir penidur… Kau mengatakan itu dengan santai…. tapi sihir seperti itu tidak pernah ada di dunia ini tahu!!”

Hm?? Sihir penidur tidak ada?? Mana mungkin… Itu jelas-jelas tertulis di buku Natalie kok…

Loh? Jangan-jangan itu bukan di buku Natalie tapi di buku harian yang ditulis Hero terdahulu??

Ah masalah itu tidak penting saat ini kan.

“Sudah jangan pikirkan hal itu…  Sekarang masih ada yang lebih penting kan?? Apa benar dibalik pintu itu ada penjara bawah tanah??”

“Mmm…kok aku seperti sedang dibohongi… Benar… Di dalam sana ada penjara bawah tanah dan ruang jaga prajurit… Tapi ada satu masalah…”

Alice tampak sedang memikirkan sesuatu sambil mengikat tangan kedua prajurit yang tengah tertidur.

“Masalah apa?? Bukannya aku tinggal membuat semua prajurit di dalam tertidur dengan sihir yang sama??”

“Justru itulah masalahnya… Untuk mencegah tahanan untuk kabur, dinding di dalam sana dilapisi dengan batu penyegel sihir yang membuat orang di dalam sama sekali tidak dapat menggunakan sihir… Dan kita harus bertarung melawan lawan yang bahkan kita tidak tahu berapa jumlahnya…”

Sebenarnya aku tidak merasa akan terkalahkan baik dalam pertarungan sihir ataupun pertarungan fisik. Karena akuj berpikir tidak akan ada orang yang dapat mengalahkanku dari segi level.

“Kita tidak punya banyak waktu… Ayo kita masuk…”

Aku mengabaikan Alice yang sedang kebingungan dan membuka pintu. Di dalam sana kami melihat para prajurit yang menjaga sedang menikmati permainan kartu sambil minum alkohol. Memang mungkin prajurit normal tidak akan membayangkan akan ada serangan di penjara bawah tanah karena penjagaan di sekitar istana sangat ketat.

Sesaat setelah pintu terbuka pandangan kami dan para prajurit yang sama sekali tidak waspada itu pun bertemu. Mereka pun terdiam dengan mulut menganga.

Aku dan Alice mengenakan pakaian serba hitam dan wajah yang tertutup. Sudah jelas-jelas kami terlihat mencurigakan.

“Se-se-serangan!! Ada serangan!!”

Pada saat yang sama dengan teriakan salah seorang prajurit, ia ditubruk oleh prajurit lain yang ada di dekatnya. Alice terus-terusan melemparkan jarum pelumpuh miliknya, dan aku menidurkan para prajurit yang lainnya.

Dan akhirnya pertarungan melawan puluhan prajurit ini pun berakhir dalam waktu kurang dari satu menit.

“…Lebih cepat dari yang aku bayangkan..”

Meskipun diawasi dengan ketat, setelah satu bulan tidak terjadi apa-apa, mungkin wajar jika para prajurit menjadi lebih santai. Berkat itu pekerjaan kami jadi lebih mudah.

“Daripada memikirkan itu, cepat selamatkan Kaisar…”

Kata-kata Alice mengembalikan kesadaranku dan kami pun menghampiri penjara.  Terdapat sebuah penjara besar di ujung lorong, dan di dalamnya ada Kaisar, Permaisuri, dan satu orang lagi yang sepertinya adalah Putera Mahkota. Mereka semua diikat dengan rantai yang terhubung ke dinding dan tidak sadarkan diri.

Terimakasih telah berkunjung

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *