Vol.03 - Ch.12 ~

Anda sedang membaca Shoukan sareta Kenja wa Isekai wo Iku Volume 3 Chapter 12 di Kurozuku.

23 Aug 2021

Penerjemah : KuroMage

Selamat Membaca...

Sepertinya mereka bertiga telah dianiaya, wajah sang kaisar sudah membiru seolah banyak darah yang membeku. Kakinya dipatahkan untuk mencegah mereka melarikan diri. Aku pun sampai mengerutkan kening ketika melihat pemandangan ini.

“Aku akan segera memulihkannya…”

Setelah mengatakan itu, aku melapalkan sihir pemulihan, namun tak ada perubahan sama-sekali.

“Ah iya… Kita tidak bisa menggunakan sihir di sini…”

Aku pun mengeluarkan tiga potion kelas tinggi, dan meminta bantuan Alice untuk meminumkan potion itu kepada mereka bertiga. Karena potion ini selain diminum juga bisa untuk di oleskan, jadi bagian yang tidak terminum kami balurkan di kaki mereka yang patah.

“…Hm… Ap-apa yang…”

Aku merangkul Kaisar yang telah kembali sadar dan menyandarkannya ke dinding.

“Sudah sadar?? Kami datang untuk menyelamatkan Anda…”

Perlahan Kaisar membuka matanya dan menatapku. Namun sesaat kemudian ia menggelengkan kepalanya.

“Saat ini wargaku menjadi sandera… Jadi kami tidak akan… lebih tepatnya tidak dapat melarikan diri…. Tapi.. aku ucapkan terima kasih karena telah menyembuhkan kami…”

Kaisar itu menundukkan kepalanya di hadapanku setelah ia melihat botol-botol potion yang telah kosong. Karena aku merasa akan sulit untuk meyakinkan sang Kaisar yang telah membulatkan tekadnya, jadi aku melirik ke arah Alice. Ia pun segera menghampiri kami dan berlutut, lalu melepaskan tudungnya.

“…Lama tidak berjumpa… Saya adalah Alice….”

Kaisar tampak sedikit terkejut saat ia melihat sosok Alice, dan kemudian tersenyum.

“Lama sekali ya…. Sepertinya kau sehat…. Tapi aku benar-benar minta maaf karena kalian telah bersusah payah menyelamatkan kami…. Kami harus melindungi para warga kami… Jadi…”

“Tidak.. Aku pastikan untuk membawa kalian pergi… Karena itu misi dari Charl…”

Sang Kaisar pun terkejut mendengar perkataanku.

“Kau mengenal Charl?? Berarti dia berhasil sampai di Kerajaan Sarandir dengan selamat ya…”

“Yah, agak sedikit berbahaya… tapi mereka baik-baik saja… Aku juga sudah mempertemukan mereka dengan Natalie…”

“Begitu ya… Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih… tapi tetap saja…”

“Touya.. keluarkan benda itu…”

Benda? Benda apa… Oh iya..

Kaisar tidak akan pernah mau bergerak karena warganya menjadi sandera. Namun ada sebuah belati yang membuat, keluarga kaisar pun akan mengikuti perintah pemiliknya. Sebuah belati yang digunakan untuk membenarkan kebijakan Kaisar yang mungkin saja salah. Dan saat ini, belati itu ada di dalam Storage milikku.

Aku pun mengambil belati yang aku terima dari Gauros itu di hadapan sang Kaisar.

“I-itu…”

“Benar… Saya mendapatkannya dari Gauros… ”

Kaisar pun memejamkan matanya, dan menghela nafas panjang.

“… Mari ikuti perintah orang itu… Apa yang harus kami lakukan??”

“Pertama-tama kita harus melarikan diri dari tempat ini..”

“Tapi… ada ini…”

Kaisar menatap rantai yang mengikat kakinya. Kita tidak akan bisa melarikan diri jika tidak melepaskan rantai yang terhubung ke dinding itu.

“Apa ada di antara mereka yang memegang kuncinya??”

Mungkin saja prajurit yang telah kami kalahkan ini memegang kuncinya.

“Tidak… Kuncinya dipegang oleh Pangeran yang menguasai Istana ini….”

Mungkin bukan hal mustahil untuk menyusup ke kamar pangeran dan mencuri kunci itu. Namun aku tidak bisa menjamin Kaisar dan keluarganya akan baik-baik saja sampai aku kembali.

“Kita hancurkan saja… Untuk saat ini saya akan memotong rantainya saja agar mudah untuk melarikan diri…”

Aku pun mengeluarkan Buster Sword milikku dari dalam Storage, dan memotong rantai. Mau seberapa kerasnya rantai itu, dengan statusku yang luar biasa ini, aku dapat menghancurkannya dengan satu kali tebasan.

Setelah itu, aku pun menghancurkan rantai pengikat permaisuri dan Putera Mahkota dengan cara yang sama.

“Sekarang kita bisa melarikan diri…. Mungkin Anda merasa sedikit tidak nyaman, mohon bersabar, kami akan membuka belenggunya ketika sampai di Persembunyian nanti…”

“Maaf… Terima kasih….”

Kami pun membawa Kaisar dan keluarganya yang telah pulih berkat potion kelas tinggi. Belenggunya memang belum terlepas, namun kami tidak bisa berlama-lama di tempat ini. Jadi aku akan melepaskannya nanti setelah sampai di tempat persembunyian.

Sepertinya belum ada yang menyadari keberadaan kami. Dan kami dapat sampai ke gudang bawah tanah tanpa bertemu siapa pun.

“Sepertinya kita sudah aman setelah sampai di sini…”

Alice mengatakan itu sambil membuka pintu ke lorong bawah tanah. Meskipun sang Kaisar mengetahui keberadaan lorong ini, dia sedikit terkejut ketika melihatnya. Mungkin ini pertama kalinya dia menggunakan jalan ini.

Alice memimpin kami, dan aku mengawasi belakang. Meskipun tidak mungkin prajurit Kerajaan Generate yang tahu akan keberadaan lorong ini akan datang kemari.

Karena sudah aman, ekspresi permaisuri dan putera mahkota sedikit lebih santai. Berkat panduan Alice, kami dapat melewati beberapa percabangan jalan dengan lancar dan tiba di ruangan tempat kami mengadakan pertemuan sebelumnya.

Ada beberapa orang di ruangan itu, dan mereka pun langsung meneteskan air mata dan membungkuk ketika melihat sosok sang Kaisar.

“Semuanya… terima kasih… Berkat kalian semua ini bisa terjadi… Tapi tempat ini masih dikuasai oleh Kerajaan Generate.. Maaf ya aku tidak becus menjadi Kaisar…”

“Tidak! Justru kami minta maaf karena kami ini yang tidak berkompeten!”

Kaisar pun tersenyum setelah melihat pria itu membungkuk lebih rendah dari sang Kaisar. Karena masalahnya tidak akan selesai kalau tetap begini, aku pun berbicara kepada sang Kaisar.

“Pertama-tama aku akan melepaskan rantai itu dulu ya… Mohon tunggu sebentar…”

Aku pun meraba belenggu yang terpasang di pergelangan kaki sang kaisar, dan melapalkan sihir pembuka segel. Sesaat kemudian terdengar suara klik dan belenggu itu pun terlepas begitu saja.

“Touya…, sihir itu…”

“Hm? Itu sihir pembuka segel biasa kok…”

“Dengar ya… Ah sudahlah…”

Alice sepertinya terkejut. Bahkan Kaisar pun ikut menunjukkan wajah terkejutnya. Jangan-jangan sihir ini juga bukan sihir biasa??

Sihir yang lebih tinggi dari tingkat lanjut hanya ada pada dokumen yang di teliti oleh Natalie dan catatan perjalanan Hero terdahulu. Apalagi hanya aku yang dapat membaca catatan yang ditinggalkan oleh Hero itu.

Aku pun berdiri dan melontarkan sihir pemulihan ke arah bekas belenggu. Setelah selesai, Kaisar memintaku dan Alice duduk di kursi. Sedangkan orang-orang yang menjaga tempat ini sepertinya sungkan untuk duduk, jadi mereka berdiri di belakang kami.

Kaisar menatap lurus ke arahku. Namun ekspresinya lebih lembut dibandingkan ketika ia masih berada di penjara.

“Pertama-tama, aku mengucapkan banyak terima kasih…. dapatkah kau menceritakan kabar Charl yang aku perintahkan ke Kerajaan Sarandir…”

“…Baik… Aku akan mulai dari cerita pertemuanku dengan Char— Tuan Puteri Charlotte..”

Aku pun menjelaskan kisah pertemuanku dengan Charl dan Al, serta pertempuran melawan Prajurit Kerajaan Generate. Tentang aku yang sudah mengenal Natalie. Tentang perlawanan kami terhadap guild yang mendapatkan tekanan dari Kerajaan Generate, dan kami melarikan diri ke Lian melalui hutan. Dan tentang melatih mereka dui sepanjang kota Lian. Serta kisah tentang menghalau serangan Pasukan Kerajaan Generate ke kota Lian. Sampai kisah tentang diriku yang mendapatkan misi penyelamatan dari Gauros.

Tentunya aku tidak bisa menjelaskan sudah seberapa besar peningkatan level mereka berdua, lebih tepatnya bertiga. Kalau aku menjelaskan hal itu, nanti aku tidak akan bisa bergerak bebas.

Setelah menyelesaikan semua ceritaku, Kaisar pun menghela nafas panjang. Berkebalikan dengan itu, Putera Mahkota menyimak ceritaku dengan mata berbinar.

“…Benar-benar heroik…”

Itulah yang dilontarkan si Putera Mahkota itu kepadaku.

“…Tindakanmu ini pantas jika disebut pahlawan… Aku pastikan akan membalas semua prestasi itu…”

Sang Kaisar mengangguk menyetujui komentar nakanya. Namun sejujurnya aku ingin menjalani kehidupan yang santai dan damai. Meskipun aku punya sedikit, tidak, mungkin banyak perasaan untuk balas dendam kepada Kerajaan Generate.

“Ini hanyalah sebatas misi yang aku terima dari Gauros.. Terkait hadiahnya, itu sudah dibahas…”

Aku ingin bersantai bersama Feris. Seharusnya aku bisa mendapatkan beberapa uang dengan pekerjaanku sebagai petualang. Bahkan saat ini aku memiliki uang yang membuatku bisa hidup santai selama beberapa tahun.

Mulai dari sini, perebutan kembali Ibukota Kekaisaran Lunette akan menjadi agenda utama. Karena misiku hanyalah sebatas menyelamatkan Keluarga Kaisar, maka ini tugas dan kewajibanku berakhir di sini.

“Berdasarkan pembicaraan kita sampai saat ini, apa boleh aku simpulkan bahwa misi Touya-dono hanyalah sebatas menyelamatkan kami, benar?”

Aku pun mengangguk. Semoga saja dia menerimanya.

“… Kalau begitu, sebagai seorang Kaisar, aku akan mengajukan Quest khusus kepada Touya-dono…”

“……eh!?”

“………”

Semua orang yang ada di ruangan ini pun terdiam setelah mendengar pernyataan mengejutkan dari sang Kaisar. Bahkan termasuk diriku. Mana mungkin penguasa negara itu sampai mengeluarkan Quest khusus.

“Apa peringkat Touya-dono di guild petualang??”

“Etto.. Beberapa hari lalu saya menjadi peringkat A…”

“Padahal masih muda…. Benar-benar sangat berbakat.. tidak ada yang bisa mencapai peringkat itu di usia yang semuda ini.. Maka tidak akan ada masalah kan…”

Aku pernah diberitahu oleh Ebrand di Guild Kerajaan Sarandir. Bahwa akan ada quest khusus untuk petualang peringkat B ke atas. Dan jika misi itu dari Keluarga Kerajaan, kalau di negeri ini maka Keluarga kaisar, maka quest itu menjadi sebuah misi wajib. Namun aku juga mendengar bahwa sebagai ganti bahwa misi itu wajib di ambil, maka hadiahnya juga sangat besar.

“…Apa ini artinya quest paksaan dari Keluarga kekaisaran??”

Ketika aku mengatakan itu dengan ekspresi wajah gelap, sang kaisar pun sedikit terlihat sedih.

“…Aku memiliki banyak hutang pada Touya-dono karena telah menyelamatkan kami… Aku akan sangat bersyukur jika Touya-dono dapat menerima misi ini tanpa merasa bahwa ini paksaan…”

Hadiah yang aku terima dari misi sebelumnya adalah sebidang tanah dan rumah di kota Lian. Bahkan jika aku menerima tanahnya saja, aku masih bisa menggunakan rumah yang ada di dalam Storage-ku. Namun meskipun aku berhasil menyelamatkan Kaisar dan keluarganya, bukan tidak mungkin bahwa Ibukota ini akan menjadi lautan api nantinya. Apakah aku masih bisa hidup tenang dengan menyaksikan pemandangan seperti itu dari kejauhan??

Pastinya Charl, Al, dan juga Natalie akan berdiri di gadis depan menghadapi pasukan Kerajaan Generate. Jika itu terjadi, maka mereka pasti akan berhadapan dengan Hero itu. Jika terjadi sesuatu pada mereka bertiga seperti apa yang terjadi pada Ayah Al, apa aku masih bisa beraktivitas sebagai seorang petualang?

“Touya…”

Saat aku sedang melamun memikirkan hal ini, Alice menatapku dengan wajah khawatir dan menarik lengan bajuku. Seketika aku pun tersadar, dan mengangguk, lalu menatap sang Kaisar.

“—Aku akan dengar dulu isi questnya…. Aku akan memutuskannya setelah itu… aku mohon maaf, tapi aku menolak melakukan hal yang tidak masuk akal….”

Kaisar pun gembira setelah mendengar jawabanku.

“Terima kasih, Touya-dono…”

“Ini quest-nya adalah…. Merebut kembali Ibukota… dan mengembalikannya menjadi tempat yang damai untuk ditinggali oleh ras manusia dan demi-human…”

“Baiklah… Lalu hadiahnya??”

Aku adalah seorang petualang. Jadi aku tidak bisa menerima quest tanpa imbalan. Quest sukarela akan membuat petualang lain kerepotan. Hal ini merupakan pelajaran yang aku dapatkan dari Ebrand. Dia benar-benar telah merawatku….

“Hadiahnya adalah… Gelar Earl… dan satu kota sebagai wilayah kekuasaanmu… tidak, mungkin dua kota juga tidak masalah…. Dan juga… aku akan menikahimu dengan Charlotte… Lagipula kalian saling kenal kan….”

“Semuanya itu… aku tidak butuh…”

Aku langsung menolak semua hadiah dari Kaisar yang kebingungan ingin memberikan apa lagi. Semua itu benar-benar berlawanan dengan apa yang aku inginkan. Aku sama sekali tidak ingin menjadi bangsawan, dan juga mengurus kota, apalagi dua kota sekaligus. Kalau aku menerima Charl, Al dan Natalie juga pasti akan ikut. Aku tidak dapat membayangkan bisa hidup tenang dengan semua itu.

Semua orang di ruangan ini pun kecewa dengan penolakan langsung dariku.

“………”

Meskipun agak tegang, namun Kaisar tidak menyerah.

“Masih kurang ya?? Kalau begitu.. apa ada hal yang kau inginkan? Aku akan berusaha mengabulkannya sebisa mungkin..”

Sebenarnya aku tidak memiliki keinginan khusus. Aku akan mendapatkan rumah di kota Lian, dan aku benar-benar tidak butuh kota.

Ah sepertinya bagus jika aku punya tempat tinggal saat berkunjung ke Ibukota ini. Lagipula aku rasa aku tidak bisa kembali ke Kerajaan Sarandir di masa depan, jadi ada baiknya aku tetap tinggal di Kekaisaran Lunette ini.

“Tolong beri aku satu mansion di Ibukota ini… Kalau bisa yang ada kandang kudanya… Selain itu, karena kemungkinan aku tidak sering menempatinya, perkenalkan aku dengan beberapa orang pelayan…”

“…Apa itu saja cukup??”

Mungkin permintaanku ini sangat berbeda dengan apa yang mereka bayangkan. Sang Kaisar sampai terkejut mendengarnya. Alice juga sepertinya tercengang ketika mendengar ini.

“Aku tidak masalah menerima yang biasa-biasa saja… karena semuanya akan diurus oleh Roh rumah…”

“Begitu ya… Baiklah… Dengan nama Kaisar, aku berjanji untuk memenuhi permintaan Touya-dono…”

Kaisar pun berdiri dengan senyuman di wajahnya lalu mengulurkan tangan kanannya. Kami pun berjabat tangan. Alice dan orang-orang yang berdiri di belakang masih belum pulih dari keterkejutan mereka.

Memangnya kenapa mereka sampai sekaget itu sih??

Daripada memikirkan hal itu, kita perlu untuk segera melarikan Kaisar dan keluarganya dari ibukota untuk menyelesaikan quest ini.

“Setelah ini apa? Kita perlu untuk membawa Yang Mulia dan keluarganya keluar dari sini kan?”

Seolah waktu kembali berjalan setelah mendengar pertanyaanku, para pria di belakang itu memulai persiapan mereka.

“Kami sudah mengatur langkah selanjutnya… Ada satu kelompok yang akan membuat kerusuhan di sudut kota, dan ada kelompok lain yang akan menyerang gerbang agar terbuka…. Saat ini beberapa prajurit dari kota Lian sudah bersiaga untuk menjemput di jarak beberapa hari dari sini…  jadi kita akan bergabung dengan mereka di sana… ”

Jika sudah sedekat itu, maka tidak aneh jika sudah terlihat oleh pasukan yang ada di Ibukota ini. Hanya masalah waktu sebelum mereka mengetahui Kaisar yang melarikan diri.

“Saat ini mungkin sudah saatnya para prajurit yang tadi tertidur itu sadar…. Jadi kita harus melakukannya dengan cepat..”

“Kita bisa keluar melalui lorong bawah tanah yang ada di rumah dekat sini, lorong itu mengarah ke dekat gerbang kota… Pertama-tama saya akan mengantar Anda semua ke sana…”

Pria-pria itu pun keluar lebih dahulu untuk memastikan kondisi, dan memandu kami menuju ke sebuah rumah. Aku dan Alice dalam posisi mengapit ketiga keluarga Kaisar.

Tak ada prajurit yang berpatroli, karena mungkin letaknya agak jauh dari pusat kota. Pintu segera terbuka setelah Alice mengetuk pintu dengan irama tertentu.

Muncul satu orang pria, dan mengatakan [silakan masuk], dan kami semua pun masuk ke dalam rumah. Bagian dalam rumah tidak berbeda dengan rumah biasa pada umumnya. Ada ruang tamu tepat setelah memasuki pintu, dan sepertinya ada satu kamar di belakang. Mungkin satu-satunya perbedaan yang ada hanyalah adanya lima orang pria bersiaga di ruang tamu ini.

Setelah Kaisar dan keluarganya duduk di sofa yang kosong, semua pria itu pun berlutut dan membungkuk. Sedangkan aku dan Alice duduk berdampingan di sofa yang ada di hadapan Kaisar atas permintaannya. Kemudian seorang pria berdiri, dan membentangkan sebuah peta di atas meja.

“Dari sini, kita akan melalui lorong bawah tanah menuju ke dekat gerbang… Setelah itu, ktia akan menunggu waktu, sampai serangan dimulai, dan setelah itu melarikan diri dari Ibukota menggunakan kereta kuda yang sudah kami siapkan…”

“Baiklah… Aku serahkan semua rencananya padamu…”

“Kalau begitu, mari kita segera bergerak…”

“Sebelum itu… tolong tunggu sebentar…”

Aku menghentikan mereka. Alasannya adalah karena batu sihir Feris yang tergantung di leherku bersinar.

“Aku ingin ke toilet sebentar…”

“Kalau begitu, silakan ke ruangan yang di ujung…”

Salah seorang pria memanduku ke kamar mandi. Dan ketika aku mengeluarkan kalung batu roh, Feris pun muncul.

“…Rumah ini… Bau darah menyengat…. Dan juga… Banyak orang tidak bernafas…”

Dari dalam kamar mandi, sepasang mata yang tembus dinding menatapku.

Bau darah?? Orang tidak bernafas?? Jangan-jangan itu mayat?? Itu berarti…

Aku memutar otakku dengan kecepatan penuh untuk memprediksikan kemungkinan situasi terburuk. Aku memikirkan semua kemungkinan yang akan terjadi.

Terimakasih telah berkunjung

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *