Vol.03 - Ch.07 ~ Menyusup

Anda sedang membaca Shoukan sareta Kenja wa Isekai wo Iku Volume 3 Chapter 7 di Kurozuku.

11 Aug 2021

Penerjemah : KuroMage

Selamat Membaca...

Orang-orang desa yang tidak sibuk pun berkumpul untuk membedah Forest Boar yang aku berikan. Katanya, jika tidak ada hal ajaib seperti ini, sangat jarang bagi orang-orang desa ini menyantap daging sebesar ini meskipun memang mereka memiliki beberapa persediaan daging asap.

Padahal kalau cuma ini kan ada banyak dimana-mana ya..

Di Storage-ku saja sudah ada puluhan kan? Bagiku, aku sama sekali tidak merasakan beratnya karena semua Forest Boar itu dikategorikan dalam satu menu sampai mencapai [x99] layaknya dalam game. Aku jadi ingat saat aku memberi tahu tentang ini kepada Natalie sewaktu masih di kota Lian, gadis itu melompat ke arahku dengan mata terbelalak.

Tanpa membuang-buang waktu, para warga desa itu membedah daging yang aku bagikan, sementara sebagian yang lainnya mempersiapkan bahan-bahan lain untuk makan malam. Entah mereka semua warga di desa ini jadi berkumpul untuk menyambut kedatanganku.

Aku sempat menolak sambutan ini karena tidak  ingin terlalu menarik perhatian, namun mereka mengatakan tidak enak jika tidak melakukan apa-apa setelah diberikan daging sebanyak itu.

Kepala desa membagikan sake, sedangkan para penduduk memanggang daging lalu makan bersama. Sepertinya memang benar hampir semua pemuda pergi ke medan perang. Laki-laki yang ada di desa ini hanyalah orang tua dan anak-anak.

Ketika aku sedang sibuk memperhatikan para penduduk desa ini, sambil menyantap makanan yang di sajikan, tiba-tiba kepala desa duduk di sampingku.

“Silakan diminum…  Sudah lama sekali aku tidak menikmati minuman seperti ini… Bagaimana? Jika ada gadis yang kau suka…..”

Sepertinya kepala desa ingin aku untuk tinggal di desa ini karena para pemuda desa ini sudah tidak ada lagi. Aku pun menggelengkan kepalaku sambil mengambil gelas. Memang benar banyak gadis-gadis muda di desa ini, namun saat ini aku sedang dalam misi dan bukan waktunya untuk bersantai.

“Aku masih punya pekerjaan sebagai petualang…. Lagi pula aku berencana untuk meninggalkan desa ini besok pagi…”

“…Begitu ya… Sayang sekali….”

Kepala desa itu terlihat agak kecewa, ia meletakkan gelasnya sambil menghela nafas panjang.

Prioritas utama saat ini adalah mencari informasi tentang ibukota Kekaisaran. Selain itu aku juga punya tugas penting untuk memastikan keselamatan kedua orang tua Charl.

Aku pun menyelesaikan santapan, dan meminta izin kembali ke kamar yang disediakan oleh kepala desa sebelum aku mabuk. Keesokan paginya, setelah selesai sarapan aku pun berpamitan kepada kepala desa untuk segera meninggalkan desa ini.

Jika aku terus berjalan ke arah utara aku akan sampai di salah satu kota yang dekat dengan Ibukota kekaisaran. Lalu aku membutuhkan waktu dua hari lagi dari sana agar bisa sampai ke Ibukota.

Setelah memastikan posisiku di peta Kekaisaran Lunette, aku pun mulai menyusuri jalan dengan sedikit berlari. Memang akan lebih cepat jika aku menggunakan Kokuyou, namun Natalie memberikan peringatan keras kepadaku. Karena aku telah menebas para prajurit Kerajaan Generate yang ada di Kerajaan Sarandir, serta menumpas para penyerang kota Lian, ada kemungkinan akan ada yang mengetahui identitasku. Lagi pula aku juga berpikir untuk menjadikan Kokuyou sebagai kartu andalanku saat melarikan diri.

Semakin mendekati Ibukota kekaisaran aku semakin banyak melihat bekas-bekas peperangan baik di ladang maupun di jalan. Ternyata ini ya dampak perang… Aku pun terus berjalan hingga mencapai percabangan jalan yang menyatu menuju ke kota.

Karena mungkin saja ada yang sedang mengawasiku, jadi aku berjalan santai sambil memainkan belatiku yang tergantung di pinggang. Sepanjang perjalanan, aku sempat bertemu dengan beberapa gerbong pedagang. Sepertinya mereka mempekerjakan lebih banyak petualang, dan para petualang itu selalu mewaspadaiku ketika mereka lewat.

Kota bernama Torres yang berada di dekat Ibukota yang saat ini aku tuju sudah berada di bawah kekuasaan Kerajaan Generate. Bahkan dalam keadaan seperti ini, para pedagang itu tidak bisa diam saja dan tidak berbuat apa-apa.

Aku pun terus berjalan sambil memandangi kereta-kereta kuda yang melintas. Dan aku pun sampai di kota Torres setengah hari kemudian.

Karena sudah di bawah kendali Kerajaan Generate, terlihat bendera Kerajaan Generate berkibar di atas gerbang kota. Aku pun segera ikut dalam barisan untuk mengikuti pemeriksaan sebelum memasuki kota. Barisan terdiri dari beberapa kelompok. Aku pun menyiapkan kartu guild ku dan beberapa koin perak jika nanti diperlukan.

“Berikutnya!”

Giliranku pun tiba dan aku memperlihatkan kartu guid milikku kepada penjaga gerbang. Kartu itu adalah berwarna perak dan berkilauan yang merupakan kartu peringkat B yang diakui sebagai peringkat tinggi di semua wilayah.

“…Dari Kerajaan Sarandir ya… Untuk apa petualang peringkat B ke kota ini…?”

Penjaga gerbang itu agak curiga.

“Ya kurasa akan ada banyak pekerjaan untukku di wilayah yang sudah menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Generate ini… Seperti yang Anda lihat, aku ini kan priest pengguna sihir pemulihan….”

Kurasa kecurigaan mereka akan sedikit mengendur jika aku mengatakan aku datang ke kota ini sebagai penyembuh. Bahkan di guild petualang saja normalnya seorang Priest hanya di anggap sebagai tenaga pendukung yang selalu ada di barisan belakang. Tak ada seorang pun priest yang membawa pedang dan berdiri di garis depan sepertiku.

“Benar juga… Ya lagi pula tidak masalah kalau kau dari Kerajaan Sarandir… Kau boleh masuk…”

Aku pun menerima kartu guild-ku kembali dan menyusuri gerbang sambil melambaikan tangan.

Aku berhasil masuk ke kota tanpa masalah apa pun. Aku pun menghela nafas lega.

Pertama-tama aku harus mencari penginapan. Sebaiknya aku harus berkunjung ke guild petualang meski hanya sekali…. Jika saja ada quest ke ibukota, mungkin aku akan bisa masuk kesana dengan mudah.

Karena Sang Hero langsung datang dan menaklukkan kota ini, tidak terlihat terlalu banyak kerusakan di sini. Saat di Lian, aku diberitahu bahwa mayoritas penduduk Torres adalah ras manusia, dan hampir tidak ada ras beastmen. Meskipun tidak ramai, masih kota ini masih terlihat hidup, dan para pendagang menawarkan dagangannya.

Sambil berjalan aku membeli dua tusuk daging di salah satu lapak, dan menanyakan lokasi guild serta penginapan yang layak. Lokasi penginapannya cukup dekat, ketika aku masuk ke dalam, seorang wanita paruh baya menyambutku di meja resepsionis.

“Selamat datang… Apa Anda ingin menginap? Jika Anda ingin makan malam, maka masih belum siap…”

“Aku ingin menginap… Mungkin semalam saja dulu…”

“Jika termasuk sarapan dan makan malam, maka harganya satu koin perak… Mohon maaf, kami menaikkan harganya karena saat ini kondisi sedang seperti ini…”

“Tidak apa-apa… Itu tidak masalah…”

Bukan hal aneh jika negara yang kalah perang mendapatkan tekanan seperti itu. Lagi pula dalam kondisi seperti ini pasti jumlah tamu juga terbatas.

Aku pun mengeluarkan satu koin perak dan meletakkannya di atas meja.

“Terima kasih…. Kamarnya ada di lantai dua paling ujung…”

Aku pun menerima kunci lalu menaiki tangga yang ada di belakang. Di lantai dua ada sekitar empat kamar, dan kamarku merupakan ruangan paling ujung. Aku pun memasukkan kunci dan membuka pintu. Terlihatlah ruangan yang cukup besar untuk seorang diri. Ukurannya sekitar 8 tatami. Dan tempat tidurnya double-size. Ada juga lemari, meja serta kursi. Ini merupakan ruangan yang layak untuk harga satu koin perak.

Tidak masalah, berkat quest yang aku terima selama di Kerajaan Sarandir, kantongku cukup terisi.

Setelah memastikan kondisi kamar, aku pun pamit kepada resepsionis untuk menuju ke guild, dan kemudian meninggalkan penginapan. Kuharap aku mendapatkan informasi tentang ibukota.

Terimakasih telah berkunjung

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *