Vol.03 - Ch.09 ~

Anda sedang membaca Shoukan sareta Kenja wa Isekai wo Iku Volume 3 Chapter 9 di Kurozuku.

15 Aug 2021

Penerjemah : KuroMage

Selamat Membaca...

Ekspresi Alice yang sangat berbeda dari sebelumnya ini membuatku terkejut sampai-sampai menelan ludah. Namun Alice hanya tersenyum dan terlihat rileks.

“Yah, duduk dulu… Aku akan menjelaskan semuanya… ”

Aku pun mengangguk dan melepaskan senjataku dan menyimpannya di Storage lalu duduk di tempat tidur.

“Ngomong-ngomong, suami-istri yang mengelola penginapan ini adalah kolaborator kita.. jadi tidak perlu khawatir kok…”

Setelah mendengar perkataan Alice, aku mencoba memeriksa keadaan sekitar penginapan menggunakan sihir deteksi. Dan aku dapat merasakan keberadaan beberapa orang di lantai atas.

Entah mungkin karena lokasinya di Ibukota atau apa, penginapan ini terdiri dari tiga lantai, yang mana lantai pertama dijadikan sebagai ruang makan dan kamar mandi sederhana, sedangkan lantai dua dan seterusnya dipergunakan untuk menginap.

Namun ini aneh. Ada empat kamar di setiap lantainya, namun aku merasakan keberadaan puluhan orang di lantai tiga. Jumlah ini terlalu banyak untuk sebuah kamar penginapan.

Maka ada satu kesimpulan yang aku dapatkan.

“――Alice, Apa kau menyembunyikan orang di lantai atas?”

Ketika mendengar pertanyaanku, untuk sesaat senyuman Alice menghilang dari wajahnya, namun sesaat kemudian ia kembali tersenyum seperti biasa.

“…Sepertinya benar Touya ya…. Setelah Ibukota ini di kuasai oleh Kerajaan Generate, kami perlu menyembunyikan pa—”

“Para ras demi-human kan? Ras Beastmen dan Elf tidak mendapatkan perlakuan diskriminasi di Kekaisaran Lunette, namun hal itu tidak berlaku bagi Kerajaan Generate yang hanya memuliakan Ras Manusia….”

“Itu benar…. Kami menyembunyikan para ras demi-human yang tidak dapat melarikan diri di beberapa tempat… Tentu saja kami tidak mampu menyelamatkan semuanya… Sebagian telah tertangkap dan dijadikan budak…”

Alice menjelaskan situasi saat ini dengan ekspresi marah sambil menggenggam erat tinjunya. Informasi sebanyak ini tidak mungkin diketahui oleh seorang pedagang biasa. Aku bisa langsung menebak siapa sebenarnya identitas Alice ini.

“Apa Alice itu mata-mata atau semacamnya…?”

“fufufu… Tebakanmu bagus juga… Aku memang salah satu dari mata-mata yang disebar… Tapi, aku tidak masalah kok kalau jadi istri Touya beneran…”

“Lupakanlah dulu candaannya… Kita lanjutkan pembicaraannya…”

Alice pun merengut ketika mendengar perkataanku, namun ia segera melanjutkan penjelasannya.

Pembicaraan itu berlanjut sampai tiba waktu makan malam. Aku pun makan dengan Alice di ruang makan. Namun sepertinya tak ada tanda-tanda orang di lantai tiga akan turun. Meskipun sedikit, tempat makan ini masih memiliki pengunjung. Kami berdua pun menyantap makan malam sambil mengobrol hal yang tidak penting.

Setelah makan dan mandi, aku pun kembali ke kamar dan duduk di tempat tidurku berhadapan dengan Alice.

“Waktunya terbatas… Kami berniat untuk mulai bergerak tengah malam nanti…”

“Kurasa itu tepat… Aku juga tidak masalah dengan itu…”

Sebenarnya karena levelku ini, mau tengah malam atau pun bukan juga tidak menjadi masalah besar. Karena aku sudah terbiasa melakukan perburuan besar, jadi aku bisa terus bertarung selama beberapa hari tanpa istirahat sekalipun.

Karena Alice mengatakan sebaiknya kita tidur sebentar, maka aku memutuskan untuk tidur.

“Hei, bangun… Kita akan mulai pergerakan…”

Aku pun terbangun oleh suara Alice itu. Ia sudah mengganti pakaiannya, dan entah mengapa ia mengenakan pakaian serba hitam dan menutupi wajahnya dengan kain.

“Selamat pagi…. Cepat juga persiapannya ya… Jadi mirip mata-mata beneran….”

Aku pun bangun dari tempat tidur dan mencari kostum yang sesuai dari dalam Storage-ku. Meskipun aku tidak punya pakaian mirip mata-mata seperti yang dikenakan oleh Alice, aku mencoba memilih pakaian yang warnanya kehitaman, dan mengenakannya.

“Hei, kau lihat kemana!?”

Saat aku ingin mengganti celanaku, aku merasakan tatapan tajam Alice.

“Tidak apa-apa kan?? Kita ini kan suami-istri…”

Aku pun melemparkan mantel hitam kepada Alice yang mengatakan itu sambil menyengir.

“Tutup matamu dengan itu!”

Aku pun segera menyelesaikan berganti pakaian, lalu mengambil kembali mantel yang aku lempar dan memakainya. Karena aku tidak punya penutup wajah, jadi aku menggunakan tudung mantel itu untuk menutupi wajahku.

“Kurasa pakaian itu boleh juga… Ayo kita berangkat…. Karena kita akan keluar dari pintu belakang, aku akan memandumu…”

Kami pun turun ke lantai pertama, dan langsung masuk ke dapur lalu membuka pintu belakang dan akhirnya keluar. Sepertinya dia sudah terlalu akrab dengan penginapan ini. Yahh lagi pula tempat ini salah satu markas persembunyian mereka, jadi wajar.

Kami pun berjalan di gang yang cukup sempit dengan berhati-hati. Sekitar 20 menit kemudian, kami sampai di depan sebuah rumah di dekat Istana.

Alice pun mengetuk pintu dengan sebuah ritme yang sepertinya adalah kode rahasia, dan pintu pun terbuka. Terlihat seorang pria berusia sekitar 20 tahunan yang membukakan pintu. Tanpa bicara sama sekali, pria itu mengisyaratkan kami untuk masuk dengan dagunya, jadi kami pun masuk ke dalam rumah itu. Rumah ini tak jauh beda dengan rumah masyarakat pada umumnya.

Pria itu hanya mengatakan sepatah kata, agar kami mengikutinya. Kami pun mengikuti pria itu sampai ke sebuah kamar di ujung lorong. Pria itu pun menggeser tempat tidur dan mengangkat lantai yang ada di bawahnya.

“Kita turun ke bawah…”

Ketika aku melihat ke dalam, ada sebuah tangga vertikal di sana, dan kami pun menuruni tangga secara bergantian. Mungkin ini sedikit tidak sopan, tapi aku merasa sedikit senang dan berdebar karena rasanya seperti memasuki sebuah markas rahasia.

Setelah semua orang turun, pria itu pun menyalakan penerangan. Di dalam sini sepertinya adalah sebuah gua yang telah digali dalam waktu lama dan menjadi seperti sebuah lorong.

Pria itu pun membuka pintu yang ada di hadapan kami, dan terlihat beberapa pria dan wanita di sana. Semuanya adalah manusia dengan senjata yang mereka sandarkan di dinding.

Kami pun diminta untuk duduk melingkari sebuah meja besar. Sebuah peta terbuka lebar di meja itu.

“Kita lewatkan saja perkenalannya… Lagi pula kita semua saat ini memakai nama samaran….”

Pria yang membimbing kami mulai membuka pembicaraan.

“Ya, tidak masalah…. Lagi pula itu tidak ada hubungannya dengan quest…”

Pria itu pun menunjuk satu titik di peta, dan mulai menjelaskan.

“Jalur bawah tanah ini akan mengarah langsung ke Istana… Ini adalah rute untuk evakuasi darurat, dan rumah ini dikelola oleh kami dari generasi ke generasi…”

Aku bisa mengerti bahwa keluarga kaisar di negeri ini sangat di cintai. Bahkan mereka sampai rela terus menjaga rahasia ini dari generasi ke generasi. Untuk bersiap-siap jika situasi darurat terjadi. Situasi yang mungkin saja tidak akan pernah terjadi.

Bahkan mungkin mereka juga tidak ingin menggunakannya saat ini. Aku tidak terlalu mengerti, tapi sepertinya orang-orang ini hidup demi melindungi jalan rahasia ini. Itu yang aku rasakan dari mereka.

“Seperti yang aku jelaskan tadi, karena ini merupakan rute pelarian dari dalam Istana, maka sebaliknya, rute ini mengarah langsung ke dalam Istana… Tapi pada kenyataannya belum ada satu orang pun dari kami yang ke sana…”

“Kenapa begitu…?”

Seharusnya kalau mereka langsung menyelamatkan keluarga Kekaisaran yang tengah ditahan itu secepat mungkin maka kemungkinan mereka selamat cukup besar.

“Bahkan jika kami berhasil menyelamatkan para keluarga Kaisar, pastinya Yang Mulia akan mengatakan ingin tetap tinggal di sana karena rasa tanggung jawabnya itu… Selama penduduk negeri ini dijadikan sandera… Karena itu, kami hanya bisa menunggu orang yang bisa menyelamatkan negeri ini dan terus menjaga jalan rahasia ini….”

“Begitu ya… Itu artinya kalian menungguku??”

“Kau membawa tandanya kan? Seharusnya Gauros-sama memberikan sesuatu…”

Aki pun teringat tentang sebuah belati bersimbol yang aku terima dari Gauros. Aku pun segera mengambil belati itu dari dalam Storage dan meletakkannya di atas meja.

“Itu dia… Dari generasi ke generasi, para bangsawan sekalipun akan mematuhi perintah dari pembawa benda itu dan dianggap sebagai seorang [Pemberi Petunjuk]”

Jadi om Gauros itu memberikan benda sepenting ini kepadaku??

“Lagi pula jika kami berhasil menyelamatkan banyak keluarga Kaisar pun,  semua akan langsung ketahuan…. Jika sampai ketahuan dan terjadi sesuatu pada Keluarga Kaisar maka kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi…. Karena itu kami memutuskan untuk memilih sosok [Pemberi petunjuk] ini…”

“Lalu aku di perintahkan untuk menjadi pemandu jalannya loh… Karena beberapa alasan, aku yang paling tahu seluk beluk di dalam Istana…”

Alice memotong pembicaraan kami. Dia tahu seluk beluk istana?? Meskipun dia ini adalah mata-mata, bagaimana bisa seorang pedagang mengetahui hal itu??

“Kenapa Alice bisa  tahu seluk beluk istana??”

“Hmm,.. Sepertinya sekarang bukan saatnya untuk membahas itu… Mungkin lain kali aku akan menjelaskannya…”

Meskipun aku agak penasaran soal ini, aku memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan kami.

“Jadi kapan aku harus menyusup ke dalam istana?”

“Kalau bisa sih malam ini juga… tapi kami juga perlu persiapan… Jadi perkiraanku sekitar 10 hari lagi… Terlebih saat ini pasukan musuh sedang kacau karena kekalahan mereka di kota Lian…”

Memang benar, semakin cepat penyelamatan akan semakin baik. Karena selain membawa keluarga Kaisar keluar, kita harus memastikan keselamatan mereka.

Misiku adalah untuk menyelinap ke dalam Istana bersama dengan Alice dan menyelamatkan Kaisar dan keluarganya. Aku sampai menghela nafas panjang membayangkan berapa tingkat kesulitan yang cocok untuk misi ini.

Namun aku tidak berniat untuk menolak misi ini setelah datang sejauh ini. Lagi pula kemungkinan hanya aku yang bisa menyelamatkan mereka. Aku mungkin tidak terkalahkan di Istana yang tidak ada Heronya ini.

“Baiklah…. Kita akan menjalankan operasinya 10 hari lagi sesuai rencana…. Aku akan datang lagi kesini di jam yang sama…”

“Baik… Misi ini adalah misi yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang memegang tanda itu seperti dirimu…”

Setelah memeriksa peta denah lorong bawah tanah ini, kami pun meninggalkan markas rahasia. Meskipun ada beberapa prajurit yang berpatroli, kami berhasil mengendap-endap kembali ke penginapan melalu pintu belakang.

Kami pun kembali ke kamar dan berganti pakaian, lalu duduk berhadapan.

“10 hari lagi akan jadi bagian utamanya… Aku serahkan panduan jalan padamu…”

“Tenang saja!! Besok siang kita akan berkeliling kota, jadi cepat tidur loh…”

Kami pun menempati tempat tidur kami masing-masing dan aku pun tertidur dengan posisi memunggungi Alice. Mungkin karena lelah setelah semua ketegangan hari ini, aku langsung tertidur begitu saja.

===

Sinar mentari yang merangsek melalui jendela membangunkan tidurku. Ketika aku melihat ke tempat tidur yang ada di samping, sosok Alice sepertinya sudah lebih dulu bangun dan tidak ada di kamar ini.

Setelah aku meregangkan sedikit otot-ototku, aku pun bangkit dari tempat tidur dan berganti pakaian.

“Alice ke mana ya??”

Aku pun mengunci kamar dan segera menuju ke ruang makan di lantai bawah. Dan di sana sudah ada Alice sedang minum dengan santai sambil menyandarkan sikunya ke konter bar. Ketika ia menyadari keberadaanku, ia pun melambaikan tangan ke arahku.

“Selamat pagi, Touya… Aku masih belum sarapan kok.. Ayo makan bareng…”

Alice membawa minumannya pindah ke meja makan. Ruangan makan ini cukup sepi meskipun ini adalah jam sarapan. Apa tidak ada tamu lain? Namun sihir pendeteksiku masih mendeteksi banyak keberadaan orang di lantai atas. Sepertinya semua tamu selain kami adalah para demi-human.

Karena pemilik penginapan sudah datang, jadi kami segera memesan sarapan lalu berdiskusi dengan Alice tentang agenda hari ini.

 

“Jadi apa rencanamu hari ini? Aku ingin ke guild pedagang nanti siang… Apa Touya punya tempat yang ingin dikunjungi?”

Sebenarnya aku ingin mampir ke Guild petualang. Meskipun dikelola dan mendapatkan kepercayaan dari negara, serta sering kali memiliki persamaan pendapat, namun pada dasarnya Guild adalah organisasi yang independen. Aku sedikit penasaran bagaimana jadinya.

“Aku ingin mampir ke Guild petualang… Aku juga ingin mencari informasi bagaimana keadaannya… Ya tapi aku tidak berniat mengambil quest apa pun…”

Alice sedikit sedih ketika mendengar aku menyebutkan Guild Petualang.

“Kalau kau mau ke Guild petualang, katakan bahwa kita ini suami-istri… Saat ini statusmu adalah seseorang yang datang dari negeri lain tanpa urusan…”

Benar juga… Di kota Lian aku diberitahu bahwa meskipun memang Guild petualang tidak mendiskriminasi ras demi-human, namun kebanyakan petualang di Kekaisaran Lunette adalah demi-human. Saat ini Ibukota sudah di taklukkan oleh Kerajaan Generate, jadi seharusnya sudah tidak ada petualang demi-human.

Dengan hanya adanya ras manusia saja, maka akan membuat guild kekurangan tenaga. Dan jika seseorang petualang dari negeri lain datang dengan seenaknya, maka pasti akan ditangkap. Lebih aman jika aku mengaku sebagai pasangan yang sedang menjalankan tugas.

“Baiklah…. Aku hanya akan bilang aku sedang dalam misi pengawalan… Aku baru akan bilang kalau kita pasangan jika dalam keadaan darurat….”

“Kalau begitu  kita bertindak masing-masing ya…. Lagipula sepertinya keadaannya sudah lebih tenang…”

Santapan pun datang, dan kami pun makan sambil melanjutkan obrolan. Setelah selesai sarapan, kami kembali ke kamar dan memutuskan untuk bergerak terpisah.

Karena sebelumnya aku sudah mencari tahu lokasinya, jadi aku langsung berjalan menuju guild petualang. Sesuai dugaan banyak sisa jejak-jejak prajurit lewat di sepanjang jalan. Setelah berjalan selama dua puluh menit, akhirnya aku dapat melihat bangungan Guild petualang.

Aku pun membuka pintu, dan segera masuk ke dalam. Tidak banyak orang di dalam meskipun ini masih pagi. Sepertinya memang kesunyian ini disebabkan karena petualang demi-human berhasil melarikan diri atau tertangkap.

Pada dasarnya, bangunan guild tidak terlalu berbeda dengan yang lainnya. Namun ukurannya sedikit lebih besar, mungkin karena ini di Ibukota. Selain itu jumlah meja resepsionis juga lebih banyak dan ruangannya luas. Namun banyak meja resepsionis yang kosong.

Sesaat aku merasakan tatapan semua orang tertuju kepadaku, dan kemudian tatapan itu menghilang ketika mengetahui yang masuk hanyalah anak muda.

Ya normalnya, saat orang pertama kali melihatku, mereka pasti menganggap aku ini petualang pemula..

Aku menghampiri papan quest, dan sesuai dugaan, jumlah quest yang tergantung di sana sangat sedikit. Aku pun segera menghampiri meja resepsionis.

“Aku petualang dari Kerajaan Sarandir yang sedang dalam misi pengawalan… Bagaimana kondisinya saat ini??”

Aku mengatakan itu sambil mengeluarkan kartu guild dan meletakkannya di atas meja.

“Dari luar negeri ya…. Seperti yang Anda lihat, saat ini kami sedang kekurangan orang….  Banyak petualang tingkat tinggi yang ikut berperang dan tidak kembali…. Para petualang demi-human juga….”

Resepsionis itu memasang wajah sedih. Namun ia tiba-tiba terkejut setelah membaca isi kartu guild milikku dan segera melompat keluar dari meja resepsionisnya.

Terimakasih telah berkunjung

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *