Vol.02 - Ch.07.5 ~ SS4 - Putri Telestia dan Royal Guard

Anda sedang membaca Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 2 Gossip 4 di Kurozuku.

22 Jan 2020

Penerjemah : KuroMage

Selamat Membaca

“Silk tadi itu menyenangkan.”

Aku tersenyum pada Silk yang duduk di depanku didalam kereta yang bergoyang.Sejak lahir, aku selalu tinggal di Istana Kerajaan.

Menyandang gelar sebagai tuan putri ke tiga, aku hampir tidak pernah bisa berbelanja di kota. Segala sesuatu dilakukan di dalam istana kerajaan, dan kehidupan ku hanyalah menyaksikan pemandangan keramaian kota dari jendela istana kerajaan.

Putri kedua duke Eric, nona Silk, diperkenalkan kepadaku  karena dia seumuran, dan kami sering bermain bersama di Istana sejak usia tiga tahun.

Karena rumah Silk ada di Malvík, berjarak beberapa hari dari ibukota kerajaan, aku merasa kesepian karena saya tidak bisa bermain bersamanya setiap hari.

Setelah merayakan ulang tahun kelima ku, aku memohon kepada ayah, dan di izinkan  untuk pergi ke rumah Silk. Tentu saja, dengan ditemani pengawalan Kesatria kerajaan.

Aku merasa senang dengan pemandangan kota yang terlihat dari jendela kereta dan terkesan oleh tanah pertanian ‘emas’ yang terbentang di luar kota.

Sepanjang perjalanan menuju wilayahnya, Silk dan aku mengobrol banyak hal dan kamipun sampai di Malvik. Kamipun menghabiskan beberapa hari di Malvik.

Agak sedih bagiku harus kembali ke ibu kota, tetapi karena akan ada acara pengumuman di istana, Silk juga ikut menuju ke ibu kota, dan kami berangkat sambil berbicara dengan gembira didalam kereta.

Ketika hanya tinggal tiga hari perjalanan lagi dari ibukota, terdengar bagian luar gerbong menjadi berisik.

“Sekawanan Orc sedang menuju kesini dari tiga arah! Lindungi  tuan puteri!”

Aku mendengar suara teriakan dari luar.

“Telestia-sama, Silk-sama, tolong bersembunyi”

Itu adalah Martha, seorang pelayan di kereta, yang berkata kepada ku.

“Yah, apa, apa yang terjadi?”

Aku terkejut mendengar suara pelayan itu.

“Sepertinya ada serangan monster. Ksatria itu akan mengalahkannya, jadi tolong sembunyikan diri di sini dengan tenang.”

Aku sedikit lega dengan kata-kata itu, tetapi aku gemetaran dan saling berpegangan tangan dengan Silk.

Dari lura terdengar suara-suara seperti teriakan dan gerombolan berlari. Akupun tanpa engaja melihat keluar jendela, Segerombolan Orc mengarah kesini. Sambil ketakutan, aku menatap Silk di sebelahku.

“Jangan biarkan mereka mendekati kereta! Kalahkan mereka di sekitar kereta!”

“Lebih dari sepuluh Orc datang dari setiap sisi. Dengan jumlah ini…”

“Berjuang lah sampai mati!! Kita adalah pengawal kerajaan!!! Apa yang akan kita lakukan jika tidak bisa melindungi tuan putri!?”

Jeritan deras terdengar dari luar gerbong.

“Gyaa!”

“Terrot! Kau baik-baik saja!”

Sang kapten menebas Orc sambil membantu bawahannya yang jatuh…

“Guha”

Lagi-lagi aku mendengar suara kesatria yang dikalahkan.

Ketika aku melihat sekeliling, beberapa orang sudah tertebas, dan beberapa ksatria tegeletak dan berjuang untuk berdiri. Hanya tersisa tiga orang yang melindungi kereta.

Kawanan Orc, yang hampir berjumlah lima puluh, telah berkurang menjadi sekitar tiga puluh, tetapi mereka sudah sampai pada batas mereka.

“Apa Cuma sampai sini.. Siaal!!”

Pada saat itu, tampak seorang anak kecil memegang pedang di salah satu tangannya entah darimana.

“Aku akan membantumu!”

Kata yang diucapkan anak itu. Bocah itu melompat dalam kerumunan orc.

“Anak-anak tidak boleh datang ke tempat ini! Larii!”

Itulah batasnya.

Anak itu tersenyum kearah kami dan mengucapkan sepatah kata.

“Lihat saja, tidak apa-apa kok”

Kami hanya terfokus pada gerakan anak itu. Ia menembakan sihir secara berunntun, dan dengan gerakan pedang yang tidak terlihat mata para Orc dikalahkan.

“Apa-apaan ini anak …”

Kami hanya bisa menonton.

“Ini yang terakhir!”

Pada saat kami menyadarinya, para Orc telah dimusnahkan. Anak itu datang ke sini. Pada pandangan pertama, dia mengenakan pakaian bangsawan. Hanya dengan melihat sihir dan teknik berpedangnya, siapa pun dapat mengatakan bahwa dia bukan anak biasa. Kamimemang tak akan bisa mengalahkannya, tetapi karena kami dalam misi untuk melindungi tuan putri, kami mengarahkan pedang pada anak itu.

“Jangan mendekati kereta, berhenti di sana!”

Setelah anak itu membersihkan darah pada pedangnya, dia menyarungkan pedangnya dan mengatur posisi tubuhnya.

“Aku terlambat memperkenalkan diri. Aku Cain von Silford. Aku putra ketiga dari Garm von Silford Gracia.”

Sesaat setelah ia mengatakan itu, seorang kesatria yang menunggang kuda datang dari belakang.

“Aku adalah kesatria utusan Margrave Garm von Silford Gracia. Aku datang untuk membantu! Loh?? Kenapa Cain-sama ada disini?”

Para Ksatria yang datang dari belakang itu melihat ke sekitar dengan wajah penuh kebingungan.

“Lagipula aku sudah mengalahkan semuanya…”

Lalu seorang anak lelaki bernama Cain, yang tampaknya adalah anak dari Margrave Silford, datang mendekat.

“Daripada itu, biarkan aku merawat ksatria yang terluka. Aku bisa menggunakan sihir pemulihan.”

Akupun memperhatikan sekitar. Beberapa ksatria sudah mati, namun masih ada beberapa yang masih bernapas.

Ia mendekati para ksatria yang terbaring.

“[Area Heal]”

Anak bernama Cain itu merapal kan manteranya. Perlahan lahan luka para ksatria yang tumbang itu mulai menghilang. Dan rasa sakit yang dihasilkan oleh lukaku mulai menghilang.  Dapat menggunakan sihir pemulihan level tinggi seperti [Area Heal], sebenarnya siapa anak ini..

Sambil berpikir begitu, taklama sebuah kereta yang dilindungi oleh beberapa ksatria datang mendekat. Lambang di kereta itu tidak diragukan lagi milik Margrave Silford.

Ksatria yang tadi datang untuk memberi dukungan semuanya berbaris. Lalu, seseorang yang aku kenal turun dari kereta, itu adalah seorang Margrave.

“Aku Garm von Silford Gracia. Lambang gerbong itu tampaknya milik Dukes Santana. Apakah kalian baik-baik saja?”

Dengan kata-kata itu, aku menyadari bahwa aku selamat. Komandan Guard Knight memanggil ke dalam gerbong.

“Tuan Puteri, nona Silk apakah anda baik-baik saja? Bantuan sudah datang dan para Orc sudah dikalahkan”

—–

Aku dan Silk menyaksikannya. Sementara para ksatria terbaring, seorang anak kecil yang tiba-tiba muncul mengalahkan para Orc dengan sihir dan pedang.

Taga ku yang menggenggam Silk makin kuat. Sungguh teknik pedang yang indah! Dia masih seumuran denganku, tapi dia bergerak dan mengalahkan para Orc seperti mengalir begitu saja. Aku terus memperhatikan anak itu. Pelayan itu membuka pintu dan aku dan Silk pun bisa keluar dari kereta dengan bantuannya.

Ketika aku turun dari kereta, ada seseorang yang biasa aku lihat di Istana. Itu adalah Margrave Garm.

Garm-sama pun tampak terkejut, mungkin ia tidak menyangka kalau aku berada di kereta milik duke, dan tiba-tiba ia berlutut dan membungkuk bersama para pelayanannya. Anak yang membantu kami juga berlutut.

“Waduh Tuan puteri Telestia dan Nona Silk, Saya senang anda baik-baik saja”

“Margrave Garm, terima kasih telah menyelamatkan kami saat dalam bahaya”

Aku merasa lega bahwa Garm-sama datang, tetapi aku masih tidak bisa berhenti gemetaran karena rasa takut. Namun memperhatikan anak yagn menyelamatkan ku karena sedikit penasaran.

“Cain, ini adalah Telestia Terra Esfort, Tuan Putri Ketiga, dan Silk Von Santana, putri Duke Santana.”

Garm-sama memperkenalkan kami pada anak itu, Jadi namanya Cain-sama. Aku tidak akan pernah melupakannya.

Setelah itu, anak itu tampak sedikit terkejut, dia berdiri dan memperkenalkan dirinya.

“Saya adalah Cain von Silford, putra ketiga Garm von Silford Gracia yang ada di sebeah saya. Saya senang  anda baik-baik saja Putri Telestia dan Nona Silk. Mohon maaf, tapi apa boleh saya merapalkan sihir kepada anda? “

Hah? Sihir aku baru saja melihatnya, tetapi aku sedikit bingung.

“Ini adalah sihir yang menenangkan suasana hati [Relax]…”

Segera setelah Cain merapalkan sihir, aku, Silk, dan beberapa pelayan terbungkus cahaya.

Ketika cahaya itu menghilang, rasa takut dan gemetar yang baru saja aku rasakan lenyap, dan aku merasa tenang.

“Dengan ini anda seharusnya menjadi lebih tenang”

Dengan tersenyum Cain-sama mengatakan itu, dan aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya. Aku bisa merasakan pipiku memerah.

“Cain-sama, aku Telestia Terra Esfort. Terima kasih telah menyelamatkan kami di saat berbahaya. Aku tadi sangat ketakutan. Kupikir ini akan menjadi akhir hidupku.”

Aku secara tidak sengaja memegang tangan Cain-sama. Mungkin ini adalah pertama kalinya aku memegang tangan oranglain selain orang tua dan saudaraku.

“Ah, curaang! Cain-sama,ijin kan aku juga berterimakasih padamu, aku melihat melalui jendela kereta. Kamu menembakkan sihir secepat angin, dan teknik pedang itu sangat keren.”

Silk pun keluar. Ah, tangan yang ada di genggaman ku di sudah diambil olehnya.

“Sementara ksatria pengawal terjatuh, aku dan Silk berpikir bahwa ini adalah saat terakhir kami. Cain-sama itu kuat ya, bisa mengalahkan tiga puluh orc sendirian. Aku menyaksikan sihir dan teknik pedang mu”

Setelah itu, kami pun memutuskan untuk pergi ke ibukota bersama dengan Cain-sama. Aku berusaha untuk tidak menunjukkannya di wajah ku, namun aku tak bisa menahannya.

Kami diminta masuk kedalam kereta dan menunggu karena mereka akan membereskan mayat orc dan jasad dari para ksatria yang gugur ketika melindungi kami.

“Cain-sama …”

Kaupun tanpa sengaja menggumamkan namanya, saat membayangakn wajah Cain-sama di benakku. Silk pun bereaksi terhadap kata-kata itu.

“Teles ini… Kamu terlalu fokus sama Cain-sama ya…”

Akupun merasakan wajahku memerah ketika mendengar Silk mengatakan iru kepadaku. Selang beberapa waktu, ksatria memerintahkan kereta untuk segera berangkat. Aku masih ingin berbicara dengan Cain-sama, tanpa berpikir bpanjang aku pun berbicara pada mereka.

“Maaf, kalau cuma kami berdua sepertiya aku agak khawatir, boleh kah Cain-sama naik di kereta kami?”

Tentu saja Garm-sama menunjukan wajah kebingungan setelah mendengar permintaan itu, namun diapun akhirnya mengijinkan.

“Baiklah, Cain, kamu naik kereta yang itu..”

“… baik.”

Pertama-tama, aku menuntun Cain sama ke kursi belakang, diapun duduk di tengah, akupun duduk disampingnya. Lalu Silk pun duduk di sisi berlawanan!

Karena ini adalah kursi yang dapat memuat dua oang dewasa, bahkan jika tiga anak kecil menaikinya ini tak tersasa sempit.

Cain-sama memasang wajah merepotkan. Namuun aku merasa wajah itu juga keren.

“Karena sepertina tiga orang duduk bersama akan sempit, biarkan aku duduk di kursi depan saja?”

Cain-sama menyarankan hal itu, sudah susah payah agar bisa duduk di sampingnya, manamngkin aku menyetujuinya. Tanpa banyak pikir akupun merangkul tangannya. Ahh mungkin aku ini terlalu agresif..

“Teles curangg!! Aku juga mau!”

Silk-pun langsung menarik tangan Cain-sama yang satunya.

Ketika berkemah pun, aku meminta agar Cain-sama tetap bersama kami, padahal ini adalah ruangan untuk dua orang yang biasanya hanya untuk aku dan Silk. Tentu saja aku harus memintanya keluar saat aku berganti pakaian, tapi saat aku melihat wajah Cain-sama yang tertidur, akupun tersenym sendiri.

Dua hari sebelum sampai di ibukota kerajaan, aku sanga menikmati pembicaraan dengan Cain-sama, tanpa sadar aku sudah emintanya untuk memanggilku dengan nama “Teles” saja. Lagipula Silk juga memanggilku begitu kan?

Saat-saat menyenangkan itupun berlalu dengan cepat, dan kami telah tiba di ibukota. Cain-sama harus pergi ketempat Royal Knight jadi kami berpisah.

Ketika aku dan Silk memasuki istana kerajaan, ayah sedang melakukan pertemuan di ruang raja, kami berduapun masuk. Aku harus meinta maaf karena membuatnya khawatir.

“Ayah, aku mint maaf telah membuatmu khawatir..”

“Gak apa-apa, Teles. Yang penting kalian berdua selamat.”

Setelah itu kami berbicang seperti biasanya. Saat membahas tentang Cain-sama aku sangat bersemangat dan kurasa sudah berlebihan. Namun dari sudut pandangku, sosoknya lebih cocok jadi pangeran daripada siapapun.

Ayah dan Duke Eric menghela napas bersamaan.

“Lalu dari laporan yang aku dengar, bahwa Teles dan Nona Silk terlalu lengket dengan Cain-kun yang menyelamatkannya?”

Mendengar kata-kata ayah aku merasakan wajahku memerah. Saat aku melihat ke sampingku, wajah Silk pun juga terlihat memerah.

“Meskipun kalian berdua menunukan ekspresi seperti itu, merak tampaknya belum puas..”

Perdana menteri Magna yang mengatakan itu setelah melihat ekspresi wajah kami.

“Bagaimana jika aku mengatakan untuk mengikat Cain-kun itu aku menginginkan salah satu diantara kalian berdua untuk menjadi tunagannya?”

Kata-kata Ayah itu benar-benar mengejutkanku. Cain-sama itu pangeranku, untuk bisa bertunangan dengannya itu…

Tanpa sadar aku mengangkat tangan ku dan dengan cepat menjawab.

“” Aku bersedia “”

Aku dan Silk menjawab dengan waktu yang bersamaan. Ketika wjah kami saling berpandangan, wajah kami pun menjad lebih merah.

“Apa dia itu pria yang selayak itu ya anak bernama Cain itu?”

“Eric, apa tidak apa-apa begini?”

Ayah dan Duke Eric mengangguk.

Setelah itu, termasuk Perdana menteri Magna, mereka bertiga, enunjukan wajah yang sedikit aneh. Namun hati dan pikiran ku dipenuhi dengan bayangan aku bisa menikah dengan Cain-sama di masa depan.

Catatan pengarang

Maaf padahal raja pertama baru saja keluar namun aku meotongnya. Au akan melanjutkan di kesempatan berikutnya.

Terima kasih telah berkunjung, Jangan lupa tinggalkan komentar anda....

Comments

One response to “Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 2 Gossip 4”

  1. Yuu says:

    Firts Again AOWK2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *