Vol.02 - Ch.24 ~ Penyambutan Kota Drintle Bagian 3

Anda sedang membaca Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 2 Chapter 24 di Kurozuku.

19 Mar 2020

Penerjemah : KuroMage

Selamat Membaca

 

Karena aku tidak mengetahu lokasi balai kota, aku bertanya-tanya pada prajurit yang sedang berpatroli dan tetap brjalan kaki menuju balaikota.

Mayoritas kota di kerajaan ini memiliki balai kota yang terdiri dari gedung untuk walikota dan juga bangunan untuk asistennya. ketika walikotanya sedang ada urusan di ibukota, asisten inilah yang akan menggantikan sementara untuk mengurus kota.

Di sepanjang perjalanan menuju ke balaikota aku memperhatikan banyak tokoko-toko yang menjual peralatan senjata, armor dan perlengkapan sihir yang sangat mencerminkan nama kota ini sebagai kota petualang.

Ditengah perjalanan aku mampir sebentar ke sebuah lapak di pinggir jalan karena tertarik oleh aroma harum yang keluar dari lapak itu.

“Paman, Aromanya enak ya… mau satu tusuk dong!”

Paman yang sedang memanggang sate itu memperhatikan Cain yang terlihat sepeti bocah petualang dan tersenyum kepadanya.

“Oh, kamu paham ya nak… harganya tiga koin tembaga… aku akan memanggangnya, tunggu sebentar ya…”

Iapun memangggangnya sambil membolak-balikan sate itu, beberapa saat kemudian menuangkan saus di atasnya dan memanggangnya lagi.

“Nih!! baru mateng enak loh…”

Cain menerima sate yang baru matang itu dan membayar tiga koin tembaga.

Dan langsung melahapnya.

“Ahh.. Pan..ass… Tapi enak!”

Memperhatikan Cain, seorang petualang yang terlihat masih anak anak ini sedang makan dengan polosnya, paman itu tersenyum.

“Ngomong-ngomong bagaimana pendapatmu tentang kota ini? aku baru saja tiba di kota ini…”

“Hmm? kamu baru disini? yah.. dikota ini banyak petualang soalya ya… banyak juga toko-toko yang mengolah dan menjual bahan bahan dari monster yang didapatkan dari para petualang… daging ini juga merupakan hasil tangkapan petualang… ini adalah daging Orc…”

“Begitu ya… Meskipun ini daging Orc enak juga ya… Sausnya pun sampai meleleh begini… tadi pertama kali aku mampir ke guild dulu, malah langsung dikepumg. Jadi kupikir kota ini tidak terlalu aman…” “Rata-rata orang yang menjadi walikota disini melarikan diri karena adanya tekanan dari guild. yah sekuat itulah guild disini, meskipun asisten walikota menahan mereka, namun hanya sampai batas tertentu saja… Meskipun guildmaster orang yang baik, tapi berhati-hatilah dengan wakilnya yang selalu bergerak dibalik layar… tentu saja jangan pernah bilang kalau kamu tau dariku…”

 

“Hmm. wakil ketua guild ya…  Aku akan hati-hati. Terima kasih paman!”

“Lain kali aku akan datang lagi…!!”

Cain melambaikan tangannya kearah paman penjual sate itu dan melanjutkan perjalanan menuju balaikota.

Balaikota itu terletak disebelah utara alun-alun kota ini. Terlihat dua penjaga yang sedang bertugas di depan gerbang. Ketika aku menghampiri gerbang, penjaga itu menanyaiku.

“Seperinya kamu petualang ya.. ini adalah balaikota, hanya ada asisten walikota disini, jika tidak ada keperluan silahkan pergi…”

“Apakah asisten walikota ada? bisakah kalian beritahu kalau orang yang baru saja dilantik menjadi walikota kota ini yang bernama Cain von Silford Drintle sudah datang?”

Caain mengeluarkan sebuah bukti pelantikannya dari [Item Box] dan menunjukannya pada penjaga.

“Ohh.. ternyata Tuan walokota, mohon maafkan kelancangan saya, saya akan segera memberitahu tuan Elive..”

Salah satu penjaga itu mengembalikan bukti pelantikan Cain, dan begegas masuk untuk memberitahu Asisten walikota. Sedangkan penjaga yang satunya memandu Cain menuju ke aula rumah gedug walikota. sesaat kemudian dari arah bangunan asisten walikota munculah penjaga yang satunya tadi bersama sesorang asisten walikota yang sangat khas seorang pekerja publik.

“Waduh.. Viscount Cain.. maaf membuat anda menunggu… Aku adalh Elive, Wakil walikota disini… aku sudah emndengar kabarnya dari istana… tapi saya agak terkejut anda datang secepat ini… pertama-tama silahkan beristirahat di dalam…”

Elive terlihat sepeti ras manusia berusia 40an dan sedikit gemuk. wajahya agak ramping dengan kumis tipis menghiasi. sepertinya ia menjadi wakil walikota dari kalangan rakyat biasa bukan dari kalangan bangsawan. Dipandu oleh Elive yang merupakan wakil walikota, kami tiba di ruang tamu. Ku langsung duduk di sofa, dan Elive  duduk dihadapannya.

“Maaf atas kedatangan ku yang tiba-tiba… Karena aku seorang petualang, aku ingin memastikan apakah keadaan kot ini sama seperti yang aku dengar atau tidak… bahkan di gerbaang masuk aku masuk sebagai petualang…”

Cain mengenakan pakaian petualangnya. bahkan dari sudut pandang orang lain, Cain akan terlihat seperti seorang petualang yang baru saja mendaftar. Tak akan ada yang mengira bahwa dia adalah seorang walikota.

“Saya yakin anda telah mendengar hal tentang kota ini, saya sebagai wakil walikota sungguh mohon maaf… Jumlah petualang di guild ada lebih dari seribu orang, dengan guildmaster selaku kelompok mereka, mereka tidak pernah mendengarkan kebijakan apapun yang kita buat… Karena guild menolak membayar pajak, kami hanya mengelola kota ini , menggunakan iuran dari para warga. karena itu anggaran kota ini berada di dalam zona merah. dengan diputuskannya wilayah ini mejadi wilayah langsung dibawah perintah raja, kami dapat bertahan dengan bebrapa subsidi dana dari kerajaan. “

Elive berkata dengan wajah bersalah. Dikota-kota lain, adalah wajar  ketika sebuah quest masuk dari klien ke guild, guiild membayar pajak dan biaya manajemen guild. Dengan ini, guild petualang bisa memasukan orang kedalam kota atas izin dari walikota. dengan adanya lebih dari seribu orang petualang yang tidak membayar pajak, kupikir ada yang salah dengan kota ini. Rupanya guild disini memang  tidak mau bekerjasama dengan baik.

“Sebelum sampai disini aku tadi sempat melihat-lihat keadaan kota, sepertinya para warga lokal hidup tanpa ada masalah…”

Beberapa toko seperti toko senjata, toko ramor seta pedagang makanan, mereka semua terlihat seperti hidup mereka makmur dan sejahtera.

“Karena pada dasarnya para petualang itu tidak terlalu menghemat uang karena mereka merasa hidup mereka akan hilang kapan saja, jadi kami cukup bersyukur karena mereka langsung menghabiskan hadiah quest mereka dikota ini…. Walaupun mereka selalu berengkar di bar dan membuat penjaga kewalahan…”

“Sepertinya pertama-tama kita harus mengubah kota ini menjadi kota yang normal dulu ya… Aku akan ada disini sampai besok, jadi pertama-tama mari kita adakan pertemuan dengan guild petualang… karena aku sekarang diangkat menjadi walikota yang baru, jadi aku harus menyapa mereka…”

“Kalau begitu saya akan mengirimkan kurir untuk mengundang mereka datang besok. Apakah hari ini anda akan menginaap disini?? “

“Tidak… Lagipula ini adalah kunjungan dadakan, jadi aku akan menginap di penginapan saja. Aku juga ingin melihat-lihat pemandangan kota lagi…”

Cain ingin benar benar memastikan keadaan kota ini dengan matanya sendiri.

“Kalau begitu saya akan mengatur pertemuan besok seteelah makan siang. Saya juga akan menyiapkan makan siang disini, jadi semoga saja mereka mau datang sebelum tengah hari”

Elive menjawab dengan rasa bersalah. Wajar saja karena ia berhadapan dengan guild itu.

“Ah, Cain-sama, terkait berjalan-jalan dikota, jika anda memasuki wilayah dibelakang gerbang selatan, disana ada wilayah kumuh, harap berhati-hati, sebisa mungkin untuk menghindari tempat itu”

Cain terkejut bahwa ada daerah kumuh dikota ini.

“Di kota dengan jumlah warga segini, apa ada wilayah kumuh??”

“Ada, kumpulan para pensiunan peualang, anak-anak petualang yang kehilangan orang tuanya…. Saya juga tidak terlalu paham rinciannya…”

“Baiklah… aku akan berhati-hati agar tidak mendekatinya… kalau begitu, aku akan kembali lagi besok.. “

Cain pun meninggalkan rumah walikota, dan berjalan menuju gerbang barat. Ia berjalan sambil melihat-lihat berbagai macam toko. Cainpun terpancing oleh aroma harum yang keluar dari salah satu toko, ia pun masuk meskipun agak terlalu dini baginya untuk makan siang.

” Selamat datang! Ingin menginap? Atau hidangan? “

Covid-19 sudah mulai masuk wilayah bogor?Tetap waspada dan jaga kebersihan….

Datang menghampirinya seorang gadis dengan telinga kucing yang terlihat lebih muda daripada Cain. Mengenakan celemek diatas gaunnya, dengan ekor yang mengayun-ayun di belakangnya. Usianya terlihat masih sekitar 6-7 tahun.

Dengan matanya yang imut, dia memperhatikan ke arah Cain.

“Untuk sekarang, kurasa makanan?”

“Baiklah. Silakan sebelah sini.”

Cain pun duduk di kursi di depan konter sesuai dengan panduan gadis itu. Ketika ia menghirup aroma yang keluar dari arah dapur, perhatiannya pun terpusat pada aroma yang memicu nafsu makan itu.

“Apakah anda mau menu spesial hari ini? Hari ini adalah steak troll. Harganya  koin tembaga. Jika ditambah minum jadi 1 koin tembaga besar…”

“Boleh.. juga tambahkan jus buah…”

“Baik!”

Gadis bertelinga kucing itu bergegas berlari menuju dapur.

“Ayah! Menu spesial satu! “

“Siapp!”

Dari dapur terdengar suara laki-laki yang sepertinya ayahnya. Cain terus memikirkan tentang apa yang akan dia lakukan dengan kota ini sampai makanannya datang.

“Soal guild petualang bukan masalah karena besok kita akan bertemu… Kalau tentang wilayah kumuh… soal anak yatim mungkin kita bisa buat semacam panti asuhan… kalau mantan petualang… mungkin harus ada perekrutan untuk pekerjaan publik…”

Ketika ia sedang sibuk memikirkan itu semua, hidangannya pun datang.

“Maaf menunggu!”

Gadis bertelinga kucing itu membawa nampan yang berisi makanan kepadaku.

“Terima kasih ya… lagi bantu bantu ya? Rajinnya…”

Akupun menerima nampan yang diberikan oleh gadis itu.

“Iya! Karena ibuku sedang sakit, jadi aku yang membantu…”

“Begitu ya… Kenapa gak ke gereja??”

Cain bertanya pada gadis itu.

Tiba-tiba, gadis bertelinga kucing itu menundukan telinganya, dan menggelengkan kepala.

“Aku ingin membawanya kesana…. Api kita tidak punya uang sebanyak itu…”

Cain berangapan bahwa di di gereja akan bisa mendapatkan sihir pemulihan, lagipula biayanya hanya sebatas biaya sumbangan, seharusnya itu bukan masalah.

“Begitu ya… Aku bisa sihir pemulihan, jadi ayo kita coba menyembuhkannya.”

“Eh!? Benarkah!? Aku akan bertanya pada ayah!”

Gadis bertelinga kucing itu berlari menuju ke dapur.

“Sementara, makan dulu deh…”

Akupun mulai menyantap makanan yang disajikan. Daging trol ini ckup berlemak dan sangat lezat. Saus yang digunakan sangat segar dan cocok dengan dagingnya. Sup yang disertakan juga terasa sangat enak, sayurannya sangat meresap.

“Hm! Lezat!”

Ketika aku sedang makan, gadis bertelinga kucing itu membawa seseorang yang terlihat seperti ayahnya. Ayahnya juga seorang ras beastmen sekitar usia 30 tahunan. Dia keluar dengan tetap menggunakan celemeknya karena sedang memasak.

“Makanan di sini enak ya!”

Cain mengatakan itu dengan sejujurnya. Sag ayah itu pun menjawab dengan wajah bahagia.

“Sebagai orang yang bertanggung jawab dengan masakannya, Aku sangat senang mendengar anda mengatakan itu… tetapi dari putri saya ini saya dengar anda bisa menggunakan sihir pemulihan? Meskipun aku tidak bisa membalas banyak, tolong bantuannya…”

“Baik… kita lakukan setelah selesai makan… “

“Terima kasih banyak”

Sang ayahitu menundukan kepalanya sepenh hati sambil berterimakasih.

Setelah selesai makan dan membayar makanan nya, Cain dipandu menuju ke ruang tamu di dalam.

“Tapi, apakah biaya penyembuhan di gereja semahal itu? “

Cain tidak menerti soal ini, iapun menannyakannya pada ayah berelinga kucing itu.

“Di gereja kota ini, satu kali [Heal] dikenakan biaya satu keping perak sedangkan [High Heal] harganya satu keping emas. “

Cain terkejut mengetahui bahwa kau harus membayar 100.000 yen untuk sekali [Heal], dan dan 1 juta yen untuk sekali [High heal].

“Mahal!! Di ibukota saja tidak semahal itu… pasti ada yang aneh disini…”

Sesampainya di tempat yang dipandu, aku bisa melihat sesosok wanita yang nampaknya ibunya sedang terbaring di atas kasur. Ibu itu juga sama merupakan seorang beastmen kucing. Dan nampaknya wajahnya tidak terlihat sehat. Tubuhnya terlihat kurus akibat telah terbaring dalam waktu lama. Sang gadis bertelinga kucing itu menggengam tangan ibunya yang keluar dari balik selimut.

“Ini adalah istriku, Himika. Tolong bantuannya.”

Sang ayah memohon dengan wajah sedih. Cain pun duduk disebelah sang ibu itu, dan memegang tangannya.

“[High Heal]”

Seketika  tubuh sang ibu terselimuti oleh cahaya putih.

 

Terima kasih telah berkunjung, Jangan lupa tinggalkan komentar anda....

Comments

4 responses to “Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 2 Chapter 24”

  1. Souleater says:

    Sankyu miin

  2. Yusuf says:

    Wahh pdhl disini seingatku komen :v

  3. LおLいHうNTえRです「✔ ᵛᵉʳᶦᶠᶦᵉᵈ 」 says:

    Gasabar ngeliat cain punya bnyak istri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *