Vol.02 - Ch.29 ~ Walikota Drintle Mengamuk Bagian 2

Anda sedang membaca Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 2 Chapter 29 di Kurozuku.

13 Apr 2020

Penerjemah : KuroMage

Selamat Membaca

 

Jika dilihat, nampak seperi seorang bocah petualang yang sedang memasang wajah yang marah.

Cain sangat marah karena mereka telah menendang Enark. Karena ini sudah malam, banyak orang berlalu-lalang di depan toko. Tiba-tiba ada seseorang terlempar keluar sebuah toko dan bergelimpangan, lalu seorang anak kecil berjalan menghampiiri mereka.

Kerumunan orang yang penasaran akan kejadian ini pun langsung terbentuk mengelilingi Cain dan keempat petualang itu. Dashu dan Himika yang mendengar tentang keributan ini dari Enark pun keluar.

“Ni bocah!!! Gak pake ampun lagi!!! “

Seorang petualang menarik pedangnya, dan ketiganyapun mengikutinya.

“Cain-sama… awas!! itu berbahaya!”

Dashu berteriak.

Dan seorang petualang menebas Cain dari atas. Cain bergeser setengah langkah menghindari serangan itu, dan kemudian memukul perutnya.

“Gho–“

Petualang yang terkena pukulan itu, terpental beberapa meter dan langsung pingsan dengan busa yang keluar dari mulutnya. Meskipun sempat terpana sejenak, teman-teman nya itu memusatkan kembali pandangannya kearah Cain.

“Bocah… Elu berani ya!!! “

Mereka bertiga pun mulai maju menebas kearah Cain bersamaain. Dari sudut pandang Cain, itu terlihat seperti sebuah slownotion dari tebasan pedang.

Iapun menghindari tebasan itu satu persatu. Mereka bertiga pun lagsung pingsan dalam waktu kurang dari tiga detik. Menatap keempat petualang yang pingsan itu, Cain menggumamkan sebuah kata.

“Menggunakan kekerasan pada orang lain, parah banget!”

“….”

Semua orang ingin mengatakan “Kok luu bisa ngomong begitu!” namun tak ada satupun orang yang berani. Meskipu ini adalah kejadian yang singkat, tapi mereka tahu bahwa bocah berambut perak yang berdiri di sana cukup kuat. Tak ada satupun orang disana yang mau menyela Cain. Namun karena kerumunan ini cukup ramai, mungkin ada juga yang melaporkanya.

“Aa—Apa-apan ini ribut-tibut!!!!”

Sambil berteriak, beberapa orang petugas patroli pun menembus kerumunan itu dan meliht empat orang petualang yang tergeletak dan menanyakan kejadian kepada Cain berdiri di samping mereka.

“Apa yang terjadi?”

Seorang pria yang tampaknya pemimpin prajurit dengan armor yang tampak mewah.

“Petualang mabuk itu menendang gadis di toko ini dari belakang. Karena itu aku meminta untuk pergi… Dan mereka malah mengarahkan pedang dan menebasku, karena itu mereka jadi seperti ini….”

Sambil menunjuk keempat petualang itu Cain menjawab dengan singkat.

“Begitu ya… kalau begitu bisakah kamu ikut ke kantor sebentar?”

Cain segera menjawab pertanyaan Kapten itu.

“Gak ah… Aku belum sempet makan daging minotaur ku… kan mubazir…”

Baik para prajurit maupun Dashu dan Himika mereka terkejut dengn jawaban Cain ini.

“tu-tung… Cain-sama…”

Dashu terkejut dengan penolakan Cain yang merasa tidak peduli dengan adanya kaptern prajurit itu.

“Nomong apa Kamu ini!! Kalo gak mau ikut nanti aku angkut paksa! “

Sang kapten agak kesal dengan jawaban Cain yag diluar dugaannya.

“Kalo mau bawa, bawa aja mereka berempat… Mereka itu lagi mabuk, biar mereka merenung sejenak di dalam tahanan… Kalau begitu terimakasih atas kerja kerasnya…”

Can membungkuk ke arah sang kapten dan mencoba untuk kembali kedalam toko. Orang-orang yang ada di sekitar pun tertegun dengan kejadian ini.

“Lu bercanda ye!! Emangnya lu sape!! “

Sang kapten yang sedang naik darah itu menggenggam bahu Cain dan menghentikannya. Cain menoleh kebelakang menggenggam tangan yang meraihnya itu, dan bertanya balik pada sang kapten.

“Yang melakukan kejahatan itu mereka kau? Seharusnya tidak masalah kan jika hanya mereka yang dibawa ke tahanan? Lagipula jika aku mengatakan namaku nanti akan jadi ribet… makanya aku gak mau kasih tau…”

“LU NGOMONG APA SIH!! Woy kalian, seret ni bocah juga!!! “

Dengan kata-kata sang kapten ini, prajurit yang lain yang sedang mengangkut para petualang yang terkapar itu, berkumpul.

“Sepertinya lu juga perlu sedikit merenung ya…”

Cain, dikelilingi oleh empat orang prajurit termasuk si kapten, diapun menghela nafas.

“Yah kurasa tidak ada pilihan lain karena ini tugas kalian… Aku akan engatakan namaku, tapi karena aku tidak mau didengar orang lain jadi aku akan mengatakannya dengan suara kecil ya…”

Sang kapten hanya mengangguk merespon kata-kata itu. Jika diperhatikan, Anak yang berdiri dihadapan sang kapten ini menggunakan pakaian yang mewah untuk sebuah pakaian biasa. Mungkin saja ia adalah anak seorang bangsawan, pikir sang kapten. Dan ini bisa jadi masalah nantinya, Keempat prajurit itu pun merapat kepada Cain.

“…Aku Cain, Viscount Cain von Silford Drintle, walikota baru disini…”

Cain mengatakan itu dengan suara yang lirih agar hanya mereka berempat saja yang mendengar mereka. Dari sakunya, ia mengeluarkan buktu bahwa ia adalah bangsawan dan menunjukkannya kepada sang kapten.

Seketika keempat prajurit itu pun mematung.

Mereka perpikir seburuk-buruknya ia adalah anak bangsawan atau kerabat jauh bangsawan, namun ternyata anak itu adalah bangsawan pengusa kota.

Sejak tadi kepada penguasa kota ini, mereka telah berbicara dengan kata “Lu” “Seret ni bocah”. Bahu sang kapten itu pun melemas dan membeku. Jika itu adalah anak bangsawan tidak akan terlalu berpengaruh, namun dihadapannya adalah seorang Viscount dan pengusa kota ini. Ia mungkin saja dikenakan hukuman Lese Majeste dan dihukum dipancung. Mereka berempat pun saling memandang dalam diam, dan mengangguk.

“Maafkan kami, tuan walikota… “”

Keempat prajurit itu pun bersujud di depan Cain.

“Walikota!!???”
Orang-orang di sekitar mereka pun terkejut dengan kata-kata prajurit itu. Tidak ada satupun diantara mereka yang kana membayangkan bahwa anak kecil di hadapan mereka ini adalah walikota mereka yang baru. Dan dengan adanya walikota disini, maka para rakyat biasa disini pun harus menundukan kepala mereka.

Orang-orang ini pun langsung ikut berlutut dan memberi hormat. Cain kini berhadapan dengan pulihan orang yang berlutut dihaapannya.

“…”

Padahal diasudah berusaha mengatakannya degan suara yang sekecil mungkin agar tidak ketahuan, iapun tidak menyangka mereka akan mengambil sikap seperti ini. Cainpun hanya mampu menatap langit dengan pasrah.

“Karena ini aku tidak mau bilang tadii…”

Ketika Cain lemas, Enark pun menghampirinya. Enark masih belum mengerti bagaimana cara-cara berhadapan dengan seorang bangsawan.

“Cain-oniichan itu walikota ya?? “

Enark menatap Cain dengan matanya yang bersinar.

“… Ya, begitulah….”

Ia berpikir karena kini status walikotanya sudah ketahuan, dia tidak akan bisa santai lagi.

“Cain-oniichan itu walikota yang kuat dan baik…  Aku senang!”

Enark sangat bahagia mengetahui kenyataan ini. Mendengar itu, ekspresi Dashu dan Himika pun membeku.

“Cain-sama, walikota… Cain-sama adalah walikota…”

Dashu yang tampak kebingungan hanya mengucapkan kata-kata itu berulang-ulang.

 Karena tiba-tiba orang-orang disekitarnya mulai berlutut Caijnpun mulai berbicara.

“Aku minta maaf semuanya, karena datnag tiba-tiba, aku Cain von Silford Drintle, orang yang ditunjuk untuk menjadi walikota baru di sini… Maaf telah mebuat keributan disini.. Bangunlah, jangan khawatir… dan kalian juga bangun lah… aku tidak berniat menerapkan hukuman Lese Majeste pada kalian….”

Cain berbicara kepada para prajurit yang sujud. Mendengarkan kata-kata itu, para prajurit itu merasa lega dan mengangkat wajah mereka.

“Tapi mereka ini mabuk dan melakukan kekerasan terhadap anak ini… Jadi bisakah kalian memasukannya kedalam penjara gar mereka mau merenungkan diri… “

Cain mengatakan itu kepada para prajurit sambil membelai kepala Enark.

“Baik!! Semuanya!! Itu adalah perintah walikota, Silahkan bubar… Oy bawa orang-orang ini ke tahanan!! “

Dengan sepenggal kata dari sang kapten, yang tadinya kebulan berkumpul, dan tercengang melihat kemunculan walikota yang ternyata masih anak-anak, mereka pun segera berjalan pulang.

Para petualang yang tadinya menonton keluar toko pun, kembali masuk kedalam toko.

Para prajurit itu membungkuk kepada Cain dan membawa keempat orang pingsan itu.

Dan yang tersisa hanyalah Cain, Dashu, Himika dan Enark.

“Ah, steak minotaur nya dingin!!!”

Cain teringat bahwa dia tadi sedang makan steak lezat itu. Ia pun kembali ke toko dengan berlari. Enark mengejar Cain sambil berkata, “Tuungguu…”

Dashu dan Himika saling memandang dan mengangguk satu sama lain.

“Sepertinya walikota kali ini adalah orang yang baik…”

“Ya benar… ” Merekapun kembali ke toko sambil tersenyum.

 

Terima kasih telah berkunjung, Jangan lupa tinggalkan komentar anda....

Comments

13 responses to “Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 2 Chapter 29”

  1. Envy says:

    Next 🙂

  2. Mancha says:

    Uwuu.. Pendekk.. Hati ini jadi sedih.. Kudu nunggu seminggu lagii..
    Tapi gpp.. Moga aja minggu depan up ny panjang..
    Dan manteman yuk bantu translator kita dengan nge klik iklannya

  3. Himeko says:

    Mantap min…walaupun 2 chapter/minggu tapi tak apa,sing penting ada yang baru

    • KuroMage says:

      Terimakasih telah berkunjung… jangan lupa ffollow ig kita ya..
      agak susah megang komputer dari bulan ini… untung WFH hehe…

  4. Manusia says:

    Semangat min kerjanya

  5. Dane says:

    lanjut min (‘-‘)/

  6. Fernando says:

    Thanks min

  7. Yuu says:

    EA pada takut Aokwokwowkwok

  8. tharr says:

    mau ngeklik iklan tapi masih dibawah umur
    semangat min!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *