~

Anda sedang membaca Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 2 Chapter 31 di Kurozuku.

14 Apr 2020

Penerjemah : KuroMage

 

 

Tolong klik salah satu iklan ya….

“Pertama-tama, terkait gereja, mengapa anda menetapkan biaya untuk berdoa? Biasanya untuk berdoa ditetapkan biaya seikhlasnya bukanya ditentukan oleh anda… apalagi anda memasang harga 1 koin perak, bukan kah ini tterlalu mahal untuk masyarakat biasa? “

Hal yang pertama kali ia tanyakan kepada pendeta Stag adalah soal biaya untuk berdoa dan mendapatkan pengobatan yang terlalu mahal.

Menanggapi pertanyaan Cain, sang pendeta sama sekali tidak memasang wajah gentar dan menatap Cain sambil memegang kipas ditangannya.

“Viscount Cain, Terkait itu, hali ini dikarenakan tidak terlalu banyak yang berdoa di sini, paling-paling hanya kepala perusahaan atau semacamnya… maka dari itu mematok harga satu koin perak pun tidak masalah…  bahkan tergantung dari jenis perusahaannya mereka meninggalkan koin perak besar… sedangkan terkait masalah biaya pengobatan yang tinggi, di gereja ini tidak terlalu banyak orang yang bisa melakukan sihir penyembuhan… Jika pasien membludak kami tidak akan bisa menanganinya… jadi kami menetapkan harganya untuk menyeleksi pasien ini…”

Sang pendeta menjawab sambil mengipasi wajahnya yang berminyak.

“Bukankah akkan lebih baik jika anda menambah jumlah suster disini? Lagipula seharusnya tuan pendeta juga bisa menggunakan sihir pemulihan kan? Kota ini adalah kota petualang, pasti banyak yang membutuhkan sihir pemulihan… Bukankah lebih baik meminta bantuan dari gereja di ibukota? “

“Bahkan untuk meminta bantuan suster kepada gereja ibukota, itu membutuhkan biaya yang dibayarkan kepada mereka. Kami disini tidak mampu membayar itu… atau apakah Tuan Viscount mau menambahkan biaya subsidi kami?? “

Menanggapi pertanyaan Cain, Sang pendeta Stag, meminta uang lebih banyak dengan seringai di wajahnya.

“Kurasa pembicaraan ini tidak berguna ya… baik ukuran gedung ini maupun barang barang diruangan ini, semuanya banyak hal yang tidak dibutuhkan oleh gereja…. Kami mungkin akan menghentikan biaya subsidi untuk sementara. “

Cain menjawab langsung dddengan tegas. Biaya subsidi dikeluarkan bukan untuk membuat kehidupan sang pendeta bermewah-mewahan. Apalagi untuk menambah besar perut sang pendeta ini yang bahkan ditangannya banyak cincin perhiasan.

“Hmm… Kalau begitu apa boleh buat, aku akan menaikan lagi biaya untuk berdoa dan pengobatan… meskipun ini mungkin akan membuat masyarakat semakin tidk nyaman….”

Sang pendeta Stag, menjawab sambil tersenyum seolah tak peduli.

Cain pun yakin bahwasang pendeta tak ada niat untuk berubah.

“Baiklah, Aku paham pemikiran pendeta Stag…”

“Oh, anda layak menjadi Viscount, Cain-dono, kalau begitu subsidi sama seperti sebelumnya OK…”

“Tidak, dengan wewenangku sebagai walikota, aku akan membuat laporan kepada gereja di ibukota kerajaan. Minum-minum disiang hari, menarik biaya terlalu tinggi dari masyarakat. Kau tidak dibutuhkan dalam pengembangan kota yang kan ku lakukan. Kalau begitu aku permisi. “

Cain yang sangat tidak menerima pemikiran pendeta Stag pun memasang sikap melawan dan segera meninggalkan posisinya.

Sebaliknya, sang pendeta merasa panik mendengar akan dilaporkan ke ibukota. Tentunya ia paling paham bahwa segala hal akan merepotkan baginya jika sampai datang petugas inspeksi dari ibukota dan mengetahui ada yang salah disini.

Sampai saat ini ia masih bisa mengelabui mereka dengan sebatas catatan-catatan audit yang sudah dimanipulasi. Jika mereka sendir yang datang ke kota ini, mereka akan mudah mengeahui bahwa ada kesalahan disini. Dan dia mulai membayangkan kehidupan mewahnya akan runtuh.

“Viscount Cain, tunggu sebentar… “

Sang Pendeta memanggil dengan panik, namun Cain tetap melaju meninggalkan ruang tamu.

Sang pendeta hanya mampu menatap punggung Cain sambil gemetaran menggigit kuku nya dan bergumam.

“Dasar bocah… Jangan sombong lu… Oy… ada seseorang disana!? “

Salah satu ksatria gereja bergegas menghadap panggilan Stag.

“Pendeta, apakah anda memanggil ku?”

“Ya. Katakan kepada wakil ketua guild petualang Betty bahwa aku berkata, [Bulan malam ini hitam]. Dia akan mengerti maskudnya. “

“Baik”

Ksatria gereja itu membungkuk kepada pendeta lalu meninggalkan ruangan.

Cain yang langsung keluar dari gereja, melupakan bahwa dia juga ingin berdoa dan bertemu dengan para dewa.

“Yah aku buru-buru keluar sih… kalo balik lagi buat berdoa kan gak lucu.. nanti aja di ibukota deh lagipula aku jadi ada urusan disana…”

Dalam perjalanan kembali ke balaikota, Cain melihat-liht peandangan kota dan toko-toko disekitarnya lalu mampir ke guild petualang.

Ia ingin mengetahui kondisi perawatan saat ini.

Karena ia sedikit memutar jalan, ia membutuhkan waktu lebih lama ketimbang saat ia berangkat tadi.

Cain membuka pintu dan masuk kedalam.

Ketika ia masuk, seluruh pandangan terpusat padanya, naun seketika pandangan mereka dialihkan. Jika diperhatikkan, ada golongan orang yang kehilangan minatnya karena melhat anak kecil, dan ada juga yang ketakutan karena sudah mengenal sosok anak ini sewaktu pertama kali dia datang.

Ketika ia melihat kearah meja resepsionis, sepertinya memang banyak gadis cantik berbaris. Dan memang mereka cantik. Karena sang wakil ketua Betty tidak ada, jadi dia berbicara dengan resepsionis yang kosong.

“Permisi, Aku ingin bertemu dengan ketua guild Rixets…”

“Apakah anda sudah membuat janji? Biasanya ketua guild tiak ingin bertemu orang tanpa janji kecuali rank tinggi…”

Resepsionis menjawab pertanyaan Cain dengan formal.

“Aku belum mebuat janji, tapi jika kamu sebuttkan nama ku mungkin dia akan mengerti, namaku Cain…”

“Kalau begitu aku akan tanyakan pada ketua Guild… jika anda memiliki kartu guild silahkan perlihatkan…”

Cain menyerahkan kartu guild rank A yang bersinar keemasan pada resepsionis.

“Rank A??? Mohon maaf. Saya akan segera memberitahu ketua guild…”

Resepsionis itu terkejut melihat kenyataan bahwa anak kecil dihadapannya itu adalah petualang peringkat A, iapun langsung bergegas menuju ruangan guildmaster.

Tidak sampai satu menit, sang ketua guild datang dengan terburu-buru ke meja resepsionis.

“yahh Cain-sama, maaf membuat anda menunggu… Aku akan mengantarmu, silahkan lewat sini…”

“Terima kasih tentang minggu lalu, Rixets-dono, Aku belum membuat janji, tapi ada beberapa hal yang ingin aku diskusikan dengan mu, maaf atas ketidaknyamanan ini.”

Cain menyapa dan membungkuk kepada Rixets. Cain berjalan mengikuti arahan Rixets yang merasa agak gugup.

Ketika Cain sudah tidak terlihat, meja resepsionis pun memulai keributan.

“Apa-apaan anak kecil tadi???”

“Kupikir itu hanya anak yang imut, tapi ketua guild sampai sesopan itu…”

“Hei aura! Coba jelaskan!!! “

Yang ditanya adalah resepsionis yang berbicara dengan Cain tadi.

“Meskipun kau bilang begitu… aku cuma minta dia memperlihatkan kartu guild karena dia bilang mau ketemu ketua, pas aku tanya ketua guild, dia malah buru-buru kesini… Tapi aku gak nyangka anak seperti itu ternyata seorang peringkat A”

“Peringkat A???”

Bocah yang mereka anggap anak yang baru mendaftar, ternyata adalah seorang peringkat A. Tentu saja mereka kaget.

“Apa kira-kira dia suka yang lebih tua gak ya??”

“Duh lagi-lagi… “

“Bisa jadi peringkat A di usia segitu… “

“Jangan-jangan, pemata langka???”

Mata resepsionis itu semuanya bersinar seperti layaknya hewan karnivora yang melihat mangsanya.

Tanpa sepengetahuan Cain, ia sudah menjadi target dari gadis-gadis resepsionis.

Cain dipandu menuju keruang tamu dan duduk di sofa. Rixets yang duduk di hadapannya menunggu kata-kata Cain dengan gugup.

Salah satu resepsionis segera membawakan teh, namun entah kenapa ia mengedipkan matanya kepada Cain sebelum keluar rungan.

“Jadi, apa yang ingin anda bicarakan hari ini?? “

Rixets bertanya dengan nada khawatir.

“Hm. Begini, sebenarnya tadi aku ada masalh sedikit dengan gereja, jadi aku datang kesini untuk mendiskusikan hal itu.. “

“A-apa anda ingin mengancurkan gereja??? “

“Gak lah!!”

“—Maaf….”

Menghadapi kesalah pahaman Rixets, ia bertanya berbagai hal mengenai kondisi saat ini.

“Lagipula, banyak petualang di kota ini, dan beberapa dar mereka dapat menggunakan sihir [Heal]… tapi untuk [High Heal] hanya Pendeta dan suster kelas atas saja yang bisa menggunakannya… Karena itu membutuhkan satu keping emas, bagi petualang biasa itu tidak terjangkau… Jika mereka terluka dan tidak bisa di obati, maka mungkin mereka akan pensiun, bisa juga menjadi ketua guild seperti saya ini, tapi itu tentu tidak mudah… Sebagian besar mereka memilih tinggal di wilayah kumuh…”

Rixest pun sedikit mengeluh, jika harga sihir pemulihan lebih murah, mungkin petualang yang pensiun akan lebih sedikit.

“Kau telah berbicara dengan pendeta Stag terkait harga yang terlampau tinggi ini… dan terjadi ketidak sepahaman, jadi aku memutuskan untuk melaporkannya  ke gereja di ibukota kerajaan. Karena harganya terlalu mahal jika dibandingkan dengan kota-kota lain…. ”

Cain pun memberi tahu Rixets tentang ini.

“Oh pendeta mirim orc itu!? Sialan mau mewah-mewahan sendirian… “

Rixets pun sepertinya memiliki hubungan yang buruk dengan pendeta itu. Sepertinya mereka sering melakukan negosiasi harga dan ditolak.

“Ah iya, aku akan memberikan mu ini…”

Cain mengeluarkan sebuah kantung kecil dari saku dadanya. Didalamnya berisikan tiga koin platinum.

“Meskipun tidak banyak, aku memberikan bantuan untukbiaya perbaikan tempat latihan dari dana pribadiku. Tolong segera lakukan pemberesan pajak-pajak. Karena seorang ahli politik dalam kota akan segera datang ke kota ini, dan sesekali kita akan adakan audit jadi bersiaplah…”

“Waduh, maaf ya, saya mengucapkan terimakasih kepada anda… Terkait masalah keuangan, aku tidak terlalu mengerti, jadi aku melimpahkan semuanya pada Betty…”

Rixets tersenyum pahit, setelah memeriksa kantung yang berisi tiga koin platinum itu, ia menyimpannya baik-baik.

“Omong-omong, Hari ini aku tidak melihat Betty-san ya?? “

Cain penasaran  tentang Betty yang seharusnya selalu bersama dengan dia.

“Entahlah, tadi tiba-tiba ada orang yang datang mencarinya, setelah berbicara sebentar, dia bilang ‘aku ada urusan mendadak’ langsung keluar”

Menanggapi jawanam Rixets ini, Cain hanya mendengarkan tanpa mengkhawatirkannya.

Dan itu adalah awal dimulainya pertempuran.

Semoga bisa selesaikan volume 2 secepatnya.

Comments

9 responses to “Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 2 Chapter 31”

  1. Manusia says:

    Cepet banget up nya

  2. Dane says:

    lanjuut min (‘-‘)/

  3. Banana says:

    Wuuh nice lanjut min

  4. Salo says:

    Lanjut min…….

  5. Hideri says:

    Ditinggal beberapa hari dan udah up banyak, miminya emang paling mantappp ??
    Semangat terus min

  6. Kurogane says:

    Volume 2 ch 32 nya kagak bisa dibuka min
    Tolong diperbaiki dong please

  7. Yuu says:

    Ding Dong Pong

Leave a Reply to Yuu Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *