Vol.02 - Ch.40 ~ Pedagang budak

Anda sedang membaca Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 2 Chapter 40 di Kurozuku.

22 Apr 2020

Penerjemah : KuroMage

Selamat Membaca

Ketika kembali ke rumahnya di ibukota, Cain memberi tahu Collin sebelum akhirnya pergi tidur.

Dan keesokan paginya, Sambil menyantap sarapannya ia berbicara kepada Collin yang sedang berdiri di belakangnya.

“Collin, pedagang budak itu dimana ya? Aku perlu menjadikan para penjahat di drintle sebagai budak kriminal, jadi aku ingin berbicara dengan mereka terkait transportaasi dan sebagaiannya… Aku berencana mengunjungi mereka sepulang sekolah.”

“Cain-sama, jika anda bertanya tentang pedagang budak, maka yang terbaik adalah perusahaan Sandramar yang terletak tak jauh dari gerbang barat. “

“Baiklah, terimakasih… Aku akan mengunjunginya nanti sepulang sekolah.”

“Tidak, jika anda ingin mengunjungi pedagang budak, maka saya akan menjemput anda dengan kereta nanti, karena saya tahu tempatnya… Jika seorang bangsawan perg kesana, apalagi sendiran, akan menjadi gosip yang buruk, hal ini akan mencemari nama keluarga Silford… Mengingat Cain-sama akan menjadi keluarga kerajaan, pasti akan banyak bangsawan yang tidak menyukai anda… tolong lebih perhatikan posisi anda…”

Karena desakan yang penuh tekanan dari Collin ini, akhirnya diputuskan bahwa ia akan dijemput sepulang sekolah nanti.

Lalu setelah menyelesaikan sarapannya, Cain pun berangkat menuju ke sekolah. Bagi Cain, sekolah adalah satu satunya tempat dia bisa bersantai, apalagi berkat semua masalah ini, rencananya untuk datang ke Drintle setiap akhir pekan, berubah menjadi setiap pulang sekolah.

Jarak rumahnya ke sekolah hanya 15 menit, jadi dia ahnya berjalan sambil menikmati sinar menttari pagi. Ketika memasuki kelas, ia melihat dua sosok yang sangat akrab baginya.

“Selamat pagi, Cain-sama.”

“Pagi, Cain-kun”

Teles yang berambut pirang sebahu berhiaskan senyuman bak malaikat, dan Silk dengan rambut kecoklatan dengan gaya ponytail menyambut kedatangan Cain dengan gembira.

Terimakasih atas kesetiaan kalian untuk selalu menantikan kami……

“Selamat pagi. Teles, Silk….”

Ia pun melambaikan tangan kepada mereka berdua dan menyapanya.

“Cain-sama, sesekali bagaimana kalau kita minum teh bersama sepulang sekolah? Sepertinya akhir-akhir ini kamu terlalu sibuk dan mengabaikan kita…”

Cain menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan Teles.

“Maaf. Aku harus pergi ke pedagang budak sepulang sekolah nanti… besok mungkin kita baru bisa untuk minum teh…”

Mendengar kata ‘Budak’, Teles membayangkan kalau Cain ingin membeli seorang gadis cantik dan penuh gairah sebagai budak cinta.

“Ca—Cain-sama! Apa kamu berniat membeli gadis muda atau kakak-kakak cantik sebagai  budakmu??? Padahal kan kamu sudah punya aku!!!”

Teles menylahkan Cain dengan wajah memerah. Ia meremas kedua bahu Cain dan menguncang-guncangkannya dengan kuat. Cain sekarang mengerti apa maksud dari perkataan Collin.

“Tu-tunggu dulu… kenapa kamu menyimpulkan aku pasti membeli budak??? Kamu tahu soal penyerangan rumah walikota kemarin kan?? Aku berencana berbicara dengan pedagang budak untuk proses penjualan para penjahat itu sebagai budak kriminal… dan meminta dia mengambilnya di Drintle…”

Mendengar penjelasan Cain, Teles merasa sangat malu atas tindakannya, dan ia menutupi wajahnya yang memerah dan menahan air mata.

Melihat itu, Silk pun tertawa sambil menahan perutnya.

“Hahaha Teles ini… terlalu cepat mengambil kesimpulan…”

“Itu salah Cain-sama yang menggunakan kata-kata ambigu…”

Teres merengut, menggembungkan pipinya sambil mengalihkan mukanya, namun penampilannya tetap cantik.

“Teles yang lagi marah juga imut ya…”

Cain mengucapkan apa yang ada di hatinya. Mendengar itu, Wajah Teles tersipu malu dan kemarahannya mereda.

“Ngomong-omong, Cain-kun… Sebentar lagi liburan musim panas, apa rencanamu? Apakah kamu akan menghabiskan waktu di Drintle?? “

Silk bertanya kepada Cain yang sedang menatap Teles.

“Hmm untuk sementara memang itu rencana ku… Tugas ku di kota Drintle baru akan mulai… yah jika ada sesuatu aku akan segera kembali kesini…”

Terima kasih kepada para donatur yang baik hatinya…

“Aku dan Teles berencana pergi ke daerah Malvik seperti saat pertma kali kita bertemu… Karena aku sangat khawatir, aku berpikir untuk mengajakmu ikut… waktu itu kan kami selamat karena ada Cain-kun, kami jadi sedikit khawatir jika tidak ada kamu…”

Silk bertanya kepada Cain dengan wajah pasrah. Ia mengingat kembali pengalaman diserang sekumpulan Orc di tengah perjalanannya kembali ke Ibukota. Waktu itu memang kebetulan ada Cain, tapi berikutnya belum tentu. Bagi Cain, ia ingin menjaga kedua tunagannya itu agar selalu aman.

“Mungkin tidak segera, tapi akan kupastikan kalian dapat pergi dengan aman… Meskipun kita tidak bisa pergi bersama, aku akan datang kesana nanti dan kita akan bertemu disana…”

Sebenarnya langkah teraman adalah sekali pergi dengan cepat ke daerah Malvik, lalu kembali keibukota dengan sihir [Transfer] lalu membawa kembali mereka ke dareah Malvik dalam sekejap.

Namun, bagi seorang bangsawan, perlu untuk memberikan uang sumbangan kepada wilayah yang dilewatinya untuk memakmurkan daerah tersebut. Apalagi untuk seorang anak Duke dan putri raja, ia perlu memperhatikan daerah yang dilaluinya.

Kelas sore ini adalah kelas peralatan sihir, karena itu Cain memutuskan untuk mebuat sebuah peralatan sihir yang mampu untuk menjamin keselamatan mereka.

Dan pelajaran hari ini pun berlanjut hingga kelas sore pun tiba. Dikelas peralatan sihir, biasanya adalah penjelasan mengenai teori serta cara membuat suatu alat sihir. Untuk membuat sendiri peralatan sihir, baru boleh dilakukan di kelas senior.

“——Begitulah… Jadi dengan memasukan sihir kedalam Magic stone dan mengukirnya, kalian bisa membuat Magic stone itu untuk bisa mengaktifkan sihir yang telah terukir di dalamnya—“

“—-Itu dia!! “

Cain yang sedari tadi terus memikirkan cara untuk melindungi mereka berdua dan tidak menemukan jawabanya, dengan penjelasan dari guru tadi dia pun merasa tercerahkan, dan tanpa sengaja dia menyuarakannya.

“Cain-kun, ada apa?”

Serina, sang guru yang bertanggung jawab atas kelas peralatan sihir bertanya kepadanya.

Ketika ia memperhatikan sekitar, Cain sadar bahwa semua mata terpusat pada dirinya yang tiba-tiba berdiri dan berteriak.

“Tidak apa-apa, maaf… berkat penjelasan dari Ibu guru tadi aku jadi mendapatkan ide tentang alat sihir yang ingin aku buat…”

Cain membungkuk dan kembali duduk.

“Hmm.. Begitu ya… Tapi aku dengar kamu ini sering berlebihan… tolong jangan buat benda yang membuat masalah pada orang lain ya…”

“Aku mengerti.. Aku akan berhati-hati.”

Kelas pun dilanjutkan, dan Cain telah memutuskan dalam benaknya peralatan sihir macam apa yang akan ia buat untuk Teles dan Silk.

Kelaspun berakhir, iapun dengan cepat bersiap-siap untuk pulang. Setelah berpamitan pada Teles dan Silk serta teman-teman lain, iapun meninggalkan sekolah. Cain mengesampingkan dulu soal alat sihir yang akan ia buat, dan naik kedalam kereta bersama Collin yang telah menjemputnya.

Dari distrik bangsawan ia terlus menelusuri distrik umum dan memasuki sebuah gang di dekat gerbang barat. Collin pun menyampaikan bahwa mereka sudah sampai, lalu Cain pun turun dari kereta dan melihat sebuah bangunan yang terletak di sebuah gang yang agak sepi.

Bangunan itu adalah sebuah bangunan berlantai tiga  dan memiliki Papan nama bertuliskan Perusahaan Sandramar.

Collin membuka pintu terlebih dahulu, lalu mereka berdua pun masuk. Cain yang masih dalam pakaian sekolahnya masuk tanpa terlalu merasa khawatir.

“Selamat datang!”

Berbarengan dengan masuknya Cain kedalam toko, terdengar suara lelaki tua mengenakan seragam pelayan yang menyambut dirinya.

Meskipun ia melihat sosok Cain yang masih anak-anak, pria itu tidak mengubah perilakunya dan justru menyapa Cain dengan hormat.

“Selamat datang di perusahaan saya, Tuan Silford… Apa yang anda butuhkan hari ini? “

Cain agak heran melihat sikap orang itu kepada seorang anak kecil seperti dirinya, apalagi ia tahu nama Cain.

“Kau tahu namaku?”

“Aku berbisnis disini, jadi aku selalu mencari iinformasi yang terjadi disini… Anda mengalahkan para mosnter dan menyelamatkan tuan putri pada usia lima tahun dan menjadi Viscount di usia 10 tahun.. di ibukota sangat jarang yang dapat prestasi seperti itu… Maafkan atas kelancangan saya, saya adalah Sandramar, pemilik perusahaan ini… mohon kerjasamanya… “

Cain terkejut mendengar priya yang ia anggap seorang resepsionis ternyata adalah pemilik perusahaan ini.

“Sepertinya anda terkejut aku mau repot-repot menyambut anda… Aku ini berbisnis dengan melihat-lihat siapa lawan bisnis ku… Aku tidak akan menjual budak kepada sembarang orang… Aku menilainya apakah aku bisa menjual budak kepada nya… Maafkan aku atas kelancangan ini…”

Cain tertarik dengan cara berbisnis seperti itu. Jika budak dijual kepada orang bermasalah, nasib budak tersebut akan menjadi sangat buruk. Maka dari itu sang ketua perusahaan ini mau repot repot menyambut orang yang datang. Pantas saja Collin menyaran kan tempat ini.

“Tuan Silford, pertama-tama silahkan masuk ke ruang tamu dulu… Seseorang! Gantikan aku di meja resepsionis! “

Seorang petugas pun keluar dari bagian dalam toko. Sandramar pun mengantar Cain menuju ke ruang pertemuan. Cain duduk di sofa dan Sandramar pun juga ikut duduk di sebrangnya.

“Begini, Aku menangkap puluhan orang penjahat di kota Drintle yang aku perintah… dan aku akan menjadikan mereka sebagai budak kriminal, untuk itu aku datang kemari…”

“Budak kriminal ya… Kegunaan budak kriminal itu terbatas, jadi kami tidak bisa mengenakan harga yang tinggi, apa tidak apa-apa? Umumnya untuk seorang budak kriminal dihargai 3 koin silver… tentunya bagian tubuhnya harus lah lengkap, kami tidak bisa membawa budak yang tidak memiliki kaki dan tangan”

“Aku setuju. Ada juga empat orang petualang peringkat A.. aku tidak bisa menjelaskan detailnya, tapi mereka ada sekitar lima puluh orang…”

“Sebanyak itu ya…Transpotasi dari Drintle akan ditanggung oleh kami… Untuk petualang rank A, aku akan menghargainya satu koin emas… sedangkan yang lainnya tiga koin perak per orang nya, bagaimana? “

“Tidak masalah. Aku ingin kau mengambilnya segera, karena jumlahnya sangat banyak penjara akan kerepotan mengurus mereka…”

“Baiklah, minggu ini juga aku akan kesana dan membawanya… dan saat itulah aku membawa lembar perjanjiannya…”

Cain dan Sandaramar bangkit lalu berjabat tangan.

“Tuan Silford, selagi disini maukah Anda melihat-lihat koleksi budak kami?? Sepertinya jika bukan karena masalah inii, anda akan jarang untuk datang kesini…”

Cain tidak berniat untuk membeli, namun karena pengetahuan dari dunia sebelumnya, ia agak tertarik melihat budak.

“Kalau begitu izinkan aku melihat-lihat sebentar…”

Dengan panduan dari Sandramar, mereka dibimbing memasuki ruangan para budak. Tentunya ruangan itu terkunci dengan sebuah celah agar kita bisa melihat sedikit kedalam. Didalam ada barisan tempat tidur yang terlihat rapi, dan banyak ras manusia dengan pakaian yang rapi dan bersih.

Kamar-kamar pria dan wanita terpisah, dan mereka makan dengan teratur, serta tidak ada budak yang kurus dan sakit.

“Meskipun wajah mereka agak suram, namun tampaknya mereka diberi makan secara teratur ya… Semuanya tampak sehat dan tidak terlalu putus asa…”

“Bagi kami mereka adalah barang dagangan yang berharga.. kami tidak akan bisa menjual yang tidak sehat, jadi kami harus merawatnya dengan baik… dilantai ini kebanyakan adalah budak karena hutang, seperti gagal dalam menjalankan usaha atau semacamnya… Kami pun  juga mengajari budak yang tidak dapat membaca, berkat itu kami sedikit memiliki reputasi disini…”

Ketika ia menaiki tangga lagi, ada ruangan berisi budak dari ras beastmen. Ada berbagai ras seperti ras anjing, ras kucing dan ras beruang.

“Keanyakan dari mereka dijual kemari ketika hasil panen mereka sedang sedikit… karena kebanyakan budak kriminal langsung dikirim ke tambang dan pekerjaan lain, jadi disini tidak ada budak kriminal… “

Ditengah mendengar pembicaraan itu, Cain merasakan ada sesuatu yang menarik perhatiannya dari balik pintu di bagian dalam, ketika ia menggunakan [Search] ia menemukan keberadaan yang menarik perhatiannya.

“Tuan Sandaramar, aku ingin melihat ke dalam situ…”

“—-di dalam ya… kurasa itu bukanlah sesuatu yang harus dilihat oleh Tuan Silford… didalam ini ada dua orang gadis budak yang mengalami kecelakaan saat proses pemindahan, dan tubuhnya mengalami cacat…”

“Tidak apa-apa. Tolong tunjukkan padaku.”

Cain dipandu memasuki ruangan yang menarik perhatiannya.

Ada dua orang gadis yang berbeda usia duduk di tempat tidur. Usianya sekitar 10 tahun dan 15 tahun. Keduanya memiliki rambut hitam dengan telinga rubah berwarna putih, terlihat seperti kakak beradik… gadis yang lebih tua tidak memiliki kaki, sedangkan sang adik hanya memiliki lengan kiri.

Mereka berdua mengambil pose saling melindungi dengan wajah yang sangat memprihatinkan. Ketika Cain memasuki ruangan, sekilas mereka melihat ke arah Cain dan kemudian kembali melihat kebawah.

“Mereka berdua ini kenapa?? “

Ketika Cain bertanya, Sandramar agak terlihat kebingungan sebelum akhirnya dia menjawab.

“Mereka berdua ini adalah kakak beradik ras rubah putih yang dikatakan membawa kemalangan bagi ras rubah lainnya, karena itu mereka dijual oleh desa mereka kepada pedagang budak, namun dalam perjalanan nya, kelompok pedagang budak itu diserang oleh monster, dan menggunakan mereka berdua sebagai umpan agar pedagang budak itu bisa melarikan diri… dan kudengar inilah yang mereka dapatkan dari penyerangan itu… Kebetulan saat itu kereta perusahaan kami lewat, sehingga petualang yang mengawal kereta itu mampu membasmi mosnter yang menyerang dan menyelamatkan mereka berdua lalu membawa mereka kemari. Meskipun mereka cacat, sang kakak memiliki beberapa pengetahuan, jadi mereka tinggal disini…”

“—– Tolong berikan mereka berdua padaku… “

Cain mengatakan itu sambil tetap menatap kearah kakak beradik itu.

 

Ketika kembali ke rumahnya di ibukota, Cain memberi tahu Collin sebelum akhirnya pergi tidur.

Dan keesokan paginya, Sambil menyantap sarapannya ia berbicara kepada Collin yang sedang berdiri di belakangnya.

“Collin, pedagang budak itu dimana ya? Aku perlu menjadikan para penjahat di drintle sebagai budak kriminal, jadi aku ingin berbicara dengan mereka terkait transportaasi dan sebagaiannya… Aku berencana mengunjungi mereka sepulang sekolah.”

“Cain-sama, jika anda bertanya tentang pedagang budak, maka yang terbaik adalah perusahaan Sandramar yang terletak tak jauh dari gerbang barat. “

“Baiklah, terimakasih… Aku akan mengunjunginya nanti sepulang sekolah.”

“Tidak, jika anda ingin mengunjungi pedagang budak, maka saya akan menjemput anda dengan kereta nanti, karena saya tahu tempatnya… Jika seorang bangsawan perg kesana, apalagi sendiran, akan menjadi gosip yang buruk, hal ini akan mencemari nama keluarga Silford… Mengingat Cain-sama akan menjadi keluarga kerajaan, pasti akan banyak bangsawan yang tidak menyukai anda… tolong lebih perhatikan posisi anda…”

Karena desakan yang penuh tekanan dari Collin ini, akhirnya diputuskan bahwa ia akan dijemput sepulang sekolah nanti.

Lalu setelah menyelesaikan sarapannya, Cain pun berangkat menuju ke sekolah. Bagi Cain, sekolah adalah satu satunya tempat dia bisa bersantai, apalagi berkat semua masalah ini, rencananya untuk datang ke Drintle setiap akhir pekan, berubah menjadi setiap pulang sekolah.

Jarak rumahnya ke sekolah hanya 15 menit, jadi dia ahnya berjalan sambil menikmati sinar menttari pagi. Ketika memasuki kelas, ia melihat dua sosok yang sangat akrab baginya.

“Selamat pagi, Cain-sama.”

“Pagi, Cain-kun”

Teles yang berambut pirang sebahu berhiaskan senyuman bak malaikat, dan Silk dengan rambut kecoklatan dengan gaya ponytail menyambut kedatangan Cain dengan gembira.

Terimakasih atas kesetiaan kalian untuk selalu menantikan kami……

“Selamat pagi. Teles, Silk….”

Ia pun melambaikan tangan kepada mereka berdua dan menyapanya.

“Cain-sama, sesekali bagaimana kalau kita minum teh bersama sepulang sekolah? Sepertinya akhir-akhir ini kamu terlalu sibuk dan mengabaikan kita…”

Cain menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan Teles.

“Maaf. Aku harus pergi ke pedagang budak sepulang sekolah nanti… besok mungkin kita baru bisa untuk minum teh…”

Mendengar kata ‘Budak’, Teles membayangkan kalau Cain ingin membeli seorang gadis cantik dan penuh gairah sebagai budak cinta.

“Ca—Cain-sama! Apa kamu berniat membeli gadis muda atau kakak-kakak cantik sebagai  budakmu??? Padahal kan kamu sudah punya aku!!!”

Teles menylahkan Cain dengan wajah memerah. Ia meremas kedua bahu Cain dan menguncang-guncangkannya dengan kuat. Cain sekarang mengerti apa maksud dari perkataan Collin.

“Tu-tunggu dulu… kenapa kamu menyimpulkan aku pasti membeli budak??? Kamu tahu soal penyerangan rumah walikota kemarin kan?? Aku berencana berbicara dengan pedagang budak untuk proses penjualan para penjahat itu sebagai budak kriminal… dan meminta dia mengambilnya di Drintle…”

Mendengar penjelasan Cain, Teles merasa sangat malu atas tindakannya, dan ia menutupi wajahnya yang memerah dan menahan air mata.

Melihat itu, Silk pun tertawa sambil menahan perutnya.

“Hahaha Teles ini… terlalu cepat mengambil kesimpulan…”

“Itu salah Cain-sama yang menggunakan kata-kata ambigu…”

Teres merengut, menggembungkan pipinya sambil mengalihkan mukanya, namun penampilannya tetap cantik.

“Teles yang lagi marah juga imut ya…”

Cain mengucapkan apa yang ada di hatinya. Mendengar itu, Wajah Teles tersipu malu dan kemarahannya mereda.

“Ngomong-omong, Cain-kun… Sebentar lagi liburan musim panas, apa rencanamu? Apakah kamu akan menghabiskan waktu di Drintle?? “

Silk bertanya kepada Cain yang sedang menatap Teles.

“Hmm untuk sementara memang itu rencana ku… Tugas ku di kota Drintle baru akan mulai… yah jika ada sesuatu aku akan segera kembali kesini…”

Terima kasih kepada para donatur yang baik hatinya…

“Aku dan Teles berencana pergi ke daerah Malvik seperti saat pertma kali kita bertemu… Karena aku sangat khawatir, aku berpikir untuk mengajakmu ikut… waktu itu kan kami selamat karena ada Cain-kun, kami jadi sedikit khawatir jika tidak ada kamu…”

Silk bertanya kepada Cain dengan wajah pasrah. Ia mengingat kembali pengalaman diserang sekumpulan Orc di tengah perjalanannya kembali ke Ibukota. Waktu itu memang kebetulan ada Cain, tapi berikutnya belum tentu. Bagi Cain, ia ingin menjaga kedua tunagannya itu agar selalu aman.

“Mungkin tidak segera, tapi akan kupastikan kalian dapat pergi dengan aman… Meskipun kita tidak bisa pergi bersama, aku akan datang kesana nanti dan kita akan bertemu disana…”

Sebenarnya langkah teraman adalah sekali pergi dengan cepat ke daerah Malvik, lalu kembali keibukota dengan sihir [Transfer] lalu membawa kembali mereka ke dareah Malvik dalam sekejap.

Namun, bagi seorang bangsawan, perlu untuk memberikan uang sumbangan kepada wilayah yang dilewatinya untuk memakmurkan daerah tersebut. Apalagi untuk seorang anak Duke dan putri raja, ia perlu memperhatikan daerah yang dilaluinya.

Kelas sore ini adalah kelas peralatan sihir, karena itu Cain memutuskan untuk mebuat sebuah peralatan sihir yang mampu untuk menjamin keselamatan mereka.

Dan pelajaran hari ini pun berlanjut hingga kelas sore pun tiba. Dikelas peralatan sihir, biasanya adalah penjelasan mengenai teori serta cara membuat suatu alat sihir. Untuk membuat sendiri peralatan sihir, baru boleh dilakukan di kelas senior.

“——Begitulah… Jadi dengan memasukan sihir kedalam Magic stone dan mengukirnya, kalian bisa membuat Magic stone itu untuk bisa mengaktifkan sihir yang telah terukir di dalamnya—“

“—-Itu dia!! “

Cain yang sedari tadi terus memikirkan cara untuk melindungi mereka berdua dan tidak menemukan jawabanya, dengan penjelasan dari guru tadi dia pun merasa tercerahkan, dan tanpa sengaja dia menyuarakannya.

“Cain-kun, ada apa?”

Serina, sang guru yang bertanggung jawab atas kelas peralatan sihir bertanya kepadanya.

Ketika ia memperhatikan sekitar, Cain sadar bahwa semua mata terpusat pada dirinya yang tiba-tiba berdiri dan berteriak.

“Tidak apa-apa, maaf… berkat penjelasan dari Ibu guru tadi aku jadi mendapatkan ide tentang alat sihir yang ingin aku buat…”

Cain membungkuk dan kembali duduk.

“Hmm.. Begitu ya… Tapi aku dengar kamu ini sering berlebihan… tolong jangan buat benda yang membuat masalah pada orang lain ya…”

“Aku mengerti.. Aku akan berhati-hati.”

Kelas pun dilanjutkan, dan Cain telah memutuskan dalam benaknya peralatan sihir macam apa yang akan ia buat untuk Teles dan Silk.

Kelaspun berakhir, iapun dengan cepat bersiap-siap untuk pulang. Setelah berpamitan pada Teles dan Silk serta teman-teman lain, iapun meninggalkan sekolah. Cain mengesampingkan dulu soal alat sihir yang akan ia buat, dan naik kedalam kereta bersama Collin yang telah menjemputnya.

Dari distrik bangsawan ia terlus menelusuri distrik umum dan memasuki sebuah gang di dekat gerbang barat. Collin pun menyampaikan bahwa mereka sudah sampai, lalu Cain pun turun dari kereta dan melihat sebuah bangunan yang terletak di sebuah gang yang agak sepi.

Bangunan itu adalah sebuah bangunan berlantai tiga  dan memiliki Papan nama bertuliskan Perusahaan Sandramar.

Collin membuka pintu terlebih dahulu, lalu mereka berdua pun masuk. Cain yang masih dalam pakaian sekolahnya masuk tanpa terlalu merasa khawatir.

“Selamat datang!”

Berbarengan dengan masuknya Cain kedalam toko, terdengar suara lelaki tua mengenakan seragam pelayan yang menyambut dirinya.

Meskipun ia melihat sosok Cain yang masih anak-anak, pria itu tidak mengubah perilakunya dan justru menyapa Cain dengan hormat.

“Selamat datang di perusahaan saya, Tuan Silford… Apa yang anda butuhkan hari ini? “

Cain agak heran melihat sikap orang itu kepada seorang anak kecil seperti dirinya, apalagi ia tahu nama Cain.

“Kau tahu namaku?”

“Aku berbisnis disini, jadi aku selalu mencari iinformasi yang terjadi disini… Anda mengalahkan para mosnter dan menyelamatkan tuan putri pada usia lima tahun dan menjadi Viscount di usia 10 tahun.. di ibukota sangat jarang yang dapat prestasi seperti itu… Maafkan atas kelancangan saya, saya adalah Sandramar, pemilik perusahaan ini… mohon kerjasamanya… “

Cain terkejut mendengar priya yang ia anggap seorang resepsionis ternyata adalah pemilik perusahaan ini.

“Sepertinya anda terkejut aku mau repot-repot menyambut anda… Aku ini berbisnis dengan melihat-lihat siapa lawan bisnis ku… Aku tidak akan menjual budak kepada sembarang orang… Aku menilainya apakah aku bisa menjual budak kepada nya… Maafkan aku atas kelancangan ini…”

Cain tertarik dengan cara berbisnis seperti itu. Jika budak dijual kepada orang bermasalah, nasib budak tersebut akan menjadi sangat buruk. Maka dari itu sang ketua perusahaan ini mau repot repot menyambut orang yang datang. Pantas saja Collin menyaran kan tempat ini.

“Tuan Silford, pertama-tama silahkan masuk ke ruang tamu dulu… Seseorang! Gantikan aku di meja resepsionis! “

Seorang petugas pun keluar dari bagian dalam toko. Sandramar pun mengantar Cain menuju ke ruang pertemuan. Cain duduk di sofa dan Sandramar pun juga ikut duduk di sebrangnya.

“Begini, Aku menangkap puluhan orang penjahat di kota Drintle yang aku perintah… dan aku akan menjadikan mereka sebagai budak kriminal, untuk itu aku datang kemari…”

“Budak kriminal ya… Kegunaan budak kriminal itu terbatas, jadi kami tidak bisa mengenakan harga yang tinggi, apa tidak apa-apa? Umumnya untuk seorang budak kriminal dihargai 3 koin silver… tentunya bagian tubuhnya harus lah lengkap, kami tidak bisa membawa budak yang tidak memiliki kaki dan tangan”

“Aku setuju. Ada juga empat orang petualang peringkat A.. aku tidak bisa menjelaskan detailnya, tapi mereka ada sekitar lima puluh orang…”

“Sebanyak itu ya…Transpotasi dari Drintle akan ditanggung oleh kami… Untuk petualang rank A, aku akan menghargainya satu koin emas… sedangkan yang lainnya tiga koin perak per orang nya, bagaimana? “

“Tidak masalah. Aku ingin kau mengambilnya segera, karena jumlahnya sangat banyak penjara akan kerepotan mengurus mereka…”

“Baiklah, minggu ini juga aku akan kesana dan membawanya… dan saat itulah aku membawa lembar perjanjiannya…”

Cain dan Sandaramar bangkit lalu berjabat tangan.

“Tuan Silford, selagi disini maukah Anda melihat-lihat koleksi budak kami?? Sepertinya jika bukan karena masalah inii, anda akan jarang untuk datang kesini…”

Cain tidak berniat untuk membeli, namun karena pengetahuan dari dunia sebelumnya, ia agak tertarik melihat budak.

“Kalau begitu izinkan aku melihat-lihat sebentar…”

Dengan panduan dari Sandramar, mereka dibimbing memasuki ruangan para budak. Tentunya ruangan itu terkunci dengan sebuah celah agar kita bisa melihat sedikit kedalam. Didalam ada barisan tempat tidur yang terlihat rapi, dan banyak ras manusia dengan pakaian yang rapi dan bersih.

Kamar-kamar pria dan wanita terpisah, dan mereka makan dengan teratur, serta tidak ada budak yang kurus dan sakit.

“Meskipun wajah mereka agak suram, namun tampaknya mereka diberi makan secara teratur ya… Semuanya tampak sehat dan tidak terlalu putus asa…”

“Bagi kami mereka adalah barang dagangan yang berharga.. kami tidak akan bisa menjual yang tidak sehat, jadi kami harus merawatnya dengan baik… dilantai ini kebanyakan adalah budak karena hutang, seperti gagal dalam menjalankan usaha atau semacamnya… Kami pun  juga mengajari budak yang tidak dapat membaca, berkat itu kami sedikit memiliki reputasi disini…”

Ketika ia menaiki tangga lagi, ada ruangan berisi budak dari ras beastmen. Ada berbagai ras seperti ras anjing, ras kucing dan ras beruang.

“Keanyakan dari mereka dijual kemari ketika hasil panen mereka sedang sedikit… karena kebanyakan budak kriminal langsung dikirim ke tambang dan pekerjaan lain, jadi disini tidak ada budak kriminal… “

Ditengah mendengar pembicaraan itu, Cain merasakan ada sesuatu yang menarik perhatiannya dari balik pintu di bagian dalam, ketika ia menggunakan [Search] ia menemukan keberadaan yang menarik perhatiannya.

“Tuan Sandaramar, aku ingin melihat ke dalam situ…”

“—-di dalam ya… kurasa itu bukanlah sesuatu yang harus dilihat oleh Tuan Silford… didalam ini ada dua orang gadis budak yang mengalami kecelakaan saat proses pemindahan, dan tubuhnya mengalami cacat…”

“Tidak apa-apa. Tolong tunjukkan padaku.”

Cain dipandu memasuki ruangan yang menarik perhatiannya.

Ada dua orang gadis yang berbeda usia duduk di tempat tidur. Usianya sekitar 10 tahun dan 15 tahun. Keduanya memiliki rambut hitam dengan telinga rubah berwarna putih, terlihat seperti kakak beradik… gadis yang lebih tua tidak memiliki kaki, sedangkan sang adik hanya memiliki lengan kiri.

Mereka berdua mengambil pose saling melindungi dengan wajah yang sangat memprihatinkan. Ketika Cain memasuki ruangan, sekilas mereka melihat ke arah Cain dan kemudian kembali melihat kebawah.

“Mereka berdua ini kenapa?? “

Ketika Cain bertanya, Sandramar agak terlihat kebingungan sebelum akhirnya dia menjawab.

“Mereka berdua ini adalah kakak beradik ras rubah putih yang dikatakan membawa kemalangan bagi ras rubah lainnya, karena itu mereka dijual oleh desa mereka kepada pedagang budak, namun dalam perjalanan nya, kelompok pedagang budak itu diserang oleh monster, dan menggunakan mereka berdua sebagai umpan agar pedagang budak itu bisa melarikan diri… dan kudengar inilah yang mereka dapatkan dari penyerangan itu… Kebetulan saat itu kereta perusahaan kami lewat, sehingga petualang yang mengawal kereta itu mampu membasmi mosnter yang menyerang dan menyelamatkan mereka berdua lalu membawa mereka kemari. Meskipun mereka cacat, sang kakak memiliki beberapa pengetahuan, jadi mereka tinggal disini…”

“—– Tolong berikan mereka berdua padaku… “

Cain mengatakan itu sambil tetap menatap kearah kakak beradik itu.

 

Terima kasih telah berkunjung, Jangan lupa tinggalkan komentar anda....

Comments

15 responses to “Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 2 Chapter 40”

  1. Xeryus says:

    mantap min langsung 2 chapter, tetap semangat terus min

  2. XANDER says:

    Next min tetep semangat update tlnya bagus sekali di banding di wattad yg ancur ampe pusing bacanya

  3. Yusuf says:

    Langsung 2 chapter dong…. semangat min

  4. Will says:

    Nany pokoknya min next teroz :v

  5. Tukang iseng says:

    Gas ae lah min

  6. Arif P says:

    Makasih doble updatenya min ?

  7. Hideri says:

    Halahh cain ngapa malah minta budak, ntar teles ngambek ?

  8. Dg_Sean says:

    Akhirnya.. Pertahankan min, saya hari 2 chapter. Thanks banyak min. Semangat ya ??

  9. Zirco says:

    Awalnya gw pikir di chapter ini si pedagang budak punya sifat jelek, soalnya gw baca di terjemahan yg versi mesin translate an gitu, ternyata di chapter ini si pedagang budak gak punya sisi jelek, malah sama budaknya bersikap baik wkwk, mantul lah terjemahannyaaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *