Vol.02 - Ch.41 ~ Rubah putih bersaudara

Anda sedang membaca Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 2 Chapter 41 di Kurozuku.

23 Apr 2020

Penerjemah : KuroMage

Selamat Membaca!!

Cain terus memperhatikan kedua bersaudara yang cacat itu.

Collin pun terkejut dengan ucapan Cain yang diluar dugaan. Sandramar juga terkejut dengan pernyataan Cain yang mengatakan ingin membeli kedua bersaudara yang cacat itu.

Dan bahkan kedua bersaudara itulah yang paling terkejut. Sang kakak tidak mampu berdiri, sedangkan adik baru berusia 10 tahun dan hanya memiliki sebelah tangan. Dan di hadapan mereka kini, seorang anak bangsawan mengatakan ingin membeli mereka.

“Cain-sama! Anda terlalu tiba-tiba memutuskannya… Lagipula anak-anak ini sudah kehilangan anggota tubuh mereka…”

“Tidak apa-apa… Aku sudah memutuskannya…”

Cain menjawab tanpa sedikitpun menoleh ke arah Collin, dan tetap memperhatikan kedua gadis itu.

“—Ba-baik.. aku mengerti..”

Collin berusaha memahami tindakan Cain yang di luar akal sehat ini. Dia pun menyakinkan dalam dirinya pasti Cain memiliki pertimbangan tersendiri.

“Tuan Silford, apa anda yakin?? “

Sandramar mengkonfirmasi keinginannya ini dari sampingnya. Wajar sebagai pemilik perusahaan pedagang budak, dia mengkhawatirkan Cain yang ingin membeli budak cacat.

“Ya… tapi sebelum itu, bisakah aku berbicara dengan mereka? “

Cain bertanya pada Sandramar sambil pandangannya menjelajahi ruangan itu.

Sandramar menyetujuinya dan mengambil kunci dari sakunya unuk membuka pintu itu.

Ketika pintu dibuka, terlihat raut wajah gugup pada kedua bersaudara itu.

“Silahkan… Kalau anda berkenan, anda bisa menentukkan kembali setelah berbicara dengan mereka…”

Cain melewati pintu dan memasuki ruangan itu. Kedua bersaudara itu terkejut dengan tingkah Cain dan bahu mereka mulai gemetaran. Sang kakak mendekap adiknya seolah akan melindunginya sambil tetap menatap Cain.

Terimakasih atas kesetiaan kalian untuk selalu menantikan kami……

Cain berjalan perlahan mendekati kedua saudara itu, dan berdiri di dekat mereka. Iapun berjongkok untuk menyetarakan pandangan mereka dan mulai bicara sambil tersenyum.

Tampaknya mereka ketakutan dengan tingkah Cain. Anak yang mereka kira bangsawan mau repot-repot berjongkok untuk menyetarakan pandangan mereka dan tersenyum.

“Kalian berdua, apa kalian ingin tinggal di rumahku? Kalian tidak usah mengkhawatirkan keterbatasaan tubuh kalian ini… aku ingin kalian berdua tinggal bersama di rumah ku…”

Mendengar pertanyaan Cain ini, kedua rubah putih bersaudara ini menatap wajah Cain, dan menghadapi senyum tulus dari Cain, lalu mereka mengangguk dengan lembut.

“Terimakasih kalian sudah mau menyetujuinya… “

Mendengar kata-kata lembut dari cain, mereka berdua sedikit merasa lega.

“Bisakah kalian tunggu sebentar? Aku akan menyelesaikan kontrak dahulu… setelah itu mari kita pulang bersama-sama…”

Setelah mengatakan itu, Cain berbalik dan kemudian meninggalkan ruangan.

“Tuan Silford, apakah Anda benar-benar yakin?”

“Ya, Tidak masalah… Apakah anda bisa menyiapkannya sehingga aku bisa membawanya hari ini juga? “

“Ya, tentu saja. Aku akan segera menyiapkannya. Aku akan menyiapkan kontraknya, jadi aku akan mengantar anda ke ruang tamu lagi…”

Cain dan Collin berjalan mengikuti Sandramar melewati ruangan penyimpanan budak dan kembali menuju ke ruang pertemuan.

Sandaramar memerintahkan kepada pegawainya menyiapkan kedua rubah bersaudara itu, lalu ia mulai menyusun kontrak.

Di kerajaan ini, budak akan terikat dengan kontrak yang di sepakati bersama. Kontrak memerlukan persetujuan ketiga belah pihak, yaitu budak, pedagang budak, serta pembuat kontrak.

Di tempat pedagang budak, ada tempat suci yang digunakan untuk mempersembahkan kontrak mereka kepada dewa setelah mereka membuat kontrak, dan dikatakan kontrak itu akan dijaga oleh para dewa. Namun hal ini tidak berlaku bagi budak kriminal.

Terima kasih kepada para donatur yang baik hatinya…

“Tuan Silford, memang status keberadaan kedua bersaudara itu di sini hanya sekedar melindungi mereka, jadi aku tidak bisa memberikan harga pembelian, namun mereka telah menghabiskan waktu selama dua tahun di sini… hal ini membutuhkan biaya penndidikan serta biaya makan mereka, jadi anda hanya akan dikenakan biaya penggantian atas ini… jika dijumlah maka akan jadi sekitar dua koin emas dan empat koin silver besar, apa anda bersedia? “

“Ya, tidak masalah… Justru sebaliknya, bukankah itu akan merugikanmu?? “

Cain beranggapan bahwa penawaran dari Sandaramar ini justru akan merugikan bagi dirinya sendiri.

“Aku tidak keberatan… Mereka tidak akan berubah meskipun mereka tinggal di sini… sedangakan tadi aku melihat wajah mereka sedikit melembut melihat anda… aku bepikir pasti Tuan Silford akan melakukan sesuatu pada mereka…”

Sandramar menyerahkan kontrak yang telah disusunya kepada Cain. Setelah mengkonfirmasi isinya, ia memberikan kontrak itu kepada Collin untuk dikonfirmasi ulang.

“Cain-sama, tidak ada masalah dengan kontrak ini…”

Setelah mendengar perkataan Collin, ia menandatangani kontrak tersebut dan meletakan dua koin emas dari sakunya.

“Ini bayarannya… Ambil saja kembaliannya… aku merasakan ketulusanmu dalam merawat kedua bersaudara yang cacat itu selama dua tahun…”

Mendengar hal itu, Sandramar sedikit tersenyum namun ekspresinya segera kembali normal.

“Baiklah Tuan Silford, aku akan menerima kebaikan anda…”

Setelah menerima uang itu, Sadramar membungkuk kepada Cain dan segera meninggalkan ruangan untuk menyiapkan kedua bersaudara itu.

“Maaf ya, Collin… Ada alasan kenapa aku harus membeli mereka…”

Cain duduk di sofa sambil berbicara kepada Collin yang ada dibelakangnya.

“Cain-sama, saya tidak mengerti pemikiran anda… Saya hanya bertugas membantu anda memilih jalan yang terbaik…”

“Terima kasih, Collin..”

Tolong dikomen ya kalau ada terjemahan yang aneh atau rancu…

Setelah mengucapkan rasa terimakasihnya kepada Collin diapun menyeruput teh yang sudah disiapkan.

Setelah beberapa saat, kedua saudara itu dibawa masuk ke dalam ruangan oleh Sandramar. Karena sang kakak tidak memiliki kaki, tentu saja dia tidak bisa berjalan sendiri, jadi ia di gendong oleh salah seorang pegawai.

Mereka didudukan di sofa, lalu Sandramar membacakan detail kontraknya, dan mereka mengangguk sepanjang poin kontrak dibacakan.

Pakaian yang mereka gunakan benar – benar berbeda dari sebelumnya, mereka mengenakan gaun yang biasa digunakan oleh orang umumnya. Dengan rambut mereka yang disisir rapi, dan Cain hanya memperhatikan senyuman mereka.

Sepertinya mereka telah yakin, dan bersama – sama menandatanganinya.

“Dengan ini kontrak telah resmi dibuat… Beliau ini adalah Tuan Silford, kepala keluarga Viscont Silford, yang akan menjadi tempat tinggal kalian nantinya… sebaiknya kalian beri salam kepada beliau…”

Mereka mengalihkan pandangnnya dari Sandramar menuju ke arah Cain. Sang adik hanya memiliki sebelah tangan, dan terus memegangi lengan kakaknya, sepertinya dia agak gugup.

“Master, aku adalah kakaknya, namaku adalah Lula, dan di sebelahku ini adalah adikku, Laura, kami berdua memiliki keterbatasan fisik, dan aku tidak tahu apa yang bisa kami lakukan, tapi mohon kerjasamanya..”

“Aku Laura… salam kenal”

Mereka membungkuk kepada Cain.

“Aku Cain von Silford Drintle… Salam kenal ya… Karena aku datang dengan kereta, jadi ayo kita pulang bersama… “

Cain tersenyum kepada mereka. Tampaknya mereka berdua masih gugup, tapi mereka terlihat lebih baik daripada tadi di dalam ruangan budak.

Mereka pun diantar oleh Sandramar keluar toko lalu masuk ke dalam kereta. Lula sang kakak digendong oleh salah seorang pegawai, dan laura duduk disebelah kakaknya.

“Kalau begitu, aku akan mengusahakan untuk bisa datang ke Drintle akhir pekan nanti, terimakasih banyak unuk hari ini…”

Sandaramar dan para pegawai mengucapkan terima kasih secara serentak.

“Ya.. Aku mengandalkanmu untuk urusan itu…”

Dengan aba-aba dari Collin, kereta itu pun mulai berjalan.

Kedua bersaudara yang duduk dihadapan Cain sepertinya baru pertama kali menaiki kereta milik bangsawan. Dan mereka tampak tidak bisa tenang. Karena Collin ada di bangku kusir, maka di dalam kereta hanya ada mereka bertiga. Namun kedua bersaudara itu masih tetap gelisah sambil saling berpegangan tangan.

Diluar kereta, tampak matahari mulai terbenam. Kereta berjalan menyusuri kota yang dihiasi kerumunan orang yang pulang bekerja atau sedang berbelanja.

“Alasan aku ingin membeli kalian karena melihat sesuatu dari kalian ketika menggunakan [Appraisal]…”

Cain menjelaskan kepada mereka. Seketika Ekspresi sang kakak sedikit gugup. Sang adik sepertinya tidak menyadari maksudnya. Ia menatap wajah kakaknya yang menjadi agak kaku.

“Aku ingin membicarakan ini setelah kalian tenang nanti ya…”

Setelah mengatakan itu, Cain mengalihkan pandangannya menikmati pemandangan kota dari jendela kereta.

Kereta memasuki distrik bangsawan, dan melintasi jalan besar dengan bangunan rumah yang berdiri di halaman yang luas berbaris sepanjang jalan. Laura terpana dan terus melihat pemandangan ini dari jendela.

Lalu mereka melewati pos penjagaan di gerbang dan kereta berhenti di depan Mansion.

“Kita sudah sampai di rumah… Saya akan menggendong Lula… Karena masih perlu untuk menyiapkan kamar untuk mereka, jadi saya akan membawanya ke ruang tamu ya…”

Cain bisa saja menggendong Lula, namun dia akhirnya menyerahkan hal ini kepada Collin.

Collin pun menggendong Lula dan membawanya masuk ke dalam mansion. Sylvia awalnya merasa kebingungan melihat mereka datang membawa dua orang gadis berambut putih, namun dia segera sadar dan mulai membantu Collin.

TL Note : Rambutnya putih ya, kesalahan penerjemahan sebelumnya.

Collin dan Sylvia mengantar kedua bersaudara itu ke ruang tamu dan mendudukannya di sofa. Mereka juga menyediakan teh dan manisan di atas meja.

Cain pun duduk di hadapan mereka, dan menyicipi teh yang telah dihidangkan. Dan seperti biasa teh yang dibuat Sylvia memang enak.

Melihat hal ini, kedua bersaudara itu saling menatap. Laura sang adik sepertinya tertarik dengan manisan yang diletakkan di atas meja.

“Kalian berdua silahkan minum teh nya… manisannya juga ambil saja…”

Mendengar itu, Laura langsung mengambil satu manisan dan memasukannya ke dalam mulutnya, meskipun tampaknya ia masih agak gugup.

Laura ternsenyum setelah merasakan rasa manis menyebar di mulutnya,

“—Enaakk..”

Cain melihat pemandangan ini sambil tersenyum. Tentu saja Collin dan Sylvia juga.

Ekspresi Lula pun sedikit melembut ketika menyaksikan senyumn adiknya Laura, namun ia segera kembali normal dan kembali menatap Cain dengan tatapan serius.

“Tuanku… Kami berdua ini kekurangan fisik, apa yang membuat anda membeli kami?? “

“Aku tidak terlalu mengkhawatirkan soal tubuh kalian yang cacat… Lagipula itu bisa disembuhkan…”

Cain menjawab pertanyaan mereka dengan ringan, namun Lula dan Laura terkejut mendengarnya. Dikatakan bahwa luka cedera mereka tidak bisa disembuhkan dalam beberapa tahun.

Entah metode apa yang digunakan, mereka tidak berpikir seorang anak bangsawan dihadapannya mampu mengobati mereka dengan mudah. Melihat keterkejutan mereka, Cain pun melanjutkan perkataannya.

“Kurasa kalian tidak nyaman dengan tubuh seperti tiu kan… Lagipula ini sudah di rumah, jadi tidak apa-apa…”

Setelah mengucapkan itu, Cain pun bangkit dan berdiri di hadapan mereka lalu menjulurkan tangannya.

“[Perfect Heal]! “

Cain menjulurkan tangannya dan merapalkan mantera sihir. Seketika mereka berdua diselimuti cahaya putih yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ketika cahaya itu redup dan menghilang, kedua kaki Lula yang mulus telah kembali, begitu pula dengan tangan kanan Laura.

TL Note: Jadi sepertinya terjemahan sebelumnya salah, Laura hanya kehilangan sebelah tangannya. Dan Lula, kehilangan kedua kakinya.

Meskipun tidak masalah jika menggunakan [Extra Heal], namun mereka telah mengalami cedera selama dua tahun. Diperlukan sihir kelas atas untuk menyembuhkan mereka, dan Cain menggunakannya tanpa ragu.

Bahkan di kerajaan kepercayaan Marineford, Sihir penyembuhan kelas atas hanya dapat digunakan oleh pendeta agung, dan kandidat pendeta agung. Bahkan kepala pendeta di setiap negarapun tidak bisa menggunakannya. Dan dia menggunakan sihir legendaris ini kepada budaknya.

“Eehh??”

“… Tidak mungkin…”

“…Kok bisa…”

“Kakak, aku punya tangan!!”

Collin dan Sylvia yang baru pertama kali melihat sihir Cain, merasa agak ngeri. Karena mereka paham seberapa legendarisnya sihir ini. Mereka masih tidak dapat percaya bahwa sihir yang selalu ada dalam dongeng dapat mereka saksikan di depan  mata mereka.

Dengan sangat gembira, Laura merentangkan kedua tangannya yang sudah pulih. Lula yang memperhatikan ini terkejut dan berusaha melihat kakinya. Dan seketika air mata bercucuran mengalir di pipinya.

Dapat dimengerti betapa sulitnya dia setelah kehilangan kakinya, dan adiknya yang kehilangan sebelah tangannya.

Lula memeluk Laura yang kegirangan. Karena ia menjadi budak sejak kecil, nampaknya Laura tidak mengerti betapa berharganya sihir tingkat tinggi ini. Setelah memeluk Laura, Lula melonggarkan tangannya dan kembali menatap Cain.

“Tuanku, aku tidak tahu harus bagaimana mengucapkannya, tapi aku sangat berterima kasih… terima kasih banyak sudah menyembuhkan kami…”

“Terima kasih, tuan.”

Kalau bisa Di share juga ya…

Melihat Lula yang membungkuk, Laura pun juga mengikutinya. Berkat sihir penyembuhan ini raut wajah mereka pun sedikit membaik.

“Ya, tidak masalah… sepertinya kalian masih perlu rehabilitasi, jika kalian sudah terbiasa nanti maukah kalian bekerja di sini sebagai pelayan bersama Sylvia? Hari ini kalian bisa beristirahat di kamar… Aku perlu kembali ke kotaku, jadi aku menyerahkan mereka pada kalian berdua ya…”

Collin dan Sylvia mengangguk pada pertanyaan Cain. Mereka berdua mengusap air mata setelah melihat adegan yang dramatis ini.

“Hm.. ka-kamarnya sudah siap, Karena kaki Lula-san baru saja sembuh jadi aku akan membantumu berjalan…”

Sambil menyeka air matanya Sylvia membantu Lula berjalan, dan Laura mengikuti di sampingnya sambil tersenyum.

Cain bersandar di sofa.

“Cain-sama… Saya tidak pernah menyangka anda dapat menggunakan sihir pemulihan tingkat atas… Jadi itu sebabnya anda membawa mereka tanpa mempedulikan kondisi mereka…”

“Ya, itu salah satu alasannya, tapi ada satu alasan lain yang aku tidak bisa bicarakan sekarang…”

Cain dengan ringan menjawab pertanyaan Collin. Hal ini adalah hal yang sangat penting yang tak bisa ia bicarakan dengan Collin. Cain berdiri lalu mengangkat kedua tangannya dan kemudian meregangkan tubuhnya.

“Kalau begitu aku akan pergi ke Drintle… Aku akan kembali di malam hari nanti…”

“Aku mengerti. Mohon berhati-hati…”

Ketika Collin membungkuk Cain langsung menggunakan [Transfer] menuju ke Drintle.

 

Terima kasih telah berkunjung, Jangan lupa tinggalkan komentar anda....

Comments

13 responses to “Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 2 Chapter 41”

  1. Yusuf says:

    Yossshhh akhirnya update dan dapat komen pertama…
    Btw min, lbh baik kyk si collin itu jangan pake kata “aku mengerti” lbh baik di ganti “saya mengerti”… yahh kyknya terdengar kurang sopan saja mengingat cain itu dihormatinya… disitu ada sedikit ganggu rasanya… selebihnya mantap.. lanjutkan min gass truss

  2. Salo says:

    Mantap min…. Lanjut juga untuk bulan puasa hehehehe

  3. Dg_Sean says:

    Wuuhh mantabb, Update lagi min ? ? ?

  4. Zirco says:

    Mantulll, semangatt min, pagi pagi udah disuguhin 1 chapter lagi, asekk lahh

  5. Rimuru Tempest says:

    Lanjut min…
    Di sini mantap translatenya ngga kaya di sebelah ?

  6. Rozor says:

    Semangat selalu min atas translate tannya

  7. Hideri says:

    Gak sabar nunggu next chapter gegara pengen tau alesannya si cain ?
    Semangat trus min

  8. Hideri says:

    Gak sabar nunggu next chapter gegara pengen tau alesannya si cain ?

  9. Will says:

    Di tunggu next chapter nya min

  10. Ardian-kun says:

    Semangat mimin?
    Kalo bisa sehari update 2chapter min?
    Gua bantu pencetin iklannya ?

  11. Arif P says:

    Makasih updatenya min, semangat terus ?

  12. Day says:

    Mantap lah

  13. Yuu Jhio says:

    Ahh… Lanjut maraton

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *