Vol.02 - Ch.50 ~ Kebijakan Dalam Kota Drintle Bagian 2

Anda sedang membaca Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 2 Chapter 50 di Kurozuku.

28 Apr 2020

Penerjemah : KuroMage

Selamat Membaca!!

Baik para petualang maupun penduduk di kota Drintle terkejut melihat dinding kota yang berubah drastis. Hanya dalam waktu sehari semalam, telah terbentuk dinding baru setinggi 10 meter diluar dinding kota yang sudah ada.

Dinding itu dikelilingi parit layaknya sebuah istana kecil dari suatu negeri. Jika kita melihat dari dindingnya saja, ini merupakan karya yang menyamai dengan dinding istana kerajaan Esfort.

Awalnya Drintle adalah sebuah kota kecil berukuran sekitar 2×2 km. Karena kini bertambah dua kilometter di setiap sisinya, maka menjadi sekitar 6 km persegi. Dan jika dibandingkan, maka luasnya sekarang menjadi 9 kali lipat, dan menjadi seluas kota-kota besar.

Cain pun memutuskan untuk kembali ke ibukota setelah meminta Alex dan Lula untuk membuat garis besar rancangan kotanya.

Disiang hari ia bersekolah, dan setelah pulang sekolah ia langsung berpindah ke kota Drintle, dan begitulah rutinitasnya.

Diantara dinding lama dan dinding baru saat ini hanyalah sebuah lahan kosong berumput. Perlu untuk melakukan perataan lahan dan pembabatan rumput disana.

Namun jika ada masyarakat yang melihat, kekuatan sihir Cain akan terekspos ke pada publik. Untuk itu ia membangun sebuah jalan lurus dari gerbang dinding lama ke dinding baru, lalu mebuat pagar setinggi tiga meter di kedua sisinya yang membuat orang-orang tidak dapat melihat apa yang terjadi pada lahan tersebut.
Cain menggunakan sihirnya dengan sebebasnya, dan meratakan lahan kosong di kota Drintle yang luas ini.

“Aku tidak menyangka harus bekerja sekeras ini…”

Meskipun energi sihirnya tidak terbatas, namun ia tetap akan merasa bosan jika melakukan kegiatan yang sama berulang kali. Dan akhirnya Cain sedikit mengeluh akan ini.

Terimakasih atas kesetiaan kalian untuk selalu menantikan kami……

“Cain-sama!! Sedkit lagi!!! Semangat!!!!! “

Karena Alex ada tugas sebagai wakil walikota, jadi saat ini Cain menyusuri lahan kosong ini hanya bertiga, bersama dengan Lula dan Darmesia.

Alex harus berbicara kepada masyrakat dan berkoordinasi dengan tokoh-tokoh berpengaruh di kota. Karena jumlah gerbang bertambah menjadi dua gerbang di setiap sisi, maka perlu juga melakukan pengaturan penjagaan.

Terkait persiapan tenaga kerja guna pembagunan kota, tukang kayu, serta kebutuhan bahan bahan semua diserahkan kepada kepala pelayan nya yang berbakat, Darmesia.

“Serahkan saja masalah itu kepada saya…”

Ketika Darmesia berkata demikian, Cain pun merasa lega.

Sambil mendengarkan kata-kata penyemangat dari Lula, Cain terus mengerahkan energi sihirnya. Meskipun ini adalah tugas setelah pulang sekolah, berkat energi sihir Cain yang diluar nalar itu, pekerjaan berat ini selesai dalam waktu empat hari.

Ketika Cain sedang bersekolah, Lula melanjutkan membuat gambar sketsa, dan kini sebagian besar rancangan infrastruktur kota telah selesai dibuat.

Meskipun disebut rancangan, ini hanyalah memutuskan lokasi pembangunan jalan menuju gerbang, serta lokasi-lokasi membangun tempat seperti sekolah dan panti asuhan.

Jalan yang baru, dibuat cukup lebar sehngga memungkinkan kereta dan orang dapat berlalu-lalang tanpa masalah.

Terima kasih kepada para donatur yang baik hatinya…

Selain itu, Lula menggunakan pengetahuan di kehidupan sebelumnya untuk meneliti konstruksi beton. Dengan menggunakan sihir penciptaan Cain, ia dapat membangun sekolah dan panti asuhan dengan menggunakan konstruksi beton.Meskipun begitu konstruksi beton tak dapat dibuat tanpa adanya Cain.

Seiring berjalannya waktu, entah bagaimana jumlah bahan kayu yang digunakan untuk konstruksi bagunan telah bertambah. Dalam waktu yang singkat ini, sudah banyak sekali bahan kayu yang terkumpul.

“Darmesia, Kayu-kayu ini…”

“Tentu saja ini diambil dari dalam hutan… Familiar saya yang melakukan penebangan disana, apa perlu untuk memanggil mereka kemari? “

Cain teringat saat ketika Darmesia ingin memanggil familiarnya, dan ia sedikit merinding.

“Tidak, tidak perlu memanggil mereka kemari… Usahakan agar tidak ditemukan oleh para petualang yang ada dihutan… akan jadi masalah jika ada laporan aneh-aneh kepada guild nanti…”

“Tentu saja.. Semua pekerjaan saya usahakan untuk dilakukan tengah malam saat orang-orang tertidur, jadi tidak akan ada masalah… Namun akan sulit bagi familiar saya untuk membangun sebuah rumah, jadi saya memutuskan untuk membuat permintaan kepada perusahaan yang ada… Bagi mereka penting untuk melakukan pengembangan kota, jadi ini akan jadi masalah negosiasi… “

Cain mengangguk pada penjelasan Darmesia. Tidak ada gunanya menambah jumlah penduduk jika tak ada lapangan pekerjaan. Masyarakat menyelesaikan pekerjan, dan kemudian dibayar oleh penguasa kota layaknya pegawai negeri, hal ini tetap sama dimanapun dunianya.

Di sekolah di kehidupan sebelumnya, ia pernah belajar bahwa dengan bertambahnya pekerjaan, akan bertambah pula jumlah populasi, penjualan perusahaan juga ikut naik, lalu pendapatan pajak kota juga akan bertambah.

Kesimpulnya, Cain ingin mengubah sebuah kota yang hanya meiliki populasi 3000 orang termasuk petualang, menjadi kota dengan populasi lebih dari 10.000 orang.

Tolong dikomen ya kalau ada terjemahan yang aneh atau rancu…

Pekerjaan ini hampir selesai, dan kini ia beristirahat sejnak sambil menikmati teh yang dibuat oleh Darmesia.

“Tinggal sedikit lagi maka semuanya akan stabil ya…”

Lahannya sudah diratakan, Cainpun menggumamkan itu sambil memandangi tumpukan bahan-bahan di hadapannya.

“Sisanya tinggal membongkar dinding yang lama… Setelah itu selesai, saya rasa kita akan memulai pembangunan besar-beasaran, menurut perkataan perusahaan yang ada, mereka juga akan merekrut banyak pengrajin dari ibukota… Jadi kemungkinan jumlah penduduk juga akan meningkat pesat…”

Darmesia yang ada di belakang Cain menjelaskan. Cain pun terkesan dengan kemampuan pelayan miliknya yang serba bisa ini. Lula yang duduk disampingnya memandangi gambar-gambar miliknya.

“Yosh… ayo kita bongkar dinding lama!! “

Cain meneguk habis teh nya dan mengatakan itu dengan penuh semangat.

“Bahkan jika anda mengatakan itu, membongkar itu sulit loh…”

Meskipun Lula mengatakan demikian, namun Cain meiliki energi sihir yang tak terbatas. Daripada tentang membongkar, ia lebih merasa kesulitan jika harus berkeliling Drintle lagi.

Cain meletakan tangannya di dinding dan mengalirkan energi sihirnya.

“[Disassembly]”

Dengan satu kata dari Cain, dinding itu membuat suara gemuruh. Cain berniat memasukan bahan bebatuan yang menyusun dinding kedalam [Item Box] miliknya untuk nanti digunakan sebagai pondasi atau batu bata.

“…Ini terlau Cheat…”

Ketika Lula terpana, dinding batu yang membentang ratusan meter, yang telah melindungi kota ini selama bertahun-tahun pun perlahan mulai runtuh. Terlebih, reruntuhan yang seharusnya terjatuh ditanah malah hilang entah kemana. Siapapun yang melihat ini tak bisa menahan keterkejutan mereka akan hal yang tidak masuk akal ini.

Meskipun mereka mendengar bahwa penduduk dilarang mendekati dinding karena akan dilakukan pembongkaran, namun adanya suara gemuruh yang menyertai pembongkaran ini, menarik perhatian orang-orang untuk berkumpul dan menyaksikan kejadian ini.

Lalu di balik dinding yang telah dihancurkan, terlihat sosok Cain yang merupakan walikota mereka itu. Cain berdiri dihadapan mereka, dan mulai berbicara kepada masyarakat yang telah berkumpul.

“Semuanya… Maaf membuat kalian terkejut, aku adalah walikota kalian, Cain von Silford Drintle. Aku terpaksa menghancurkan dinding ini karena ini akan mengganggu pembangunan kota yng akan aku lakukan. Mungkin kalian sudah menengarnya, Drintle telah diperluas sampai dinding yang kalian lihat di belakang ku itu… Aku berencana untuk membangun kota ini sampai ke batas sana… Bagi yang memiliki pengalaman sebagai tukang kayu, atau konstruksi, serta orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan, aku ingin kalian membantuku… Tentunya aku berjanji akan membayar kalian dengan imbalan yang setimpal…”

Para warga bergembira dengan pengumuman dari Cain. Daerah ini hampir bisa dikatakan sebagai kota yang suram, banyak pengangguran di sini. Sebelumnya wakil walikota mengumumkan hal ini ke berbagai tempat di kota, namun kebanyakan dari mereka menanggapi dengan skeptis. Namun kali ini sang walikota baru mengumumkan hal ini langsung dihadapan mereka, terlebih ia menjanjikan bayaran yang setimpal, tak ada tanggapan lain selain sambutan kegembiraan.

“Uwwoooohh!!”

Menanggapi warga yang tengah kegirangan, Cain melanjutkan perkataannya.

“Kami juga akan membangun rumah baru di lahan yang baru ini, dan kemudian membongkar daerah kumuh… tentu saja warga yang tinggal disitu akan dipindahkan ke rumah yang baru, dan akan mempekerjakan mereka kedepannya… jadi aku meminta kalian bisa memakluminya… Cukup sekian dariku…”

Para warga yang tinggal di wilayah kumuh pun ikut bergembira mendengar mereka akan mendapatkan rumah dan pekerjaan baru. Cain pun membelakangi para warga dan bergegas menuju ke tempat pembongkaran selanjutnya.

Dinding lama terus-menerus dihancurkan, dan puing-puing nya dimasukan kedalam [Item Box] milik Cain, setelah ia meratakan tanah bekas dinding tersebut, iapun berpindah ke lokasi berikutnya.

Setelah beberapa hari berlanjut, dinding yang lama pun sudah selesai di bongkar. Cain pun kembali ke mansion dan beristirahat di ruang kerjanya.

“Selanjutnya, aku akan serahkan kepada kalian semua…”

Cain menyerahkan dana untuk biaya konstruksi dan bahan-bahan. Itu adalah sekantong kecil berisikan koin platinum yang telah ia kumpulkan selama ini. Didalamnya berisi sekitar seratus join platinum, atau sekitar satu miliar yen.

Semua hasil penjualan bahan-bahan monster, hasil perdagangan melalui perusahaan, serta barang barang kaca yang ia jual kepada keluarga kerajaan masuk dalam kantong itu. Namun di dalam [Item box] milik Cain, ia masih menyimpan sejumlah koin platinum yang sama disana.

“Dengan ini aku rasa akan cukup… Aku juga akan meminta ibukota untuk menambah prajurit untuk berjaga. Selanjutnya kita akan mulai ketika para ekerja sudah datang…”

Alex mengatakan itu sambil menyimpan uang yang ia terima kedalam brankas.

“Karena sebentar lagi liburan musim panas, jadi aku akan bisa disini lebih lama… namun karena aku mendapatkan undangan dari Teles untuk berkunjung ke wilayah Malvik, jadi aku memutukan untuk pergi kesana nanti, dan juga aku harus berkunjung ke kampung halaman Tiffana, jadi aku pikir aku tidak akan bisa selama itu disini…”

Libur musim panas disekolah berjangka sekitar dua bulan lamanya. Hal ini disebabkan banyak anak-anak bangsawan yang bersekolah disana, dan membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk perjalanan mereka agar bisa pulang ke wilayah mereka masing-masing.

Meskipun beberapa dari mereka memiliki rumah di ibukota, namun kebanyakan dari mereka tinggal di asrama di dalam sekolah.

“Baiklah, serakan saja kepadaku…”

Cain pun mengangguk mendengar perkaaan Alex. Ia menyerahkan urusan kota Drintle kepada mereka bertiga, lalu kembali berpindah ke masion miliknya di Ibukota.

Sesampainya ia di mansion, ia langsung memberitahu Collin dan Sylvia kalau dirinya telah pulang.

“—-Cain-sama, anda dapat surat…”

Ia menerima surat dari Collin yang terlihat sangat khawatir, lalu memeriksa lambang yang ada di segelnya. Ini adalah segel yang sama dengan bendera yang di pajang di Istana kerajaan. Iapun membukanya.

Surat itu hanya berisikan satu kalimat.

“Jika kau membacanya, segera datang ke Istana. Rex Terra Esfort”

Cain mengehela nafas panjang. Lalu menyerahkan isi surat itu kepada Collin. Collin pun memeriksa isinya, dan itu sesuai dengan dugaan nya.

“Collin, aku akan ke Istana sekarang, Tolong siapkan keretanya…”

“Baik, aku akan segera mempersiapkan keretanya di depan rumah…”

Collin mengerti ini adalah panggilan dari istana, iapun bergegas meniggalkan ruangan untuk menyiapkan kereta. Setelah persiapan selesai, ia kembali untuk memanggil Cain, dan mereka berdua berangkat menuju ke Istana.

Matahari telah terbenam, sudah tak ada lagi kereta yang diperbolehkan masuk Istana kecuali keadaan daruruat. Karena penjaga gerbang telah diberitahu tentang kedatangan Cain, ia dapat masuk tanpa ada masalah.

Cain pun dipandu menuju ke ruang pertemuan yang biasanya. Cain pun meminum teh yang telah di sajikan oleh pelyan, dan tak lama kemudian, sang raja dan perdana menteri memasuki ruangan.

Cain pun bangkit dan memberi hormat.

“Maaf karena ini darurat… “

Sang raja duduk di tempat bisa ia duduk, dan Perdana Menteri Magna duduk di sebelahnya. Cain berpikir dia akan di ceramahi lagi akibat apa yang telah ia lakukan di Drintle, namun sepertinya dugaannya salah.

“Sebenarnya, seorang gadis suci akan datang kesini dari Kerajaan kepercayaan Marineford untuk melakukan pengawasan. Karena waktunya bertepatan dengan liburan musim panas, dan usia gadis suci itu tak jauh berbeda dengan mu… jadi aku meminta Telestia dan Silk untuk menemaninya, dan kamu akan jadi pengawal mereka… Lagipula kalian seumuran, sang gadis suci itu pasti akan lebih tenang dengan adanya dirimu…”

Ketika Drintle sedang dalam masa sibuknya, masalah baru muncul.

 

Terima kasih telah berkunjung, Jangan lupa tinggalkan komentar anda....

Comments

15 responses to “Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 2 Chapter 50”

  1. Bahamut says:

    Mantappu Djiwa

  2. Yuu says:

    EA… Lanjut kah?

  3. Yusuf says:

    Heroin berikutnya akhirnya bakal muncul muehehehehe semangat min lanjutkan

  4. Reyvan says:

    Lanjutkan min… mantap.. typo nya juga mulai berkurang dari biasanya… tetap semangat min dan jaga kesehatan ? chapter selanjutnya akan kami tunggu….

  5. Dg_Sean says:

    Akhirnya Update lagiiii!!! Mantab jiwa raga. Semangat min. Up lagi yaa

  6. Kiruru says:

    4 harem nihh mantabbzzz zheeehahahahaha….

  7. Zirco says:

    Harem kembali berkumpul dan kembali bertambah wkwk

  8. Fuchsgott says:

    Lanjutkan Min 🙂

  9. Hideri says:

    Itu kalimat terakhir lebih tepat digambarkan kalo tunangan baru muncul ?

  10. HiRaRu says:

    Ngeharemmm trossssss

  11. Kousuke shunn says:

    Akhirnya nambah harem seijo sama lagi mantap lah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *