Vol.03 - Ch.06 ~ Tiba di Ibukota

Anda sedang membaca Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 3 Chapter 6 di Kurozuku.

11 May 2020

Penerjemah : KuroMage

Selamat Membaca!!

Rombongan kereta pengawalan Saint telah tiba di Ibukota. Dua orang Royal Knight yang ditugaskan mengawal Cain telah kembali terlebih dahulu ke ibukota dan melaporkan hal ini sehari sebelumnya.

Ketika kereta menyusuri ibukota, sejumlah penduduk membanjiri lintasan yang dilalui, sampai sampai para prajurit kewalahan mengatasi hal ini.

Cain dan Silk sangat terkejut melihat antusias para penduduk ini untuk menemui sang Saint.

“Aku tidak menyangka akan sebanyak ini yang berkumpul… sungguh menakjubkan”

“Mereka berkumpul untuk melihat Saint ya… Entah bagaimana rasanya seperti mereka menyambut parade pernikahan kita ya…”

“…”

Cain hanya mampu tersenyum pahit dengan khayalan Silk yang sangat tidak terduga ini. Kereta pun terus berjalan, menembus kerumunan warga dan kemudian menyusuri distrik bangsawan lalu akhiirnya sampai di Istana.

Cain turun dari kereta, lalu ikut bergabung dengan barisan para bangsawan yang menyambut kedatangan sang Saint di halaman Istana.

Sang Saint mengenakan pakain serba putih yang berhiaskan emas, turun dari kereta dengan di pandu oleh pelayan pribadinya.

Cain telah bersama nya selama beberapa hari ini jadi ia tidak terlalu mempedulikannya. Namun para bangsawan lain yang baru pertama kali menyaksikan ini terpana dengan keindahan dihadapan mereka.

“Sungguh sangat anggun meskpun masih sangat muda…”

Banyak diantara para bangsawan yang menggumamkan hal senada.

Dan yang pertama kali menyapa Saint itu adalah Bishop kerajaan Esfort, , dan kemudoan memandu Saint itu. Lalu Cain dan bangsawan lain mengikuti di belakangnya.

Terimakasih atas kesetiaan kalian untuk selalu menantikan kami……

Lalu sang Saint dan Bishop itu menuju ke ruang tunggu sdangkan Cain dan para bangsawan kelas bawah menuju ke tempat Audiensi.

Yang menyambut Saint di halaman adalah para bangsawan kelas bawah seperti Viscount, sedangkan para bangsawan kelas atas sudah menunggu di ruang Audiensi. Lalu Cain ikut berbaris di barisan para Viscount.
Lalu keluarga kerajaan masuk, dan Raja duduk di singgasana nya.

“Kalau begiitu, mari kita sambut sang Saint…”

Setelah pembawa cara memberi aba-aba, pintu pun terbuka dan Saint masuk ke dalam ruangan didampingi oleh Bishop.

Mereka berdua berhenti di depan singgasana lalu kemudian berlutut serta menundukan kepalanya.

“Angkatlah wajah kalian… “

Dengan perintah itu keduanya bangkit. Sang raja mulai berbicara dengan senyuman diwajahnya.

“Terimakasih mau repot-repot datang kemari… Aku sudah mendapatkan laporannya… termasuk tentang penyerangan itu… Bagaimana? Meskipun dia masih muda, pengawal yang aku tugaskan itu berbakan kan? “

“Ya, Jika tidak ada Cain-sama yang menyelamatkan kami, saya pasti tidak akan sampai ke sini… “

Saint itu tersenyum dengan tulus kepada sang Raja. Raja mengangguk mendengar perkataan itu dan berbisik kepada perdana menteri Magna.

Dan kemudian, Magna melanjutkan perkataan Yang mulia.

Terima kasih kepada para donatur yang baik hatinya…

“Viscont Caint, tolong maju kedepan… “

Merasa kaget karena tiba-tiba di panggil, Cain pun keluar dari barisan dan menuju ke sebelah Bishop, lalu kemudian ikut berlutut dan menundukan wajahnya.

“Cain von Silford Drintle, telah hadir… “

“Angkat wajahmu”

Cain pun bangkit dihadapan raja.

“Cain.. Terima kasih atas kerja kerasmu dalam mengawal sang Saint sampai ke Ibukota…. Kami akan memberikanmu hadiah atas pencapaian ini… tanyakan detailnya nanti pada Magna…”

“Saya akan terima dengan senang hati… terima kasih.. “

Sang raja mengangguk mendengar jawaban Cain, lalu melanjutkan perkataannya.

“Sain-sama pasti lelah setelah melakukan perjalanan panjang kemari… Hari ini silahkan beristirahat dengan nyaman… Bishop-dono, tolong antarkan beliau…”

Sang Bishop mengangguk mendengar perkataan raja.

Dengan ini Audiensi pun berakhir. Cain dipanggil ke ruangan lain dan dipandu ke ruangan pertemuan yang biasa.

Setelah menunggu beberapa waktu, masuklah Sang raja, Perdana menteri Magna, Duke Eric dan Wakil komandan Royal Knight Dime.

“Maaf membuatmu menunggu… mari kita dengarkan sekali lagi tentang kisah perjalanan mu… aku sudah mendengar ssebagian dari para Ksatria yang ikut mengawal bersamamu… apa ada yang lain yang ingin kau ceritakan?? “

Cain mengangguk.

Tolong dikomen ya kalau ada terjemahan yang aneh atau rancu…

Cain menjelaskan semuanya, tentang perselisihan antara fraksi Saint dan Fraksi Pope, tentang adanya rencana untuk menghabisi nyawa sang Saint secara diam-diam di kerajaan Esfort. Ia juga menceriakan tentang bahan makanan yang diracuni, dan adanya dupa pengumpul mosnter diantara dupa yang mereka gunakan. Cain menjelaskan semuanya secara berurutan dan sangat jelas.

“Begitu ya… kurasa keputusan ku untuk menjadikan mu sebagai pengawalnya itu tepat ya…Aku memilih Silk karena usianya yang seumuran.. jika tidak ada kamu mungkin kita akan kehilangan Saint itu dan juga Silk…”

Meskipun disana ada Royal Knight yang ikut dalam pengawalan, karena sebagian memandu jalan jauh di depan, hanya ada sekitar delapan orang yang dapat melindungi. Meskipun itu hanya monster level rendah, jika sebanyak itu mereka pasti tak akan bisa bertahan.

“Cain-kun… kamu sudah menyelamatkan Silk lagi ya.. terimakasih…”

Cain terssenyum kepada Duke Eric yang mengutarakan rasa terima kasihnya itu

“Silk adalah tunanganku, jadi wajar bagiku untuk melindunginya…”

Eric tersenyum mendengar jawaban itu.

“Lalu tentang Saint itu.. aku akan memberikanmu hadiah 10 koin platinum atas kerja kerasmu… kamu sedang membutuhkan banyak uang untuk mengembagkan kota kan? Gunakan saja untuk itu…”

“Terima kasih”

“Lalu karena sekarang ada Saint.. aku berniat mengumumkan pertunangan kalian… Telestia sudah menanyai ku terus kapan aku akan mengumumkannya… dan karena aku belum mengumumkannya, banyak permintaan pertemuan perjodohan untuk mu dari para bangsawan di negeri ini…informasi tentangmu yang berhasil mengembangkan kota Drintle yang penuh masalah itu dalam waktu singkat telah menyebar… benar-benar merepotkan menanggapi permintaan mereka yang datang kepadaju atau Magna setiap hari…”

Perdana menteri Magna menyetujui pernyataan sang raja, dan iapun mengangguk.

“Sampai segitunya…”

“Aku memintamu untuk mengawal Saint itu selama ada disini… dan di hari terakhir aku akan mengumumkan nya di perjamuan makan… kuserahkan semuanya padamu”

“Aku mengerti….”

Didalam benaknya Cain berpikir ‘Akhirnya diumumkan ya’. Meskipun ia sempat merasa aneh karena diusianya yang masih 10 tahun sudah memiliki tiga tunangan, namun ia tak memikirkan ini terlalu dalam.

Setelah itu ia kembali ke Mansionnya, stelah menyapa Collin dan Sylvia, ia masuk ke ruang kerjanya.

Ketika ia memeriksa dokumen dan surat-surat, ternyata memang banyak undangan untuk pertemuan perjodohan. Di dalam surat itu kebanyakan di sertakan lukisan puteri mereka di atas kanvas, karena di dunia ini belum ada foto. Jadi mereka meminta orang lain untuk melukis, dan mengirimkan hasilnya kepada calon yang dituju. Jika calon itu menyetujuinya maka dilakukanlah pertemuan perjodohan.

Collin bahkan menjelaskan bahwa kebanyakan puteri yang datang itu sangat berbeda dengan apa yang ada di dalam lukisan.

Cain pun memutuskan dalam hatinya untuk memperkenalkan foto suatu saat nanti. Ia lalu melanjutkan memeriksa dokumen yang sudah di susun oleh Collin.

Besok ada jadwal untuk memandu sang Saint berkeliling di ibukota. Pertama-tama mereka akan ke gereja lalu mengunjungi benteng kota. Karena ia tidak tahu apa yang akan direncanakan oleh fraksi Pope nantinya, ia tak bisa membiarkan dirinya lengah sedikitpun.

Ketika ia memikirkan gereja, ia membayangkan akan bertemu dengan para dewa lagi. Lalu malam pun berlalu.

Di pagi hari, Cain meninggalkan Mansionnya dan menuju ke Istana kerajaan dengan menggunakan kereta. Kali ini yang akan digunakan untuk memandu Saint adalah kereta milik Cain ini.

Seharusnya mungkin saja untuk menggunakan kereta khusus Saint yang telah disediakan gereja, namun mempertimbangkan akan adanya kerumunan yang akan berkumpul dan membuat mereka tidak leluasa, jadi diputuskan untuk menggunakan kereta Cain.

Jangan lupa untuk komen ya…

Pada awalnya para pengawal yang diutus oleh fraksi Pope itu menolaknya, namun berkat pertimbangan yang diberikan oleh perdana menteri Magna, iapun akhirnya mau menerima. Sebagai perdana menteri, ia juga tak bisa membiarkan pembunuhan Saint terjadi kerajaan ini. Ini adalah keputusan sang perdana menteri yang sudah mengeahui identitas sebenarnya Cain.

Cain memberhentikan kereta nya didekat pintu masuk Istana dan bersiaga. Tak lama pintu gerbang pun terbuka, dan Saint beserta Silk keluar. Bishop sudah kembali kegereja dan mempersiapkan diri untuk kunjungan hari ini.

Para pengawal Saint itu memang setuju tentang keretanya, tapi mereka bersikeras untuk ikut. Dan akhirnya diputuskan baik kerajaan maupun pengawal masing masing memberikan dua orang untuk ikut dalam kunjungan ini.

(Sejujurnya mau ada empat orang pun tidak ada gunanya…)

Bahkan jika mereka mengumpulkan seribu orang pengawal, mereka bukanlah tandingan bagi Cain. Bagi Cain yang sudah menjadi setengah dewa, kemampuan senjata serta kemampuan sihirnya bukan lah tandingan makhluk hidup yang ada di dunia ini.

Ketika Cain sedang mengunggu di luar kereta, Saint itu muncul bersama dengan pelayan pribadinya.

Cain pun memandunya untuk naik kedalam kereta, lalu kereta pun berangkat menuju ke gereja.

Tak ada siapapun yang mengira kalau di dalam kereta bangsawan ini ada seorang Saint, jadi kereta ini berjalan dengan lancar sampai ke gereja. Digereja, pedang dan senjata tajam dilarang dibawa kecuali darurat, jadi keempat pengawal itu menunggu di kereta.

“Cain-dono… jika terjadi sesuatu… anda tahu maksudnya kan…”

Cain dan Saint dibimbing oleh suster yang ada di bagian resepsionis untuk masuk ke ruang altar. Disana Bishop sudah menunggu.

“Saint-sama.. maaff membuat anda menunggu, silahkan sebelah sini.. “

Saint pun mengangguk dan berjalan menuju altar. Ia menatap Cain dan mengajaknya untuk ikut.

“Cain-sama juga silahkan ikut kesini…”

Cain mengikuti ajakan itu dan berlutut di sebelah Saint.

Dan mereka muai berdoa, dan seperti biasanya, pandangan Cain memutih.

Ketika ia sadar, sudah ada sebuah meja besar di hadapannya dan ketujuh dewa itu sudah duduk disana.
Ia sedikit tersenyum melihat pemandangan yang sudah biasa ini, iapun membungkuk dan kemudian menyapa.

“Sudah lama tidak berjumpa, kali ini aku datang kegereja untuk mengawal Saint…”

“Ya, aku tahu. Silahkan duduk dulu.. kalian berdua…”

“Eh …?”

Mendengar kata ‘Kalian berdua’ Cain refleks melihat kebelakangnya.

Dan Cain terkejut membuka maanya lebar-lebar melihat sosok yang ada di belakangnya.

Saint yang tadinya ada disampingnya sedang berdoa, kini sedang berusaha berdiri dalam keadaan setengah sadar.

“Eee??? Kok ada kamu??? “

Suara Cain menggema di dunia para dewa.

 

Terima kasih telah berkunjung, Jangan lupa tinggalkan komentar anda....

Comments

13 responses to “Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 3 Chapter 6”

  1. psp06 says:

    Akhirnya dobel update lg. Makasih bnyk min

  2. Yusuf says:

    Yosshh update… hmmm jam segini update besok update gak ya??? Semoga update ya min… ditunggu kelanjutannya

  3. FBI says:

    Kirain hadiah nya bakalan naik status lagi, rupanya cuman koin platinum

  4. min, ada ilustrasi utk karakter2 nya gk? Penasaran sama si gadis suci/saint

  5. Art says:

    Wkwkwkwk seperti biasa, konferensi meja bundar ala dewa :v
    Btw semangat selalu men tl ln nya min :3

  6. Hideri says:

    Wannjirr makin ngga sabar nunggu selanjutnya klo gini ?

  7. Skredix says:

    Lanjut

  8. Dg_Sean says:

    Ayok min, double update lagi, ditunggu ni. Seru² nya ini. Semangat ya..

  9. Ardian-kun says:

    Mantap minn… Lanjutlah pokoknya?

  10. Yuu Jhio says:

    Siap Saya Hadir selalu (meskipun kadang telat baca hehe)

  11. reader says:

    makasih min

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *