Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 4 Chapter 21
~~

Selamat Membaca….

Untuk beberapa waktu, Lelline memutuskan untuk tinggal di kota Drintle. Selama waktu ini, saat ada waktu, ia menghabiskan waktu makan bersama dengan Alex.

Lagett dan teman-temannya juga diputuskan untuk tinggal sementara di kota Drintle dan mengambil beberapa quest sederhana di guild. Dan pagi-pagi sekali Cain menemani keempat orang itu datang ke guild petualang.

“Yah… penginapan yang Cain sarankan itu benar-benar bagus…Kamar dan tempat makannya benar-benar berkelas… Apalagi Enark-chan imut sekali!!! Benar-benar luar biasa!! “

Ketiga orang yang lainnya menyetujui pernyataan Ninaly.

“Cain, kamu petualang disini kan?? Quest seperti apa yang ada disini??”

“Kebanyakan quest penaklukan atau pengawalan… entah itu ques dari pedagang ibukota, atau pembasmian monster-monster di dalam hutan yang ada di dekat gerbang timur…dan jika kita masuk lebih dalam ke hutan itu, kita akan menemukan Dugeon…”

“Dungeon ya… Aku belum pernah kesana… Tapi aku ingin mencobanya suatu hari nanti… Jika saat itu tiba, bisa kah kamu memanduku nanti??”

Mendengar perkataan Lagett ini, Cain memasang ekspresi sedikit kebingungan.

Terimakasih atas kesetiaan kalian untuk selalu menantikan kami……

 

“Bisa saja jika aku senggang…. Tapi kebanyakan aku tinggal diibbukota.. karena aku masih seorang pelajar… “

“Oh iya ya… kmu masih sekolah ya… yasudah tidak apa-apa saat kamu luang saja…. Sambil menunggu aku akan memburu monster di hutan saja…”

Cain pun mengangguk. Di dalam dungeon itu ada Black Dragon. Mungkin dengan kemampuan keempat orang ini mereka tidak akan bisa pergi sejauh itu. Meskipun telah diberitahu bahwa naga-naga itu tidak akan menyerang manusia terlebih dahulu, namun jika untuk mempertahankan diri, mereka di izinkan untuk menyerang.

Dan mereka pun tiba di guild sambil membicarakan tentang monster-monster yang ada di hutan. Setelah membuka pintu tampak guild itu penuh sesak dengan petualang karena masih pagi.

Ada diantarara mereka yang sedang melihat papan quest sambil berdiskusi, ada juga yang sedang berkonsultasi dengan resepsionis. Karena kota ini sudah lebih makmur, banyak petualang berdatangan dari kota-kota lain.

Ketika Cain memasuki aula, seluruh pandangan terpusat pada dirinya. Namun dalam sekejap jumlah pandangan itu terbagi dua. Para petualang yang baru tiba di kota Drintle yng kehilangan minat mereka ketika melihat anak kecil yang masuk. Dan para petualang asli kota Drintle yang mengenal sosok Cain dan karena ketakutannya mereka berusaha agar mereka tidak smenatap Cain. Diantara mereka ada juga yang gemetaran karena sudah merasakan kekuatan Cain.

Cain langsung menuju ke papan quest dan pura-pura tidak menyadari kelakuan mereka. Lagett dan kelompoknya masih peringkat D. Jadi quest yang dapat mereka ambil sangat terbatas.

Mereke berempat berdiskusi sejenak, lalu kemudian memutuskan untuk mengambil sebuah lembaran quest dari papan. Cain hanya melihat mereka dari belakang.

Terimakasih kepada para donatur!!!

“Minggir! Bocah! Ngalangin aje…!”

Ketika Cain menoleh kebelakang, berdiri tiga sosok petualang yang kelihatan tidak bersahabat. Mereka tampak seperti berusia 20 tahunan, dua orang pendekar pedang, dan seorang penyihir, dengan wajah yang berewok dan naas bau minuman keras. Mungkin mereka semalam minum habis-habisan. Ketika mereka melihat sosok Cain pun mereka tampak tidak merespon apa-apa.

” Apa Lihat-lihat! Anak kecil mah bersihin got aja sana!! “

“Bersihin got ya.. hahaha Benar-benar mahakarya tuh, Ahahaha!”

Cain pun hanya tersenyum. Tapi memang bagi yang tidak mengenal Cain mungkin tidak akan menyangka bahwa anak kecil yang masih belum dewasa ini ditakuti oleh para petualang dan mendapat julukan silver devil. Cain hanya mengatakan ‘Silahkan’ dan bergeser kesamping. Para petualang disekitar mereka yang melihat krjadian ini mulai berbisik,’Ah.. matilah mereka’ dengan suara yang sangat pelan.

Ketiga petualang itu dengan hati yang bahagia saling mengobrol di depan papann quest. Lalu mereka melirik kearah Lagett dan teman-temannya. Mereka berempat sudah dewasa. Meskipun masih berusia belasan, Ninaly dan Mine masih tergolong gadis yang cantik.

Ketiga petualang itu menatap mereka berdua dan mulai menggodanya.

“Hei, mbak-mbak… udah jangan ladenin bocah begini… mending ambil quest bareng kita yuk… nanti kita temenin siang malem deh…”

Mendengar hal itu ekspresi Ninaly langsung berubah. Namun Lagett segera maju dan berdiri didepannya dan berusaha melindungi mereka.

Tolong dikomen ya kalau ada terjemahan yang aneh atau rancu…

“Oy om-om… gak usah macem macem… merek berdua temen gua.. mending lu pada maen bertiga aja sono… lebih pantes…”

Lagett memang selalu menerima tantangan yang diberikan. Bahkan di kota persinggahan selama perjalanan dari ibukota ke Drintle pun juga begitu. Namun ketiga pria itu tampak sangat marah mendengar perkataan Lagett.

“Oy bocah.. ngomong ape lu barusan?? Mesti di kasih pelajaran ni bocah kayaknya…”

Salah seorang dari mereka perlahan mendekat, namun tiba-tiba terdengar suara dari arah yang tidak terduga.

“Cukup! Hentikan! Jika kalian melakukan keributan lebih dari ini, aku akan menjatuhkan hukuman pada kalian!!”

Suara itu menggema disseluruh aula, dan seketika seluruh pandangan terpusat pada sumber suara itu. Dan disana, sosok Letia berdiri dengan tangan di pinggangn nya dan memasang ekspresi marah diwajahnya.

Meskipun Letia adalah wakil ketua guild disini, namun jika dilihat dari orang yang belum kenal dia hanya tampak sepeti seorang staff guild yang cantik. Dan tentu saja ketiga petualang yang tidak mengenalnya ini tidak menunjukan niat akan berhenti. Dan malah memandangi tubuh Letia.

“Kenapa mbak?? Apa mbaknya yang mau gantiin ngeladenin kita?? Kita mah oke aja sih…”

“Hahaha.. boleh juga tuh… mbaknya nya ni biar keliatan udah berumur tapi masih mantap lah…”

Mendengar perkataan para pria itu, ekspressi wajah Letia berubah.

“――Siapa yang kalian bilang berumur!??”

Tampaknya mereka telah mengatakan hal yang paling tidak boleh dikatakan menurut Letia. Melihat Letia mulai kehilangan kendali, Cain pun menghela nafas dan memutuskan untuk menghentikan mereka.

Terimakasih sudah selalu setia menunggu…

Prok-prok

Diantara situasi ketegangan ini Cain menepuk-nepuk tangannya.

“Sepertinya sudah saatnya ini diselesaikan… Kalau berlanjut kalian bisa pilih mau disita kartu guildnya atau masuk ke penjara biar kepala adem…”

Namun tampaknya mereka tidak berniat mendengarkan perkataan seorang anak kecil. Cain pun menghela nafas panjang melihat para petualang ini tak ada niat untuk berhenti dan kemudian melirik kearah Letia.

“Tidak masalah Cain-sma… aku rasa mereka juga butuh untuk merenungkan kesalahan mereka…”

Jawab Letia yang tampak sudah tenang karena mendengar suara Cain. Mendengar perkataan itu, para petualang yang ada disekitar mereka mulai berusaha melarikan diri dengan terburu-buru.

“Lari!!! Bahaya disini!! “

“Seriusan nih!! Lari!!!”

Para petualang yang sudah mengenal Cain pun melarikan diri bersamaan. Para staff guild juga menghentikan pekerjaan mereka dan berusaha melarikan diri.

Para petualang yang belum mengenal Cain merasa kebingungan melihat para petualang yang melarikan diri, dan mengatakan ‘Kenapa melewatkan event seru begini’ sambil tertawa. Dan akhirnya mereka pun tahu alasannya mengapa mereka lari.

Jangan lupa untuk komen ya…

Dari sosok Cain yang sedang mengangguk, terpancar aura membunuh keseluruh pelosok aula. Jika dia serius, mungkin seluruh orang diaula ini akan langsung pingsan. Ia telah melakukan penyesuaian kekuatan nya dan jangkauannya.

Ketiga petualang yang menerima aura itu tepat di depan mata mereka langsung terkulai lemas. Para petualang yang tadi tertawa pun tak jauh berbeda, mereka gemetaran merasakan rasa takut yang luar biasa.

“…Kan sudah kubilang untuk berhenti…”

“Apa-apaan ini…”

“Apa-apaan ini bocah … ??”

Cain pun menarik kembali auranya, dan mengarahkan senyuman pada mereka.

“Letia-san ini adalah wakil ketua guild disini… kalian tahu kan apa maksudnya??”

Setelah aura itu menghilang, ketiga petualang yang terduduk lemas itu mulai berusaha berdiri. Namun seolah tak mengerti maksud Cain itu, mereka mengarahkan target bullyan mereka kepada Cain.

“Cuma cekcok sedikit saja sudah mengeluarkan aura membunuh!! Memangnya itu boleh!!!”

“Benar!! Jangan mentang mentang wakil ketua!!!! Itu namanya penyalahgunaan!! “

“Ya! Hukum bocah ini!”

Kalau bisa Di share juga ya…

Mereka bertigga menyuarakan kritik mereka, namun Letia hanya menghela nafas menyaksikan kebodohan para petualang ini.

“Cain-sama… tolong keluarkan kartu guild anda… mereka harus tahu sendang berhadapan dengan siapa…. Lagipula kita tidak butuh orang-orang bodoh dikota ini…”

Menuruti permintaan itu, Cain pun mengeluarkan kartu guild dari sakunya dan menyerahkannya kepada Letia. Ya, itu adalah kartu platinum milik peringkat S.

“Kalau begitu.. Kalian sudah menantang petualang peringkat S… apa tidak apa-apa??”

Mereka pun terdiam setelah mendengar itu.

Bahkan bagi petualang yang bodoh sekalipun memahami perbedaan kekuatan antara setiap peringkat. Peringkat S adalah bukti seorang petualang sudah diakui oleh kerajaan, dan memiliki kemampuan untuk melawan monster kelas bencna.

Mata para pria itu terbelalak, dan dalam sekejap mereka melarikan diri sambil berteriak ‘Maaf!!’.

“Ja-jangan-jangan dia itu adalah Silver Devil yang selalu diibicarakan itu….”

Begitulah bisikan yang terdengar dari para petualang di sekeliling Cain yang saling bergosip sambil gemetaran.

“Terima kasih, Cain-sama…Mereka pasti akan segera meninggalkan kota ini hari ini juga… Merepotkan saja..”

Cain hanya tersenyum melihat Letia yang masih tampak marah.

“— Ke-kenapa… Cain-kun…. Peringkat S…!?”

Seketika Cain menoleh kearah suara itu. Dan terlihat keempat petualang yang tadi sedang bersamanya sedang terduduk dilantai.

“Ah!! Aku lupa..!”

Cain pun teringat akan rahasianya, dan refleks menepuk dahinya dan merasa dia telah gagal menyembunyikan identitasnya. Dan kini dia hanya bisa mengalihkan pandangannya keatas.

Terimakasih telah mampir…

 

 

Anda telah membaca Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 4 Chapter 21 Chapter . Jadikan Kurozuku sebagai website favorit anda.

Comments

26 responses to “Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 4 Chapter 21”

  1. Tumben sepi chatnya ……..tapi asli lucu wkwkwkwwkwk

  2. MoltoUltra says:

    Up lagi gak min?

  3. Jio says:

    ?mantab?
    oh ya sedikit saran untuk team translator semoga di baca, kalau bisa jangan pakai bahasa gaul, menurut saya itu malah bikin cringe dan aneh, tapi ya semua kembali lagi ke team translator, terimakasih
    semangat terus KUROZUKU ?

    • KuroMage says:

      Terima kasih sarannya, disini ane pake bahasa berbeda untuk menunjukan bahasa yang digunakan oleh preman mabuk itu beda sama bahasa sopan yang dipake Cain, hehe ane coba perbaiki nanti kedepannya..

  4. Secret says:

    Bang, nanti ada update atau updatenya besuk lagi ?

  5. Its-a-me says:

    Kapan kena nerf nya ya nih bocah?

  6. Nana says:

    Lanjutkan

  7. Roxy says:

    Komen dulu biar rame kolom komentar

  8. Deni says:

    Ugh.. uwu min

  9. Zen says:

    Kok Malah Lucu…
    Wkwkwkwkwkwkwkwkwk…..
    Semangat Min…..

  10. Hogaku says:

    Lanjut min

  11. Yusuf says:

    Min petualang yg di chapter ini cari mslh sama cain itu umur brp? Di bagian umur mereka ada angka yg kurang… disitu ditulisnya 2 tahun… bayi dong wkwkwkwkw

  12. Shiput says:

    Hari ini ada update lagi gk min? Klo gk ada gue mau tidur aja (tiap jam ngecek update Mulu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *