Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 4 Chapter 6
~~

Selamat Membaca….

Cain dipandu ke ruang tamu, dan duduk berhadapan dengan Liltana. Disudut ruangan, pelayan sedang menyiapkan teh dan juga cemilan.

Di sepanjang koridor dari Aula menuju keruang tamu dihiasi oleh ornamen yang tak jauh berbeda antara Kerajaan dan Kekaisaran, semuanya merupakan barang-barang yang bagus.

Cain duduk disebuah sofa yang cukup nyaman dan ia sedikit merasa puas dengan itu.

“Cain-sama, ada apa? Kamu melihat-lihat sampai segitunya?? “

“Tidak, bukan apa-apa. Aku hanya penasaran.. jika negara ya berbeda apakah hobinya juga berbeda…”

Liltana tersenyum mendengar itu.

“Maaf membuat anda menunggu… Saya membuatkan anda teh khas Kekaisaran…”

Pelayan itu meletakan cangkir dihadapan mereka berdua, dan menuangkan teh kedalamnya. Cain pun mengambil cangkir itu dan mendekatkanya ke bibirnya, ia dapat merasakan aroma yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Dan ketika ia mencoba meminumnya, secara tak sengaja ekspresi wajahnya melembut, dan cita rasa teh buah menyebar didalam mulutnya. Melihat senyuman Cain, Liltana merasa puas, dan iapun meminum teh nya.

“Teh ini cukup enak… Ini pertama kali aku mencobanya… “

“Aku membawanya dari kekaisaran… aku sangat menyukainya…. Dan sejak kecil aku selalu meminumnya… Nigito selalu berhasil mendapatkannya entah bagaimana.. “

Ketika mereka sedang asik menikmati teh mereka, Nigito yang sudah selesai merapihkan barang pun masuk ke ruangan itu.

Terimakasih atas kesetiaan kalian untuk selalu menantikan kami……

“Tuan puteri Liltana, Saya telah selesai mengangkut semua barang-barangnya…”

“Terimakasih… Sepertinya Cain-sama juga meyukai teh yang kamu pilihkan…”

“Nigito-san… teh ini benar-benar enak… “

Nigito tersenyum senang mendengar perkataan Cain, ia pun bersiaga di belakang Liltana.

“Aku turut bangga jika anda senang, Earl Silford… Jika anda berkenan, meskiun cuma sedikit maukah anda membawanya pulang sebagai oleh-oleh? Atau karena ini adalah produk khas Kekaisaran, anda juga bisa melakukan pertunangan dengan tuan puteri Liltana, lalu ikut bersama kami ke kaisaran…”

“Niggito !!!”

Dengan wajah memerah Liltana berusaha memarahi Nigito yang sedang mengatakan hal yang tidak perlu. Liltana yang wajahnya memerah karena mendengar kata pertunangan, bangkit dan memukul kepala Nigito.

“Mohon maaf… seperinya saya sudah berlebihan… Earl Silord… mohon maaf kan saya…”

Nigito membungkuk sedalam-daalamnya, namun Liltana memukulnya lagi.

“Lil… Sudah cukup… aku tahu itu cuma bercada… Tuan puteri kekaisaran mana mungkin bisa semudah itu mengajukann pertunangan dengan bangsawan negeri lain… Aku tahu itu cuma candaannya…”

Liltana yang sedikit berharap itu nampak kecewa melihat Cain yang sedang tertawa, namun ia berusaha untuk tidak menunjukan ekspresi itu dan lanjut berbicara.

“Iya kan… Meskipun aku ini puteri keenam, aku juga merupakan puteri kaisar… mana bisa semudah itu…”

Liltana yang tampak sedih itu mengatakan hal itu dengan suara yang semakin mengecil di akhir kalimatnya.

Terimakasih kepada para donatur!!!

“Oh iya, Lil… kamu juga boleh memanggilku Cain saja… lagi pula aku juga memanggilmu Lil kan…. yah walaupun jika ditempat umum aku memanggilmu sebagai tuan puteri… Setidaknya disaat-saat seperti ini kita bisa menjadi seorang teman…ya kan?”

Mendengar perkataan Cain yang lembut ini, Liltana yang tadinya sedang bersedih mulai kembali ceria dan menganggukkan kepalanya dengan wajah yang memerah.

Didalam hari Liltana, ia merasa ragu untuk kembali memanggilnya dengn nama “Cain” sejak mereka pertama kali bertemu beberapa tahun lalu ketika mereka masih kecil. Tidak seperti ketika ia masih kecil, saat ini Liltana sudah dewasa dan merupakan wanita sepenuhnya.

“Ka-kalau begitu… izinkan aku memanggil… Cain…!”

Melihat Liltana yang bertingkah malu-malu itu, Nigito yang sangat jarang menunjukan ekspresinya itu sedang menahan tawa di dalam dirinya.

Setelah itu mereka berbincang selama beberapa menit.

“Kalau begitu aku pulang ya… Sampai jumpa disekolah…”

“Ya, Cain… Sampai jumpa besok!”

” Earl Silford, aku akan mengantar anda… “

Cain dipandu menuju ke kereta oleh Nigitp, da diantarkan pulang ke mansionnya. Nigito yang sedang mengendalikan kereta itu mencoba berbicara kepada Cain melalui jendela kecil.

Tolong dikomen ya kalau ada terjemahan yang aneh atau rancu…

“Cain-sama… Meski terlihat seperti itu, Puteri Liltana adalah orrang yang kesepian… tolong tetap lah akrab dengannya dimasa depan… Dan juga… ada alaasan mengapa beliau pindah sekolah ke kerajaan ini… Yah ceritanya panjang…Sebelum saya menjadi pelayannya, beliau pernah datang ke kerajaan ini sekali ketika masih kecil… Mungkin saja itu alasannya … “

“Ya.. aku pernah dengar itu dari Lil… dia pernah datang ke kota Ramesta… kampung halaman orang tuaku… Mungkin baginya datang kemari tidak menciptakan kesan buruk…”

Cain juga berusaha mengingat masa kecilnya ketika ia berkunjung ke kota Ramesta.

—Hmm…aku berlatih dengan para ksatria… Lalu…

“Loh? Gadis yang waktu itu di toko… kalau tidak salah namanya…”

Cain teringat tentan peristiwa dimana dia pernah memilihkan kalung untuk seorang gadis di sebuah toko.

“Jangan-jangan…”

Kereta kuda yang sedang mengangkut Cain yang tersenyum itu perlahan berjalan menuju ke mansion keluarga Silford.

◇◇◇

Maaf kemarin tidak Update… akan kita balas ketinggalan ini!!

Keesokan harinya, sepuulang sekolah Liltana berjalan menuju ke kereta meiliknya yang datang menjemput dirinya.

“Tuan puteri, terimakasih atas kerja keras anda…”

“Ya……”

Liltana yang nampak tidak bersemangat itu memandangi keluar jendela kereta. Ketika kereta itu mulai berjalan, di depan keretanya ada tiga kereta berjajar, dan mereka berjalan perlahan lahan.

Salah satu kereta itu berjalan seolah memimpin mereka, sedangkan kedua kereta lainnya berjalan lambat seolah menggangu jalannya kereta milik Liltana.

“Kereta di depan terlalu lambat ya… “

Nigito mengeluh sambil memperhatikan kereta didiepannya yang bergerak sangat lambat.

——

Ada seorang gadis yang sedang berjalan, jauh di depan kereta itu. Itu adalah— Palma yang sedang pulang lebih awal karena tidak ada pelajaran tambahan, dan sedang keluar membantu toko.

Palma berjalan menungjungi distrik bangsawan untuk menghubungi rumah-rumah yang memesan poduk-produk gelas.

“Baiklah… selanjutnya adalah… kediaman Marquis Cordino…”

Jangan lupa untuk komen ya…

Ketika Palma sedang memperhatikan catatannya, sebuah kereta kuda mendekatinya.
Dan —
Dua pria yang tiba-tiba keluar dari dalam kereta itu menutup mulut Palma dan mendaratkan satu pukulan ke perrutnya.

“Mugu …”

Pukulan itu cukup kuat sampai membuat tubuh Palma yang tidak terlatih itu menjadi pingsan. Lalu kedua pria itu membopong tubuh Palma dan melemparkannya kedalam keretayang berada di paling depan. Dan langsung mempercepat jalan kereta itu.

Nigito yang sedang berada di tempat kusir tidak terlalu jelas melihat hal ini, namun ia sempat melihat seseorang pria sedang membawa seseorang masuk kedalam kereta.

“?! ……”

Nigito ingin mengejar kereta itu, namun saat ini ia sedang membawa putri kaisar di dalam kereta itu. Dia mengerti bahwa dirinya tidak bisa mengambil resiko yang akan membahayakan Liltana, Apalagi dengan sifat keadilannya yang tinggi itu, Liltana pasti akan memerintahkannya untuk mengikuti jika mengetahui hal ini, maka dari itu Nigito hanya melanjutkan mengendalikan kereta apa adanya tanpa banyak bicara.

Ia terus memperhatikan ciri-ciri kereta yang menculik sesorang itu dengan matanya sampa kereta itu benar-benar tak terlihat lagi.

Setelah sampai di mansion, Nigito menjelaskan kejadian yang ia lihat kepada Liltana yang sedang duduk bersantai di sofa. Dia sadar bahwa dia pasti akan dimarahi, namun dia merasa Liltana akan aman karena sudah berada di mansion.

Kalau bisa Di share juga ya…

“Kenapa kamu tidak langsung mangejarnya!!! “

Tepat seperti apa yang dibayangkan Nigito, Liltana pun merasa marah dan gelisah.

“Saya mohon maaf… Jika Tuan puteri ada disana, saya tidak yakin akan mempu melindungi anda sendirian… Karena tugas utama saya adalah memastikan keselamatan anda…”

Melihat Nigito yang menundukan kepalanya, Liltana bangkit setelah menggebrak meja, dan hanya mengatakan,  “Ayo Pergi!” dan ia meninggalkan ruangan.

“Siap. Segera. Tujuannya…”

“Tentu saja ke markas Prajurit!! Apa lagi?? “

“Tapi ini adalah kerajaan.. dan kita adalah warga kekaisaran—“

“Ini bukan waktunya kamu mengatakan itu! “

“Baik, saya akan segera mempersiapkannya.. “

Sebagai pengawalan, Nigito membawa serta dua orang prajurit yang dibawa dari kekaisaran, dan mulai membawa kereta yang dinaiki oleh Liltana menuju ke Markas prajurit.

Terimakasih telah mampir…

 

 

Anda telah membaca Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 4 Chapter 6 Chapter . Jadikan Kurozuku sebagai website favorit anda.

Comments

14 responses to “Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 4 Chapter 6”

  1. Bahamut says:

    Up up

  2. Ardian-kun says:

    Anjay triple update? thnks min.. mantap kali
    Btw ane komen dulu biar dpt first,, ehh mlah dah keduluan ama mamank yg di atas:v

  3. Jio says:

    mantab, translate super cepat+rapi
    apa admin juga dapat Blessing Lv.10 dari Dewa seperti Cain?? hahaha
    semangat terus admin ??

  4. Hogaku says:

    Lanjut min

  5. MoltoUltra says:

    Mantap,,

  6. Fayd says:

    ku nemu versi raw nya, karena aku ga bisa ngebaca moon runes terpaksa nerjemahin pake google-translate, wkwkwk kacau banget. ya udah aku nunggu versi polosnya aja dari admin,
    semangat min 😀 😀 😀

  7. Hideri says:

    Ternyata up lagi ?
    Mantap sekali emang ini web ??

  8. Yusuf says:

    Mantap min

  9. Nana says:

    Lanjutkan terus min

  10. Arif P says:

    Mimin terbaik emng ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *