Vol.07 - Ch.13 ~ Persatuan

Anda sedang membaca Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 7 Chapter 13 di Kurozuku.

16 Jul 2020

Penerjemah : KuroMage

Selamat Membaca….

“…Jadi begitu ya…”

Cain bergumam dibalik tenda Oliver sambil tetap menghilangkan hawa keberadaannya. Dia meninggalkan tenda perlahan agar tidak ditemukan lalu kembali ketempat Claude dan yang lainnya menunggu.

“Kenapa, kok Lambat banget?”

“Aku diminta untuk menemani Bishop tadi…”

“Makanannya udah siap nih…Ayo…”

Cain agak bingung kepada siapa ia harus membicarakan tentang yang ia dengar barusan. Sebenarnya dia berniat untuk kembali ke tempat Bishop Hanam untuk membicarakan ini, namun setelah mendengar bahwa mereka akan meminta pembunuh, ia khawatir kalau akan ada korban diantara para petualang jika mereka tidak tahu hal ini.

Memang mereka bisa setidaknya melindungi diri sendiri, apalagi kali ini ada Claude yang tidak akan kalah jika itu pertempuran langsung. Namun kali ini ia tidak tahu mereka akan datang seperti apa. Jadi ia berpikir setidaknya mereka butuh persiapan.

Namun ia akhirnya memutuskan untuk memberitahu hal ini pada mereka setelah menjelaskan nya terlebih dahulu kepada Bishop Hanam.

Sambil mengikuti Claude Cain mengatur rencana dalam kepalanya.

Terimakasih atas kesetiaan kalian untuk selalu menantikan kami……

Makanan telah disiapkan dan para petualang sudah duduk mengelilingi meja. Ketika Claude dan Cain sudah duduk di tempat yang kosong, Rina pun berdiri dan memberikan aba-aba bersulang.

“Terimakasih atas kerjasama kita menghadapi penyerangan yang terjadi hari ini…. Kita bersyukur tidak ada siapapun diantara kita yang terluka…. Karena tempat ini dekat dengan tempat penyerangan tad, mungkin disini masih bahaya, jadi sakenya hanya satu gelas saja ya… Untuk pemaantauan akan dibagi dalam empat kelompok dan masing-masing terdiri dari dua orang…. Mari kita berjuang lagi esok hari!! Mari bersulang!”

“Bersulang!!!”

Semua orang mengangkat cangkir mereka dan menyentuhkannya, Claude memanfaatkan Magic Bag yang diberikan oleh Cain yang dapat menghentikan waktu untuk suatu barang itu, untuk membeli tong sake dan menyimpannya sementara di dalam tas itu. Rina juga memberi tahu bahwa mereka bisa menjual sake itu kepada party lain yang berada dalam satu quest. Cain teringat betapa semangatnya dia ketika mereka mengatakan sake mereka terjual dengan harga tinggi sampai-sampai mereka bisa dibilang minum sake gratis.

Namun kali ini mereka adalah korban yang selamat dari penyerangan, mereka tidak bisa berbuat sebebas itu. Meskipun ada bantuan dari Cain, namun berurusan dengan ratusan perampok membuat mental mereka cukup kelelahan.

Terimakasih kepada para donatur!!

Setelah selesai makan, mereka merapikan kembali peralatan dan mulai melakukan pembicaraan rencana yang akan dilaksanakan kedepannya. Cain pun meninggalkan posisinya dan menuju ke tenda Bihsop Hanam. Setelah mendapatkan izin, dia pun memasuki tenda dan paara ksatria pun keluar setelah mereka membungkuk.

“Cain-dono apa terjadi sesuatu???”

“Itu… Sebenarnya…”

Ia pun menyampaikan bahwa dia tadi menghapus keberadaannya dan menyusup ke tenda Priest Oliver. Hal ini dia lakukan karena ia merasa curiga dan ia akhirnya dapat mengetahui bahwa Priest Oliver terlibat dalam seangan ini.  Dia juga menjelaskan bahwa mereka mungkin akan menghubungi pembunuh untuk melakukan serangan lagi kedepannya.

“———Jika itu adalahh perkataan Cain-dono pasti itu memang benar….. Aku tidak menyangka bahwa dia benar-benar terlibat…. Sungguh menyedihkan, padahal dia seorang Priest…”

“Ya.. karena itu mungkin akan ada penyerangan lagi nanti… jadi aku ingin meminta pendapat Bishop apa boleh hal ini aku ungkapkan kepada para petualang pengawal…”

Tolong dikomen ya kalau ada terjemahan yang aneh atau rancu…

“Aku tidak keberatan… Justru aku akan merasaa bersalah jika terjadi sesuatu kepada petualang yang dipercayakan oleh yang mulia tanpa memberitahukan kebenaran ini… Bisakah Cain-dono membantuku??”

“Tentu saja… AKu ini adalah pengawal Bishop-sama… kalau begitu aku akan memberitahu mereka ya…”

“Ya… tapi tolong berhati-hati.. akan sangat berbahaya jika ini bocor ke pihak mereka….”

Cain pun mengangguk dan meninggalkan tenda lalu mennuju kembali ketempat para petualang tadi makan. Semua orang tampak sudah selesai beres-beres dan mereka sedang duduk-duduk sambil berbincang.

“Cain kamu kemana aja? Lagi main apa??”

“Ada yang harus aku bicarakan pada kalian semu… tolong dengarkan ini baik-baik, ini adalah sebuah rahasia…”

“Hm? Baiklah… Semua orang mengerti ya!?”

Claude menghentikan candaannya ketika melihat ekspresi serius Cain dan ia pun mulai serius.

“Aku sudah mendapatkan konfirmasi juga dari Bishop-sama tadi… Sepertinya memang benar bahwa orang gereja terlibat dalam penyerangan tadi siang…. Dan meskipun ini baru dugaan, kemungkinan dalang dibalik semua ini adalah Cardinal Bangla, dan Priest Oliver yang saat ini berkemah disebelah sana itu adalah salah satu pihak yang terlibat….”

“….!?”

Kata-kata Cain membuat semua orang terkejut.

Jangan lupa untuk komen ya…

“Jadi Priest yang mencurigakan itu benar terlibat ya… Apa tidak apa-apa kita membiarkan kampret itu begitu saja?? “

Claude mengepalkan tangannya diatas meja, namun Cain menggelengkan kepalanya.

“Kita tidak punya bukti… dan juga… ada kemungkinan tim pembunuh dari gereja akan bergerak… jika ada serangan lain, mungkin itu akan terjadi dalam dua hari lagi…”

Sudah dikonfirmasi bahwa ada ksatria yang bergegas menaiki kuda cepat meninggalkan tenda Priest Oliver. Butuh waktu sekitar 3 hari menggunakan kereta kuda dari lokasi saat ini menuju ke Ibukota. Namun dengan kuda cepat mungkin akan sampai kurang dari sehari. Jadi Cain berspekulasi bahwa mungkin akan ada serangan sehari sebelum mereka tiba di ibukota.

Karena ia tidak tahu hambatan seperti apa yang akan terjadi nanti, jadi ia berencana untuk pergi malam-malam dan terbang untuk mengawasi dari udara.

“Kalian sudah dengar kan? Akan ada serangan lagi nanti… Jangan sampai senjata kalian lengah… kita harus bisa selamat sampai ke ibukota…”

“Yaa!!”

Semua orang mengangguk. Cain pun merasa lega, dengan ini dia bisa sedikit lebih tenang.

“Oh, Cain, nanti kita bicara sebentar ya….”

Claude tersenyum menyeringai sambil meremas bahu Cain dengan erat.

Terimakasih telah mampir…

 

 

Selamat Membaca….

“…Jadi begitu ya…”

Cain bergumam dibalik tenda Oliver sambil tetap menghilangkan hawa keberadaannya. Dia meninggalkan tenda perlahan agar tidak ditemukan lalu kembali ketempat Claude dan yang lainnya menunggu.

“Kenapa, kok Lambat banget?”

“Aku diminta untuk menemani Bishop tadi…”

“Makanannya udah siap nih…Ayo…”

Cain agak bingung kepada siapa ia harus membicarakan tentang yang ia dengar barusan. Sebenarnya dia berniat untuk kembali ke tempat Bishop Hanam untuk membicarakan ini, namun setelah mendengar bahwa mereka akan meminta pembunuh, ia khawatir kalau akan ada korban diantara para petualang jika mereka tidak tahu hal ini.

Memang mereka bisa setidaknya melindungi diri sendiri, apalagi kali ini ada Claude yang tidak akan kalah jika itu pertempuran langsung. Namun kali ini ia tidak tahu mereka akan datang seperti apa. Jadi ia berpikir setidaknya mereka butuh persiapan.

Namun ia akhirnya memutuskan untuk memberitahu hal ini pada mereka setelah menjelaskan nya terlebih dahulu kepada Bishop Hanam.

Sambil mengikuti Claude Cain mengatur rencana dalam kepalanya.

Terimakasih atas kesetiaan kalian untuk selalu menantikan kami……

Makanan telah disiapkan dan para petualang sudah duduk mengelilingi meja. Ketika Claude dan Cain sudah duduk di tempat yang kosong, Rina pun berdiri dan memberikan aba-aba bersulang.

“Terimakasih atas kerjasama kita menghadapi penyerangan yang terjadi hari ini…. Kita bersyukur tidak ada siapapun diantara kita yang terluka…. Karena tempat ini dekat dengan tempat penyerangan tad, mungkin disini masih bahaya, jadi sakenya hanya satu gelas saja ya… Untuk pemaantauan akan dibagi dalam empat kelompok dan masing-masing terdiri dari dua orang…. Mari kita berjuang lagi esok hari!! Mari bersulang!”

“Bersulang!!!”

Semua orang mengangkat cangkir mereka dan menyentuhkannya, Claude memanfaatkan Magic Bag yang diberikan oleh Cain yang dapat menghentikan waktu untuk suatu barang itu, untuk membeli tong sake dan menyimpannya sementara di dalam tas itu. Rina juga memberi tahu bahwa mereka bisa menjual sake itu kepada party lain yang berada dalam satu quest. Cain teringat betapa semangatnya dia ketika mereka mengatakan sake mereka terjual dengan harga tinggi sampai-sampai mereka bisa dibilang minum sake gratis.

Namun kali ini mereka adalah korban yang selamat dari penyerangan, mereka tidak bisa berbuat sebebas itu. Meskipun ada bantuan dari Cain, namun berurusan dengan ratusan perampok membuat mental mereka cukup kelelahan.

Terimakasih kepada para donatur!!

Setelah selesai makan, mereka merapikan kembali peralatan dan mulai melakukan pembicaraan rencana yang akan dilaksanakan kedepannya. Cain pun meninggalkan posisinya dan menuju ke tenda Bihsop Hanam. Setelah mendapatkan izin, dia pun memasuki tenda dan paara ksatria pun keluar setelah mereka membungkuk.

“Cain-dono apa terjadi sesuatu???”

“Itu… Sebenarnya…”

Ia pun menyampaikan bahwa dia tadi menghapus keberadaannya dan menyusup ke tenda Priest Oliver. Hal ini dia lakukan karena ia merasa curiga dan ia akhirnya dapat mengetahui bahwa Priest Oliver terlibat dalam seangan ini.  Dia juga menjelaskan bahwa mereka mungkin akan menghubungi pembunuh untuk melakukan serangan lagi kedepannya.

“———Jika itu adalahh perkataan Cain-dono pasti itu memang benar….. Aku tidak menyangka bahwa dia benar-benar terlibat…. Sungguh menyedihkan, padahal dia seorang Priest…”

“Ya.. karena itu mungkin akan ada penyerangan lagi nanti… jadi aku ingin meminta pendapat Bishop apa boleh hal ini aku ungkapkan kepada para petualang pengawal…”

Tolong dikomen ya kalau ada terjemahan yang aneh atau rancu…

“Aku tidak keberatan… Justru aku akan merasaa bersalah jika terjadi sesuatu kepada petualang yang dipercayakan oleh yang mulia tanpa memberitahukan kebenaran ini… Bisakah Cain-dono membantuku??”

“Tentu saja… AKu ini adalah pengawal Bishop-sama… kalau begitu aku akan memberitahu mereka ya…”

“Ya… tapi tolong berhati-hati.. akan sangat berbahaya jika ini bocor ke pihak mereka….”

Cain pun mengangguk dan meninggalkan tenda lalu mennuju kembali ketempat para petualang tadi makan. Semua orang tampak sudah selesai beres-beres dan mereka sedang duduk-duduk sambil berbincang.

“Cain kamu kemana aja? Lagi main apa??”

“Ada yang harus aku bicarakan pada kalian semu… tolong dengarkan ini baik-baik, ini adalah sebuah rahasia…”

“Hm? Baiklah… Semua orang mengerti ya!?”

Claude menghentikan candaannya ketika melihat ekspresi serius Cain dan ia pun mulai serius.

“Aku sudah mendapatkan konfirmasi juga dari Bishop-sama tadi… Sepertinya memang benar bahwa orang gereja terlibat dalam penyerangan tadi siang…. Dan meskipun ini baru dugaan, kemungkinan dalang dibalik semua ini adalah Cardinal Bangla, dan Priest Oliver yang saat ini berkemah disebelah sana itu adalah salah satu pihak yang terlibat….”

“….!?”

Kata-kata Cain membuat semua orang terkejut.

Jangan lupa untuk komen ya…

“Jadi Priest yang mencurigakan itu benar terlibat ya… Apa tidak apa-apa kita membiarkan kampret itu begitu saja?? “

Claude mengepalkan tangannya diatas meja, namun Cain menggelengkan kepalanya.

“Kita tidak punya bukti… dan juga… ada kemungkinan tim pembunuh dari gereja akan bergerak… jika ada serangan lain, mungkin itu akan terjadi dalam dua hari lagi…”

Sudah dikonfirmasi bahwa ada ksatria yang bergegas menaiki kuda cepat meninggalkan tenda Priest Oliver. Butuh waktu sekitar 3 hari menggunakan kereta kuda dari lokasi saat ini menuju ke Ibukota. Namun dengan kuda cepat mungkin akan sampai kurang dari sehari. Jadi Cain berspekulasi bahwa mungkin akan ada serangan sehari sebelum mereka tiba di ibukota.

Karena ia tidak tahu hambatan seperti apa yang akan terjadi nanti, jadi ia berencana untuk pergi malam-malam dan terbang untuk mengawasi dari udara.

“Kalian sudah dengar kan? Akan ada serangan lagi nanti… Jangan sampai senjata kalian lengah… kita harus bisa selamat sampai ke ibukota…”

“Yaa!!”

Semua orang mengangguk. Cain pun merasa lega, dengan ini dia bisa sedikit lebih tenang.

“Oh, Cain, nanti kita bicara sebentar ya….”

Claude tersenyum menyeringai sambil meremas bahu Cain dengan erat.

Terimakasih telah mampir…

 

 

Comments

11 responses to “Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 7 Chapter 13”

  1. Kiruru says:

    Wahh maskin seeu nihh

  2. Keita shaleh says:

    Heem bahamut first lagi huhu

  3. Keita shaleh says:

    Heem claude kayak nya mau nyoba Cain sparing atau mau tukar pendapat

  4. Maple says:

    ko tadi kesatria kenapa gak cain susul aja ya terus bantai biar gak bisa melapor ke ibukotanya

  5. Hogaku says:

    Lanjut min

  6. Asparagus boy says:

    Semangat TL-nya min……………… Ditunggu kelanjutannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *