Vol.07 - Ch.17 ~ Kakak Bishop-sama orang yang Hebat??

Anda sedang membaca Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 7 Chapter 17 di Kurozuku.

18 Jul 2020

Penerjemah : KuroMage

Selamat Membaca….

“Maaf sudah menunjukan sisi memalukan ku…”

Hinata yang pipinya maih memerah itu membungkuk dihadapan Bishop Hanam.

Cain pada awalnya ingin duduk di samping Bishop Hanam, namun Hinata duduk tanpa melepaskan tangan Cain jadi dia pun duduk disampingnya.

“Tidak apa-apa…. Anda sudah lama tidak bertemu dengan beliau, tentunya anda pasti ingin berdua saja… Justru aku minta maaf karena orang tua ini malah mengganggu….”

Melihat Bishop Hanam menjawab sambil tersenyum Hinata tampak terseipu malu dan berusaha menyembunyikan wajahnya.

“Aku benar-benar terkejut saat menerima surat dari Hinata… Meskipun kamu terlihat lelah, namun kamu terlihat lebih sehat dari yang aku bayangkan….”

Hinata pun menghela nafas setelah mendengar perkataan Cain.

“Sebenarnya banyak hal terjadi dalam pemilihan Pope kali ini…”

Terimakasih atas kesetiaan kalian untuk selalu menantikan kami……

Hampir setiap hari keempat Cardinal melakukan pertemuan dengan Hinata. Sepertinya memang dukungan seorang Saint menjadi sangat penting bagi orang-orang di Marineford ini.

Cardinal Bangla yang memiliki fraksi terbanyak ingin merekrutnya untuk masuk. Salah satu Cardinal lain mengutarakan idealismenya yang sangat mustahil. Ada lagi Cardinal yang termuda yang memamerkan daya tariknya pada Hinata. Hanya Cardinal Denter, kakak Bishop Hanam yang mengobrol santai dengan dirinya.

“Cardinal Denter sudah merawatku sejak aku masih kecil, mungkin karena menduga aku telah lelah, dia sama sekali tidak membicarakan tentang pemilihan ini dan malah mengobrol biasa dengan ku… Dia selalu membawa cemilan yang enak…”

Cardinal Denter nampaknya tidak memiliki ambisi untuk menjadi seorang Pope. Cain juga mendengar hal serupa dari Bishop Hanam. Namun, dari penjelasan Hinata ini Cain merasa yang paling baik kepribadiannya justru adalah Cardinal Denter.

Setelah beberapa lama mereka berbincang, terdengar suara bising dari lorong yang ada diluar ruangan ini. Pintu pun diketuk lalu seorang lelaki tua yang agak mirip dengan Bishop Hanam menongolkan kepalanya dan mengintip kedalam.

“Aku dengar Hanam datang…. Ah ada.. ada… Hinata-sama juga ada disni ya…. Dan satu lagi???”

Cain menduga bahwa orang yang masuk tanpa menunggu izin ini adalah Cardinal Denter.

Terimakasih kepada para donatur!!!

“Kakak!!! Tidak, Cardinal Denter! Anda harus tahu tempat!!! Kami sedang dalam pertemuan dengan Saint-sama!”

“Yah, jangan marah-marah begitu…. Daripada itu, siapa bocah laki-laki yang duduk di sebelah Hinata-sama ini………Eh!?”

Cardinal Denter pun mengunci pintu agar tidak ada orang yang masuk. Lalu ketika ia berdiri tepat dihadapan Cain———

Dia langsung berlutut dan menundukan kepalanya.

“———Anda seorang utusan dewa ya…. Perkenalkan diri saya bernama Denter, salah satu Cardinal di  Kerajaan Marineford ini, saya merasa terhormat bisa bertemu anda wahai utusan para dewa….”

Pria tua yang tadi penuh dengan canda itu tiba-tiba bersujud sedalam dalamnua. Dan Cain pun teringat ketika pertama kali ia bertemu dengan Bishop Hanam.

“…Ternyata memang benar kakak bisa menyadarinya ya…”

Hinata pun tersenyum tanpa mengatakan apapun. Sedangkan dari sudut pandang Cain, ia malah  kebingungan bagaimana bisa dia ketahuan.

“Aku kerepotan jika anda terus berlutut disana… Silahkan duduk…”

Meskipun ini bukanlah ruangan milik Cain, namun dengan kosongnya posisi Pope, maka posisi tertinggi di Kerajaan Marineford ini dipegang oleh para Cardinal. Dan Cain benar-benar merasa tidak enak melihat sosok dengan posisi seperti itu, apalagi seorang lelaki tua berlutut dihadapan dirinya yang masih sangat muda ini.

Tolong dikomen ya kalau ada terjemahan yang aneh atau rancu…

“Tuh Cain-sama juga sudah bilang begitu… sini duduk disebelahku…”

Cardinal menundukan kepalanya sekali lagi lalu ia duduk disebelah Bishop Hanam. Namun ia melirik tajam kearah Hanam.

“Hanam…. Apa yang kau pikirkan membawa seorang utusan kemari begitu saja…. Bukannya kau harusnya mengabarkannya dulu kepadaku!!”

“Cardinal Denter, Cain-sama itu kemari karena aku yang memanggilnya…”

Hinata mengatakan itu sambil tersenyum dan melirik kearah Cain.

“Cardinal Denter, senang bertemu denganmu… Namaku adalah Cain von Silford Drintle… Saat ini aku adalah seorang Margrave di Kerajaan Esfort…. Aku ini selalu merepotkan Bishop Hanam… Dan juga jangan panggil aku utusan dewa, panggil saja aku Cain…”

Cain pun mempeekenalkan diri dengan sopan.

“Terima kasih banyak atas keramahan anda… Jadi kenapa Utusan— tidak, Cain-sama datang ke Kerajaan ini?? Ah, Cain-sama, Apa anda merupakan pasangan yang disebutkan dalam Petunjuk dewa yang disampaikan Hinata-sama sewaktu di Kerajaan Esfort….”

“Benar… Makanya aku memanggilnya kemari… ada terlalu banyak hal yang terjadi…. Selain itu… akun juga sudah lama tidak bertemu….”

Hinata menjawab dengan nada gembira, sedangkan Cain yang ada di sampingnya hanya bisa tersenyum pahit mendengar semua ini. Cardinal Denter pun tersenym ketika melihat mereka berdua.

Jangan lupa untuk komen ya…

“Jadi begitu ya rupanya…. Jika itu adalah Saint-sama dan Utusan Dewa, maka aku pun merasa yakin….Kurasa tidak ada lagi pasangan yang lebih serasi dari ini…”

Pada kenyataannya Cain sudah memiliki empat orang tunangan. Sewaktu pengumuman pertunangan Cain dan ketiga tunangannya tiba-tiba Hinata mengungkapkan petunjuk dewa untuk menjadi isteri Cain.

Pada waktu itu banyak Bangsawan dan perwakilan yang diundang, sehingga kabar ini benar-benar membuat gempar para bagsawan maupun pihak gereja. Namun karena Hinata mengungkapkan Petunjuk Dewa ini di hadapan semua orang, maka tak dapat dihindari dia harus menerima Hinata sebagai Isterinya.

Meskipun sebelum itu ia juga harus menjelaskan kepada Hinata tentang pertunangannya dengan Lizabeth yang merupakan ras Iblis. Namun sekarang bukanlah saat yang tepat untuk membahas itu. Masih ada hal yang jauh lebih penting dari itu.

Cain beranggapan perlu membicarakan masalah ini kepada seorang yang juga seorang Cardinal.

“Ano… Kalau begitu pertama-tama…. Selama perjalanan ku mengawal Bishop Hanam kemari, Aku mendapati dua kali penyerangan… Meskipun salah satunya bisa aku cegah sebelum benar-benar terjadi…”

Mendengar perkataan Cain ini semua orang menjadi suram dan tegang.

“———Hari ini, saya mendapatkan pemberitahuan itu dari kuda cepat yang dikirimkan kota Genacy…. Saya benar-benar meminta maaf atas kejadian ini…. Aku tidak menyangka mereka sampai menggunakan tim pembunuh kami…”

Nampak ekspresi Cardinal Denter benar-benar menyesal.

Terimakasih telah mampir…

Selamat Membaca….

“Maaf sudah menunjukan sisi memalukan ku…”

Hinata yang pipinya maih memerah itu membungkuk dihadapan Bishop Hanam.

Cain pada awalnya ingin duduk di samping Bishop Hanam, namun Hinata duduk tanpa melepaskan tangan Cain jadi dia pun duduk disampingnya.

“Tidak apa-apa…. Anda sudah lama tidak bertemu dengan beliau, tentunya anda pasti ingin berdua saja… Justru aku minta maaf karena orang tua ini malah mengganggu….”

Melihat Bishop Hanam menjawab sambil tersenyum Hinata tampak terseipu malu dan berusaha menyembunyikan wajahnya.

“Aku benar-benar terkejut saat menerima surat dari Hinata… Meskipun kamu terlihat lelah, namun kamu terlihat lebih sehat dari yang aku bayangkan….”

Hinata pun menghela nafas setelah mendengar perkataan Cain.

“Sebenarnya banyak hal terjadi dalam pemilihan Pope kali ini…”

Terimakasih atas kesetiaan kalian untuk selalu menantikan kami……

Hampir setiap hari keempat Cardinal melakukan pertemuan dengan Hinata. Sepertinya memang dukungan seorang Saint menjadi sangat penting bagi orang-orang di Marineford ini.

Cardinal Bangla yang memiliki fraksi terbanyak ingin merekrutnya untuk masuk. Salah satu Cardinal lain mengutarakan idealismenya yang sangat mustahil. Ada lagi Cardinal yang termuda yang memamerkan daya tariknya pada Hinata. Hanya Cardinal Denter, kakak Bishop Hanam yang mengobrol santai dengan dirinya.

“Cardinal Denter sudah merawatku sejak aku masih kecil, mungkin karena menduga aku telah lelah, dia sama sekali tidak membicarakan tentang pemilihan ini dan malah mengobrol biasa dengan ku… Dia selalu membawa cemilan yang enak…”

Cardinal Denter nampaknya tidak memiliki ambisi untuk menjadi seorang Pope. Cain juga mendengar hal serupa dari Bishop Hanam. Namun, dari penjelasan Hinata ini Cain merasa yang paling baik kepribadiannya justru adalah Cardinal Denter.

Setelah beberapa lama mereka berbincang, terdengar suara bising dari lorong yang ada diluar ruangan ini. Pintu pun diketuk lalu seorang lelaki tua yang agak mirip dengan Bishop Hanam menongolkan kepalanya dan mengintip kedalam.

“Aku dengar Hanam datang…. Ah ada.. ada… Hinata-sama juga ada disni ya…. Dan satu lagi???”

Cain menduga bahwa orang yang masuk tanpa menunggu izin ini adalah Cardinal Denter.

Terimakasih kepada para donatur!!!

“Kakak!!! Tidak, Cardinal Denter! Anda harus tahu tempat!!! Kami sedang dalam pertemuan dengan Saint-sama!”

“Yah, jangan marah-marah begitu…. Daripada itu, siapa bocah laki-laki yang duduk di sebelah Hinata-sama ini………Eh!?”

Cardinal Denter pun mengunci pintu agar tidak ada orang yang masuk. Lalu ketika ia berdiri tepat dihadapan Cain———

Dia langsung berlutut dan menundukan kepalanya.

“———Anda seorang utusan dewa ya…. Perkenalkan diri saya bernama Denter, salah satu Cardinal di  Kerajaan Marineford ini, saya merasa terhormat bisa bertemu anda wahai utusan para dewa….”

Pria tua yang tadi penuh dengan canda itu tiba-tiba bersujud sedalam dalamnua. Dan Cain pun teringat ketika pertama kali ia bertemu dengan Bishop Hanam.

“…Ternyata memang benar kakak bisa menyadarinya ya…”

Hinata pun tersenyum tanpa mengatakan apapun. Sedangkan dari sudut pandang Cain, ia malah  kebingungan bagaimana bisa dia ketahuan.

“Aku kerepotan jika anda terus berlutut disana… Silahkan duduk…”

Meskipun ini bukanlah ruangan milik Cain, namun dengan kosongnya posisi Pope, maka posisi tertinggi di Kerajaan Marineford ini dipegang oleh para Cardinal. Dan Cain benar-benar merasa tidak enak melihat sosok dengan posisi seperti itu, apalagi seorang lelaki tua berlutut dihadapan dirinya yang masih sangat muda ini.

Tolong dikomen ya kalau ada terjemahan yang aneh atau rancu…

“Tuh Cain-sama juga sudah bilang begitu… sini duduk disebelahku…”

Cardinal menundukan kepalanya sekali lagi lalu ia duduk disebelah Bishop Hanam. Namun ia melirik tajam kearah Hanam.

“Hanam…. Apa yang kau pikirkan membawa seorang utusan kemari begitu saja…. Bukannya kau harusnya mengabarkannya dulu kepadaku!!”

“Cardinal Denter, Cain-sama itu kemari karena aku yang memanggilnya…”

Hinata mengatakan itu sambil tersenyum dan melirik kearah Cain.

“Cardinal Denter, senang bertemu denganmu… Namaku adalah Cain von Silford Drintle… Saat ini aku adalah seorang Margrave di Kerajaan Esfort…. Aku ini selalu merepotkan Bishop Hanam… Dan juga jangan panggil aku utusan dewa, panggil saja aku Cain…”

Cain pun mempeekenalkan diri dengan sopan.

“Terima kasih banyak atas keramahan anda… Jadi kenapa Utusan— tidak, Cain-sama datang ke Kerajaan ini?? Ah, Cain-sama, Apa anda merupakan pasangan yang disebutkan dalam Petunjuk dewa yang disampaikan Hinata-sama sewaktu di Kerajaan Esfort….”

“Benar… Makanya aku memanggilnya kemari… ada terlalu banyak hal yang terjadi…. Selain itu… akun juga sudah lama tidak bertemu….”

Hinata menjawab dengan nada gembira, sedangkan Cain yang ada di sampingnya hanya bisa tersenyum pahit mendengar semua ini. Cardinal Denter pun tersenym ketika melihat mereka berdua.

Jangan lupa untuk komen ya…

“Jadi begitu ya rupanya…. Jika itu adalah Saint-sama dan Utusan Dewa, maka aku pun merasa yakin….Kurasa tidak ada lagi pasangan yang lebih serasi dari ini…”

Pada kenyataannya Cain sudah memiliki empat orang tunangan. Sewaktu pengumuman pertunangan Cain dan ketiga tunangannya tiba-tiba Hinata mengungkapkan petunjuk dewa untuk menjadi isteri Cain.

Pada waktu itu banyak Bangsawan dan perwakilan yang diundang, sehingga kabar ini benar-benar membuat gempar para bagsawan maupun pihak gereja. Namun karena Hinata mengungkapkan Petunjuk Dewa ini di hadapan semua orang, maka tak dapat dihindari dia harus menerima Hinata sebagai Isterinya.

Meskipun sebelum itu ia juga harus menjelaskan kepada Hinata tentang pertunangannya dengan Lizabeth yang merupakan ras Iblis. Namun sekarang bukanlah saat yang tepat untuk membahas itu. Masih ada hal yang jauh lebih penting dari itu.

Cain beranggapan perlu membicarakan masalah ini kepada seorang yang juga seorang Cardinal.

“Ano… Kalau begitu pertama-tama…. Selama perjalanan ku mengawal Bishop Hanam kemari, Aku mendapati dua kali penyerangan… Meskipun salah satunya bisa aku cegah sebelum benar-benar terjadi…”

Mendengar perkataan Cain ini semua orang menjadi suram dan tegang.

“———Hari ini, saya mendapatkan pemberitahuan itu dari kuda cepat yang dikirimkan kota Genacy…. Saya benar-benar meminta maaf atas kejadian ini…. Aku tidak menyangka mereka sampai menggunakan tim pembunuh kami…”

Nampak ekspresi Cardinal Denter benar-benar menyesal.

Terimakasih telah mampir…

Comments

12 responses to “Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 7 Chapter 17”

  1. Joooo says:

    Mak, anakmu top komeng ?

  2. Joooo says:

    Mak, anakmu top komeeeeeng ?

  3. Joooo says:

    Mak, anakmu pertamax ?

  4. Keita shaleh says:

    Wkwk HP gue agak lemot telat komen

  5. Keita shaleh says:

    Wah wah ada yang lansung tau si Cain itu utusan

  6. Hogaku says:

    Lanjut min

  7. Asparagus boy says:

    Semangat TL-nya min………….. Ditunggu kelanjutannya

  8. PK says:

    Hooo

    #Terimakasih KuroMage-sensei, semoga sehat selalu 🙏

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *