Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 7 Chapter 21
~Pernyataan Sang Saint~

Selamat Membaca….

Hari-hari pun berlalu dengan cepat, dan tibalah hari pemilihan Pope baru. Di tengah malam,  Cain dan Hinata sedang melakukan diskusi tahasia tentang apa saja yang akan dilakukan besok. Karena ia bisa menggunakan sihir transfer, maka dia bisa berpindah ke ruangan Hinata tanpa ada yang tahu.

“Cain-sama… Kurasa tidak apa-apa jika kita sekalian tidur bersama disini… lagipula tidak akan ada yang kemari sampai besok pagi…..”

“……… Aku kembali saja kekamarku…. Lagipula akukan sekamar dengan Bishop-sama….”

“Kamarnya bersebelahan kan?? Jangan bilang kalau kalian tidur di tempat tidur yang sama…..”

“Tidak lah….”

Hinata nampak sangat agresif mungkin karena dia sudah lama sekali tidak bertemu dengan Cain. Dan sepertinya dia juga mendapatkan beberapa saran dari Lime sehingga membuat dirinya semakin menggoda, Cain pun merasa sangat tertarik dan tak tahu bagaimana harus berbuat.

Namun, disaat yang genting seperti ini dia tidak mungkin mengutamakan hal ini. Ia pun memutar otaknya untuk mencari logika agar bisa terlepas dari suasana ini.

Sambil mengenang hal yang terjadi beberapa hari ini, Cain bersiap untuk saat dirinya beraksi.

◇◇◇

Terimakasih atas kesetiaan kalian untuk selalu menantikan kami……

Aula Kuil utama penuh dengan hawa antusiasme.

Para Bishop dan para Priest dari seluruh penjuru telah kembali dan berkumpul bersama dengan para Priest lainnya di Kerajaan Marineford. Semua ini adalalh untuk pemilihan Pope baru.

Tidak ada event lain yang mungkin bisa mengumpulkan ratusan orang penting gereja dalam satu tempat selain pemilihan Pope ini. Bahkan ketika Hinata memulai debutnya sebagai seorang Saint hanya beberapa orang Priest dalam negeri ini saja yang datang karena mereka pun tidak sibuk.

Dalam kasus penobatan Hinata ini, Pope terdahulu telah memberikan instruksi agar acara itu dimeriahkan oleh rakyat sipil ketimbang orang-orang gereja.

Karena Saint adalah simbol yang paling dikenali oelh penduduk negeri. Meskipun di gereja ada berbagai kelas seperti Cardinal, Bishop, dan Priest, namun bagi rakyat awam mereka ini hanyalah disebut sebagai ‘Orang Gereja’. Namun hal itu sangat berbeda dengan seorang Saint, Para warga sangat antusias dan merasa bangga dengan posisi yang ditempati oleh satu orang gadis ini.

Namun pada pemlilihan Pope kali ini warga menjadi pihak luar. Hanya pejabat gereja yang memiliki hak untuk membuat keputusan.

Semua orang yang tinggal di Kerajaan Marinford ini mungkin pada dasarnya merasa siapapun yang akan menjadi Pope maka akan sama saja. Wajar jika mereka tidak terlalu tertarik dengan orang-orang yang tidak pernah muncul dan tidak mereka kenal. Lagipula keberadaan nya itu tidak lebih layaknya cemilan teman minum sake.

Namun, hal itu berbeda dengan para pejabat gereja. Jika pimpinan fraksi mereka yang menjadi Pope, maka posisi mereka pun akan bisa naik. Dan sebaliknya, jika pihak lawan yang menang, maka akan ada kemungkinan mereka dipindahkan kedaerah terpencil atau diturunkan karena masalah usia.

Itu sebabnya mereka bersusah-payah untuk mengumpulkan suara demi masa depan mereka.

“Kalau begitu Mari kita mulai acara pemilihan Pope baru hari ini….”

Pembukaan dari sang MC membuat suara sorakan menggema diseluruh Kuil.

Terimakasih kepada para donatur!!!

“Pertama-tama, mari persilahkan keempat Cardinal kandidat Pope baru untuk muncul!!!”

Bersamaan dengan itu, keempat Cardinal muncul dari sisi panggung. Mereka menggunakan pakaian formal Cardinal, dan memang pakaian yang biasa mereka gunakan di Gereja.

Sosok pria yang pertama muncul adalah lelaki yang agak gemuk dan terlihat penuh lemak. Selanjutnya adalah orang yang berkacamata dan kurus yang memegang kitab dengan satu tangannya. Lalu diikuti oleh Cardinal Denter yang terlihat terlalu banyak melambaikan tangan dan tersenyum. Lalu yang terakhir adalah seorang pria, pria muda yang nampak rupawan. Pada saat dia muncul terdengar sorakan dari para Suster.

“Kalau begitu aku akan memperkenalkan lagi kepada kalian empat kandidat kita, dimulai dari yang paling kiri, Cardinal Denter, Cardinal Samtam, Cardinal Denter, dan terakhir  Cardinal Etoille. Mari beri tepuk tangan untuk mereka!!!”

Dengan aba-aba dari sang MC, seluruh audiens yang hadir pun bertepuk tangan.

“Kalau begitu mari kita mulai pemungutan suaranya… Anda semua akan mengisi formulir yang anda dapatkan di hari sebelumnya dan menuliskan pilihan anda disana…. Lalu kemudian masukan kedalam kotak suara…. Kalau begitu mari kita dengarkan sepatah kataa dari para kandidat…”

Sesuai dengan instruksi dari MC, maka Cardinal Bangla yang pertama kali maju kedepan.

“Aku adalah Bangla, Aku berniat mengubah Kerajaan Marineford ini menjadi benar-benar berbeda dari yang ada saat ini….Aku akan menjadikan para Bishop dan Priest yang dikirim ke negara lain bukan hanya sebagai hiasan…. Mereka harus masuk ke setiap pusat pemerintahan dan memiliki hak menyampaikan pendapat politik mereka…. Marineford itu berbeda dengan negeri lainnya, Kita harus menjadi pemimpin bagi negara-negara lain!!!!”

Terdengar suara sorakan yang meriah. Cardinal Bangla mengangkat satu tangannya dan setelah merasa puas dengan meriahnya suara itu dia pun kembali keposisi nya.

Tolong dikomen ya kalau ada terjemahan yang aneh atau rancu…

Berikutnya adalah giliran Cardinal Samtam yang berkacamata dan memegang sebuah kitab ditangannya… Marineford idamanku adalah sebuah negara yang menjalankan pemerintahan sesuai dengan ajaran para dewa…. Yang harus kita lakukan hanyalah berdoa… kita harus memahami petunjuk dewa dan menyebarkannya keseluruh dunia…. Jika seluruh dunia mematuhi ajaran ini, pasti para dewa akan senang… lalu….”

Dia terus mengatakan tentang idealisme dan perkataan membosankan itu. Samtam yang paling banyak bicara itu pun kembali ketempatnya dengan wajah puas.

Dan sepertinya memang tepuk tangan untuknya cukup sedikit. Dan selanjutnya giliran Cardinal Denter.

“Aku Denter…. Aku ingin setidaknya gereja memberikan kehidupan minimal kepada setiap manusia di dunia ini… Apa yang akan dilakukan anak-anak yang kehilangan orang tua mereka?? Aku ingin kita tidak menelantarkannya, kita harus merawatnya, memberikan pendidikan dan memastikan masa depan mereka cerah…. Dan pasti akan menjadi kebaikan untuk kita sendiri nanti dimasa depan…. Kita para pelayan dewa tidak perlu untuk hidup bermewah-mewahan… Jika kita punya kelebihan harta, sudah seharusnya kita mebaginya kepada yang tidak punya…itu pasti akan menjadi hal berharga di masa depan…”

Setelah mengatakan semua yang ingin dia katakan, Denter kembali ketempatnya dengan senyuman bahagia penuh kepuasan. Tepuktangan yng jumlahnya tak lebih banyak dari Cardinal Samtam pun terdengar mengiringinya.

Dan kemudian dilanjutkan dengan Cardinal Etoille yang merupakan kandidat termuda. Hanya dengan berjalan menuju podium saja  sudah terdengar sorakan para suster menggema diseluruh kuil.

Diawali dengan menyibakan poni nya dan kemudian menunjukan senyuman lebar diwajahnya. Hal ini membuat beberapa suster pingsan.

“Aku Etoille… aku ingin menebarkan senyuman pada dunia ini…. Untuk mewujudkannya, aku tak peduli kemanapun aku pergi….. Sambil mengelus anak-anak kucing ku aku ingin membuat dunia bahagia… Apa kalian mengerti, Sayangku???”

Cain yang mendengarkan ini dari belakang pun mulai merasa agak terganggu.

Jangan lupa untuk komen ya…

“Sepertinya memang semua kandidatnya ini tidak beres ya….Apa orang-orang seperti ini bisa jadi Cardinal…. Kurasa memang lebih baik jika orang seperti Bishop Hanam yang menjadi Pope…. Sepertinya sudah saatnya ya….”

Cain pun mengenakan jubah yang ia terima dari Dewa Keterampilan, Grimm. Dan dia pun juga menggunakan topeng yang diberikan oleh Zenom, sang Dewa Pencipta.

“Ah..aa….aaaah… Sepertinya suaranya memang berubah ya…”

Setelah semua persiapan selesai, Cain pun kembali fokus kearah panggung.

“Kita telah selesai mendnegarkan perkenalan diri dari masing-masing kandidat… Kali ini mari kita dengarkan sambutan dari Saint, Hinata-sama sebelum memulai pemungutan suara….”

Menuruti aba-aba dari sang MC, Hinata pun bediri dan berjalan perlahan menuju ke tengah panggung. Sosoknya benar-benar sangat menawan dan menunjukan kehormatan serta betapa bermartabatnya dia. Bahkan sosoknya ini membuat para Petinggi gereja menelan ludah.

Ia pun berbalik dan kemudian membungkuk kepada patung para dewa. Setelah itu ia pun melihat sekeliling kearah para petinggi gereja itu, dan kemudian mulai berbicara.

“Aku Hinata… Izinkan aku memberitahu ini pada kalian… Kali ini, kita tidak perlu melakukan pemungutan suara….”

……Eeeeeehhh!!!!???

Semua orang terkejut mendengar deklarasi Hinata.

Terimakasih telah mampir…

 

Selamat Membaca….

Hari-hari pun berlalu dengan cepat, dan tibalah hari pemilihan Pope baru. Di tengah malam,  Cain dan Hinata sedang melakukan diskusi tahasia tentang apa saja yang akan dilakukan besok. Karena ia bisa menggunakan sihir transfer, maka dia bisa berpindah ke ruangan Hinata tanpa ada yang tahu.

“Cain-sama… Kurasa tidak apa-apa jika kita sekalian tidur bersama disini… lagipula tidak akan ada yang kemari sampai besok pagi…..”

“……… Aku kembali saja kekamarku…. Lagipula akukan sekamar dengan Bishop-sama….”

“Kamarnya bersebelahan kan?? Jangan bilang kalau kalian tidur di tempat tidur yang sama…..”

“Tidak lah….”

Hinata nampak sangat agresif mungkin karena dia sudah lama sekali tidak bertemu dengan Cain. Dan sepertinya dia juga mendapatkan beberapa saran dari Lime sehingga membuat dirinya semakin menggoda, Cain pun merasa sangat tertarik dan tak tahu bagaimana harus berbuat.

Namun, disaat yang genting seperti ini dia tidak mungkin mengutamakan hal ini. Ia pun memutar otaknya untuk mencari logika agar bisa terlepas dari suasana ini.

Sambil mengenang hal yang terjadi beberapa hari ini, Cain bersiap untuk saat dirinya beraksi.

◇◇◇

Terimakasih atas kesetiaan kalian untuk selalu menantikan kami……

Aula Kuil utama penuh dengan hawa antusiasme.

Para Bishop dan para Priest dari seluruh penjuru telah kembali dan berkumpul bersama dengan para Priest lainnya di Kerajaan Marineford. Semua ini adalalh untuk pemilihan Pope baru.

Tidak ada event lain yang mungkin bisa mengumpulkan ratusan orang penting gereja dalam satu tempat selain pemilihan Pope ini. Bahkan ketika Hinata memulai debutnya sebagai seorang Saint hanya beberapa orang Priest dalam negeri ini saja yang datang karena mereka pun tidak sibuk.

Dalam kasus penobatan Hinata ini, Pope terdahulu telah memberikan instruksi agar acara itu dimeriahkan oleh rakyat sipil ketimbang orang-orang gereja.

Karena Saint adalah simbol yang paling dikenali oelh penduduk negeri. Meskipun di gereja ada berbagai kelas seperti Cardinal, Bishop, dan Priest, namun bagi rakyat awam mereka ini hanyalah disebut sebagai ‘Orang Gereja’. Namun hal itu sangat berbeda dengan seorang Saint, Para warga sangat antusias dan merasa bangga dengan posisi yang ditempati oleh satu orang gadis ini.

Namun pada pemlilihan Pope kali ini warga menjadi pihak luar. Hanya pejabat gereja yang memiliki hak untuk membuat keputusan.

Semua orang yang tinggal di Kerajaan Marinford ini mungkin pada dasarnya merasa siapapun yang akan menjadi Pope maka akan sama saja. Wajar jika mereka tidak terlalu tertarik dengan orang-orang yang tidak pernah muncul dan tidak mereka kenal. Lagipula keberadaan nya itu tidak lebih layaknya cemilan teman minum sake.

Namun, hal itu berbeda dengan para pejabat gereja. Jika pimpinan fraksi mereka yang menjadi Pope, maka posisi mereka pun akan bisa naik. Dan sebaliknya, jika pihak lawan yang menang, maka akan ada kemungkinan mereka dipindahkan kedaerah terpencil atau diturunkan karena masalah usia.

Itu sebabnya mereka bersusah-payah untuk mengumpulkan suara demi masa depan mereka.

“Kalau begitu Mari kita mulai acara pemilihan Pope baru hari ini….”

Pembukaan dari sang MC membuat suara sorakan menggema diseluruh Kuil.

Terimakasih kepada para donatur!!!

“Pertama-tama, mari persilahkan keempat Cardinal kandidat Pope baru untuk muncul!!!”

Bersamaan dengan itu, keempat Cardinal muncul dari sisi panggung. Mereka menggunakan pakaian formal Cardinal, dan memang pakaian yang biasa mereka gunakan di Gereja.

Sosok pria yang pertama muncul adalah lelaki yang agak gemuk dan terlihat penuh lemak. Selanjutnya adalah orang yang berkacamata dan kurus yang memegang kitab dengan satu tangannya. Lalu diikuti oleh Cardinal Denter yang terlihat terlalu banyak melambaikan tangan dan tersenyum. Lalu yang terakhir adalah seorang pria, pria muda yang nampak rupawan. Pada saat dia muncul terdengar sorakan dari para Suster.

“Kalau begitu aku akan memperkenalkan lagi kepada kalian empat kandidat kita, dimulai dari yang paling kiri, Cardinal Denter, Cardinal Samtam, Cardinal Denter, dan terakhir  Cardinal Etoille. Mari beri tepuk tangan untuk mereka!!!”

Dengan aba-aba dari sang MC, seluruh audiens yang hadir pun bertepuk tangan.

“Kalau begitu mari kita mulai pemungutan suaranya… Anda semua akan mengisi formulir yang anda dapatkan di hari sebelumnya dan menuliskan pilihan anda disana…. Lalu kemudian masukan kedalam kotak suara…. Kalau begitu mari kita dengarkan sepatah kataa dari para kandidat…”

Sesuai dengan instruksi dari MC, maka Cardinal Bangla yang pertama kali maju kedepan.

“Aku adalah Bangla, Aku berniat mengubah Kerajaan Marineford ini menjadi benar-benar berbeda dari yang ada saat ini….Aku akan menjadikan para Bishop dan Priest yang dikirim ke negara lain bukan hanya sebagai hiasan…. Mereka harus masuk ke setiap pusat pemerintahan dan memiliki hak menyampaikan pendapat politik mereka…. Marineford itu berbeda dengan negeri lainnya, Kita harus menjadi pemimpin bagi negara-negara lain!!!!”

Terdengar suara sorakan yang meriah. Cardinal Bangla mengangkat satu tangannya dan setelah merasa puas dengan meriahnya suara itu dia pun kembali keposisi nya.

Tolong dikomen ya kalau ada terjemahan yang aneh atau rancu…

Berikutnya adalah giliran Cardinal Samtam yang berkacamata dan memegang sebuah kitab ditangannya… Marineford idamanku adalah sebuah negara yang menjalankan pemerintahan sesuai dengan ajaran para dewa…. Yang harus kita lakukan hanyalah berdoa… kita harus memahami petunjuk dewa dan menyebarkannya keseluruh dunia…. Jika seluruh dunia mematuhi ajaran ini, pasti para dewa akan senang… lalu….”

Dia terus mengatakan tentang idealisme dan perkataan membosankan itu. Samtam yang paling banyak bicara itu pun kembali ketempatnya dengan wajah puas.

Dan sepertinya memang tepuk tangan untuknya cukup sedikit. Dan selanjutnya giliran Cardinal Denter.

“Aku Denter…. Aku ingin setidaknya gereja memberikan kehidupan minimal kepada setiap manusia di dunia ini… Apa yang akan dilakukan anak-anak yang kehilangan orang tua mereka?? Aku ingin kita tidak menelantarkannya, kita harus merawatnya, memberikan pendidikan dan memastikan masa depan mereka cerah…. Dan pasti akan menjadi kebaikan untuk kita sendiri nanti dimasa depan…. Kita para pelayan dewa tidak perlu untuk hidup bermewah-mewahan… Jika kita punya kelebihan harta, sudah seharusnya kita mebaginya kepada yang tidak punya…itu pasti akan menjadi hal berharga di masa depan…”

Setelah mengatakan semua yang ingin dia katakan, Denter kembali ketempatnya dengan senyuman bahagia penuh kepuasan. Tepuktangan yng jumlahnya tak lebih banyak dari Cardinal Samtam pun terdengar mengiringinya.

Dan kemudian dilanjutkan dengan Cardinal Etoille yang merupakan kandidat termuda. Hanya dengan berjalan menuju podium saja  sudah terdengar sorakan para suster menggema diseluruh kuil.

Diawali dengan menyibakan poni nya dan kemudian menunjukan senyuman lebar diwajahnya. Hal ini membuat beberapa suster pingsan.

“Aku Etoille… aku ingin menebarkan senyuman pada dunia ini…. Untuk mewujudkannya, aku tak peduli kemanapun aku pergi….. Sambil mengelus anak-anak kucing ku aku ingin membuat dunia bahagia… Apa kalian mengerti, Sayangku???”

Cain yang mendengarkan ini dari belakang pun mulai merasa agak terganggu.

Jangan lupa untuk komen ya…

“Sepertinya memang semua kandidatnya ini tidak beres ya….Apa orang-orang seperti ini bisa jadi Cardinal…. Kurasa memang lebih baik jika orang seperti Bishop Hanam yang menjadi Pope…. Sepertinya sudah saatnya ya….”

Cain pun mengenakan jubah yang ia terima dari Dewa Keterampilan, Grimm. Dan dia pun juga menggunakan topeng yang diberikan oleh Zenom, sang Dewa Pencipta.

“Ah..aa….aaaah… Sepertinya suaranya memang berubah ya…”

Setelah semua persiapan selesai, Cain pun kembali fokus kearah panggung.

“Kita telah selesai mendnegarkan perkenalan diri dari masing-masing kandidat… Kali ini mari kita dengarkan sambutan dari Saint, Hinata-sama sebelum memulai pemungutan suara….”

Menuruti aba-aba dari sang MC, Hinata pun bediri dan berjalan perlahan menuju ke tengah panggung. Sosoknya benar-benar sangat menawan dan menunjukan kehormatan serta betapa bermartabatnya dia. Bahkan sosoknya ini membuat para Petinggi gereja menelan ludah.

Ia pun berbalik dan kemudian membungkuk kepada patung para dewa. Setelah itu ia pun melihat sekeliling kearah para petinggi gereja itu, dan kemudian mulai berbicara.

“Aku Hinata… Izinkan aku memberitahu ini pada kalian… Kali ini, kita tidak perlu melakukan pemungutan suara….”

……Eeeeeehhh!!!!???

Semua orang terkejut mendengar deklarasi Hinata.

Terimakasih telah mampir…

 

Anda telah membaca Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Chapter Vol.07 - Ch.21. Jadikan Kurozuku sebagai website favorit anda.

Comments

11 responses to “Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 7 Chapter 21”

  1. Hh says:

    Pertamax ga ini

  2. Keita shaleh says:

    Semangat min lanjut klo bisa sebelum magrib up lagi

  3. Yusuf says:

    Lanjutkan

  4. Maple says:

    telat beberapa detik

  5. Hogaku says:

    Lanjut min

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *