Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 8 Chapter 2
~Keberadaan Permata itu~

Selamat Membaca….

Cain merasa meragukan pendengarannya setelah nama Hero, Holy Knight, dan Sage disebutkan. Tentang Hero, itu mengacu kepada Yuuya yang merupakan raja pertama kerajaan Esfort dan juga merupakan guru Cain. Dan kedua orang lainnya adalah kedua orang tua Cain.

(Apa jangan-jangan ada orang yang dipanggil?? Tapi mereka dipanggil di Kekaisaran Vysus….. Kurasa aku harus memastikan ini dengan Hinata…)

“Cain? Ada apa?”

Melihat Cain tiba-tiba berdiri sang raaja pun bertanya.

“Tidak apa-apa… hanya saja, seharusnya Hero, Holy Knight dan Sage itu tidak akan muncul pada keadaan normal… Jangan-jangan… Izinkan aku memastiknnya dahulu… dan juga, jika lawannya adalah mereka bertiga, aku juga akan pergi ke Beast Kingdom….”

Cain mengatakan itu dengan penuh penekanan, namun sang raja menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak akan mengizinkan anak dibaah umur melakukan kegiatan yang berhubungan dengan militer…. Itu adalah peraturan dari raja pertama… aku tidak bisa mengubah itu, tak perduli betapa kuatnya dirimu….”

“Dia mungkin tidak bisa maju di garis depan, bagaimana dengan membiarkannya pergi sebagai pengguna sihir pemulihan?? Harusnya tidak akan ada bahaya…”

Duke Eric mencoba memberikan masukan. Pada kenyataannya Cain bisa mengalahkan semua musuh sendieian, namun jika Cain berdiri di garis depan dan Kekaisaran Vysus mengetahui identitasnya, itu bisa memicu perang antara Kekaisaran Vysus dan Kerajaan Esfort.

Meskipun sang raja agak khawatir dengan kata-kata Duke Eric, namun akhirnya dengan enggan dia pun memberikan izin.

“Baiklah…. Selain Cain, aku akan memanggil beberapa orang petualang….  Tentu saja aku juga akan mengikutsertakan pengawas untukmu…. Kalau kau sendirian aku tidak tahu hal apa lagi yang akan kamu lakukan nantinya…”

Semua orang tersenyum pahit mendengar perkataan sang raja. Pada kenyataannya sudah banyak hal berlebihan yang dilakukan Cain. Mungkin masih bisa ditanggulangi jika itu didalam negeri, namun akan sulit jika itu terjadi di luar negeri.

“Baiklah, kalau begitu aku akan memulai persiapan…”

Setelah melakukan beberapa pembahaasan, pertemuan itu pun bubar, dan Cain kembali kemansionnya. Ia harus bertanya kepada sang Pope dan Hinata tentang permata pemanggilan itu.

Jika tetap dalam kostum Cain, ia tidak akan mudah untuk bertemu dengan Pope. Dia harus menggunakan jubah putih dan topeng agar bisa bergerak bebas di Marineford.

Terimakasih atas kesetiaan kalian untuk selalu menantikan kami……

“Kalau begini bisa lebih mudah bergerak…”

Suara yang tidak jelas antara pria atau wanita itu bergema di ruangan itu. Jika dia tidak menggunakan identitasnya sebagai utusan dewa, dia akan dikejar-kejar oleh Ksatria dan tidak akan bisa bergerak bebas.

Itu sebabnya ia mencoba memanfaatkan identitas ini untuk bisa bertemu dengan Pope dan Hinata sang Saint. Cain langssung berpindah ke dekat Markas Pusat Gereja.

Meskipun bisa saja ia langsung berpindah ke kamar Hinata, dan pastinya Hinata tidak akan melaporkan apa-apa tentang ini, namun ia memilih datang terang-terangan sebagai utusan Dewa.

Melihat Cain yang menggunakan jubah dari ujung kepala hingga ujung kaki dan memakai topeng ini, para Ksatria yang menjaga gerbang pun menjadi tegang.

“Dasar orang mencurigakan!! Kau tidak boleh lewat lebih dari ini tanpa izin!!!”

Ksatria itu sudah bersiap memegang pedang yang ada di pinggangnya, namun Ksatria gereja yang lain pun memberikan isyarat dengan tangannya.

“Jangan-jangan…. Anda utusan Dewa???”

Mendengar ksatria itu bertanya dengan gugup, Cain pun mengangguk perlahan.

“Ternyata benar… tolong tunggu sebentar, saya akan segera mengantar anda…. Hei!! Kau sangat tidak sopan!! Beliau ini adalah utusan dewa!!”

“Eh..!? Utusan dewa!?”

Salah seorang penjaga berlari menuju kedalam gereja.

Seorang penjaga berlari ke gereja. Segera salah seorang Priest datang untuk menyambut.

“Selamat datang, Utusan Dewa… Kami akan membimbing anda untuk bertemu dengan Pope-sama dan Saint-sama….”

“……Terima kasih….”

Suara dari Cain membuat ksatria itu berdiri tegak dan terus memperhatikan dirinya masuk kedalam gereja.

Terimakasih kepada para donatur!!! 

Melihat Cain berjalan mengikuti sang Priest, orang-orang yang ada di gereja itu segera berlutut dan menyatukan kedua tangan mereka lalu kemudian berdoa.

Cain sebenarnya merasa tidak enak melihat fenomena ini, namun ia sadar bahwa saat ini dia sedang memerankan peran sebagai utusan dewa, jadi dia hanya bisa diam dan mengikuti sang Priest.

“Saya sudah mengirimkan orang untuk memberitahu Pope-sama dan Saint-sama terlebih dahulu… Saya akan antarkan anda ke ruangan Pope-sama….”

Semua ini berjalan lebih mulus dari apa yang dia bayangkan, namun Cain justru merasa lebih khawatir. Ia penasaran apa akan mudah seseorang mencurigakan yang menggunakan topeng dan jubah yang sedikit mewah untuk lewat begitu saja.

“Apa anda tidak curiga bahwa aku bukan utusan dewa??”

Setelah mendengar pertanyaan dari Cain, sang Priest itu pun berbalik dan tersenyum.

“Saya bisa langsung mengenali anda sebagai seorang utusan dewa…. Saya bisa melihat aura dewa dari jubah yang anda kenakan….. Sayajuga ada di lokasi pemilihan Pope…”

“… Begitu ya… terima kasih”

“Tidak… tidak… justru saya sangat bersyukur bisa berbicara dengan utusan dewa…. Saat ini gereja juga menjadi lebih baik sejak terpilihnya Pope baru… Mungkin ini juga berkat anda utusan dewa….”

Priest itu pun membungkuk, lalu ia berbalik dan kembali mengantar kan Cain. Cain perlahan mengikutinya dari belakang. Setelah menaiki beberapa tangga, sang Priest berhenti di depan sebuah pintu yang terlihat mewah dilantai paling atas.

Tolong dikomen ya kalau ada terjemahan yang aneh atau rancu…

“Disini tempatnya, mohon tunggu sebentar….”

Sang Priest mengetuk pintu, dan setelah memberitahukan bahwa utusan dewa sudah datang, tiba-tiba pintu dibuka dengan penuh semangat.

“Sudah lama tidak berjumpa! Utusan Dewa!!!”

Dengan penuh semangat Pope Denter memeluk erat Cain.

“Eh…!?”

Cain pun terkejut, dan tiba-tiba terdengar suara dari belakang Pope Denter yang memeluk Cain dengan penuh senyum.

“Pope-sama…. Jika anda melakukan itu, itu tidak sopan untuk Utusan Dewa…. Sang Utusan, lama tidak berjumpa…”

“Oh iya… Utusan Dewa, mohon maafkan saya…”

Setelah agak menjauh dari Cain, Cardinal Denter pun meminta maaf sambil meggaruk kepalnya.

“Tidak apa-apa, aku hanya sedikit terkejut…”

“Saya juga!!!”

Tiba-tiba Hinata memeluk Cain menggantikan Pope Denter.

“Ehhh…!?”

Jangan lupa untuk komen ya…

Melihat sang Priest yang terdiam menyaksikan mereka bertiga, Sang Pope pun mempersilahkannya untuk pergi. Priest itu pun membungkuk dan kemudian pergi.

“Hinata, Kamu tidak boleh memeluknya di koridor seperti ini…. Nanti kan ada waktunya….”

Hinata yang pipinya agak memerah itu pun menjauh dari Cain.

“Maaf.. mari masuk kedalam….”

Cain pun diajak oleh Hinata untuk masuk kedalam ruangan. Hanya ada Pope Denter dan Hinata di ruangan itu, Cain pun duduk di sofa yang kosong.

“Jadi, ada apa tiba-tiba?? Yah… pasti soal itu ya….”

Pope Denter mengatakan itu seolah-olah ia sudah menebaknya.

“Sebenarnya…. Kekaisaran Vysus sudah melakukan serangan kepada Beast Kingdom Kermes… dan Hero, Holy Knight, dan Sage, ketiga sosok ini muncul disana…. Namun seharusnya permata pemanggilan adalah harta Kerajaan Marineford ini….Karena itu aku datang untuk memastikan ini…”

“Ternyata benar begitu ya… Tentang itu, beritanya juga sudah sampai ke Kerajaan ini….. Karena itu aku sesegera mungkin memeriksa ruang harta….. dan ternyata ketika kasus pembunuhan Pope terjadi, Permata itu adalah salah satu benda yang hilang….”

Cain terlihat marah setelah mendengar jawaban Pope Denter.

Terimakasih telah mampir…

 

Selamat Membaca….

Cain merasa meragukan pendengarannya setelah nama Hero, Holy Knight, dan Sage disebutkan. Tentang Hero, itu mengacu kepada Yuuya yang merupakan raja pertama kerajaan Esfort dan juga merupakan guru Cain. Dan kedua orang lainnya adalah kedua orang tua Cain.

(Apa jangan-jangan ada orang yang dipanggil?? Tapi mereka dipanggil di Kekaisaran Vysus….. Kurasa aku harus memastikan ini dengan Hinata…)

“Cain? Ada apa?”

Melihat Cain tiba-tiba berdiri sang raaja pun bertanya.

“Tidak apa-apa… hanya saja, seharusnya Hero, Holy Knight dan Sage itu tidak akan muncul pada keadaan normal… Jangan-jangan… Izinkan aku memastiknnya dahulu… dan juga, jika lawannya adalah mereka bertiga, aku juga akan pergi ke Beast Kingdom….”

Cain mengatakan itu dengan penuh penekanan, namun sang raja menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak akan mengizinkan anak dibaah umur melakukan kegiatan yang berhubungan dengan militer…. Itu adalah peraturan dari raja pertama… aku tidak bisa mengubah itu, tak perduli betapa kuatnya dirimu….”

“Dia mungkin tidak bisa maju di garis depan, bagaimana dengan membiarkannya pergi sebagai pengguna sihir pemulihan?? Harusnya tidak akan ada bahaya…”

Duke Eric mencoba memberikan masukan. Pada kenyataannya Cain bisa mengalahkan semua musuh sendieian, namun jika Cain berdiri di garis depan dan Kekaisaran Vysus mengetahui identitasnya, itu bisa memicu perang antara Kekaisaran Vysus dan Kerajaan Esfort.

Meskipun sang raja agak khawatir dengan kata-kata Duke Eric, namun akhirnya dengan enggan dia pun memberikan izin.

“Baiklah…. Selain Cain, aku akan memanggil beberapa orang petualang….  Tentu saja aku juga akan mengikutsertakan pengawas untukmu…. Kalau kau sendirian aku tidak tahu hal apa lagi yang akan kamu lakukan nantinya…”

Semua orang tersenyum pahit mendengar perkataan sang raja. Pada kenyataannya sudah banyak hal berlebihan yang dilakukan Cain. Mungkin masih bisa ditanggulangi jika itu didalam negeri, namun akan sulit jika itu terjadi di luar negeri.

“Baiklah, kalau begitu aku akan memulai persiapan…”

Setelah melakukan beberapa pembahaasan, pertemuan itu pun bubar, dan Cain kembali kemansionnya. Ia harus bertanya kepada sang Pope dan Hinata tentang permata pemanggilan itu.

Jika tetap dalam kostum Cain, ia tidak akan mudah untuk bertemu dengan Pope. Dia harus menggunakan jubah putih dan topeng agar bisa bergerak bebas di Marineford.

Terimakasih atas kesetiaan kalian untuk selalu menantikan kami……

“Kalau begini bisa lebih mudah bergerak…”

Suara yang tidak jelas antara pria atau wanita itu bergema di ruangan itu. Jika dia tidak menggunakan identitasnya sebagai utusan dewa, dia akan dikejar-kejar oleh Ksatria dan tidak akan bisa bergerak bebas.

Itu sebabnya ia mencoba memanfaatkan identitas ini untuk bisa bertemu dengan Pope dan Hinata sang Saint. Cain langssung berpindah ke dekat Markas Pusat Gereja.

Meskipun bisa saja ia langsung berpindah ke kamar Hinata, dan pastinya Hinata tidak akan melaporkan apa-apa tentang ini, namun ia memilih datang terang-terangan sebagai utusan Dewa.

Melihat Cain yang menggunakan jubah dari ujung kepala hingga ujung kaki dan memakai topeng ini, para Ksatria yang menjaga gerbang pun menjadi tegang.

“Dasar orang mencurigakan!! Kau tidak boleh lewat lebih dari ini tanpa izin!!!”

Ksatria itu sudah bersiap memegang pedang yang ada di pinggangnya, namun Ksatria gereja yang lain pun memberikan isyarat dengan tangannya.

“Jangan-jangan…. Anda utusan Dewa???”

Mendengar ksatria itu bertanya dengan gugup, Cain pun mengangguk perlahan.

“Ternyata benar… tolong tunggu sebentar, saya akan segera mengantar anda…. Hei!! Kau sangat tidak sopan!! Beliau ini adalah utusan dewa!!”

“Eh..!? Utusan dewa!?”

Salah seorang penjaga berlari menuju kedalam gereja.

Seorang penjaga berlari ke gereja. Segera salah seorang Priest datang untuk menyambut.

“Selamat datang, Utusan Dewa… Kami akan membimbing anda untuk bertemu dengan Pope-sama dan Saint-sama….”

“……Terima kasih….”

Suara dari Cain membuat ksatria itu berdiri tegak dan terus memperhatikan dirinya masuk kedalam gereja.

Terimakasih kepada para donatur!!! 

Melihat Cain berjalan mengikuti sang Priest, orang-orang yang ada di gereja itu segera berlutut dan menyatukan kedua tangan mereka lalu kemudian berdoa.

Cain sebenarnya merasa tidak enak melihat fenomena ini, namun ia sadar bahwa saat ini dia sedang memerankan peran sebagai utusan dewa, jadi dia hanya bisa diam dan mengikuti sang Priest.

“Saya sudah mengirimkan orang untuk memberitahu Pope-sama dan Saint-sama terlebih dahulu… Saya akan antarkan anda ke ruangan Pope-sama….”

Semua ini berjalan lebih mulus dari apa yang dia bayangkan, namun Cain justru merasa lebih khawatir. Ia penasaran apa akan mudah seseorang mencurigakan yang menggunakan topeng dan jubah yang sedikit mewah untuk lewat begitu saja.

“Apa anda tidak curiga bahwa aku bukan utusan dewa??”

Setelah mendengar pertanyaan dari Cain, sang Priest itu pun berbalik dan tersenyum.

“Saya bisa langsung mengenali anda sebagai seorang utusan dewa…. Saya bisa melihat aura dewa dari jubah yang anda kenakan….. Sayajuga ada di lokasi pemilihan Pope…”

“… Begitu ya… terima kasih”

“Tidak… tidak… justru saya sangat bersyukur bisa berbicara dengan utusan dewa…. Saat ini gereja juga menjadi lebih baik sejak terpilihnya Pope baru… Mungkin ini juga berkat anda utusan dewa….”

Priest itu pun membungkuk, lalu ia berbalik dan kembali mengantar kan Cain. Cain perlahan mengikutinya dari belakang. Setelah menaiki beberapa tangga, sang Priest berhenti di depan sebuah pintu yang terlihat mewah dilantai paling atas.

Tolong dikomen ya kalau ada terjemahan yang aneh atau rancu…

“Disini tempatnya, mohon tunggu sebentar….”

Sang Priest mengetuk pintu, dan setelah memberitahukan bahwa utusan dewa sudah datang, tiba-tiba pintu dibuka dengan penuh semangat.

“Sudah lama tidak berjumpa! Utusan Dewa!!!”

Dengan penuh semangat Pope Denter memeluk erat Cain.

“Eh…!?”

Cain pun terkejut, dan tiba-tiba terdengar suara dari belakang Pope Denter yang memeluk Cain dengan penuh senyum.

“Pope-sama…. Jika anda melakukan itu, itu tidak sopan untuk Utusan Dewa…. Sang Utusan, lama tidak berjumpa…”

“Oh iya… Utusan Dewa, mohon maafkan saya…”

Setelah agak menjauh dari Cain, Cardinal Denter pun meminta maaf sambil meggaruk kepalnya.

“Tidak apa-apa, aku hanya sedikit terkejut…”

“Saya juga!!!”

Tiba-tiba Hinata memeluk Cain menggantikan Pope Denter.

“Ehhh…!?”

Jangan lupa untuk komen ya…

Melihat sang Priest yang terdiam menyaksikan mereka bertiga, Sang Pope pun mempersilahkannya untuk pergi. Priest itu pun membungkuk dan kemudian pergi.

“Hinata, Kamu tidak boleh memeluknya di koridor seperti ini…. Nanti kan ada waktunya….”

Hinata yang pipinya agak memerah itu pun menjauh dari Cain.

“Maaf.. mari masuk kedalam….”

Cain pun diajak oleh Hinata untuk masuk kedalam ruangan. Hanya ada Pope Denter dan Hinata di ruangan itu, Cain pun duduk di sofa yang kosong.

“Jadi, ada apa tiba-tiba?? Yah… pasti soal itu ya….”

Pope Denter mengatakan itu seolah-olah ia sudah menebaknya.

“Sebenarnya…. Kekaisaran Vysus sudah melakukan serangan kepada Beast Kingdom Kermes… dan Hero, Holy Knight, dan Sage, ketiga sosok ini muncul disana…. Namun seharusnya permata pemanggilan adalah harta Kerajaan Marineford ini….Karena itu aku datang untuk memastikan ini…”

“Ternyata benar begitu ya… Tentang itu, beritanya juga sudah sampai ke Kerajaan ini….. Karena itu aku sesegera mungkin memeriksa ruang harta….. dan ternyata ketika kasus pembunuhan Pope terjadi, Permata itu adalah salah satu benda yang hilang….”

Cain terlihat marah setelah mendengar jawaban Pope Denter.

Terimakasih telah mampir…

 

Anda telah membaca Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Chapter Vol.08 - Ch.02. Jadikan Kurozuku sebagai website favorit anda.

Comments

16 responses to “Tensei Kizoku no Isekai Boukenroku Volume 8 Chapter 2”

  1. Keita shaleh says:

    Hayo apakah tar amarah nya Cain akan terjadi dan apakah Cain akan ngeluarin semua kekuatan/setengah/1/3/1/4 dari semua kekuatan nya bisa ancur semua wkwkwk

  2. Goddess Lime says:

    Wah apa perlu saya kutuk kerajaan Vysus ganggu momen mau nikah sama cain

  3. Nana says:

    Lanjutkan

  4. Maple says:

    mantaf,, kira” hero nya OP gak ya
    kalau dari flasback cerita dari yuya kan awal dateng status berkah dewa nya cuma di level 5, sehabis itu disuruh lawan harun baru berkah dewa nya di naikin level 10

    • KuroMage says:

      nah itu, se OP nya mereka gak akan lebih dari cain, karena Cain udah dilatih sama banyak dewa, paling nanti ada yang di kasih berkah sama dewa jahat wkwk tapi sepertinya masih lama

  5. Ramadhani says:

    Kapan chapter selanjutnya keluar katanya 2 per hari

  6. Yusuf says:

    Apa salah satu nya temen cain ya??? Cwek yang diselametin cain ya???

  7. Bahamut says:

    Up up

  8. DivoR says:

    Kirain 2 chptr min wkwk , tpi gpp tetap semangat nge-TL nya minnn

  9. Retry says:

    Upp min

  10. Support says:

    Huhu 2 Chapter lagi 🙁

  11. Hogaku says:

    Lanjutkan min

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *